
Happy reading.....
Saat sampai di ruang tamu, Rania melihat jika Freya sedang berdiri tak jauh dari sang kakek, dan dia juga menatap kakeknya yang terus saja melihat dengan tajam ke arah Freya.
"Ayo Kek! Aku udah siap nih, bentar lagi pelajaran Aau juga mau dimulai," ucap Rania tanpa menengok ke arah Freya sedikitpun. Kemudian mereka pergi meninggalkan kediaman Dalmiro.
Setelah sampai di kampus, Rania mencium tangan sang kakek, kemudian dia pun bertanya, "Kak_ek jadi menemui mbak Maya di cafenya? Terus, apakah Kakek jadi untuk membelikan mbak Maya rumah?"
"Iya jadi, tapi Kakek perlu bertanya dulu pada Maya. Walaupun pada akhirnya Kakek tahu dia pasti akan menolak. Namun, tetap saja, Kakek sudah membelikan Maya rumah dan itu menjadi haknya," jawab kakek Albert.
Setelah melihat cucunya masuk ke dalam kampus, kakek Albert meminta sopir untuk melajukan mobilnya ke tempat Maya. Dia memang sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari, di mana dirinya sudah membelikan rumah untuk Maya, tanpa sepengetahuan Carlen.
Sesampainya di sana, kakek Albert melihat Maya sedang melayani para pembeli, dan wanita itu saat melihatnya langsung menghampiri pria tua tersebut, kemudian mencium tangannya.
"Kakek kenapa ke sini nggak bilang-bilang? Ranianya mana?" tanya Maya sambil melihat ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak menemukan Rania.
"Dia 'kan di kampus. Kakek tadi baru saja mengantarnya, sekalian mampir ke sini. Soalnya ada yang mau Kakek bicarakan sama kamu," ujar kakek Albert.
Maya terlihat heran namun, seketika dia pun mengangguk. Kemudian meminta kakek Albert untuk duduk di salah satu meja, lalu dia memanggil pelayan untuk membuatkan minum
"Emangnya ada apa, Kek?" tanya Maya.
"Kakek mau nanya sama kamu, tapi kamu harus jawab jujur pertanyaan Kakek," jelas kakek Albert.
"Insya Allah Maya akan jawab jujur. Memangnya kenapa Kek?"
"Maya, apakah kamu masih mau bertahan dengan Carlen? Iya, Kakek tahu sih, bahwa perlakuan dia selama ini tuh begitu menyakitkan. Bukan hanya fisik, tapi batin kamu. Sebenarnya bisa saja Kakek turun tangan atas semua perlakuan dia selama ini, tapi percuma, saat manusia sedang dibutakan oleh cinta. Jangankan untuk mendengarkan nasihat dari orang lain, kadang kita memberi masukan pun tidak akan didengar olehnya. Sebelum orang itu sendiri sadar, saat pasangan yang dicintainya ternyata salah. Makanya Kakek menunggu waktu yang pas, biar Carlen melihat sendiri pasangan yang selama ini dia pilih ternyata hanya seekor ular yang berbisa. Kakek harap, kamu mau bertahan dengan Carlen, karena sejatinya dia pria yang baik. Hanya saja, Carlen terlalu mencintai Freya, sehingga menganggap kamu bersalah." Sejenak kakek Albert menghentikan ucapannya, dia menatap lurus ke arah depan.
Sementara itu, Maya masih menyimak ucapan kakek Albert. Dia pun merasa bingung dengan rumah tangganya sekarang, apakah harus bertahan atau menyerah.
"Kakek berharap, bahwa kamu bisa bersama dengan Carlen sampai kakek-nenek. Karena Kakek tahu, hanya perlu waktu agar Carlen mencintai kamu. Dan hanya perlu waktu agar mata anak itu terbuka, jika Freya bukanlah wanita yang baik. Kamu hanya perlu bersabar, dan kakek akan membantu. Mungkin bisa dibilang bantuan Kakek ini telat, tapi sepertinya memang Kakek harus turun tangan secara langsung," sambung kakek Albert.
Maya tidak menjawab. Dia masih terdiam, mengingat bagaimana perlakuan Carlen dulu kepada dirinya, membuat rasa sakit itu kian terasa. Karena mengingat bagaimana penyiksaan yang Carlen berikan secara fisik dan batin.
__ADS_1
"Sejujurnya Maya bisa saja bertahan dengan mas Carlen, tapi Maya tidak ingin menjadi penghalang antara cinta mereka, Kek. Mas Carlen terlalu mencintai mbak Freya, jika dipisahkan dan dia tahu siapa mbak Freya sebenarnya, pasti mas Carlen akan merasa sangat sedih dan terpukul," jawab Maya dengan tatapan sendu.
"Bukankah lebih baik dia terluka, dan kamu menyembuhkannya. Ketimbang dia harus terjerumus ke dalam lubang yang digali oleh Freya? Maya, Kakek mohon, tolong kamu selalu berada di sisi Carlen! Ini permintaan Kakek. Buat dia mencintaimu! Karena Kakek yakin, dia pasti bisa membuka hatinya untukmu."
Setelah berbicara dengan Maya, begitupun mengatakan tentang rumah tersebut, dan seperti dugaannya, Maya menolak pemberian kakek Albert. Kemudian pria paruh baya itu pun pulang ke kediaman Dalmiro.
Saat dia sampai di sana, kakek Albert tersenyum menyaringai karena dia sudah menyiapkan hukuman untuk Freya. Pria itu pun saat ini tengah duduk di meja makan, kemudian dia meminta pelayan untuk memanggil Freya.
Tak lama Freya pun datang, "Iya Kek, Kakek manggil aku?" tanya Freya.
"Iya, saya haus, tolong buatkan saya wedang jahe ya!" pinta kakek Albert.
"Eum, tapi 'kan di sini ada--"
"Saya menyuruhnya kamu, bukan pelayan. Kalau kamu gak mau, ya silakan angkat kaki dari rumah ini!" tegas kakek Albert tanpa bisa dibantah.
Freya yang mendengar itu pun mau tidak mau membuatkan wedang jahe, tapi dia tidak tahu caranya seperti apa. Dan saat dia akan meminta tolong kepada pelayan, kakek Albert meminta pelayan untuk mengerjakan tugasnya masing-masing, dan tidak ada yang boleh membantu wanita itu.
'Sialan si aki-aki peot. Gue mana bisa bikin wedang jahe? Ngerti juga nggak bahan-bahannya apaan. Aduh, jahe yang mana lagi ah? Mungkin ini?' batin Freya sambil mengambil buah kencur yang dia sangka adalah jahe.
Dia tidak mungkin bisa menolak permintaan kakek tua itu. Sebab semua harta warisan masih berada di tangannya, dan Carlen belum mendapatkan apa-apa. Freya juga tidak ingin ditendang dari sana, karena dia tidak ingin menyia-nyiakan sebuah kesempatan yang begitu besar.
"Sudah belum? Lelet banget sih jadi perempuan kerjanya! Gimana kamu mau ngurusin Carlen, kalau punya istri lelet kayak gini? Nggak bisa diharapkan. Kalau apa-apa itu jangan serba Pelayan, kamu itu istrinya Carlen. Emangnya pelayan istrinya? Terus kamu jadi apany? Ratu? Mimpinya ketinggian!" gerutu kakek Albert sambil menatap Freya yang sedang membuatkannya minuman.
Freya yang mendengar itu mengepalkan tangannya dengan sorot mata yang tajam. Dia mencoba menahan emosi untuk tidak mengeluarkan sumpah serapah pada kakek Albert, walaupun sebenarnya dia ingin sekali meremas mulut kakek tua itu.
Sedangkan kakak Albert tersenyum menyeringai. Dia tahu jika saat ini Freya sedang kesal kepadanya, dan itu adalah tujuan utamanya.
Setelah minuman jadi, Freya pun memberikannya kepada kakek Albert. Pria itu menatap ke arah gelas yang masih terasa hangat di hadapannya.
"Apa ini?" tanya kakek Albert.
"Ya ini minuman yang Kakek pesan tadi. Apa tuh namanya? We-wedang jahe," jawab Freya.
__ADS_1
Seumur-umur baru ini dia membuatkan minuman yang aneh seperti itu. Padahal selama ini jika Freya ingin apapun, dia selalu memintanya dan tidak pernah membuatnya sendiri, dan ini adalah perdana bagi dirinya.
Kakek Albert terlihat ragu untuk meminum wedang jahe itu, karena dilihat dari bentuknya sangat butek. Bahkan aromanya pun tidak ada rasa jahe bahkan bisa dibilang malah bau kencur.
"Kau yakin ini wedang jahe?" tanya kakek Albert memastikan sambil menatap ke arah Freya dengan alis terangkat satu.
"Yakinlah Kek, 'kan Kakek lihat sendiri tadi aku buatnya gimana? Ayo dong Kek, diminum! Itu spesial loh buatan Freya," jawab wanita itu dengan nada lembut, padahal hatinya saat ini sedang gondok.
"Dari aromanya sih tidak ada wedang jahe jahenya ya. Coba kamu minum duluan! Kalau memang aman, baru saya akan menghabiskannya!" pinta kakek Albert kepada Freya.
Wanita itu membulatkan mata dan mulutnya, saat mendengar penuturan kakek tua tersebut. Dia meneguk ludahnya dengan kasar, saat melihat minuman yang dibuatnya beberapa menit yang lalu.
"Loh, tapi 'kan Kakek tadi mintanya itu. Kok malah dikasih ke Freya sih?" protes wanita itu.
"Kamu mau melawan sama saya? Ini 'kan kamu yang buat sendiri, jadi kamu harus cobain dong aman atau enggaknya. Kamu mau buat saya mati? Sudahlah, sekarang minum. Kalau tidak, saya akan bekukan semua aset Carlen, sehingga kamu tidak bisa lagi untuk belanja!" ancam kakek Albert.
Mendengar itu, mau tidak mau Freya pun mengambil minuman tersebut. Dia tidak tahu rasanya seperti apa, karena tadi Freya tidak mencobanya. Kemudian wanita itu dengan ragu menempelkan gelas tersebut di bibirnya, lalu meminum wedang jahe itu.
Akan tetapi, seketika Freya langsung menyemburkannya ke sembarang arah, saat merasakan entah rasa apa yang saat ini ada di dalam mulutnya. Kemudian dia segera berlari ke wastafel lalu mencuci mulutnya.
Sementara kakek Albert hanya tersenyum saja. Dia sudah menduga itu, jika minuman yang dibuat Freya bukanlah wedang jahe, tetapi kencur yang dimasukkannya.
"Kamu sadar tidak, apa yang kamu masukkan ke dalam minumanmu sendiri?" tanya kakek Albert saat Freya sedang mengusap bibirnya dengan tisu.
Wanita itu pun menggeleng, karena memang dia tidak tahu bahan-bahan apa saja yang dia masukkan tadi.
"Yang kamu masukkan itu bukanlah jahe, tapi kencur. Kamu mau bikin beras kencur? Saya mintanya wedang jahe, bukannya beras kencur. Heran, masa istri aja nggak bisa sih bedain mana kencur dan mana jahe? Bagian pisang ambon aja sama batang lele bisa bedain!" kesal kakek Albert. Kemudian dia pergi dari meja makan meninggalkan Freya dengan kekesalannya.
''Kakek tua itu kenapa sih? Heran aku. Nggak pernah suka sama aku dari dulu? Memangnya dia pikir buat minuman kayak gitu tuh, gampang? Lagian, mana gue tahu mana jahe kek, mana kencur kek, masak aja gue nggak bisa!" gerutu Freya sambil menekuk wajahnya dan duduk di kursi.
Sementara mama Gisel sedari tadi hanya melihat tak jauh dari meja makan. Dia menyaksikan bagaimana kekesalan Freya kepada kakek Albert, dan bagaimana mertuanya mengerjai menantunya tersebut.
'Apakah memang benar, jika Freya itu wanita yang jahat? Sepertinya memang aku harus bertemu dengan Maya, dan meminta maaf kepadanya. Rasanya apa yang dikatakan oleh Rania ada benarnya,' batin mama Gisel.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....