
"Maaf oma, beberapa hari ini Agnes bekerja dan soal barang-barangku dan juga tidak berpamitan itu coba oma tanyakan sendiri pada cucu oma itu!" aku menatap William berharap dia menjelaskan semuanya
William menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia cengar-cengir kala mendapatkan pernyataan itu dan dengan segera ia pun menyampaikan semuanya termasuk juga dirinya yang memintaku untuk kembali
"Lalu?" kata bu Mariyam, aku dan William saling tatap tidak tahu apa arti kata lalu itu
"Lalu apa, oma?" lanjut Willy
"Kapan kalian akan menikah?" Sekali lagi kami saling tatap mendengar pertanyaan itu. Tenggorokanku rasanya tercekat kala itu, tidak tahu jawabannya dan harus berkilah apa lagi
"Kita akan menikah nanti, setelah semuanya menemukan titik terang oma. Biarkan kami menikmati masa-masa saat ini dulu dan lagi, Agnes baru mulai bekerja biarkan dia menikmati pengalaman baru itu" Aku merasa lega kemudian kala Willy mengutarakan alasan itu, entah itu memang alasan atau memang yang sebenarnya terjadi
"Baiklah jika itu keinginan kalian, oma hanya bisa berharap kalian akan tetap bersama sampai menua nanti"
"Amin, oma" ucapku dan Willy serentak, entah kenapa aku mengaminkan hal itu, apakah memang hatiku menginginkannya atau hanya ingin membuat bu Mariyam tidak lagi bertanya
"Ini sudah waktunya makan siang, sebaiknya ajak Agnes makan, dan lagi kami juga belum makan sejak kemarin" pinta bu Mariyam padaku dan Willy
"Oma enggak sekalian makan?" lanjutku
"Oma belum lapar, sayang. Oma ingin istirahat"
"Tapi nanti oma makan, ya. Biar oma cepet pulih, atau oma mau dimasakin apa biar nanti Agnes masak?"
"Nanti kalau oma mau apa-apa, oma panggil kamu ya?" kata oma sembari membenarkan selimut dan juga bantalnya aku hanya mengangguk dan kemudian benar-benar pergi dari sana
"Bisa buatkan aku kopi dan bawakan ke luar?" aku hanya mengangguk dan berjalan ke arah dapur sementara Willy ke arah luar vila. Sambil membuat kopi aku sejenak berpikir, sejak kapan dirinya mengonsumsi kopi, bukankah dia tidak menyukai kopi tapi kenapa dia memintaku membuatnya
Kopi pun tersaji di sebuah meja kecil yang berhadapan langsung dengan kebun jeruk di samping vila, aku sempat mencari di mana Willy berada hingga akhirnya aku menemukan dirinya tengah melamun memandang hamparan pohon jeruk yang tengah berbunga itu
"Minumlah selagi hangat, Will"
"Terima kasih, Nes" ucapnya kemudian menyeruput minumannya
"Sejak kapan kamu minum kopi, Will. Bukankah selam ini kamu tidak menyukainya?"
__ADS_1
"Ternyata kamu masih ingat apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka" dia menoleh ke arahku, aku menghindari tatapan matanya dan menoleh ke arah lain
"Kenapa kamu tidak menceritakan semua dari awal jika bu Mariyam itu omamu dan rumah itu juga bukan rumah kos" aku mengalihkan pembicaraan
"Karena aku ingin melindungimu dan menjagamu, aku tidak ingin kamu menginap di sembarang tempat yang tidak menjamin keselamatanmu dan lagi, aku ingin kamu mengenal oma"
"Kamu bisa mengenalkanku padanya secara langsung dan bukan dengan cara ini" aku berdiri dan berjalan di antara pohon jeruk yang kerdil tapi berbunga itu
"Apa kamu marah padaku karena ini?" Willy ikut berdiri dan menyusulku
"Tidak, aku tidak marah. Hanya saja aku kurang enak hati padanya, dia banyak bertanya soal kita dan aku terus berbohong soal itu"
"Jangan memikirkannya" kata Willy singkat, kemudian ia berhenti mengikutiku yang terus masuk ke dalam kebun jeruk, meski kini cuacanya agak panas tapi tidak menyurutkan niatku untuk tetap berjalan
"Nes!" panggilnya agak keras, aku menoleh dan melihatnya tersenyum. Aneh tapi nyata, tidak ada hal lucu tapi dia malah senyum-senyum sendiri tidak jelas
Dia berjalan ke arahku, "Apa kamu tidak ingin tahu kenapa di tengah-tengah desa seperti ini ada vila dan juga kebun jeruk seperti ini?"
"Aku juga ingin tanya sebenarnya tapi setelah aku pikir-pikir itu semua bukan ranahku dan juga tidak ada kaitannya denganku" tanpa aba-aba Willy menggandeng tanganku dan membawaku kembali ke tempat di mana ia meninggalkan kopinya, jawaban tidak aku dapatkan namun dia malah memintaku duduk
Dia pun ikut duduk di kursinya, "Di sana panas, Nes"
"Apa kamu tahu kaitannya kebun ini denganmu?" aku menggeleng
"Memangnya apa kaitannya kebun jeruk ini denganku?"
"Ini bukan kebun jeruk, Nes. Ini kebun lemon"
"Lemon kan juga keluarganya jeruk" kilahku dan William tertawa
"Aku menanam tiap pohon lemon ini dengan tanganku sendiri, ada harapan yang aku panjatkan saat melihatnya tumbuh dan berbunga. Ini pertama kali pohon itu berbunga setelah ia tumbuh dan aku sangat senang kamu bisa melihatnya"
"Lalu hubungannya denganku apa?" Sekali lagi aku menanyakan hal itu
"Aku berharap setelah lemon itu berbuah, kamu tidak akan pernah kehabisan lemon untuk membuat lemon tea. Bukankah kamu sangat menyukainya?"
__ADS_1
Deg,
Aku terdiam, sedalam itu kah Willy menyukaiku sampai-sampai ia memerhatikan hal sekecil ini. Hal yang terasa sangat sepele untukku dan bahkan aku sendiri hampir tidak memikirkannya. Selama ini aku memang menyukai lemon tea tapi aku pikir jika kehabisan lemon maka aku bisa membelinya di tukang buah apa di mana pun itu dan tidak terpilih untuk menanamnya
Ada rasa sakit tersendiri yang terselip di hatiku, di mana aku sudah menyakiti orang yang benar-benar mencintaiku demi bersama dengan orang lain yang hanya memanfaatkanku. Kini aku tahu bagaimana rasanya disakiti oleh orang yang kita harapkan. Kebencian itu muncul setelahnya tapi tidak bagi Willy, ia malah masih tersu mengharapkan dan bahkan mengesampingkan rasa sakitnya itu
"Kenapa kamu masih mengingatnya, apa kamu tidak merasa dendam denganku karena sudah mengecewakanmu?"
"Karena aku mencintaimu, aku tidak pernah dendam sedikit pun"
"Tapi cinta itu rumit, Will. Tidak semudah apa yang kita pikirkan, terutama untukku yang pernah menyakiti orang lain, ketakutan akan melakukan hal yang sama pun masih aku rasakan"
"Tapi sampai kapan, Nes. Sampai kapan kamu akan berada di bayang-bayang itu, semuanya tidak akan pernah berubah sampai kamu mau mencobanya lagi"
"Dan cinta itu bukan hal yang harus dicoba, Will" William berdiri dan kini menggeser kursinya tepat di depanku
"Lihat aku, Nes. Apa cintaku masih membuatmu ragu?" aku menggeleng
"Lalu apa, Nes. Apa karena sekarang aku tidak punya apa-apa lagi jadi kamu semakin meragukanku?" pertanyaan itu membuatku sedikit agak meradang, aku juga tidak tahu kenapa aku jadi sensitif saat ini dan hanya mendengar kata-kata itu akau sedikit emosi, aku tidak pernah sedikit pun memandang seseorang hanya karena hartanya, cinta itu hati yang menuntun tidak peduli bagaimana pun keadaannya
"Kamu pikir selama ini aku mencintaimu karena apa yang kamu miliki, Will. Ternyata kamu salah menilaiku selama ini" aku kemudian berdiri dan meninggalkan William tapi dia mengejarku dan kembali meraih lenganku
"Kamu mau ke mana, Nes. Kita belum selesai berbicara?"
"Aku akan pulang, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Sampaikan maafku pada oma karena pergi tanpa berpamitan dengannya" aku melepaskan tangan William dan kemudian masuk ke dalam mobilku, kunyalakan mesin mobilku dan melaju dari sana. Berulang kali William memanggil namaku tapi aku acuhkan dan lebih fokus pada lanju kendaraan yang aku naiki saat ini
William merasa kacau, sekali lagi ia kehilangan kesempatan untuk menyakinkanku. Keadaan yang sulit yang sedang ia alami sekarang ditambah dengan kacaunya cinta yang ia perjuangkan membuatnya menjadi orang lapang menuliskan di dunia. Awalnya ia meyakini jika aku datang ke tempat ini maka itu adalah bukti jika aku masih menyimpan rasa untuknya, ditambah lagi dengan adanya oma Mariyam yang akan menykinkan kami berdua lalu dengan sebuah cerita mengejutkan yang ia ceritakan padaku tentang tempat ini dan hingga pada akhirnya ia malah terpeleset dalam kata-kata yang menyangkut hartanya
Sungguh kacau sekarang, ia tak lagi mampu menahanku yang sedikit tersinggung dengan apa yang ia katakan, ia bimbang jika ia mengejarku maka ia harus meninggalkan oma yang kini sedang tidak baik-baik saja tapi jika ia tidak mengejarku maka ia akan kehilangan kesempatan ini sekali lagi dan bisa dipastikan hatiku akan semakin meragu padanya, kebahagiaan yang sesaat ia rasakan kemudian menghang tanpa hitungan detik karena kesalahpahaman ini
Ia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi seseorang. Lian, orang itu adalah Lian. Ia memang berencana datang ke vila ini setelah pertemuan dengan Ayah tapi ternyata ada hal lain yang harus ia urus hingga waktunya pun menjadi molor dan lama
William panik dan semakin tidak karuan, ia juga berulang kali masuk ke dalam kamar omanya, melihat apakah oma sudah bangun atau masih beristirahat tapi ternyata oma masih tertidur dan tidak enak hati jika harus membangunkannya meski ia sudah tidak tahan lagi ingin berpamitan dan mengejarku
Lian pun tiba hampir maghrib, tanpa aba-aba dan tampa berpamitan pada oma, Willy meminta Lian untuk tetap di sana dan menjaga oma
__ADS_1
"Mau ke mana, Tuan?" Lian tampak bingung
"Tetap di sini jaga oma, dan jika oma bertanya padamu aku di mana maka katakan saja aku sedang ada urusan mendadak" Lian hanya mengangguk dan menatap mobilnya kini telah melaju meninggalkan vila itu, perasaan campur aduk kini berperang di dalam hati dan juga otak William tapi ia mencoba untuk tetap tenang melewati jalanan sepi dan juga berkelok itu