HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Menemui Maya


__ADS_3

Happy reading......


Kakek Albert menatap ke arah Carlen, sedangkan pria itu juga menatap ke arahnya. "Kenapa Kakek sama sekali tidak menghiraukan keberadaanku, ataupun Mama di sini?" tanya Carlen dengan tatapan menyipit.


Kemudian pria paruh baya itu pun melepaskan genggaman Carlen di lengannya, lalu dia menatap ketiga orang yang saat ini berada di hadapannya secara bergantian.


"Untuk apa menghiraukan kalian. Apalagi kamu dan dia," ucap kakek Albert sambil menunjuk Carlen dan Freya dengan matanya, "Lagi pula, keputusan apapun yang Kakek buat, tidak akan pernah kamu laksanakan bukan? Dan seharusnya, kamu mengenal kakek seperti apa. Jika Kakek tidak menyukai sesuatu, bukan tanpa alasan, tapi karena sebuah alasan yang sangat kuat. Tapi rasanya percuma saja sih sekarang kalau Kakek bongkar semua kebenarannya, matamu sudah dibutakan dengan cinta. Jadi selamat menikmati kehancuranmu, Carlen!" tekan kakek Albert, kemudian dia masuk ke dalam kamarnya.


Mama Gisel terdiam, dia juga memang mengenal bagaimana watak mertuanya. Tidak mungkin pria itu tidak menyukai sesuatu, jika tanpa alasan yang kuat, begitupun dengan ketidaksukaannya kepada Freya.


Berbagai alasan pun muncul di benaknya, yang menjadi penyebab kakek Albert tidak menyukai istri kedua dari Carlen.


Freya yang melihat situasi mulai memanas, kemudian dia pun berpura-pura bersedih, karena kehadirannya di sana tidak diinginkan oleh kakek Albert.


"Sayang, sebaiknya aku pergi aja dari sini. Lagi pula, Kakek tidak pernah menyukaiku dan mengharapkan kehadiranku. Jadi untuk apa aku masih bertahan," ucap Freya sambil meneteskan air mata buaya.


"Jangan bicara seperti itu, sayang. Kita hanya perlu waktu saja. Aku yakin kok, lama-lama kakek pasti akan menerima kamu. Sudah, sebaiknya kita belanja sekarang yuk!" ajak Carlen sambil menggenggam tangan Freya.


Wanita itu pun mengangguk, tetapi di dalam hatinya dia tertawa lebar, karena bisa membodohi Carlen.


.


.


Malam ini Rania dan juga kakek Albert sudah siap untuk makan malam di luar. Mereka pergi tanpa membawa Carlen ataupun mama Gisel, karena keduanya akan menemui Maya.


"Papah, Rania, kalian mau ke mana?" tanya mama Gisel saat melihat keduanya menuruni tangga.

__ADS_1


"Kami mau makan malam di luar," jawab kakek Albert dengan nada yang dingin.


"Kalau begitu, Gisel ikut ya Pah," ucap mama Gisel.


"Tidak usah! Kamu temani saja tuh menantu kesayanganmu itu. Sudah, aku sama Rania buru-buru. Kami mau bertemu orang yang spesial, tentunya bukan seekor ular yang berbisa!" sindir kakek Albert, saat melihat Freya dan juga Carlen yang baru saja dari meja makan.


"Apakah Kakek akan menemui Maya?" tanya Carlen tiba-tiba.


"Mau menemuinya atau tidak, itu bukan urusanmu. Lagi pula, kamu urusi saja tuh istri kesayanganmu, istri tercinta mu! Sampai nanti saat bisanya keluar, kamu akan menyesali semuanya. Dan saat itu terjadi, semua sudah terlambat." sindir kakek, kemudian dia dan Rania pun pergi dari kediaman Dalmiro.


Carlen begitu penasaran ke mana kakek Albert dan juga Rania akan pergi, kemudian dia hendak menyusul mereka. Namun ditahan oleh Freya. "Kamu mau ke mana, sayang? Jangan bilang, kalau kamu mau ngikutin mereka? Kamu mau tahu keberadaan si wanita udik itu?" tanya Freya dengan nada tak suka.


"Enggak sayang, itu ... aku ...."


"Ingat ya, kita ini lagi berusaha untuk membuat kakek luluh. Tidak usah kamu pikirkan si wanita udik itu lagi!" tegas Freya, kemudian dia masuk ke dalam kamarnya dengan kesal.


.


.


"Ini Cafe milik Maya?" tanya kakek Albert saat mobil terparkir di sebuah Cafe.


"Iya Kek, ayo kita masuk!" ajak Rania sambil menggandeng kakek Albert, dan mereka masuk ke dalam Cafe. Bahkan Rania pun tidak mengabari Maya jika mereka akan datang.


Saat masuk ke dalam, Rania meminta kakek Albert untuk duduk di salah satu kursi, sedangkan dia pergi ke ruangan Maya. Dan ternyata gadis itu baru saja selesai menunaikan shalat Isya.


"Assalamualaikum Mbak Maya," ucap Rania.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, eh kamu Dek, tumben malam-malam ke sini?" tanya Maya sambil menghampiri Rania, kemudian gadis itu pun mencium tangannya.


"Iya, aku sengaja ke sini malam-malam, soalnya ada yang ingin bertemu dengan Mbak," kekeh Rania.


Dahi Maya mengkerut heran saat mendengar ucapan adik iparnya tersebut. "Siapa?" tanya Maya dengan penasaran.


"Hayo ... penasaran ya? Ya udah, yuk kita keluar, orangnya udah nunggu tuh di luar," ujarnya. Kemudian dia menggandeng tangan Maya keluar dari ruangan dan menuju meja, di mana kakek Albert saat ini tengah menunggunya.


Saat sampai di sana, Maya begitu kaget saat melihat kedatangan kakek Albert. Dia langsung mencium tangan pria paruh baya itu, kemudian duduk di hadapannya dengan wajah berbinar.


"Kakek kapan datang? Kenapa nggak ngabarin Maya dulu?" tanya wanita itu sambil menatap ke arah kakek.


"Tadi siang, Kakek sengaja nggak ngabarin kamu, soalnya mau ngasih surprise. Kakek juga udah dengar semuanya dari Rania, dan Kakek merasa prihatin. Maafkan Carlen ya yang tidak bisa berbuat adil sama kamu. Bahkan dia tidak bisa menyayangi kamu, selayaknya istri. Maafkan Kakek juga, yang tidak bisa turun tangan. Bukan tidak mau, tapi Kakek mempunyai alasan yang kuat, karena ingin memberi pelajaran kepada cucu durhaka itu!" tutur kakek Albert dengan wajah geramnya saat mengingat perlakuan Carlen kepada Maya.


Wanita itu tersenyum, tapi juga kaget, saat mendengar penuturan sang kakek. "Tidak apa-apa, Maya juga memaklumi. Mungkin memang mas Carlen tidak pernah mencintai Maya, dan hanya ada Freya yang ada di dalam hatinya. Maafkan Maya ya Kek, saat ini belum bisa kembali ke rumah. Karena Maya masih ingin menenangkan diri dulu," jelas Maya.


"Iya tidak apa-apa, Kakek mengerti kok. Oh ya, Kakek laper nih, di sini makanan enak apa aja?" Kakek Albert mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


Maya yang mendengar itu pun segera memanggil pelayan, dan menyediakan makanan yang terkenal di cafe tersebut. Dia ingin sesuatu yang spesial untuk kakek Albert.


Setelah makanan datang, mereka langsung menyantapnya diselingi dengan canda dan tawa. Maya begitu sangat bahagia, karena kakek Albert sangat menyayanginya. Melihat kasih sayang yang diberikan oleh pria paruh baya itu, mengingatkan Maya pada sang ayah.


Kakek Albert benar-benar sangat menyesal atas perbuatan Carlen. Dia benar-benar miris saat melihat keadaan Maya. Di dalam hatinya, tak henti pria paruh baya itu terus merutuki cucunya.


'Lihat saja Carlen, kamu akan sangat menyesal, karena telah menyia-nyiakan wanita sesaliha Maya! Penyesalan yang akan kamu rasakan nanti, bahkan lebih sakit dari yang dibayangkan. Karena sampai kapanpun, kakek tidak akan pernah merestui hubungan kamu dan Freya. Sekalipun dia mengandung putramu. Karena harta waris itu akan tetap kakek kasih kepada Maya,' batin kakek Albert sambil mengunyah makanannya dan menatap ke arah Maya dan Rania bergantian.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2