HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 120. Kita belum resmi, Mas


__ADS_3

Bunga mawar kembali bermekaran, mewangi dan juga menyeruak, menusuk indera penciuman. Siang ini hujan pun ikut turun, membasahi tanah yang mengering dan berongga. Rasa dingin tak lagi terelakkan, membuatku betah berada di dalam pelukan William. Aku tidak langsung pulang saat usai bekerja, William tadi menjemputku dan memintaku untuk ikut bersamanya, aku dibawanya ke apartemen miliknya


Kami berdua masih duduk berdampingan di dekat balkon. Roti isi yang masih mengebul dan juga lemon tea hangat kini tersaji di depan kami berdua


"Mas" panggilan baru untuk William, katanya ia lebih menyukainya ketimbang dipanggil sayang atau sejenisnya


"Apa?" jawabnya lembut membuat hatiku kembali berdesir dan sangat bahagia


Aku mendongak menatapnya, "Enggak" lanjutku


"Kenapa?"


"Enggak kenapa-kenapa" ia melepaskan pelukannya, membenarkan duduknya dan menghadap ke arahku


"Ada yang ingin kamu sampaikan?" aku sejenak berpikir, apakah aku harus bercerita padanya tentang apa yang terjadi pagi ini


"Katakan saja, aku tidak mau lagi kita tidak saling terbuka dan nanti akan menimbulkan perasaan yang mengganjal di hati. Aku tidak mau hal yang sama terulang kembali. Cepat katakan!" ia mengusap pipiku pelan


"Sam" ia menautkan alisnya meminta penjelasan lebih


"Tadi pagi Sam datang ke kantor, ia mengatakan jika masih menunggu kak Alexa dan jika kak Alexa mau maka dia akan menikahinya"


"Lalu?"


"Bukankah di keluargamu tidak pernah memperbolehkan kakak adik untuk menikahi satu keluarga?"


"Apa sebegitu besarnya kamu mencintaiku, sampai-sampai kamu takut akan hal itu?" Goda William


"Aku serius, Mas"


"Aku juga serius, sayang" Terus menerus William menunjukkan senyum manisnya membuat semua tulang di tubuhku seakan melunak dan aku tak lagi berdaya


"Memang, dalam keluargaku tidak memperbolehkan hal itu namun bukankah sekarang kalian berdua tidak lagi satu keluarga. Om kuncoro sudah berpisah dengan tante Arini dan tante Arini juga sudah menikah dengan Ayah Samuel, meski kalian kakak adik tapi kan beda keluarga"


Sejenak aku berpikir, dan benar apa yang Willy katakan. Tapi aku masih ragu akan hal itu, apa nanti om Adiputra akan mengijinkan kami berdua atau salah satu di antara kamu memang harus menerima kenyataan pahit untuk tidak bisa bersama. Dan lagi, Sam kelihatannya sangat menyukai Kak Alexa. Dari cerita tadi pagi yang ia beberkan padaku, dia bahkan rela menjadi pengawal pribadi Kak Alexa selama ia menjadi model di luar negeri agar ia senantiasa bisa melindunginya dan juga tetap melihatnya tanpa halangan apapun


"Iya juga, sih. Tapi apa om Adiputra akan mengijinkan hal itu?"


"Jangan terlalu memikirkannya, akan kuurus semuanya" aku mengangguk senang


"Nes" Panggil William dengan nada lembutnya, aku menatapnya. Dia semakin mendekat dan sekilas mencium lembut bibirku, ciuman singkat tapi terasa hangat


"Aku mencintaimu, sayang"


"Aku juga, Mas" kembali ciuman lembut ia daratkan di bibirku dan kembali kurasakan hangatnya. Lama makin lama ciuman itu makin menuntut, aku juga membalas ciuman itu hingga kini tanganku pun merangkul tengkuknya dengan erat


Aku memukul pundak William pelan kala kudengar bel apartemen berbunyi, "Mas, ada tamu!" lanjutku dan bel terus saja berbunyi


"Biarkan saja, paling juga kurir pengantar makanan. Biarkan dia menunggu!" kembali William melakukan aktivitas yang sempat tertunda

__ADS_1


Bel apartemen kembali berbunyi, kali ini benar-benar menghentikan aktivitas yang kami lakukan. Ada raut kekecewaan di wajah William, dengan wajah masam ia berdiri dan membuka pintu apartemennya


"Kenapa harus ada tamu sih!" ia berjalan dengan langkah yang kasar


"Ganggu tahu!" kata William ketika membuka pintu apartemennya. Sang tamu tidak terkejut dengan apa yang William lakukan, ia justru tertawa tidak henti saat melihat wajah William yang kusut dan masam


"Santai bro. Memangnya kamu ngapain, jam segini wajahmu sudah kusut seperti cucian kotor" gelak Tomi dan juga Andreas yang kini berdiri tepat di depan pintu. Kedua laki-laki itu tengah menenteng sebuah kantong yang berisi makanan yang William pesan


"Elo ngapain, nih makanan yang elo pesen udah dateng. Kata kurirnya dia capek nungguin, untung kita ke sini kalau enggak bisa jamuran tuh abang kurir" Tomi dan Andreas memberikan kantong yang mereka pegang, kantong yang berisi buah-buahan dan juga makanan cepat saji itu


"Elo punya temen, pesen makanan segini banyak?" Andreas melongok masuk ke dalam apartemen


"Enggak ada siapa pun, gue pesen ini semua buat gue makan sendiri!" ketus William


"Siapa, Mas?" kususul William yang belum juga kembali, aku sekarang telah berganti dengan baju milik William. Kaos oblong warna hitam yang berukuran dapat besar dan hampir berada di bawah lututku, serta celana kain yang sedarintadi pagi aku pakai


"Oh pantes, wajahnya kusut. Lagi itu toh!" teriak Tomi membuatku agak sedikit malu


"Ngomong dong, Will. Kita kan jadi enggak enak udah gangguin suasana syahdu kalian " sambung Andreas tak kalah keras membuatku semakin malu, andai saja aku tahu yang datang mereka berdua pasti tak akan kususul William ke sini. Pun sama dengan William, ia terlihat kikuk menghadapi situasi ini


"Mari masuk" aku mengalihkan pembicaraan


"Boleh kita masuk, enggak ganggu nih?" tampak wajah Andreas dan Tomi menahan tawa sebab Willy masih saja bermuka masam. Keduanya menyadari kode itu tapi tetap ingin menggoda William


"Tidak, lagi pula saya hanya mampir sebentar karena tadi kehujanan!" kilahku mencoba mengalihkan ke hal yang lain agar mereka tidak berpikir macam-macam


"Kalian berdua akan kembali, bukankah rencananya kalian akan menetap di sini?" sambung William


"Awalnya memang begitu, tapi karena putriku terus saja merangkul meminta bertemu omanya jadi terpaksa kami harus berangkat" jawab Andreas


"Terus kalau kamu, Tom?"


"Aku rindu pada istriku" Tawa Tomi kembali pecah


"Baiklah, jika itu keinginan kalian. Berhati-hati lah, apa kalian sudah berpamitan dengan Prima?" keduanya mengangguk


"Kami sudah menghubunginya, sebab setelah kami ke sana ternyata Prima tengah bepergian dan belum tahu kapan kembali" Setelahnya mereka pun berpamitan padaku dan William. Tak lupa aku menitipkan pesan pada Kak Sofi lewat suaminya, mereka berdua pun kemudian pergi dengan mobil mereka masing-masing


"Ayo makan!" ucapnya setelah menutup pintu


"Letakkan saja di meja, Mas. Biar aku yang memindahkannya" William menurut, aku segera mengambil beberapa piring dan juga mangkuk, memindahkan makanan itu. William tak henti terus memelukku dari belakang, sesekali ia juga mencium punggungku dan terus mengucapkan kata cinta


"Habis ini antar aku pulang ya, Mas?" kataku sambil merapikan makanan yang kini sudah berpindah itu


"Aku masih ingin berduaan sama kamu, Sayang"


"Teman-temanmu akan kembali ke luar negeri, datangi mereka dan tanyakan jam berapa merwka akan berangkat besok. Tadi mereka datang kemari mungkin ingin mengobrol denganmu sebelum mereka pergi, tapi kamunya malah memasang wajah masam seperti itu"


"Siapa suruh datang di waktu yang tidak tepat" Sekali lagi wajah masam itu ia tunjukkan

__ADS_1


"Mereka datang tepat waktu, Mas. Coba saja kalau mereka tidak datang, pasti kita sudah......" Aku tak berani meneruskan ucapanku


"Sudah apa?" senyum jahil kini tampak di wajahnya


"Kita sudah tidak bisa mengontrol diri kita, Mas. Ingat, kita belum halal" William kini sudah berada tepat di depanku, jarak antara kami berdua sudah tidak ada lagi, ia benar-benar merapatkan tubuhnya padaku


"Ya udah, nikah yuk besok. Biar cepet halal" Lagi-lagi William mulai ngaco


"Ya enggak harus besok juga kali, Mas"


"Kenapa memangnya, terlalu lama, bagaimana kalau malam ini kita menikah?"


"Makin ngawur kamu, Mas. Menikah itu enggak gampang Mas, kita masih harus meminta restu kembali sama orangtua kamu, aku juga masih harus memberi kabar pada Mama dan juga yang lainnya" William menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Baiklah, aku akan segera menghubungi mereka dan kamu juga harus menghubungi keluargamu tentang hal ini. Aku tidak mau lagi menunggu sekarang!" aku mengangguk


"Iya, sabar ya Mas" sekali lagi ciuman itu mendarat di bibirku, namun kali ini tak berlangsung lama sebab cacing di perut William sudah mulai berdemo dan mengeluarkan suara yang menggelikan


"Makan duku, yuk!" kami pun makan malam berdua kali ini, aku belajar melayaninya dengan baik agar nantinya aku tahu harus bagaimana


"Harusnya kamu menginap malam ini" ucapnya sembari memegang kendali setia mobilnya, ia mengantarkanku dengan mobil karena hujan masih saja turun


"Kita belum resmi, Mas" wajah William kembali lesu


"Ya aku tahu, tapi kan kamu bisa tidur di kamarku dan aku tidur di ruang tamu" bujuk William, aku hanya menanggapinya dengan senyuman


"Bagaimana kalau kita putar balik, ini belum jauh dari apartemenku" seringai licik pun ia tampilkan


"Antarkan aku pulang atau turunkan aku di sini!" ucapku tegas, ia pun seketika diam. William memang sedikit berubah sekarang, ia tak lagi dingin dan juga cuek seperti saat kita masih bersama dulu. Sifatnya kini sudah mulai menghangat, iseng, juga kadang suka menggoda dan aku menyukainya


.


.


.


.


.


.


.


.


.


aw aw aw aw aw aw mereka kembali romantis sayangku, ,

__ADS_1


__ADS_2