
Aku sedang berada di dalam sebuah taksi, aku tidak tahu ke mana aku akan pergi. Ke mana pun aku pergi pasti William akan tahu aku di mana. Aku juga tidak mungkin pulang dan menceritakan ini semua pada Ayah, itu semua hanya akan kembali membuka luka yang pernah ia alami
"Kita ke mana, Mbak?" berulang kali pertanyaan itu terus terucap dari Pak sopir, namun aku hanya memintanya terus dan terus tanpa tujuan dan untuk yang ke sekian kalinya ia menyanggupi hal itu
Ponselku juga terus berbunyi, beriringan dengan air mata yang terus saja menetes. Sekali lagi aku dibodohi dan ditipu. Aku tidak pernah mengira jika hal ini akan kembali terjadi padaku
Aku sudah sangat percaya pada William tapi kenapa ia menipuku dan tidak mengatakan jika dirinya bekerjasama dengan Samuel padahal dia juga tahu jika aku memang tidak suka dengan laki-laki itu, laki-laki yang mau tidak mau kini sudah menjadi saudara tiriku
...***********...
William dan Samuel kinin tengah berada di sebuah Cafe, mereka berdua tadi mengejarku dan karena kehilangan jejak akhirnya keduanya memutuskan untuk berhenti dan beristirahat
"Apa kamu tidak bertemu terang padanya, Will?" William menggeleng
"Maaf, aku tidak bermaksud membuat hubungan kalian semakin rumit. Aku hanya mencari waktu yang tepat dan akan aku ceritakan semuanya"
Samuel hanya menghela nafasnya kasar sambil sesekali menyeruput kopinya yang kini sudah agak dingin itu. Laki-laki yang memakai setelan jas biru tua itu sesekali memijat kepalanya yang terasa berat. Ia merasa jika semakin sulit untuk mendekatiku
"Ini bukan salahmu, kamu sudah melakukan semuanya dengan baik. Lagi pula aku juga salah, harusnya aku mendekatinya sendiri dan bukan malah memintamu. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, aku tidak ingin dia membenciku"
"Aku akan terus membantumu menyakinkan dia, lagipula kamu juga akan menjadi keluargaku nantinya" William tersenyum sembari membayangkan pada akhirnya dirinya dan aku kembali bersatu dan menjadi sebuah keluarga
"Iya, iya aku percaya, aku dan Mama akan mendukung kalian. Aku harap kalian bisa bersama lagi" sambung Samuel
"Terima kasih, Kak" kata William kembali tersenyum
"Sama-sama, adik" dan mereka pun tertawa bersama. Begitulah laki-laki, lebih mudah berkomunikasi dan juga mengenal satu sama lain tidak seperti perempuan yang biasanya lebih mengutamakan gengsi dan juga yang lainnya.
__ADS_1
...*************...
Aku tidak tahu ke mana lagi aku harus berjalan, setelah aku turun dari taksi yang tadi aku tumpangi. Awalnya aku duduk di sebuah taman bunga yang penuh dengan anak-anak yang sedang bermain.
Setelah hampir satu jam aku di sana, memperhatikan tingkah lucu mereka yang kadang tertawa, saling marah dan juga menangis karena berebut mainan
Aku memutuskan untuk pergi dan mengikuti ke mana kaki ini melangkah. Dan sekarang, aku tidak tahu aku di mana. Aku berada di sebuah jalan yang kurasa cukup familiar di mataku
Terus dan terus aku melangkah tanpa menoleh, di persimpangan jalan yang kali ini terlihat agak padat oleh kendaraan sebab hari sudah mulai petang
Tepat di depan lampu merah itu, aku kembali mengingat. Sepertinya aku pernah ke tempat ini tapi kapan, aku terus saja berjalan menyeberang jalan itu hingga pada akhirnya aku sampai di depan sebuah kompleks perumahan
"Perumahan Anggrek Kurnia" gumamku lirih sambil melihat papan nama dari tempat tersebut.
Aku menghentikan langkah kakiku karena sepertinya nama itu juga cukup familiar tapi kenapa, bukankah aku baru sekali lewat sini. Aku kemudian menepikan diriku di bawah pohon yang cukup rendang dan mencoba mengingat apa yang aku lihat
Dari kejauhan tampak seseorang sedang mengendarai motornya dengan laju yang sedang, ia berhenti tepat di depan pos Satpam dan menyerahkan sebuah kunci pada Satpam itu
Motor itu melintas tepat di depanku, aroma parfum menguar dari tubuh si pengendara itu. Sekali lagi otakku menangkap wangi parfum itu yang aku rasa kembali familiar
Entah karena apa, pengendara motor itu berhenti, ia berhenti tidak jauh dari tempatku berdiri. Ia menoleh ke arahku yang kini juga menatapanya. Aku mencoba menerka siapa orang itu tapi aku tidak bisa berpikir kali ini. Hingga pada akhirnya aku melihat ke arah motornya, motor berwarna coklat itu dengan sebuah stiker bergambar bunga di bawah nomor platnya
Aku sempat berpikir, apakah itu perempuan. Karena dari aksesorisnya, di sana terdapat gambar bunga. Tapi sekali lagi aku pastikan dan melihat stiker itu
Deg,
Seakan dadaku kembali ditimpa oleh batu yang besar, rasa sesak tiba-tiba aku rasakan. Kusandarkan tubuhku pada pohon yang kini berada di belakangku, aku duduk di bangku kayu yang berada di bawah pohon itu
__ADS_1
Kuatur nafasku yang mulai kembang kempis, kulihat lagi motor itu tapi ternyata sudah tidak ada di sana, mungkin sudah melaju entah ke mana
Setelah nafasku kembali pulih, dan dadaku tak lagi merasa sesak, aku kemudian bisa berpikir dan tahu di mana sekarang aku berada. Aku sudah bisa mengingat wangi parfum yang baru saja aku hirup dan juga stiker bunga yang baru saja aku lihat
"Prima" ucapku seketika
Ternyata sedari tadi kaki ini melangkah ke tempat di mana nama orang itu berada. Sedari tadi kakiku menuntunku ke sebuah komplek yang dulu pernah aku datangi, tapi kenapa, kenapa harus ke tempat ini. Bukankah orang ini juga pernah menyakitiku tapi kenapa kakiku lebih memilih ke tempat ini
Dan lagi, parfum itu. Bukankah itu parfum yang dulu sempat aku belikan untuknya, aku masih mengingatnya dengan jelas. Keyakinanku semakin bertambah sewaktu aku melihat stiker bunga itu. Stiker yang bahkan aku sendiri yang menempelkannya di tempat itu, stiker toko bunga yang dulu menjadi saksi pengkhianatanku terhadap William
Sekali lagi, air mata ini tumpah. Kejadian demi Kejadian kembali terulang dan berjalan di otakku, apakah ini hukuman bagiku karena pernah meninggalkan orang yang benar-benar menyayangiku hanya demi yang tidak pasti, jika iya, kenapa harus sesakit ini
Apakah dulu William juga merasakan hal yang sama seperti ini, apakah hatinya juga sakit seperti ini, apakah air matanya juga terus menerus tumpah seperti air mataku. Jika saja aku tahu semuanya akan berbalik dan menjadi lebih sakit pasti aku tidak akan pernah menyakitinya. Namun, semua itu hanya tinggal penyesalan dan tidak berarti apa pun juga
Memang, sekarang William kembali mendekati diriku dan mungkin mengharap aku kembali. Tapi aku sendiri masih takut, aku takut jika aku akan mengulangi kesalahan yang sama dan kembali menyakiti dirinya. Entahlah, biarkan saja waktu berlalu dan membuat semuanya berjalan seperti seharusnya
Berjam-jam lamanya aku duduk di sana, kulihat kembali ponselku dan di sana sudah menunjukkan pukul 19.00. Aku putuskan untuk mengabaikan semua panggilan dan juga pesan yang sampai saat ini terus menerus masuk ke dalam ponselku, aku kemudian memesan ojek online dan memutuskan untuk pulang
.
.
.
.
.
__ADS_1
up lagi kih mak, mon maap ya kemarin up cuma up aja, enggak nyapa emak-emak semua. Tetep stay di novel karya otor ini ya mak. jangan lupa untuk lisensi dan juga vote juga komentarnya biar tambah semangat otor up nya
yuk yang punya IG kenalan lebih jauh sama otor di @rahmaalfa21