Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 59


__ADS_3

"Kalian, mau kemana?"tiba-tiba suara omah Ratna menghentikan langkah Lucas juga Rania, yang bermaksud pulang ke apartemen.


"Omah, kita mau pulang,"Lucas berbalik. terlihat omah sedang berdiri sambil melipat tangannya di atas dada, di sampingnya Serly tersenyum sinis melihat ke arah Rania.


"Sekarang kamu berubah! kamu gak kangen sama omah?"tanya omah Ratna. wajahnya terlihat sendu.


"CK, drama lagi, bukan gak kangen omah, tapi sekarang aku sudah rumah tangga,lagian gak mungkin tidur sama omah kan,"Lucas terlihat kesel sama omah, apalagi ditambah melihat Serly.


"Pokonya, kamu harus nginap disini, omah gak mau dibantah, besok ada yang mau omah bicarakan,"ucap omah. setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Lucas.


"Sayang, kita nginep aja ya, kalau kita tetep pulang, omah akan lebih benci sama aku,"Rania mengeluarkan pendapatnya.


"Oke, kamu harus kuat ya. aku yakin nanti omah akan bisa menerima kamu,"ucap Lucas. tangannya mengelus rambut Rania.


"Iya, aku udah biasa kok dihina, segala macam, kamu tenang saja,"Rania memberikan senyum termanisnya, ia ingin meyakinkan Lucas kalau dirinya baik-baik saja.


"Maaf sayang,"Lucas merasa bersalah karena omah nya terus menghina Rania.


"Gak papa, kita tidur aja yu, biar gak kesiangan bangunnya,"Rania menarik tangan Lucas menuju kamar.


Lucas langsung mengangkat tubuh Rania menuju kamar tidurnya.


"Nanti, kalau oma lihat, pasti marah lagi,"Rania mengalungkan tangannya pada leher Lucas.


"Biarin, aku gak takut sama oma, yang aku pikirkan tuh kamu, sayang,"Lucas menurunkan Rania di atas tempat tidur.


"Jangan suka marah kalau oma marahin aku, aku ngerti kok maksud oma baik, beliau ingin yang terbaik buat kamu. makanya bawa tante Serly,"papar Rania.


"Sayang, kok kamu masih belain oma, padahal kan udah dicaci maki dari tadi,"Lucas menatap wanita hebat di depannya itu dengan perasaan entahlah seperti apa. ada rasa bangga, sedih, juga bahagia.


"Bagaimana pun, oma itu orang tua sayang. kita tetep harus menghormatinya, harus banyak sabar kalau menghadapi orang tua,"ucap Rania.


Mendengar ucapan Rania. Lucas langsung memeluk istrinya lalu mencium seluruh wajah istrinya.


"Ibu, sukses mendidik kamu sayang, aku bangga sama ibu,"bisik Lucas ditelinga Rania.


"Bangganya, sama ibu aja? sama aku enggak?"Rania memajukan bibirnya.


"Kalau sama kamu, eum gimana ya.....


"Gimana?"tanya Rania.

__ADS_1


"Bangga banget sayang!"jawab Lucas.


pipi Rania langsung merona mendengar pujian suaminya, sekarang ia merasa punya pelindung yang bisa ia andalkan. dari dulu dirinya selalu menyimpan semua masalah, luka, juga penderitaan seorang diri.


"Pipinya, kenapa merah sayang, sakit?"tanya Lucas khawatir.


"Enggak, aku mau cuci muka dulu sama ganti baju sayang,"Rania langsung lari ke kamar mandi.


"Kenapa, malah lari? aku kan khawatir,"Lucas menggaruk kepala yang tidak gatal.


Tak berapa lama, Rania sudah keluar dari dalam kamar mandi, ia menggunakan bathrobe, rambutnya digulung ke atas memperlihatkan leher jenjangnya.


"Udah sayang?"Lucas memperhatikan gerak gerik istrinya.


"Udah, kamu mau ganti baju?"tanya balik Rania tanpa melihat Lucas.


"Iya, aku ke kamar mandi dulu sayang,"Lucas bangkit dari tempat tidur.


Satu kecupan ia berikan di pipi kanan Rania, setelah itu, ia langsung masuk kamar mandi.


Rania mengambil baju tidur untuk suaminya, lalu ia simpan di atas kasur. lalu merebahkan tubuhnya.


Aku bangga banget sama kamu, padahal usia kamu masih muda, tapi pikiran kamu sangat dewasa sayang, terima kasih untuk kesabaran kamu.


Lucas menarik Rania ke dalam pelukannya. setelah itu ia ikut memejamkan mata untuk mengarungi alam mimpi.


*****


Alarm ponsel yang Rania setel berdering, ia sengaja menyetel alarm supaya gak kesiangan terus berakibat masalah bagi dirinya sendiri.


Rania melepaskan rengkuhan sang suami dengan pelan, supaya tak mengganggu tidur Lucas yang terlihat nyenyak sekali.


Setelah terlepas, Rania menyibak selimut lalu menurunkan kakinya di atas lantai yang sangat dingin, bila di apartemen ia bisa sedikit bersantai, tapi tidak ketika di rumah mertuanya, apalagi sekarang ada oma yang tidak menyukai dirinya.


Setelah selesai melaksanakan kewajibannya, Rania segera turun ke lantai bawah menuju dapur, seperti biasa mba Yanti sudah terlihat di sana.


"Ran, biar mba aja, kamu balik lagi sana,"seperti biasa mba Yanti melarang Rania membantunya.


"Enggak, apa-apa mba, jangan gitu ah,"Rania mulai memotong sayuran yang sudah tersedia.


"Kamu, ternyata tidak berubah ya, mba kira kamu bakal sombong karena sudah jadi nona muda,"mba Yanti melirik Rania sambil terkekeh.

__ADS_1


"Aku, bukan satria baja hitam. jadi gak bisa berubah mba,"ucap Rania.


"Oh iya, semalam aku lihat kamu berantem sama mba Serly, kamu yang sabar ya. aku yakin suatu saat oma akan menyukai kamu, beliau emang begitu, sifatnya keras, padahal hatinya baik, asal kita pandai mengambil hatinya, ia akan luluh,"papar mba Yanti.


"Iya, makasih ya mba, aku yakin ko suatu saat, oma akan menerima aku,"ucap Rania. ia selalu menanamkan kebaikan dalam hatinya, sekeras apapun hati manusia, suatu saat akan luluh, kalau kita bersikap lembut juga sabar.


"Ran, kamu sudah bangun nak,"tiba-tiba bu Renata sudah berdiri di pintu dapur sambil memperhatikan keduanya.


"Mama, sejak kapan mama di sana?"Rania segera menghampiri mama mertuanya.


"Sejak tadi, bisa ikut mama sebentar sayang?"bu Renata menatap menantunya. Rania selalu melihat ketulusan, kasih sayang, juga cinta dari mata bu Renata.


"Kemana ma?"tanya balik Rania.


"Ke taman belakang, ada yang mau mama bicarakan sama kamu,"jawab bu Renata.


"Iya ma, aku pamit mba Yanti dulu sebentar,"ucap Rania.


"Iya, mama tunggu di sana ya sayang,"bu Renata mengusap kepala Rania sebelum melangkahkan kakinya.


Rania kembali masuk ke dapur menghampiri mba Yanti.


"Mba, aku ke taman belakang sebentar ya, ada yang mau mama bicarakan katanya. nanti aku balik lagi,"pamit Rania.


"Iya, sana pergi, sebelum yang lain bangun terus bikin kacau,"mba Yanti mendorong bahu Rania pelan, ia sudah menganggap Rania seperti adik kandungnya sendiri.


"Iya, makasih ya mba,"Rania langsung menyusul mama mertuanya ke taman belakang sesuai permintaan mama mertua.


"Ma, ada apa? jangan bikin aku takut,"Rania menjatuhkan bobotnya di samping bu Renata.


"Mama minta maaf ya sayang, pasti kamu sakit hati dengan kata-kata oma,"bu Renata menghadap Rania tangannya mengelus tangan Rania.


"Enggak, sedikitpun, aku gak sakit hati ma, aku ngerti kok sama oma,"Rania tersenyum.


"Mama, bener-bener merasa bersalah, karena tak bisa melindungi kamu nak, padahal ibu sama uwa kamu menitipkan supaya kamu dibahagiakan, disayangi,"wajah bu Renata.


"Ma, mama jangan bicara seperti itu, mama udah menjaga aku dengan baik, aku bisa merasakan kasih sayang mama, papa, juga suami aku, itu udah cukup. untuk masalah oma, aku yakin suatu saat, oma pasti bisa menerima aku,"ucap Rania.


"Sayang....


Jangan lupa like, komen, vote sama tipsnya ya

__ADS_1


__ADS_2