Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 146


__ADS_3

Meskipun mood Lucas sudah hancur, tapi dia tak membatalkan kerjaan yang sudah direncanakan. Lucas tetap meeting di tempat berbeda dari yang sudah mereka sepakati, ia berusaha fokus menyelesaikan meeting penting itu meskipun pikirannya sudah di rumah.


akhirnya meeting berjalan lancar, Lucas langsung menghubungi Hendrik mengabari kalau dirinya tak akan kembali ke kantor melainkan langsung pulang ke rumah menemui istri tercintanya.


Rania yang sedang duduk santai di teras rumah mengerutkan kening ketika melihat mobil suaminya memasuki halaman rumah, padahal waktu pulang masih sangat lama tapi suaminya itu sudah pulang.


"Sayang, apa ada yang ketinggalan?"tanya Rania begitu Lucas keluar dari mobil.


"Nggak, kenapa tanya gitu yang?"Lucas melangkahkan kakinya mendekati sang istri.


"Ya, sekarang masih siang kan, jadi belum waktunya pulang, lagian tadi abang bilang kalau bakal pulang telat karena banyak kerjaan,"sahut Rania.


"Iya sih, tapi mood aku hancur gara-gara orang gak penting, jadi setelah meeting di luar gak balik ke kantor lagi, sayang."Lucas menarik tubuh Rania kedalam dekapan sambil mencium kening.


"Siapa orangnya? masalah kerjaan kah?"tanya Rania penasaran.


"Bukan, orang kurang waras aja tadi nyamperin di cafe waktu mau meeting,"jelas Lucas.


Rania mendongak menatap wajah Lucas,"siapa sih, aku penasaran abang?"Rania memasang wajah lucu hingga membuat Lucas gemas dan langsung menghujami pipi tembem itu dengan kecupan.

__ADS_1


"Ekhem, aduh si aden mah siang-siang begini mesra-mesraan, mana di luar lagi,"celetuk bibi sambil menyimpan minuman di atas meja yang tersedia di sana.


"Aduh, bibi ganggu deh, makanya nikah lagi biar bisa mesra kaya kita, iyakan sayang?"Lucas mengedipkan matanya sama Rania.


"Mana ada yang mau sama nenek-nenek den, sudah bukan waktunya, maaf bibi cuma bawa satu minumnya, kirain den Lucas belum pulang,"ucap bibi.


"Gak papa, itu bisa buat berdua kok bi."Lucas mempererat pelukannya pada tubuh Rania.


"Yakin, den?"


"Iya bu, nanti kalau abis aku ambil sendiri aja ke dalam,"sahut Rania.


"Ya sudah, bibi ke dalam dulu kalau gitu, masih ada kerjaan sedikit lagi, kalau butuh apa-apa panggil bibi aja, pasti langsung muncul,"


Mendengar ucapan Lucas, bibi terkekeh sambil masuk ke dalam rumah membawa nampan bekas mengantar minuman Rania tadi.


Setelah bibi masuk, Lucas langsung menarik Rania supaya duduk di atas pangkuannya, tapi Rania langsung menahan tangan suaminya itu.


"Kenapa?"Lucas menatap bingung sama Rania.

__ADS_1


"Aku berat sayang, badan udah kaya gajah bengkak gini, nanti kamu keberatan loh, kasian,"jelas Rania.


"Ck, gak ada berat kok, aku masih sanggup meskipun ada dua yang seperti kamu, udah duduk sini, aku mau peluk."Lucas tetep menarik Rania untuk duduk di atas pangkuannya.


"Maksud kamu apa, ada dua yang seperti aku?"ketus Rania.


"Bercanda sayang, maksudnya aku kuat meskipun badan kamu lebih dari ini, bukan ada dua, makin cantik kalau lagi kesel kaya gini tuh, jadi pingin cium terus."Lucas mencubit pipi Rania karena merasa gemas.


"Udah, nanti lagi cubit nya, kamu belum jawab siapa yang bikin kamu bad mood abang ganteng."Rania menggenggam tangan Lucas yang masih berada di atas pipinya.


"Hmmm... kirain sudah lupa,"gumam Lucas.


"Aku masih muda, masa gitu aja lupa sih, cepat bilang siapa?"desak Rania.


"Shela, tadi dia nyamperin waktu mau meeting sayang, kenapa sih dia selalu muncul di depan ku bikin hari buruk saja,"decak Lucas.


Rania langsung menatap wajah suaminya, ia makin takut kalau Shela akan terus berusaha mendekati suaminya, terus lama-lama Lucas menerima kembali kehadiran wanita masa lalunya itu.


"Sayang, kenapa diam aja, kamu jangan marah ya, aku gak nanggepin dia kok, sumpah deh."Lucas merangkum wajah Rania dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Lucas takut Rania akan marah karena hal itu, meskipun dirinya langsung meninggalkan Shela tadi.


"Aku, aku gak marah kok bang, makasih udah jujur, tapi aku takut kalau nanti abang akan kembali sama dia,"lirih Rania, wajahnya terlihat sendu.


__ADS_2