
Happy reading.....
Carlen diam saja, setelah mendengar perkataan sang kakek. Bahkan di dalam mobil pun pria itu tidak banyak bicara, dia merenungi setiap ucapan sang kakek kepada dirinya.
'Sebenarnya apa yang membuat kakek tidak suka kepada Freya? Apakah Freya telah melakukan sesuatu yang membuat kakek murka?' batin Carlen.
Sementara itu, Maya juga hanya diam saja. Dia tidak berani untuk berbicara atau sekedar menanyakan kepada Carlen, karena perempuan itu takut jika nanti suaminya akan marah kepada dirinya.
Hingga tidak terasa mobil pun sampai di kediaman Dalmiro. Maya langsung turun, sedangkan Carlen langsung menuju ke kantornya, sebab ada kerjaan yang harus dia selesaikan.
"Loh, kukira kamu ke kampus?" tanya Maya saat melihat Rania sedang membaca buku novelnya di ruang tamu.
"Enggak Mbak. Lagi nggak ada tugas sih. Oh ya, sini aku mau bicara sebentar!" ajak Rania sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.
Maya yang mendengar itu pun mengangguk, kemudian dia berjalan ke arah Rania dan duduk di sebelah gadis itu.
"Ada apa, Rania?" tanya Maya dengan lembut.
"Mbak, kemarin aku ketemu sama satu cowok. Dia bisa dibilang seorang ustadz, dari salah satu pesantren. Rupanya benar-benar sangat menawan. Kebetulan dia adalah sepupunya dari temen aku," tutur Rania.
"Lalu?" tanya Maya yang seakan masih bingung dengan arah pembicaraan adik iparnya tersebut.
"Gini Mbak, sepertinya aku di jatuh cinta deh sama dia. Tapi, kayaknya nggak mungkin aku mendapatkan pria seperti dia Mbak, yang benar-benar sempurna. Sedangkan aku ..." Rania menghela napasnya saat mengingat jika dirinya baru hijrah, dan belum pantas jika bersanding dengan ustadz tersebut.
Maya yang mengerti perasaan Rania pun segera menggenggam tangan adik iparnya tersebut, kemudian dia pun berkata, "Jodoh, maut dan rezeki itu sudah diatur sama Allah. Jika memang dia jodoh kamu, maka tidak akan ke mana. Tapi Mbak berdoa, semoga apa yang kamu inginkan tercapai," jelas Maya sambil memeluk tubuh Rania.
.
__ADS_1
.
Hari demi hari dilewati. Siang ini Maya pamit untuk pergi ke cafenya, karena ada kerjaan yang harus dia selesaikan, dan wanita itu tidak tahu jika Freya melihatnya.
"Mau ke mana wanita udik itu siang-siang seperti ini?" gumam Freya yang merasa bingung, setelahnya dia pergi menggunakan mobil untuk membuntuti Maya.
Hingga tibalah Maya di cafe, dan dia langsung masuk. Freya yang melihat itu pun mengerutkan dahinya, merasa heran, untuk apa Maya masuk ke dalam sebuah Cafe? Dia yang penasaran pun terus mengikuti langkah wanita itu.
Sedangkan Maya yang baru saja sampai di cafe segera menuju meja, di mana sudah diberitahukan oleh pelayannya, jika seseorang telah menunggu dirinya sejak tadi.
"Maaf ya Tuan, jika menunggu lama," ucap Maya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Oh, tidak apa-apa. Silakan duduk," jawab pria tampan tersebut yang ternyata tak lain adalah Felix.
Maya memang bekerjasama dengan Felix, karena beberapa hari yang lalu pria itu menawarkan kerjasama dengannya, dan menjanjikan keuntungan yang bisa dibilang menguntungkan bagi Maya. Tentu saja itu tidak disia-siakan olehnya.
'Siapa pria tampan itu? Kenapa dia bisa bersama dengan Maya? Atau jangan-jangan ... pria itu adalah selingkuhannya si wanita udik lagi? Pinter juga dia cari selingkuhan. Bahkan lebih tampan dari Carlen. Ini bisa kujadikan senjata!' batin Freya sambil tersenyum menyeringai.
Felix yang sedang mengerjakan pekerjaannya teralihkan, saat mendengar sebuah pesan masuk ke dalam ponsel, dan ternyata itu dari Freya.
Pria itu pun langsung membukanya, dan alangkah terkejutnya Carlen saat melihat foto Maya yang sedang duduk bersama dengan Felix. Seketika tangannya terkepal dengan rahang mengeras, sorot matanya tajam memancarkan kemarahan.
"Berani dia bermain api di belakangku! Selama ini aku tidak menyiksanya, tapi ternyata dia malah selingkuh? Benar-benar keterlaluan!" geram Carlen sambil menggebrak mejanya.
Kemudian dia langsung menyambar kunci mobil dan pergi dari kantor tersebut untuk menuju cafe, di mana saat ini Felix dan juga Maya sedang membicarakan tentang keuntungan kerjasama mereka.
Sedangkan Rania dan juga sahabatnya yang bernama Nisa, juga sedang menuju ke tempat cafe Maya, karena di sana mereka akan mengerjakan tugas kuliahnya.
__ADS_1
Carlenn baru saja sampai di Cafe, dan dia langsung mencari keberadaan Maya. Matanya menelisik ke arah setiap sudut cafe tersebut, dan melihat istrinya sedang duduk bersama dengan Felix. Walaupun mereka tidak dekat hanya tersekat meja saja.
Dengan langkah penuh amarah, Carlen berjalan ke arah Maya, lalu langsung mencengkram lengan wanita itu dan menariknya dengan kasar, hingga membuat Maya tersentak kaget.
"Mas Carlen!" kaget Maya.
"Begini ya kelakuan kamu selama ini? Aku sudah bersikap lembut kepadamu, tapi ternyata tidak aku sangka, kau bermain api? Benar-benar memalukan! Wajahmu ditutup dengan hijab,ntapi kelakuanmu bagaikan seorang jalaang!" bentak Carlen dengan geram.
"Mas, kamu salah paham. Aku sama tuan Felix tidak ada---"
"Cukup! Kamu pikir aku ini bodoh, hah?! Untuk apa seorang istri yang sudah bersuami duduk dengan pria lain yang bukan muhrimnya? Untuk apa?!" teriak Carlen dengan emosi.
Beberapa mata menatap ke arah mereka, dan itu membuat Maya merasa tak nyaman. Sebab itu adalah cafenya, tempat usahanya mencari rezeki.
"Mas, kamu salah paham. Aku dan juga tuan Felix sedang membicarakan kerjasama, tidak lebih," jelas Maya yang masih bernada lembut.
"Kerjasama, kamu bilang? Kamu pikir, kamu itu siapa? Kamu hanyalah wanita udik! Wanita sampah yang tidak memiliki apapun! Kerjasama macam apa yang kau bilang, hah? Atau jangan-jangan ... maksudmu kerjasama untuk menjual tubuhmu! Iya?" tuduh Carlen.
Kata-kata pria itu begitu sangat menusuk hati Maya. Dia mungkin selama ini terima jika dikatakan jalaang, tapi tuduhan yang tidak berdasar, apalagi di tempat umum seperti itu, membuat Maya bukan hanya malu, tapi seakan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang istri.
PLAK!
Sebuah tamparan yang keras mendarat di pipi Carlen. Rasa sakit Maya terwakilkan dengan air mata yang sudah mengalir tanpa bisa dia cegah lagi.
Felix yang mendengar tuduhan Carlen pun merasa geram, karena dia tidak terima. Sebab Maya tidak seperti apa yang Carlen pikirkan. Sebagai seorang pria, tentu saja dia merasa geram, karena Carlen yang notabenya adalah seorang suami tega menuduh istrinya seperti itu, tanpa mendengarkan penjelasan Maya terlebih dahulu.
"Ternyata lo itu bukan hanya pengecut dan juga pecundang ya! Tapi otak lo itu terlalu dangkal. Seharusnya dengerin dulu penjelasan Maya, jangan langsung menuduhnya seperti itu! Pernah dengarkan,npenyesalan selalu datang terakhir? Jika nanti kau tahu kebenarannya, aku pastikan, kau akan sangat menyesal. Karena telah menuduh Maya dan memperlakukan dia di hadapan banyak orang!" marah Felix.
__ADS_1
"Kak Carlen!" teriak seorang wanita dari arah samping.
BERSAMBUNG.....