Hanya Ingin Bersamamu

Hanya Ingin Bersamamu
Part 156. Rumah Duka


__ADS_3

Bi Imah dan Bi Nur memberi isyarat pada Ahmad kalau mereka belum mengatakan Apa pun pada Aisyah ..Saat Ahmad menatap mereka .


" Abang ?Abang kenapa ? " tanya Aisyah saat Ahmad mendekatinya .


" Mas Azzam mana ? Ais telpon nggak di jawab ? " tanya Aisyah lagi dengan suara mulai serah menahan tangisnya .


pertanyaan yang keluar dari mulut Aisyah . Padahal saat masih di mobil tadi dia bertekad untuk tidak menangis tetap tegar di hadapan adik kesayangannya itu , namun dia gagal .


" Abang ? Ada apa ini ? Ngie ? " Tanya Aisyah menatap Anggie baru masuk ke kamarnya .


Anggie yang melihat kakak beradik itu berpelukan tidak kuasa membendung air matanya. Anggie pun ikut menangis .


Melihat ekspresi Ahmad dan Anggie , membuat Bi Nur dan Bi Imah ikut menangis .


Keduanya bisa menebak pasti sudah terjadi sesuatu .


Aisyah semakin bingung dengan keadaan itu . Tidak biasanya Abangnya bersikap seperti itu . Aisyah yakin pasti sudah terjadi sesuatu . Terlintas di pikirannya tentang mimpi yang barusan dialaminya dan nomor ponsel Azzam yang tidak bisai dia hubungi .


" Abang , Mas Azzam baik -baik aja kan ? jawab dong ! jangan diam aja ? " kata Aisyah mulai kuatir membuat Ahmad menatap wajah adiknya .


" Ais mimpi buruk tadi ,Bang , Ais takut terjadi apa -apa sama Mas Azzam ." Kata Aisyah lagi .


" Mimpi apa ?" Tanya Ahmad dengan suara seraknya .


" Ais ,mimpi Mas Azzam pergi ningalin Ais..." Kata Aisyah terisak .


Mendengar ucapan Aisyah , Anggie lalu duduk di samping Aisyah .dan Ahmad menunduk .


" Abang , Mas Azzam kenapa ? Dari tadi pagi perasaan Ais nggak enak Mas Azzam , tadi Ais telpon nggak di jawab." Kata Aisyah lagi .


Ahmad masih menundukan kepala , tidak kuasa menatap wajah sang adik .Ahmad menarik napas dalam mengumpulkan tenaga untuk mengatakan kabar duka itu .


" Dek, Azzam mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan pulang tadi ."


" Apa ? Trus gimana keadaan Mas Azzam sekarang ." tanya Aisyah panik tubuh yang tampak gemetar .


Anggie merangkul Aisyah .


" Azzam sudah nggak papa sekarang Dek. Azzam orang baik . Allah lebih sayang dia !" Lanjut Ahmad .


" Maksud Abang ,,,, "


" Azzam sudah tenang sekarang , Dek . Kamu yang kuat ya , sabar ! " Kata Ahmad dengan suara seraknya .


Aisyah bisa menebak maksud ucapan Abangnya .


" Nggak , Bang ! Abang bohong kan ? Mas Azzam pasti baik -baik aja . Mas Azzan nggak mungkin ninggalin Ais ! " Sahut Aisyah dengan isak tangisnya . Badan Aisyah pun lunglai . Aisyah pingsan di dekapan Anggie yang saat itu duduk sampingnya


Ahmad di bantu Angggie membaringkan tubuh Aisyah di atas tempat tidur . Anggie mengambil minyak kayu putih untuk membantu menyadarkan Aisyah . Sedangkan Bi Nur dan Bi Imah keluar dari kamar sambil menangis . Tidak menyangkan Azzam begitu cepat meninggalkan mereka .

__ADS_1


" Abang , Ais kenapa? " Tanya Bu Yani yang baru masuk bersama Pak Sulaiman dan Putri .


" Ais ,Pingsan Bu !" Sahut Ahmad lalu menangis sesegukan sambil mengusap lembut kepala sang adik .


Putri lalu mendekati Ahmad . Dalam pelukan istrinya Ahmad tidak merasa malu lagi , dia menumpahkan semua kesedihannya .


Bu Yani dengan linangan air matanya mengusapkan minyak kayu putih ke dada dan leher Aisyah . Dia tidak menyangka anaknya akan mengalami hal seperti ini . Tidak lama kemudian Bu Ainun pun datang bersama Pak Khairul .


Suasana duka menyelinuti mereka .Bu Yani dan Bu Ainun bergantian menanggil -manggil Aisyah supaya segera sadar kembali .


" Jenazah Azzam kapan di bawa pulang ? " Tanya Pak Khairul .


" Mungkin sebentar lagi , ada Ozi dan staf lain yang mengurus di sana . " Kata Ahmad .


" Astagfirullahalazim ! Ya Allah kuatkanlah kami semua " Ucap Pak Khairul diiringi isak tangis semua yang ada di dalam kamar itu .


Sebagai seorang ayah , Pak Khairul pun sangat terpukul harus kehilangan anak satu -satunya dengan cara yang sangat mengejutkan itu .Pak Sulaiman mendekati Pak Khairul , mencoba menenangkan sahabat sekaligus besannya .


" Kita hanya manusia biasa yang harus ikhlas menerima takdir yang telah Allah berikan . Azzam pasti akan sedih melihat kita semua seperti ini . Ada Ais dan calon bayinya yang butuh supotrt kita semua . " Kapa Pak Sulaiman .


Pak Sulaiman ingat seminggu yang lalu Azzam datang menemuinya . Mereka ngobrol -ngobrol . Dalam obrolan itu Azzam sempat berpesan untuk menjada istri dan anaknya kalau nanti dia tidak ada .


Saat itu yang ada di pikiran Pak Sulaiman , mungkin Azzam akan pergi keluar negeri dlaam irusan bisnisnya , makanya dia berpesan seperti itu . Tapi ternyata pesan itu merupakan pesan terakhir . Azzam pergi unruk selama -lamanya .


Berita kecelakaan yang merenggut nyawa seorang pengusaha muda pemilik sebuah perusahaan ternama pun menyebar luas . Sudah mulai banyak yang berdatangan ke rumah duka . Mulai dari rekan bisnis , karyawan perusahaan itu sendiri dan tidak ketinggalan para wartawan yang sudah sejak lama ingin mengekspos kehidupan pengusaha muda itu selalu gagal .


Sementara itu Aisyah di kamarmya sudah sadar . Dia duduk bersandar di ataa tempat tidur . Mengetahui suaminya sudah benar -benar pergi meninggalkannya , membuat Aisyah tidak bisa berbicara apa -apa . Mulutnya tertutup rapat , hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipinya .


Tatapan matanya kosong , tangannya mengelus -ngelus perurnya . Seakan berbicara pada sang bayi kalau sang ayah kini telah pergi meninggalkan mereka . Yang merupakan satu -satunya kekuatan Aisyah saat itu .


Terlimtas di benaknya ucapan -ucapan terakhir Azzam , dan obrolan mereka pada suatu malam saat hujan dan petir beberapa waktu lalu . Ucapan Azzam yang dibilangnya hanya bercanda , dan mimpi -mimpi buruk Aisyah pun kini semua menjadi nyata .


" Udah jangan nangis , saya akan selalu ada di dekat kamu , akan selalu menjaga kamu , walaupun nanti kita di alam yang berbeda ."


Kalimat itu terus terngiang di telinganya . kini semuanya menjadi nyata . Dirinya dan Azzam sudah berada di dua alam yang berbeda .


" Ya Allah , bukan hamba tidak ikhlas atas takdir dari mu , tapi berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapi ini semua ." Batin Aisyah .


Bu Ainun dan Bu Yani terus berusaha menghibur Aisyah . Tapi Aisyah tetap mematung .Sebagai hamba yang beriman , walalu pun mulutnya terutup rapat , batinnya terus mengucap kalimat istigfar ,


Sayup -sayup terdengar suara sirine ambulans yang datang membawa jenazah Azzam.


" Sepertinya ambulansnya sudah datang ." Kata Anggie .


Anggie bangun dari duduknya melangkah menuju balkon untuk mengecek situasi di halaman depan rumah .


Ambulans yang membawa jenazah Azzam sudah tiba di rumah duka . Halaman rumah Aisyah di penuhi para pelayat.


Saat itu para wartawan hanya bisa meliput situasi diluar rumah , karena mereka tidak diizinkan masuk kalau membawa kamera .

__ADS_1


" Ais , kita turun ya ?" Kata Bu Yani .


Aisyah mengangguk .


Bu Yani ,Bu Ainun ,Anggie dan Aisyah berjalan beriringan keluar dari kamar, melangkah masuk ke lift yang akan mengantar mereka ke lantai bawah .


Saat pintu lift terbuka , tampaklahi jenazah Azzan yang dibaringkan di tengah rumah .Bu Ainun pun bergegas mendekati jeazah anaknya . Tangisnya pun pecah ketika mendapati sang anak sudah terbujur kaku . Membuat suasana semakin memilukan .


Meskipun Azzam mengalami kecelakaan yang begitu fatal , tapi mayatnya masih utuh , selintas Azzam terlihat seperti orang yang sedang tidur saja .


Aisyah yang saat itu di gandeng Anggie menghentikan tangkahnya . Anggie merasa tangan Aisyah yang di genggaman gemetar . Anggie tau , ini semua pasti tidak mudah untuk Aisyah .


Aisyah masih berharap kalau apa yang terjadi saat itu hanyalah mimpi , Dia ingin segera bangun dari mimpi buruk itu , dan kembali melihat senyum manis suaminya . Bercamda bersama , melewati hari -hari dengan penuh kebahagian . Tapi itu semua bukan mimpi . Suaminya kini benar -benar telah pergi meninggalkannya dan calon anak mereka .


Kalimat -kalimat Azzam yang mengatakan akan selalu menjaga Aisyah walau mereka berada di alam berbeda kembali terngiang di telinga Aisyah. Aisyah melanjutkan langkahnya .


Melihat Aisyah mendekat , Bu Ainun pun menggeser posisinya . Suasana hening seketika ketika Aisyah berdiri di samping jenazah .


Walaupun wajah Aisyah tertutup oleh cadarnya namun kesedihan mendalam begitu terlihat jelas di mata Aisyah .


Aisyah duduk bersimpuh menatap wajah suaminya yang sudah pucat itu . Azzam yang tadi pagi masih tersenyum menatapnya . Memeluk dan mencumbu dirinya . Perlahan meraih tangan mencium punggung dan telapak tangan Azzam. Dan memeluk tubuh Azzam .


" Hubby , maafin Ais , yang belum bisa jadi istri yang baik untuk Hubby . " kata Aisyah dengan isak tangisnya .


Mulut Aisyah terus mengucapkan kalimat -kalimat yang pernah Azzam ucapkan tentang Azzam yang akan selalu menjaganya walau mereka di alam yang berbeda .Membuat semua yang mendengarnya terenyuh ikut merasakan kesedihan Aisyah saat itu .


" Ais , istigfar ,Nak ! " Kata Pak Sulaiman mendekati Aisyah . Lalu duduk di samoing Aisyah .


Aisyah mengusap air matanya , menarik napas dalam untuk mengontrol emosinya . Kemudian Aisyah mengambil buku yasin , membacakan surah yasin untuk Azzam . Lalu di lanjutkan dengan membaca surah Ar-Rahman . Surah yang menjadi pengantar pertemuan cinta mereka dan kini menjadi pengantar perpisahan mereka pula.


"Ais , pemakaman akan kita laksanakan hari ini , kamu tidak keberatan, Nak ? " Tanya Pak Khairul .


Aisyah menggelang . Mengisyaratkan kalau dia setuju pemakanan dilaksanakan hari itu juga .


" Yang sabar ya , Nak . Kamu tidak sendirian Nak , ada kami semua yang akan selalu menemani kamu . " Kata Pak Khairul memeluk Aisyah .


Sebelum kain kapan di tutup , satu persatu keluarga terdekat mencium jenazah Azzam sebagai penghormatan terakhir .


Saat itu Anisa kakak Aisyah dan suami Farhan baru datang . Mereka pun memberikan penghormatan terakhir . Anisa tidak.menyangka Azzam akan secepat itu meninggalkan mereka semua .


Setelah semuanya sudah , kini giliran Aisyah. Aisyah meraih tangan Azzam menempelkan di perutnya .Seolah sebagai elusan terakhir dari tangan sang ayah untuk sang bayi . Kemudian Aisyah mencium punggung dan telapak tangan suaminya .


Aku sangat mencintaimu ,Hubby ! " Kata Aisyah lalu mencium kening Azzam . Membuat isak tangis kembali menggema di ruangan itu .


Anisa memeluk adiknya yang terlihat sangat rapuh saat itu .Dalam pelukan sang kakak tangis Aisyah pun pecah .


Aldi yang baru sampai di rumah duka pun setengah berlari disusul istrinya Mala ,masuk ke dalam rumah duka . Beruntung jenazah Azzam belum dirutup seluruhnya. sehingga Aldi masih bisa melihat untuk terakhir kalinya wajah sahabat yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri itu .


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2