Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 78


__ADS_3

"Ah, enggak ma, aku gak mau apa-apa,"Rania meringis melihat mama mertuanya yang sangat perhatian. ia jadi takut kalau harapan mama mertuanya akan mengecewakan saat hasilnya udah ada.


Bu Renata keluar dengan wajah berseri, para pekerja saling pandang melihat majikannya yang terus tersenyum.


Sedangkan Rania langsung masuk ke dalam kamar yang biasa ia tempati kalau lagi menginap di rumah itu atau tepatnya kamar Lucas.


Setelah menyimpan tasnya di tempat biasa. Rania langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Ah, kenapa ngantuk banget sih, apa gara-gara habis makan kali ya,"gumamnya. ia menguap beberapa kali sebelum akhirnya terlelap.


beberapa menit kemudian bu Renata kembali dari apotik sambil menenteng plastik berisi beberapa macam testpack. ia langsung menuju meja makan tempat terakhir meninggalkan Rania.


"Mba, lihat Rania enggak, tadi lagi makan pas saya tinggal,"tanyanya.


"Enggak, bu, tadi saya lagi di belakang, jadi tidak tahu,"jawab mba.


"Oh, ya sudah, mungkin di kamarnya. biar saya cari di sana saja,"bu Renata meninggalkan ruang makan lalu menaiki anak tangga menuju kamar Lucas.


"Pantas, sudah tidur, aku yakin nih kalau cucu lagi otewe. ah bakal jadi nenek cantik bentar lagi,"ucap bu Renata sambil terkekeh. ia menutup kembali pintu kamar dengan pelan, karena takut membangunkan Rania.


***


Pikiran Lucas tak tenang selama meeting dengan beberapa kliennya. ia terus kepikiran sang istri yang tadi pagi terlihat kurang sehat. matanya tak lepas dari jam tangan mahal di tangannya.


Lama banget sih meeting nya selesai.ia membatin jarinya mengetuk-ngetuk meja di depannya sambil mendengarkan penjelasan sekertaris klien yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.


"Gimana, apa, pak Lucas setuju?"tanya pak Aldi. setelah sekertarisnya selesai menjelaskan mengenai kerjasama nya.


"Ya, saya setuju pak, nanti berkas-berkasnya kasih sama sekertaris saya saja,"Lucas langsung menjawab supaya urusannya cepat selesai.


Setelah keduanya sepakat, pak Aldi juga Maura sekertaris nya langsung pergi meninggalkan D-Jaya group.


"Wina, saya tidak bisa ikut meeting yang selanjutnya, nanti suruh Hendrik untuk menggantikan saya. nanti tinggal kirim lewat email hasil meeting nya," Lucas bergas keluar dari ruangan meeting.

__ADS_1


"Tapi, nanti ada undangan makan malam pak sama perusahaan cabang jepang. mereka khusus mengundang bapak supaya bisa hadir,"kata Wina. kadang ia merasa jengkel ketika bosnya itu meninggalkan jadwal yang sudah ia susun.


"Minta Hendrik menggantikan saya, atau kamu bisa kan mewakili perusahaan buat pergi, saya benar-benar tidak bisa. istri saya sakit,"Lucas menuju ruangannya dengan langkah lebar. dia sudah tak sabar untuk menelpon Rania karena takut terjadi apa-apa.


"Iya, bisa pak,"akhirnya Wina mengiyakan karena merasa percuma untuk menolak juga.


Lucas mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. lalu menekan no sang istri. tapi setelah mencoba beberapa kali tak juga diangkat.


"Apa, masih belajar ya?"gumamnya. ia mencoba lagi untuk menelpon Rania, tapi hasilnya tetep seperti tadi.


"Langsung, ke kampusnya aja lah, supaya tenang,"Lucas bergegas menyambar tas kerja lalu memasukan laptop juga beberapa berkas yang belum sempat ia tanda tangan.


"Mau, kemana lo, bawa-bawa tas kerja segala,"Hendrik hampir terjerembab karena Lucas yang tiba-tiba membuka pintu, padahal Hendrik sudah mau masuk.


"Pulang, lo gantiin gue buat meeting sama kepala divisi ya, terus kalau bisa sekalian wakili perusahaan buat makan malam sama perusahaan pak Yosi,"kata Lucas dengan entengnya.


"CK, kebiasaan kalau udah semau dilimpahkan sama gue, emang lo mau kemana?"Hendrik berdecak mendengar perintah sahabat sekaligus bosnya.


"Rania sakit, tadi pagi dia maksa buat masuk kuliah, gue takut dia kenapa-napa. makanya mau gue susul ke kampus,"papar Lucas.


"Perasaan, lo berlebihan deh perhatiannya. jangan-jangan lo sebenarnya masih nyimpan perasaan buat istri gue,"Lucas menatap tajam Hendrik.


"Iya, gue masih suka sama istri lo, makanya jaga yang bener, kalau enggak, jangan salahkan gue kalau suatu saat gue bawa pergi,"jelas Hendrik.


"Jangan harap! gue bakal jagain dia sampai kapanpun, mending lo kerjain yang gue suruh,"ucap Lucas dengan dingin. setelah itu ia langsung meninggalkan Hendrik yang masih terpaku di depan pintu ruangan Lucas.


Lucas melajukan mobilnya menuju kampus Rania. sepanjang jalan pikirannya masih memikirkan keadaan Rania. ketika lampu merah Lucas mencoba kembali menelpon Rania, tapi sekarang ponsel istrinya itu tak aktif.


Sesampainya di tempat biasa ia menunggu Rania, terlihat beberapa mahasiswa keluar dari area kampus. ia menunggu sambil mencoba menghubungi kembali ponsel Rania.


Tiba-tiba kaca mobilnya diketuk dari luar. Lucas langsung menyimpan ponselnya. ia sama sekali tak menyadari ada orang di samping mobilnya.


"Kak, mau jemput Rania ya?"Firda yang kebetulan sudah selesai kelasnya melihat mobil suami sahabatnya langsung menghampiri.

__ADS_1


"Iya, udah selesai kan kelasnya?"Lucas yang sudah beberapa kali bertemu Firda jadi langsung bertanya.


"Udah, tapi, Rania sudah pulang dari tadi. katanya gak enak badan,"Firda menjelaskan tentang sahabatnya.


"Oh, oke makasih, saya lupa nama kamu,"Lucas menggaruk tengkuknya merasa tak enak, ia tahu wajah tapi lupa nama. kebiasaan aku juga sering.


"Saya, Firda kak,"Firda tersenyum memaklumi.


"Maaf, saya lupa, kalau begitu, saya langsung pulang takut Rania kenapa-napa, apalagi sendirian di apartemen,"Lucas hendak menutup jendela mobilnya.


"Euh, Rania pulangnya ke rumah tante Rena kak,"ucap Firda sebelum kaca mobil Lucas tertutup sempurna.


"Oh begitu, terima kasih banyak, saya jalan dulu,"Lucas langsung melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.


Lucas beberapa kali mengumpat karena jalan yang sedikit macet membuatnya terjebak lama di jalan. padahal pikirannya sudah tak tenang, apalagi mendengar penuturan sahabat istrinya tadi.


Begitu mobilnya memasuki komplek tempat rumah orang tuanya, Lucas melajukan mobilnya di atas rata-rata beruntungnya jalanan itu lagi sepi karena rata-rata orang-orang sedang bekerja.


Lucas menyerahkan kunci mobilnya sama sopir yang biasa mengantar jemput bu Renata kalau lagi keluar. sedangkan dirinya langsung masuk kedalam rumah mencari keberadaan sang bidadari.


"Sayang, kamu dimana?"teriaknya begitu kakinya memasuki rumah itu.


"Ngapain, teriak-teriak sih. kaya di hutan saja,"bu Renata mencebik mendengar suara putra semata wayangnya.


"Ma, istri aku mana? katanya dia pulang ke sini,"Lucas mencium punggung tangan bu Renata lalau memeluknya sebentar.


"Ada, dia lagi tidur, makanya jangan teriak-teriak, nanti dia bangun,"ketus bu Renata.


"Ma, aku kepikiran dari tadi, kata temannya dia pulang dari tadi karena tak enak badan. padahal tadi pagi sudah aku larang masuk, tapi.malah kekeh masuk,"papar Lucas menggebu-gebu.


"Sabar, istri kamu baik-baik aja ko, nanti kamu pelan-pelan kalau masuk kamar. jangan sampai dia bangun, kasian harus banyak istirahat,"ucap bu Renata ambigu.


"Mama, kenapa, perasaan mama berlebihan deh,"Lucas menatap mamanya bingung.

__ADS_1


"Itu, itu karena.....


__ADS_2