
Happy reading.....
Felix, Maya dan juga Carlen menatap ke arah samping, dan ternyata di sana ada Rania yang sedang berdiri bersama dengan seorang wanita lain. Dia pun langsung berjalan mendekat ke arah sang kakak, kemudian melayangkan tamparannya untuk kedua kalinya di pipi yang sama.
PLAK!
"Kakak ini benar-benar jahat ya! Seharusnya Kakak dengarkan dulu penjelasannya Mbak Maya. Jangan langsung marah-marah dan menuduhnya seperti itu!" geram Rania.
"Nggak usah ikut campur kamu Dek! Ini bukan urusan kamu. Sebaiknya kamu pulang sekarang!" bentak Carlen sambil menunjuk ke arah pintu.
"Enggak! Aku enggak mau pulang. Mbak, apa yang dituduhkan Kakak itu tidak benar 'kan?" tanya Rania sambil menatap ke arah Maya.
"Tidak Rania! Mbak dan juga Tuan Felix sedang bekerja sama untuk kemajuan cafe ini. Sama sekali tidak pernah bermain api di belakang Mas Carlen," jelas Maya sambil menangis.
"Tuh, Kakak dengar sendiri 'kan? Mbak Maya sama sekali tidak selingkuh. Dia sedang bekerja sama dengan Tuan Felix. Lalu, kenapa Kakak malah menuduhnya seperti itu?" tanya Rania dengan surat mata yang tajam.
Carlen yang mendengar itu pun merasa lucu, kemudian dia tertawa terbahak-bahak. "Apa kamu bilang? Kerjasama? Heh Rania, dengarkan Kakak ya! Dia ini siapa? Hanya wanita udik! Wanita kampung, miskin dan tidak punya apa-apa! Bagaimana dia bisa memiliki sebuah cafe?" hina Carlen sambil menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya dengan ucapan Maya.
"Kakak ini definisi orang yang sombong, angkuh dan suka merendahkan orang. Ke mana sih Kakakku yang dulu? Yang baik hati, tidak sombong, budi pekertinya baik dan menghargai orang lain? Tqpi sekarang, Kakak benar-benar sangat berubah. Jika memang kebencian Kakak telah menutup mata hati Kakak, sungguh iblis telah menguasai diri Kakak," ujar Rania.
"Ayo Mbak Maya, kita pergi dari sini! Percuma untuk menjelaskan kepada dia pun jika cafe ini milik Mbak, tidak akan pernah percaya!" ajak Rania pada Maya, dan menarik tangan kakak iparnya untuk pergi dari sana.
Dan saat mereka sampai di parkiran, tiba-tiba tangan Maya ditahan oleh Carlen, saat wanita itu akan memasuki mobil Rania.
"Aku belum selesai ya bicara sama kamu!" bentak Carlen dengan marah.
__ADS_1
"Apalagi yang perlu Kakak bicarakan? Kakak hanya akan menyakiti hatinya Mbak Maya. Belum puas sekarang, Kakak sudah bersatu dengan si wanita jalaang itu? Lalu masih ingin menyiksa Mbak Maya secara batin dan juga fisik? Mau sampai kapan, Kak? Aku malu sebagai adikmu! Aku benar-benar malu!" teriak Rania yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, sambil menunjuk wajah sang kakak.
"Sebaiknya kamu diam Rania! Jangan ikut campur! Jangan membuat kesabaran Kakak habis ya!"
"Kakak yang akan mempermalukan diri Kakak sendiri. Sudahlah, lebih baik Mbak Maya pulang denganku. Kalau bersama dengan Kakak, bisa-bisa tinggal tulang atau hanya tinggal nama!" sindir Rania.
Namun Carlen tidak melepaskan tangan Maya, dia terus mencengkram lengan wanita itu dengan kasar. Sehingga terjadilah tarik-menarik, membuat kepala Maya menjadi sangat pusing.
Sehingga tiba-tiba saja tubuhnya ambruk dan tidak sadarkan diri. Rania yang melihat itu pun menjadi panik, tapi untung saja Carlen segera menangkap tubuh Maya.
"Kita bawa ke rumah sakit, Kak! Ini semua gara-gara kamu.j Awas aja, kalau sampai terjadi apa-apa dengan Mbak Maya, akan aku adukan kamu sama kakek;" ancam Rania.
Tidak mereka sadari, ada satu pasang mata yang sedang menatap pada kejadian itu dengan senyuman seringai di wajahnya. Dan dia adalah Freya. Wanita itu sangat bahagia dan juga puas saat melihat kemarahan di dalam diri Carlen.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Maya langsung dilarikan ke IGD, sedangkan Rania dan juga Carlan menunggu di depan. Sebenarnya Felix yang melihat kejadian tadi pun ingin sekali ikut mengantarkan Maya, tapi dia tidak ingin nantinya Carlen malah semakin marah kepada Maya.
Tak lama Dokter pun keluar, Rania yang melihat itu segera menghampiri sang Dokter. "Bagaimana keadaan kakak ipar saya, Dok? Dia baik-baik aja 'kan?" tanya Rania.
"Pasien baik-baik saja. Hanya tensi darahnya rendah, mungkin karena pasien terlalu banyak pikiran dan sedikit tertekan. Hal ini wajar dialami oleh ibu yang sedang hamil muda," jelas Dokter.
"Apa Dok! Istri saya hamil?" tanya Carlen dan Dokter itu langsung manganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Iyax setelah kami periksa, kandungannya sudah memasuki minggu ke-6," jawab Dokter tersebut.
Setelah menjelaskan keadaan Maya, Dokter itu pun kembali masuk ke dalam ruang IGD. Sementara Carlen menggelengkan kepalanya. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Wah, Kak, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Selamat ya!" ucap Rania sambil mengulurkan tangannya.
Namun Karlin segera menggeleng dan duduk di kursi sambil meremas rambut. "Tidak! Aku tidak percaya jika itu darah dagingku. Jangan-jangan, benih yang dikandung oleh Maya adalah hasil dari perselingkuhannya dengan pria itu?" bantah Carlen.
"Kamu itu benar-benar keterlaluan ya, Kak! Kalau memang dia berselingkuh, apakah saat kamu melakukan yang pertama kali dia masih perawan atau tidak? Dan sekali lagi aku tegaskan ya Kak, mereka itu hanya bekerja sama,ntidak lebih!" jelas Rania sambil menahan emosinya.
"Dari mana kamu tahu, kalau mereka itu kerja sama? Hanya dengan mendengarkan penjelasan dari Maya, yang mengatakan jika cafe itu adalah miliknya, kamu pikir Kakak ini bodoh?" bantah Carlen.
"Iya, Kakak bodoh. Sangat bodoh! Kakak tahu? mbak Maya itu mempunyai usaha tersebut jauh sebelum dia mengenal Kakak. Jauh sebelum kalian bersama. Jauh sebelum kalian menikah. Dan kenapa mbak Maya menyembunyikan tentang cafe tersebut? Karena percuma saja, di mata Kakak dia bukanlah seorang wanita karir. Di mata Kakak, dia hanyalah seorang wanita udik yang tidak berpendidikan, dan hanya bisa menyusahkan, iya!"
"Apa kamu pikir, Kakak percaya? Membangun sebuah cafe itu tidak mudah, dan butuh biaya yang banyak? Atau jangan-jangan ... dia sudah--"
"Sudah apa? Sudah mengambil harta keluarga kita? Pikir Kak! Bahkan Kakak hanya memberinya jatah 1 juta dalam sebulan. Bagaimana mungkin bisa dia untuk membangun Cafe sebesar itu, hanya dengan uang sejuta? Pikir dengan otak!"
Setelah mengatakan itu, Rania meninggalkan Carlen dan masuk ke dalam ruangan IGD, di mana saat ini Maya Tltengah terbaring lemas. Bahkan pertengkaran mereka pun terdengar sampai ke dalam, karena pintu ruangan tersebut tidak tertutup dengan rapat.
Dia mengusap perutnya yang rata, air matanya kembali jatuh menetes membasahi pipi. Hati Maya teriris sakit, saat mendengar suaminya sendiri tidak percaya jika benih yang saat ini di dalam kandungannya adalah hasil dari perbuatan Carlen.
'Sabar ya sayang, Bunda yakin, suatu saat Ayah pasti akan menerima kamu. Adanya kamu di dalam tubuh Bunda, membuat Bunda menjadi kuat. Kita akan melewati semuanya bersama.' batin Maya sambil mengusap perutnya yang masih rata
bersambung
__ADS_1