
Happy reading....
Tepat jam 02.00 malam, Carlen masih belum bisa tertidur. Padahal Freya sudah tertidur lelap di sampingnya. Entah kenapa, dia pun tidak tahu, akhirnya pria tersebut duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
Tiba-tiba saja Carlen merindukan Maya. Pria itu pun akhirnya turun dari ranjang, berjalan ke pintu dengan perlahan, karena takut Freya terbangun, lalu dia keluar dan menuju kamar sebelahnya.
Saat sampai di depan kamar Maya, Carlen terlihat ragu, apakah dia harus masuk ke dalam atau tidak.nNamun dengan perlahan tangan itu pun mulai membuka gagang pintu yang ternyata tidak dikunci.
Saat masuk ke dalam Carlen tidak mendapati Maya di ranjang. Dia pun merasa heran namun, seketika tatapannya mengarah ke sofa, di mana saat ini wanita itu sedang tertidur sambil memegangi HP-nya.
"Ya ampun, kenapa dia tidur di sofa?" gumam Cralen, kemudian dia mendekat ke arah Maya dan menggendong wanita itu dengan perlahan dan menidurkannya di ranjang.
Setelah menyelimuti tubuh Maya, Carlen naik ke atas ranjang dan tidur di sebelahnya. Dia memandangi wajah Maya yang sangat cantik tanpa memakai hijab.
'Kenapa aku baru menyadari, jika dia memang sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Freyam Apakah aku sudah mulai jatuh cinta kepadanya? Tidak! Tidak mungkin! Mana mungkin bisa aku jatuh cinta kepada dia?' batin Carlen sedang berperang dengan perasaannya.
Dia terus saja memandangi wajah cantik Maya, hingga tanpa sadar pria itu pun tertidur di samping istrinya sambil memeluk perut Maya.
Tepat jam 03.00 Maya terbangun, sebab dia sudah biasa bangun jam segitu untuk menunaikan shalat tahajud. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat ke samping, ternyata ada Carlen ditambah pria itu juga tidur sambil memeluk dirinya.
'Andai saja kamu bisa adil seperti ini, Mas?' batin Maya sambil menatap wajah tampan suaminya.
Dengan perlahan Maya menyingkirkan tangan Carlen, kemudian dia beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menunaikan shalat tahajud.
__ADS_1
Sayup-sayup Carlen mendengar seseorang sedang mengaji, dia pun mengerjapkan matanya. Namun, pria itu merasa heran sebab Maya sudah tidak ada lagi di sampingnya.
Saat tatapan Carlen menatap lurus ke arah depan, dia melihat Maya sedang mengaji. Suaranya begitu merdu, menyejukkan hati dan juga telinganya. Hingga tanpa terasa Carlen memejamkan mata, menikmati suara merdu istrinya.
Setelah Maya selesai membaca Al-quran, dia berjalan kembali ke arah ranjang, di mana Carlen masih memejamkan matanya, tepatnya pria itu pura-pura tertidur.
"Andai saja Mas, kamu bisa membuka hatimu untukku sedikit saja. Tapi sayang, aku tahu di hatimu sudah ada Freya, dan tidak mungkin aku masuk ke dalamnya dan menggantikan wanita itu. Tetapi aku selalu berdoa kepada Allah, agar dia melindungimu, menjagamu dan selalu memberkahi setiap langkahmu," ucap Maya dengan lirih, dan masih terdengar jelas di telinga Carlen.
.
.
Pagi hari saat berada di meja makan, Freya seperti biasanya menarik perhatian dengan melayani Carlen. Dia bahkan tidak membiarkan Maya melakukan tugasnya, karena Freya ingin mama Gisel simpati kepadanya dan membenci Maya.
Freya yang mendengar itu pun merasa tak suka, "Loh Kek, 'kan aku juga istrinya Mas Carlen?Jadi aku aja yang ikut. Lagi pula, aku lebih tau fashion daripada Mbak Maya. Kalau nanti Mbak Maya yang ikut, yang ada nanti dia malu-maluin lagi dengan penampilan uniknya itu?" sindir Freya.
"Memangnya kamu siapa? Kamu itu hanya istri sirih sedangkan Maya adalah istri sah-nya. Kamu mau reputasinya Carlen itu jatuh, hanya karena memiliki istri sirih seperti kamu?" ucap kakek Albert.
"Ya sudah, nanti Rania bakal ajak Mbak Maya untuk ke salon, siap-siap untuk acara nanti malam. Kamu juga Kak, ingatx yang diajak itu Mbak Maya, bukannya dia. Kecuali memang kamu ingin reputasi keluarga Dalmiro itu hancur," jelas Rania.
Carlen melirik ke arah Freya, di mana saat ini wanita itu tengah merengut dengan kesal. Dia yakin jika Freya ingin ikut, tapi memang apa yang dikatakan Rania dan juga kakek Albert ada benarnya.
Dia tidak mungkin membawa Freya, karena yang mereka tahu adalah dirinya menikah dengan Maya. Bisa-bisa keluarga Dalmiro hancur reputasinya, jika mengetahui Carlen mempunyai dua istri.
__ADS_1
Setelah kepergian Carlen, saat ini Maya sedang berada di kamarnya, karena dia akan siap-siap bersama dengan Rania untuk menuju sebuah salon. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbukax dan masuklah Freya.
Wanita itu masih menyimpan dendam kepada Maya, karena bukan dia yang diajak ke pesta nanti malam. Lalu Freya langsung mencengkram lengan Maya dengan keras.
"Heh wanita udik! Sebaiknya lo bilang aja sama mas Carlen, kalau lo itu nggak bisa ikut. Alasan sakit atau apa gitu. Wanita seperti lo itu nggak pantas buat datang ke pesta mewah nanti malam, pantasnya itu lo ada di kolong jembatan," ucap Freya dengan tajam.
Maya yang mendengar itu pun tersenyum sinis, kemudian dia memegang tangan Freya dan balik mencengkeramnya, hingga membuat wanita itu sedikit meringis.
"Di sini adalah istri sah-nya aku, bukan kamu. Iya kecuali, memang seperti apa yang kakek Albert dan Rania katakan, kamu ingin keluarga Dalmiro itu hancur. Lalu saat semuanya hancur, kamu tidak akan pernah mendapatkan apapun," jawab Maya. Kemudian menghempaskan lengan Freya dengan kasar, hingga membuat wanita itu tersungkur ke lantai.
Melihat perlawanan dari Maya, tentu saja Freya sangat kaget. Dia tidak menyangka, jika wanita itu bisa berubah menjadi singa. Padahal selama ini Maya tidak pernah melawan.
"Kenapa, kok malah bengong?" tanya Maya saat melihat Freya menatapnya dengan tajam.
"Waah ... sekarang lo berani melawan ya? Mungkin karena mama Gisel udah berpihak sama lo, terus ditambah di sini juga ada kakek Albert. Jadi lo serasa ada di atas awan, ya? Banyak yang ngebela, tapi asal lo tahu ya, wanita udik. Mas Carlen itu nggak akan pernah mencintai lo! Jadi jangan pernah bermimpi, oke!" Freya berkata dengan nada yang begitu sinis.
"Kita tidak tahu kedepannya seperti apa, bukan? Mungkin saja memang sekarang mas Carlen tidak mencintaiku, tapi Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia. Siapa tahu, nanti malah mas Carlen yang tidak mencintaimu, dan dia sangat mencintaiku? Hanya perlu waktu saja," jawab Maya dengan tenang.
Freya menatap ke arah Maya dengan tajam, hingga tiba-tiba saja pintu terbuka. Padahal dia ingin sekali menampar wajah wanita itu.
"Freya, kamu ada di sini?" tanya mama Gisel saat masuk ke dalam kamar Maya dan mendapati Freya di sana.
"Iya Mah, ini aku mau membantu mbak Maya buat siap-siap acara nanti malam, biar kelihatan sangat cantik," bohong Freya sambil tersenyum ke arah mama Gisel.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....