
Happy reading......
Setelah Mama Gisel membawa Maya masuk ke dalam kamar, wanita itu mendudukkan menantunya tersebut. Dia mengusap bahu Maya, seakan tahu apa yang saat ini tengah dirasakan oleh wanita hamil itu.
"Maafkan Cralen ya Nak. Maaf, jika Mama salah mendidiknya, sehingga dia bersikap seperti itu kepadamu. Tapi Mama sangat yakin, bahwa bayi yang ada di dalam kandungan kamu adalah cucu mama, anak dari Carlen. Hanya saja mata hati Carlen telah tertutup. Mama mohon, saat nanti dia mengetahui tentang kebenarannya, kamu jangan membencinya. Karena Mama tidak ingin kalian pisah," ucap mama Gisel sambil mengusap bahu Maya.
"Menurutku sih wajar Mah, kalau nanti Mbak Maya marah. Karena istri mana sih yang tidak sakit hati, saat benih yang ada dalam kandungannya tidak diakui oleh suaminya sendiri? Dan malah menuduhnya berselingkuh dengan pria lain? Hal itu tuh, seperti menurunkan atau menghina harga diri seorang wanita," jelas Rania.
"Aku sedang ingin sendiri, Mah. Tapi walau bagaimanapun, mas Carlen menolak, aku tetap masih tidak bisa membencinya," ujar Maya.
Mama Gisel mengangguk, kemudian dia keluar dari kamar menantunya. Sementara itu Rania pergi ke kamar untuk mengabari kakek Albert tentang kejadian barusan.
Sementara Carlen sedang duduk di meja makan, dan saat ini Freya tengah memijat pundaknya. Wanita itu akan terus mengompori Carlen untuk terus membenci Maya.
"Sayang, apa kamu percaya jika cafe itu milik si wanita udik? Bagaimana caranya dia mempunyai cafe? Sedangkan dia hanya orang miskin. D an membangun cafe biayanya Tidak sedikit? Bisa saja 'kan, dia menyisihkan uang dari kamu dan dipergunakan untuk membangun cafe tersebut?" Freya mencoba untuk mengompori suaminya.
"Jaga ucapan kamu Freya!" ucap seseorang di belakang, dan ternyata itu adalah mama Gisel.
"Mungkin memang Maya terlahir dari kalangan orang miskin, tapi dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu," tutur mama Gisel sambil menatap menantu keduanya itu dengan tajam.
Sekarang dia baru sadar, apa yang dikatakan Rania dan juga mertuanya benar tentang Freya. Wanita itu seperti ular yang bisa menebar racun kepada siapapun, termasuk mencuci otak Carlen untuk terus membenci Maya.
__ADS_1
"Apa yang aku ucapkan itu benar, Mah. Wanita udik seperti itu yang terlahir dari kalangan biasa, mana mungkin bisa mempunyai sebuah cafe? Sedangkan dia sendiri bukan lulusan sarjana? Tidak mempunyai pekerjaan yang tetap," bantah Freya.
"Sekarang pikir oleh kamu Carlen! Kamu hanya memberikannya uang satu juta. Apakah dengan secepat itu bisa membangun cafe? Sedangkan rumah tanggamu dan juga Maya baru saja seumur jagung? Pikirkan, dan kamu bisa lihat sertifikat pembangunan dari cafe tersebut, kapan dan tanggal berapa cafe itu dibangun," jelas mama Gisel tanpa menjawab ucapan dari Freya.
Kemudian wanita itu pun pergi masuk ke dalam kamar, meninggalkan Carlen yang terdiam dengan pikirannya sendiri.
'Apakah benar yang dikatakan oleh mama? Jika memang itu benar, aku harus menanyakannya kepada Maya, dan meminta sertifikat dari cafe tersebut,' batin Carlen.
Freya yang melihat itu pun merasa geram, tangannya terkepal dengan amarah yang memuncak. Dia tidak menyangka, jika mama Gisel sekarang berpihak kepada Maya. Padahal tadinya wanita itu berpihak kepada dirinya, dan membenci Maya. Tapi sekarang malah kebalikannya.
'Sial! Kenapa sekarang mama Gisel malah berpihak kepada si wanita udik itu sih? Pendukung ku 'kan jadinya berkurang. Aku harus segera menyusun rencana agar membuat harta keluarga Dalmiro jatuh ke dalam genggamanku!' batin Freya.
Dia ingin segera menguasai harta keluarga itu terus lari bersama dengan Joshi, dan menikah dengan pria tampan tersebut. Karena Freya sama sekali tidak mencintai Carlen, hanya hartanya saja yang dia incar.
.
.
"Ya Allah, Ya Robbi. Tuhanku yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan semesta alam, hanya kepadaMu aku memohon dan meminta. Bukakanlah pintu hati mas Carlen, agar dia menerima anak ini. Karena Sesungguhnya Engkau yang Maha tahu, jika anak ini adalah benih darinya. Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapapun ya Allah, tunjukkan dan bukakanlah pintu hatinya! Agar dia menyadarinya. Sesungguhnya hanya kepadaMu lah aku memohon dan meminta." Maya berkata sambil menitikan air mata.
Dia tidak sadar jika di belakangnya ada seseorang yang tengah mendengar doa-doanya tersebut, dan orang itu tak lain adalah Carlen. Pria tampan itu tidak bisa tertidur karena terus kepikiran dengan masalahnya dan Maya. Apalagi dengan bayi yang ada di dalam kandungan wanita itu.
__ADS_1
Carlen memutuskan untuk ke kamar Maya, dan saat dia masuk ke dalam kamar Carlen menemukan Maya sedang menghadap Sang pencipta dan mengatakan tentang keluh kesahnya kepada sang Kholik.
Hatinya tersentil, berdenyut sakit saat mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut istri pertamanya tersebut. Apalagi saat melihat Maya menangis sambil mengusap perutnya.
'Apa benar bayi yang ada dalam kandungan Maya itu, adalah anakku? Dan apa benar, dia dan juga Tuan Felix hanya bekerja sama, tidak lebih?' batin Carlen.
Pria itu pun mulai ragu, hatinya mulai sakit dan juga kesindir, karena sudah menuduh Maya yang tidak-tidak. Carken merasa apa dia sudah keterlaluan terhadap Maya? Tapi itu semua spontan. Entah kenapa, saat melihat Maya dengan pria lain membuat Carlen benar-benar tidak suka.
Maya membereskan mukenanya, kemudian dia berbalik dan wanita itu cukup kaget saat melihat suaminya berada di sana. Tetapi rasa sakit yang ditorehkan Carlen masih terasa jelas di hati Maya, sehingga wanita itu pun enggan untuk menyapa suaminya dan menanyakan kenapa pria tersebut ada di kamarnya.
Tanpa menunggu ataupun bertanya kepada Carlen, Maya membaringkan tubuhnya di kasur. Dan Carlen yang sadar dari lamunannya pun segera berjalan ke arah ranjang, dan duduk di tepi sambil memandang ke arah Maya yang sedang memunggungi dirinya.
"Aku tahu, mungkin aku sudah keterlaluan. Entah kenapa spontan aku mengatakan hal tersebut? Karena aku--"
"Seharusnya sebelum kamu mengatakan hal yang buruk dipikir terlebih dahulu! Mungkin aku tahan dengan siksaan yang diberikan olehmu pada diriku, akan tetapi saat kamu tidak mengakui benihmu sendiri, hatiku benar-benar sakit!" jawab Maya dengan nada yang dingin.
Tanpa terasa air matanya kembali jatuh.
"Aku benar-benar minta maaf. Mungkin aku memang sudah keterlaluan, tapi aku juga tidak tahu kenapa aku mengatakan hal itu? Aku tidak suka kau duduk atau bersama dengan pria lain," tutur Carlen.
Maya tidak menjawab. Dia memejamkan matanya, enggan untuk berdebat dengan Carlen. Karena hati Maya masih terasa sakit. Carlen yang melihat itu pun hanya diam saja, kemudian dia membaringkan tubuhnya di sisi Maya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.......