HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 97. Mohon bersabar


__ADS_3

Beberapa hari ini aku menginap di rumah sambil terus menimbang semua yang ditanyakan oleh Ayah dan juga William


Semakin aku memikirkan semuanya maka semakin tidak berujung dan rumit. Aku pun hanya memutuskan akan menjalaninya seperti apa adanya, jika Ayah memintaku untuk bekerja di perusahaan maka akan aku lakukan dan satu lagi, jika William memintaku untuk kembali bersamanya maka aku juga akan mengikutinya


Bukan aku tidak memiliki pendirian, tapi semakin aku melawan alur ini maka akan semakin pelik dan sakit. Biarkan waktu yang akan membawa semuanya, aku pasrahkan semuanya pada Yang Kuasa, biarakn dia yang mengatur jalan hidupku dan juga hatiku


"Selamat pagi, Ayah" kusapa laki-laki berbaju hitam itu, ia tengah sibuk mengoleskan selai ke atas lembaran roti miliknya


"Selamat pagi juga, Sayang" jawabnya seraya tersenyum, aku pun duduk di sampingnya dan kemudian melakukan aktivitas yang sama seperti dia


"Bagaimana, Nes. Apa kamu sudah memikirkan semuanya?" aku mengangguk dan menjelaskan semuanya


"Agnes tidak ingin selamanya menjadi egois, Yah. Agnes akan mencobanya"


"Bagus. Ayah percaya padamu, Nes. Masa lalu itu memang pahit dan menyakitkan tapi semuanya tidak akan pernah berubah jika kita masih berada di bawah bayangannya dan tidak mencoba berdiri menyingkirkan masa itu"


"Iya, Ayah" kami pun kemudian menyelesaikan sarapan, tak lama kemudian Ayah berangkat ke kantor bersamaku yang kini sudah siap


...***********...

__ADS_1


William kini berada di kantor, ia tengah meeting bersama dengan para pemegang saham lainnya. Wajahnya terlihat tegang dan dadanya bergemuruh


Protes dan juga tuntutan banyak ia dengarkan dari para koleganya. Kasus yang menimpa kakaknya kini juga berdampak pada perusahaan yang ia pimpin, harga saham pun anjlok dan kini berada di ujung tanduk jika saja dalam satu minggu ke depan hal ini tidak berubah maka bisa dipastikan perusahaan yang ia pimpin akan gulung tikar


Banyak kertas bertumpuk di depannya, mulai dari pengajuan para investor, pemberitaan harga saham, koran dan juga media cetak lainnya yang memuat pemberitaan Alexa


"Tolong jelaskan bagaimana kondisi yang sebenarnya, apa kasus itu benar adanya?" Tanya seorang investor yang bertubuh tambun itu, ia sudah mendengar kasus yang menimpa keluarga Adiputra tapi ia tidak ingin menyimpulkan semuanya jika belum mendengar langsung dari sumbernya


William mengatur emosinya, mencoba menetralkan pikiran dan hatinya yang kacau karena kondisi sekarang


"Benar, hal itu benar adanya. Saya pribadi memohon maaf pada kalian semua karena hal ini berdampak negatif pada perusahaan dan saham" lanjut William


"Sabar, Pak. Saya usahakan semuanya akan kbali normal" William mencoba setenang mungkin menghadapi kondisi yang tidak kondusif ini


"Sampai kapan kita sabar?" celetuk beberapa investor yang lain membuat suasana semakin tidak karuan, William yang biasa di dampingi sekretaris pun kini harus berjuang sendiri sebab sang sekretaris juga berjuang di tempat lain demi mendapatkan kesepakatan dengan pihak lain.


Dan Ayahnya, Om Adiputra kini juga tengah mengalami hal yang sama di tempat lain. Bisnis yang mereka kembangka di luar negeri kini juga terancam sebab investor dan para pemegang saham di sana juga sudah mengetahui kasus yang menimpa keluarganya


"Kita sudah bertahan berhari-hari, bahkan di luar sana banyak sekali orang berdemo meminta seluruh outlet kita ditutup, dan lagi, anak cabang usaha kita juga tidak memiliki pelanggan sama. sekali" investor bertubuh tambun itu menunjuk ke arah luar jendela di mana banyak sekali orang berdemo

__ADS_1


Mereka semua bukan hanya para pegawai dari anak cabang dan juga outlet yang dikepalai William tapi mereka juga masyarakat biasa yang kontra akan kasus keluarga Adiputra. Berbagai tulisan mereka angkat tinggi-tinggi, menyuarakan hati dan juga pikiran mereka. Suara keras mereka juga terdengar menggema karena speaker pun disetel dengan batas volume tinggi


"Mohon bersabar dan tenang Bapak-Bapak semua, kita bisa mengatasinya bersamaan. Tidak ada gunanya jika kita merasa emosi, semuanya harus diselesaikan dengan kepala dingin" sela William


"Apa keadaan ini terasa dingin, tidak tuan William. Ini bahkan lebih panas dari lahar gunung berapi. Jika saja kita tahu akan seperti ini pasti kita tidak akan pernah mau investasi di perusahaan ini" berontak salah satu di antara mereka membuat suasana semakin gaduh


Tampilan mereka yang rapi tidak membuat mereka lantas bersikap seperti seharusnya, mereka malah terlihat lebih bar-bar dari pelakor. Memang, apa pun yang menyangkut uang mayoritas membuat orang tidak bisa berpikir jernih bahkan terkesan menunjukkan sisi lain dari pribadi mereka yang kala beruang akan santai dan jika uang hilang maka siapa pun akan dibantai


"Jika sampai besok hal ini tidak menemui kejelasan maka kita berhenti investasi dan mohon kembalikan modal kami semua dengan segera!" putus pria bertubuh tambun itu yang sejak awal seperti menjadi provokator bagi mereka semua, dengan segera mereka pun ke luar dari ruang meeting sebelum mereka menemukan titik terang dan kesepakatan


"Tunggu, jangan pergi dulu, kita bicarakan semuanya!" William mencoba menghentikan semuanya tapi tidak berhasil, mereka tetap melenggang pergi dari sana sembari menjumpai dan mengeluarkan sumpah serapah mereka


William hanya mampu berdiam di ambang pintu ruang meeting tanpa bisa berbuat lebih. Pikirannya bertambah kacau kala sang sekretaris juga mengirimkan sebuah berita jika dirinya juga tidak menemukan kesepakatan dengan pihak lain


Dia pun kemudian kembali ke dalam ruang meeting, memindai dari jendela kaca di sana bagaimana kondisi di luar. Semakin banyak orang yang berdemo, ia sadar keadaan ini tidak akan menemui titik terang jika masih terasa panas. Ia lebih memilih berdiam, bukan karena ingin menghindar tapi karena ia tidak ingin menambah masalah yang pastinya tidak akan selesai begitu saja


Sementara itu di sebuah restoran yang dulunya dikepalai oleh Alexa. Sejak kasus itu mencuat, tidak ada satu pun pelanggan yang datang padahal biasanya di jam-jam seperti ini tempat ini berjubel dan penuh


Bahkan tidak sedikit dari sudut tempat ini yang sudah diserbu oleh mereka yang tidak suka, sedikit rusak dan banyak bertempelkan tulisan yang kasar dan tidak patut. Para pegawai pun tidak kuasa lagi menghalangi mereka yang berbuat anarkis, mereka hanya diam, melaporkan hal ini pada pihak berwajib dan kemudian menutup rapat restoran itu agar kerusakan tidak semakin parah

__ADS_1


...***********...


__ADS_2