
Rania memperhatikan Lucas yang sedang berdiri di depan kompor, tangannya dengan lincah memasukan beberapa sayuran ke dalam rebusan mie setelah lebih dulu mencuci terus memotongnya.
"Aden, kenapa masak? apa masakan bibi kurang enak?"Bibi tiba-tiba datang lalu berdiri di dekat Lucas.
"Eh, bukan gitu bi, tuh nyonya mau yang kuah-kuah terus pedas katanya. masakan bibi mah selalu enak lah,"jelas Lucas. tangannya mengaduk masakan setelah itu memasukan satu butir telur.
"Walah, kenapa gak nyuruh bibi aja den? apa non Rani lagi ngidam?"tanya bibi.
"Engga, aku lagi pengen aja bi, kayanya enak gitu, apalagi yang masaknya special gitu, pasti rasanya tambah mantap,"sahut Rania.
"Itu namanya ngidam non, apa ada yang bisa bibi bantu den?"
"Ngga ada, mending bibi istirahat aja, udah malam loh,"
"Masa bibi tidur, tapi aden sama non Rani belum istirahat,"
"Bibi gak papa, lagian setelah makan kita juga mau langsung tidur kok, iyakan sayang?"tanya Rania.
"Iya, udah, bibi istirahat aja,"jawab Lucas.
"Ya udah, bibi tidur dulu ya, bekas masaknya biar nanti pagi bibi yang nyuci den, biarkan saja ya, gak enak ini bibi,"
"Iya, besok bibi cuci, sudah sana istirahat, hus, hus sanaaaa...."Rania mengibaskan tangan sambil tertawa.
"Hahaha....kamu ngapain sayang, ada-ada aja,"Lucas menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rania.
"Hehe engga, udah matang sayang?"Rania nyengir.
"Udah, bentar ya, aku ambil mangkuk dulu,"sahut Lucas. ia langsung mengambil mangkuk dari tempatnya.
__ADS_1
"wah, udah gak sabar aku sayang, pasti enak banget,"Rania menelan ludah melihat masakan suaminya yang terlihat menggiurkan.
"pasti, siapa dulu yang masak. makan pelan-pelan sayang,"Lucas menyimpan mangkuk di depan istrinya. lalu ia duduk di samping Rania.
Rania langsung mengambil sendok yang Lucas berikan, setelah itu ia mulai menyendok mie serta kuahnya yang masih mengepulkan asap.
"Hati-hati panas, aki gak akan minta sayang,"Lucas mengusap bibir Rania yang merah terkena kuah mie.
"Iya, ini enak banget sayang, kamu gak mau nyoba?"tanya Rania.
"Enggak, kamu makan aja, jarang-jarang kamu minta aku masakin kan,"Lucas mengusap kepala istrinya.
Lucas mengisi piringnya dengan makanan yang ada di atas meja, setelah itu ia makan dengan lahap begitu juga Rania, ia terlihat lahap makan mie instan bikinan suami tercinta.
Setelah selesai makan. Rania mencuci semua perabotan yang tadi mereka gunakan, ia tak mungkin membiarkan semua itu kotor, kasian bibi kalau bangun sudah disuguhkan perabotan kotor, apalagi masih banyak kerjaan lain.
Sekarang giliran Lucas yang memperhatikan Rania yang sedang mencuci piring. matanya sedikitpun tak lepas dari pemandangan indah di depannya.
"Maksud kamu, sebelum hamil aku gak cantik gitu?"ketus Rania. ia segera membalikan badannya menatap tajam sang suami.
"Bu-bukan sayang, maksud aku tambah cantik, nah itu maksudnya,"Lucas terbata begitu melihat mata tajam istrinya.
"kirain aku gak cantik sebelum hamil,"ucap Rania. ia kembali berkutat sama piring kotornya.
"Jadi, apa semua wanita hamil akan bertambah cantik sayang?"tanya Lucas lagi.
"Ngga tau, lagian aku gak pernah memperhatikan wanita hamil sebelum ini, aku juga gak nyangka akan hamil diusia sekarang,"jelas Rania.
"Kamu tambah cantik juga seksi yang, kalau kerja aku gak fokus kalau udah kebayang wajah sama badan kamu,"celetuk Lucas.
__ADS_1
"Kamu mesum ya?"tanya Rania.
"Biarin aja, lagian aku mesum sama istri sendiri ini, kalau sama wanita lain mana pernah yang,"jawab Lucas.
"Eum, kalau sama mantan kamu dulu gimana, pasti pernah kan, secara dia cinta pertama kamu kan,"Rania mengelap tangan yang basah, setelah itu dia menghampiri suaminya.
"Kata siapa dia cinta pertama aku?"Lucas menarik pinggang Rania yang hendak duduk di sampingnya, alhasil badan Rania terjatuh ke atas pangkuan Lucas.
"Bener kan? kata kamu waktu itu, cuma dia mantan kamu gak ada lagi,"sahut Rania. ia mengalungkan tangannya pada leher Lucas.
"Eum, aku punya cinta pertama, kamu mau tau gak?"tanya Lucas.
"Nggak, nanti aku sakit hati ah, apalagi kalau kamu masih suka sama dia,"jawab Rania.
"Memang, sampai sekarang aku masih suka sama dia,"
Mendengar ucapan Lucas Rania langsung diam, ia bingung harus bereaksi seperti apa, pikirannya buntu seketika.
"Sayang, kenapa diam hey,"Lucas menarik wajah istrinya supaya menatapnya.
"Hah, engga, aku ngantuk kayanya,"lirih Rania. ia berbohong, hatinya sedang tidak baik-baik saja ketika mendengar ucapan Lucas barusan.
"ya udah, kita ke kamar ya, kamu harus jangan sampai kurang istirahat,"ucap Lucas.
Rania bangkit dari pangkuan Lucas, di susul Lucas yang bangkit, keduanya berjalan menuju kamarnya. sepanjang perjalanan menuju kamar Rania diam hatinya masih tak tenang, pikirannya di penuhi dengan siapa cinta pertama suaminya itu, andaikan dia punya cinta pertama, pasti ia akan pamer sama Lucas. tapi nasibnya tak sebaik itu, Lucas lah cinta pertama dirinya.
"Sayang, kenapa diam aja hey?"tanya Lucas. ia melirik Rania yang dari tadi diam.
"Ngantuk sayang, aku tidur dulu ya,"Rania segera naik ke atas tempat tidur setelah sampai di kamar.
__ADS_1
"Oh, ya udah, aku ke kamar mandi dulu sayang,"Lucas menyelimuti tubuh Rania yang sudah berbaring di atas kasur.