
"Tapi, oma Ratih itu, orangnya agak jutek, terus seleranya tinggi, sebelum beliau keluar negeri, ia sudah beberapa kali berniat menjodohkan den Lucas sama cucu teman-temannya, yang berasal dari keluarga kaya,"papar bik Tuti.
"Ah, terus gimana kalau nanti, oma Ratih tak setuju den Lucas nikah sama Rania, pasti anakku dibenci omanya den Lucas teh,"ibunya Rania terlihat gusar.
"Kamu tuh, belum apa-apa sudah banyak pikiran, itu urusan mereka, teteh percaya sama den Lucas,"kata bik Tuti.
"Aku cuma takut teh, teteh kan tahu, kalau aku cuma punya dia, meskipun kadang aku cerewet, galak, tapi, aku sayang banget sama anak satu-satunya itu,"ucap ibunya Rania.
"Sudah tahu!"
Akhirnya perasaan sama pikiran ibunya Rania sedikit tenang. setelah menyampaikan semuanya sama kakak satu-satunya.
🌺🌺🌺
Sedangkan Rania, sejak tadi ia sudah berkeliling pusat perbelanjaan sama bu Renata. bu Renata sangat antusias memilih semua perlengkapan masuk kampus calon menantunya.
Rania sampai pusing melihat banyaknya pakaian, sepatu, tas, dan lain-lain yang bu Renata beli untuk Rania.
Bu Renata mau buka toko atau apa sih? dari tadi , keluar masuk toko,padahal perut sudah lapar, kaki sudah pegal kaya habis nyangkul sawah.
"Ran,ada lagi yang kamu butuhkan nak,sok ambil aja. kaki ibu pegal Ran, mau duduk dulu,"bu Renata duduk di bangku yang tersedia di dalam toko.
"Gak ada bu, bahkan itu sudah berlebihan, aku gak akan ganti tas atau sepatu tiap hari kan bu,"Rania menatap jejeran paper bag berisi belanjaan bu Renata.
"Sudah, kamu nurut sama ibu, jaman sekarang semua ini penting, kita harus good-looking baru banyak teman, jadi kamu pasti butuh semua ini sayang,"bu Renata mengusap tangan Rania yang sudah duduk di sampingnya.
"Tapi,aku mau punya teman yang tulus bu, yang bisa nerima aku apa adanya, ya meskipun susah sih, waktu di Bandung, aku gak punya teman,"ucap Rania.
"Kenapa gak punya teman sayang?"bu Renata menatap manik Rania
"Huuuh, karena aku orang miskin, gak punya apa-apa, katanya, mereka malu kalau bawa aku jalan, ponsel aja masih jadul, padahal, aku bisa beli ponsel itu harus nabung tiga bulan, itupun karena aku gak jajan,gak bisa kaya orang-orang yang tinggal menengadahkan tangan sama orang tuanya,"Rania menjeda ucapannya, tangannya mengusap pipi yang sudah di banjiri air mata.
__ADS_1
"Padahal,bukannya aku gak mau seperti mereka, tapi aku sadar, kehidupan aku berbeda sama mereka, aku gak mungkin nambah beban ibu, dengan semua permintaan aku. beban ibu sudah terlalu banyak, ibu harus bisa jadi ayah dan ibu sekaligus buat aku, harus nyari nafkah buat kita berdua, meskipun ibu gak pernah memperlihatkan kesedihannya di depanku, tapi aku tahu kalau ibu capek, bingung, sedih itu semua ibu tanggung sendiri. jadi aku berpikir biarlah gak punya teman, asalkan gak menyusahkan ibu,dan gak menambah beban ibu,"bu Renata langsung meraih Rania ke dalam pelukannya,matanya berembun mendengar semua cerita kehidupan Rania yang sangat menyedihkan. tapi dirinya bangga Rania bisa tumbuh dewasa dengan segala pikirannya,kesedihannya.
"Sudah,cukup sampai sekarang air mata kesedihan itu kamu keluarkan sayang, ibu janji, mulai sekarang hanya akan ada kebahagiaan dalam hidup kamu. ibu bangga sama kamu,"bu Renata mengusap kepala Rania. terlihat beberapa karyawan melihat ke arah bu Renata sama Rania.
Kasian banget kamu Ran,ternyata mendengar langsung dari kamu tentang semua yang kamu alami lebih sakit, daripada mendengar dari bibi, semoga kebahagiaan selalu mengikuti mu nak,cukup penderitaan yang kamu alami sampai sekarang, di masa depan kamu hanya boleh bahagia, hanya boleh air mata kebahagiaan yang keluar dari mata indah kamu.
Setelah Rania sedikit tenang, meskipun bekas air mata itu masih terlihat apalagi wajah sembab Rania tidak bisa di sembunyikan, tapi sekarang keadaannya sudah lebih baik.bu Renata mengajak Rania perawatan, tapi sebelum itu mereka mengisi perutnya terlebih dulu.
"Kita harus makan dulu Ran, perawatan sekarang akan lebih lama,"bu Renata menuntun Rania masuk ke dalam resto untuk mencari makan.
Sementara barang belanjaan mereka, bu Renata sudah menyuruh sopirnya untuk membawanya pulang terlebih dulu.
"Kenapa bakal lama bu?"tanya Rania.
"Kita perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki,"jawab bu Renata.
Setelah pesanan mereka datang, Rania sama bu Renata makan dengan lahap, mungkin karena karena kelelahan, karena baru saja mengeluarkan energi juga sedikit air mata.
Mereka berdua memasuki klinik kecantikan dengan senyum merekah dari bibir keduanya, Rania sangat menikmati semua perawatan dari terapis klinik kecantikan.
[Kenapa ma?"]
[Kamu, sudah selesai kerjanya,atau mau lembur?]
[Kenapa tanya gitu, aku udah mau pulang ko ma, ada apa?]
[Bagus,sekalian kamu jemput mama ya di Mall K]
[Supir mama, ke mana?]
[Sudah pulang,cepat jangan banyak tanya,nanti gak jadi mama nikahkan.]
__ADS_1
[Mana bis....
Tut....tut
Bu Renata mematikan panggilan telponnya sebelum mendengar ocehan Lucas.
Dasar mama,mana bisa gak jadi, aku bakal maksa kalau gak jadi.
Lucas keluar dari ruangannya,begitu keluar ia sudah di sambut senyuman sekertaris yang menurutnya tak ada manis-manisnya kaya air mineral.
"Selamat sore pak, mau pulang ya?"kata-kata yang hampir tiap mau pulang Lucas dengar.
"Hmmm!"Lucas tanpa menatap orang yang bertanya, ia berjalan lurus menuju lift, lalu memencet tombol menuju lantai dasar.
"Bos,tungguin gue kenapa sih."Hendri berlari masuk ke dalam lift yang pintunya hampir tertutup.
"CK! kaya bocah aja lari-lari, hari ini gue pulang bawa mobil sendiri,loe bisa bawa mobil perusahaan,"kata Lucas.
"Kenapa,loe masih kesel sama gue gara-gara tadi?"Hendrik memicingkan matanya.mendengar ucapan bosnya.
"Bukan,gue mau jemput mama dulu, nanti kalau loe ikut bakal lama baliknya,"ucap Lucas.
Lift terbuka setelah sampai di lantai dasar, sudah bukan kejadian aneh, setiap pasang mata memandang takjub CEO tampan mereka, apalagi kaum hawa, matanya langsung seger melihat dua laki-laki tampan yang berjalan santai melewatinya. bisik-bisik kata yang memuji Lucas sama Hendrik sudah biasa bagi mereka.
"Pak Lucas makin hari, tambah ganteng. andai dia nembak gue, sumpah gak akan mikir dulu,langsung terima,"
"Jangan mimpi, pasti seleranya tinggi, gak kaya kita-kita yang cuma remahan nasi yang jatuh ketika makan,"
"Tapi, kenapa dia gak pernah bawa pacarnya ya?"
Masih banyak lagi kasak-kusuk yang setiap hari Lucas dengar, tapi ia selalu mengabaikannya, karena menurutnya itu tak penting sama sekali. ia berjalan dengan cool seolah tak mendengar apa-apa.
__ADS_1
"Gila ya....
Selamat membaca,di tunggu komen,like,favoritkan ya,tak lupa vote nya juga,supaya aku semangat upnya terima kasih🤗😘😘