HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 91. Mulai menginterogasi lagi


__ADS_3

Kami berempat kini sudah berada di ruangan sebelah, ruangan yang memiliki ciri sama dengan ruangan yang tadi aku masuki hanya saja di sini tidak memiliki meja dan hanya di dominasi oleh kursi yang kini di duduki oleh beberapa orang yang entah mereka itu siapa


William pun mendekat ke salah satu di antara mereka dan masih menggandeng tanganku. Prima memang memerhatikan kami berdua sejak tadi dan pandangan matanya juga masih terus berpusat pada genggaman tangan kami berdua


Entah apa yang dia rasakan tapi yang pasti kini wajahnya berubah, senyum manis saat menatap sang kekasih tidak lagi tampak di wajahnya. Sekarang di sana hanya terlihat kegelisahan dan juga keraguan, apa maksudnya aku sendiri tidak mengerti


Sedangkan aku sendiri kini masih saja diam, tidak mau berdebat atau pun bertanya ke hal yang lebih detail. Aku lebih memilih mengikuti alur dan menjalaninya, toh melawan dan membangkang pun tidak akan pernah berhasil dan hanya menambah sakit serta luka


"Apa kamu mengenalnya?" William mulai bertanya seraya menunjuk ke arahku pada seorang laki-laki yang duduk paling kiri. Ia dan juga beberapa laki-laki yang lain diikat kaki dan juga tangannya menggunakan borgol dan juga tali yang kuat


Laki-laki itu pun mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku, dia tampak terkejut saat melihatku. Pikirannya kemudian menerawang ke malam itu, malam di mana dia mengirimkan makanan yang berisi obat tidur yang merupakan suruhan dari Alexa. Ia masih tetap diam dan tidak berucap apa pun


"Apa kamu ingat?" lagi, William bertanya tapi dia tetap diam, William kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah video di mana ada seorang wanita yang tengah disekap di suatu tempat


"Jangan sakiti dia!" teriaknya kemudian sesaat setelah melihatnya. William tersenyum jahat, ia kemudian kembali memasukkan ponselnya. Raut wajah kekhawatiran pun tampak di sana, ia sangat takut ketika melihat orang yang ia cintai tengah berada di dalam bahaya


"Jika kamu inginkan dia selamat maka kamu harus jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi" Kata William


"Aku hanya orang suruhan, aku tidak mengenal wanita itu!" jelasnya kemudian sambil menatapku


"Siapa yang menyuruhmu?"


"Aku tidak tahu namanya lagipula yang memintaku seorang laki-laki"

__ADS_1


"Laki-laki?" ucapnya lirih sembari berpikir, apakah ia sudah salah menerka jika itu adalah perbuatan kakaknya tapi di lain sisi, ia sudah mendapatkan bukti melalui anak buah yang ia kirim waktu itu


"Apa kamu tahu perbuatanmu itu termasuk kriminal?" laki-laki itu mengangguk


"Aku tahu dan aku sadar betul, tapi aku butuh uang dan dengan melakukan semua itu aku mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat" jelasnya lagi


"Lihat, di sana banyak laki-laki. Apa yang menyuruhmu adalah salah satu dari mereka?" Tunjuk William pada sederet laki-laki yang kini bernasib sama seperti dirinya


Laki-laki itu pun mengamati satu persatu dari mereka semua, butuh waktu agak lama sebab saat ia menerima perintah itu terjadi di malam hari dan tidak begitu jelas melihat wajahnya tapi satu hal yang ia ingat bahwa laki-laki yang menyiruhnya memiliki badan yang tinggi, besar dan juga punya tato di salah satu jarinya


"Aku tidak begitu jelas mengingatnya, tapi orang yang menyuruhku memiliki tato kalajengking di tangan kirinya!" jelas laki-laki itu dan dengan segera William memerintahkan anak buah yang sedari tadi mengikutinya untuk memeriksa satu per satu di antara mereka semua. Prima pun ikut turun tangan dan membantu memeriksanya


"Ini dia!" teriak Prima kala melihat salah satu di antara mereka semua memiliki ciri yang sudah disebutkan tadi. Prima pun merasakan kelegaan kala melihatnya, itu berarti apa yang i duga akhirnya akan menemui titik terang


"Siapa?" William menjelaskan dan ia pun kemudian menyebut nama Alexa di akhir pengakuannya. William kemudian berbalik dan menjauh dari laki-laki itu. Ia kemudian menghubungi seseorang dengan ponselnya dan meminta anak buahnya untuk menjaga mereka sebelum polisi datang


"Apa ini semua benar, Will?" aku tampak ragu dengan apa yang aku dengar tapi William hanya mengangguk, ada guratan kekecewaan di wajahnya. Seorang kakak yang ia hormati dan ia banggakan karena prestasinya ternya seorang kriminal yang keji


"Kita pergi saja dan biarkan anak buahku yang mengurus semuanya!" seklai lagi ia menggenggam tanganku dan akhirnya aku pun pergi dari tempat itu melalui jalan yang kita lewati tadi


Kami berempat pun akhirnya ke luar dari rumah kecil yang memiliki ruang bawah tanah itu. William kini lebih memilih diam dengan segala pikiran dan juga perasaan yang bertumpuk dan aku sendiri kini lebih memilih melihat ke arah luar jendela demi menghindari pemandangan di belakang yang membuatku merasa kecewa


Prima dan Mbak Sumi, dua orang itu kini terlihat tengah berbincang dan sesekali tersenyum. Prima pun tak henti-hentinya terus menggenggam tangan calon istrinya itu, sungguh luar biasa sakit saat aku melihatnya

__ADS_1


Ya, beginilah hidup. Kita pasti akan dihadapkan dengan hal yang kita suka maupun yang tidak kita suka, tapi semua itu akan menjadi baik atau pun buruk tergantung dari sisi mana kita menyikapinya. Jika kita mampu menyikapinya dengan hati yang lapang dan ikhlas maka itu semua akan menjadi pelajaran yang berharga, namun sebaliknya, jika kita menghadapinya dengan kemarahan dan juga larut dalam kekecewaan maka itu semua akan berdampak buruk dari kita dan juga lingkungan kita.


Maka teruslah bersabar seperti otor yang selalu sabar menunggu vote dan juga dukungan dari para reader semua 🤭🤭


...***********...


Alexa kinin tengah berada di apartemen miliknya. Apartemen mewah yang bernuansa klasik, berisi barang-barang mewah dan juga ternama serta memiliki teknologi canggih yang up to date


Ia tengah berbincang dengan Tante Rosa dan juga Om Adiputra, orang tua kandungnya yang terbilang jarang pulang ke Indonesia. Tetapi karena beberapa waktu yang lalu William meminta mereka untuk segera pulang, awalnya mereka tidak punya waktu tetapi setelah William menjelaskan keadaan yang sebenarnya maka mereka pun pulang


Namun sampai saat ini mereka berdua masih terus bersandiwara dan menyembunyikan apa yang mereka ketahui dan mereka rasakan dan juga Alexa sendiri tidak mengetahui sandiwara orang tuanya itu


"Bagaimana usahamu, sayang?" Tante Rosa masih bersandiwara dan bersikap ramah seperti biasa sedangkan Om Adiputra masih terus berkutat dengan ponselnya, ia beralasan yengan menghubungi kliennya padahal ia tengah bertukar pesan dengan anak buah William


"Semuanya berjalan baik, Ma" jelas Alexa sembari tersenyum sumringah menjelaskan bagaimana ia bekerja akhir-akhir ini


"Syukurlah, apa kamu tidak punya rencana untuk kembali berkarir di luar negeri?" basa-basi Om Rosa, ia sebenarnya sudah sangat tidak sabar menunggu kedatangan William dan kemudian mulai menginterogasinya


"Entahlah, Ma. Lexa masih ingin di sini"


Beberapa saat kemudian, Alexa pun berdiri kala ia mendapatkan pesan dari William dan mengatakan jika dirinya sudah berada di luar. Tidak ada kecurigaan di hatinya, yang ia pikir hanya William datang sebab orang tuanya berkunjung dan berada di apartemen miliknya


Pintu apartemen terbuka dan betapa terkejutnya Alexa ketika tidak hanya William yang berada di sana tetapi aku, Prima dan juga Mbak Sumi, orang yang ingin ia singkirkan sebab ia menginginkan Prima

__ADS_1


"Ka-kalian!"


__ADS_2