Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 94


__ADS_3

Mobil Lucas memasuki halaman rumah yang lumayan luas, sebuah taman kecil terletak tidak jauh dari gerbang rumah. sebuah rumah minimalis tapi terlihat sangat nyaman, siapapun bakal betah kalau menempati rumah itu.


"Sayang, ini rumah siapa?"tanya Rania. matanya masih menelisik segala arah.


"Rumah kita sayang!"


"Hah, kapan belinya? jangan bercanda dong, aku nanya serius loh yang,"tanya Rania.


Lucas tak menjawab, melainkan membuka pintu mobil lalu turun.


"Mama, Oma bangun,"Rania membangunkan Oma Ratna sama bu Renata yang masih tertidur lelap.


"Udah sampai Ran?"tanya bu Renata.


"Gak tahu ma, Lucas malah bawa kita ke rumah orang,"ujar Rania.


"Yu sayang turun! Mama, Oma bangun kita udah sampai,"Lucas membukakan pintu untuk ketiga wanita itu turun.


"Bagus rumahnya, kamu pasti betah di sini, Ran,"ucap bu Renata.


Lucas menggandeng Rania, mereka berjalan di belakang Oma sama bu Renata.


"Emang, ini rumah siapa yang?"tanya Rania. matanya menelisik rumah di depannya.


"Rumah kita, sekarang kita tinggal di sini ya, biar kamu gak bosan. jadi kamu bisa melakukan apapun di sini, kalau di apartemen kan gak bebas yang,"papar Lucas.

__ADS_1


Mereka masuk ke rumah itu, terlihat seorang wanita yang baru pertama kali Rania lihat membukakan pintu buat mereka.


"Gimana bi? apa bibi bakal betah di sini?"tanya Oma Ratna pada wanita paruh baya itu.


"Pasti betah nyonya, rumahnya sangat nyaman,"jawab wanita itu.


"Syukurlah, oh iya, kenalkan ini Rania bi, dia istrinya Lucas. nanti bibi temenin, bantuin dia ya, jangan sampai kelelahan sedikitpun,"


"Iya, nyonya, perkenalkan nama bibi Marta non,"bik Marta mengulurkan tangannya pada Rania.


"Saya, Rania bik, semoga bibi tidak kabur ya karena dekat sama aku terus nantinya,"


Lucas kembali menggandeng Rania memasuki rumah yang akan mereka tempati, ia sengaja tak memberitahu Rania tentang rumah itu.


"Wah, rumahnya sangat nyaman, Luc. menurut kamu gimana Ran?"bu Renata melirik Rania.


"Iya, gimana, kamu suka?"Lucas menggandeng Rania memperlihatkan seisi rumah itu termasuk kamar utama yang akan menjadi kamar mereka berdua.


"Suka, rumahnya bagus nyaman. apalagi. halamannya lumayan luas,"jawab Rania. wajahnya berbinar senang.


*****


Hari berlalu dengan cepat, tak terasa kandungan Rania sudah menginjak usia 16 minggu.


Rania sedang membereskan baju-bajunya ke dalam koper, tak lupa ia juga membawa baju Lucas ke koper satu lagi, rencananya mereka akan berangkat pagi ke kampung halaman Rania.

__ADS_1


Keduanya berangkat lebih awal karena perintah pak Bambang. acara syukuran empat bulanan Rania akan dilaksanakan di kampung Rani, sekalian memperkenalkan Lucas pada tetangga-tetangga Rania, karena selama ini selalu ada gosip yang tak enak tentang Rania.


Mereka menyangka kalau Rania jadi simpanan orang kaya di kota, entah berawal dari mana gosip itu, meskipun ibunya Rania tak mempermasalahkan juga tak pernah ambil pusing karena masalah itu. baginya Rania bahagia adalah yang utama.


Lucas masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, ia juga sudah berpesan pada Hendrik supaya menghandle semua pekerjaannya selama ia tinggal.


"Aku, bantu apa nih sayang?"tanya Lucas.


"Semuanya udah beres yang, kerjaan kamu gimana?"tanya Rania tanpa menoleh suaminya.


"Sudah, besok Hendrik ke sini buat ngambil berkas-berkas yang baru aku tanda tangan,"jawab Lucas. ia mendekat ke arah Rania.


"Kamu senang yang, bakal pulang ke rumah ibu?"tanya Lucas. ia mengusap rambut Rania.


"Senang! aku kangen banget sama ibu ratu,"jawab Rania. tangannya memasukan beberapa perlengkapan mandi kedalam kantung yang telah ia siapkan.


"Syukurlah, aku juga penasaran tempat masa kecil kamu kaya apa,"


Setelah semuanya selesai, keduanya tidur sambil berpelukan seperti biasanya.


Pagi menjelang, Rania sudah bersiap-siap. ia memastikan lagi kalau tak ada barang yang ketinggalan. Lucas tersenyum melihat binar bahagia di wajah Rania. dimatanya Rania terlihat sangat cantik, apalagi ditambah dengan perut yang sudah sedikit membuncit, baginya itu satu pemandangan yang sangat indah.


Sepanjang perjalanan senyum tak lepas dari bibir mungil Rania, mereka berangkat bareng sopir yang biasa mengantar Rania kalau ada keperluan.


Setelah menempuh perjalanan selama empat jam perjalan untuk sampai di kapung Rania. akhirnya mereka sampai dengan selamat, kini mobilnya memasuki kampung halaman Rania, suasana yang sejuk membuat Lucas membuka kaca mobil, menurutnya sayang kalau dilewatkan cuacanya sangat dingin berbeda dengan ibu kota yang terbilang panas.

__ADS_1


"Kamu, masih ingatkan rumahnya yang mana yang?"Lucas menggoda istrinya.


"Hais, ya ingatlah sayang,"Rania mendelik pada Lucas.


__ADS_2