
"To-tolong" sekali lagi Mbak Sumi mengeluarkan suara itu tapi kali ini diiringi dengan air mata yang menetes dari ujung matanya, ekspresinya kini terlihat ketakutan dan juga menoleh ke sana ke mari, Prima pun mendekat dan menggenggam erat tangan sang kekasih hati
"Iya, aku di sini. Jangan takut" lirih Prima seraya mengusap keringat yang kini mengucur deras di kening kekasihnya, Mbak Sumi sendiri yang kini bisa merasakan usapan lembut itu pun sedikit tenang dan juga menatap Prima dengan penuh keyakinan bahwa dirinya kini aman
"Mas Prima" Mbak Sumi memeluk lelaki yang ada di depannya itu, Prima pun membalasnya dan mencoba menyalurkan ketenangan agar kekasihnya itu tidak lagi ketakutan
"Tenang, kamu aman di sini bersamaku" Mbak Sumi mengangguk sambil terus menangis sesenggukan, ia masih terus menunjukkan ekspresi ketakutan, ia masih terus menelisik ke sembarang arah seolah tengah mencari seseorang
"Di mana ini, dan di mana Pak Lek?" Mbak Sumi melepaskan pelukannya ketika ia menyadari bahwa dirinya tak lagi dalam pelarian yang kala itu membuatnya merasa ketakutan, ia juga menyadari jika orang yang kala itu tengah berlari bersamanya tidak lagi berada di dekatnya. Kegelisahan pun mulai beranjak menaiki hatinya, hal-hal yang ia takutkan kini menjelma di sana, pikirannya kacau dan ia sudah mulai menerka-nerka
Prima yang ditatap Mbak Sumi pun hanya bisa diam, apa yang ia khawatirkan akhirnya muncul juga, ia tahu hal ini cepat atau lambat pasti akan dipertanyakan juga
"Jawab, Mas. Di mana Pak Lek?" Mbak Sumi kembali panik, keringat kembali mengalir di pelipisnya, jantungnya berpacu lebih cepat dan air mata pun menyusul
Prima belum berani menjawab, ia kembali memeluk kekasihnya itu yang kini malah menangis tersedu-sedu. Prima bimbang akan apa yang ada di hatinya, jika ia berkata jujur pasti itu akanenyakitkan bagi Mbak Sumi terlebih lagi dirinya baru saja bangun dari komanya dan takutnya lagi akan memengaruhi kondisi dirinya yang belum kuat betul tetapi jika ia tidak jujur maka penderitaan dan rasa sakit itu akan bertambah dan menimbulkan kebohongan yang tidak berujung
"Mas, di mana Pak Lek?" deraian air mata mengiringi pertanyaan itu
"Dia berada di tempat lain, jangan mengkhawatirkannya, dia baik-baik saja" kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya tanpa ia berpikir panjang akan jawaban selanjutnya jika saja ia kembali ditanya soal Pak Samin
"Apa dia di kamar yang lain, di mana Mas, aku ingin melihatnya" suara isakan itu terdengar sedikit berjeda dan hati Mbak Sumi merasakan sedikit kelegaan meski dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi
"Jangan dulu, kondisimu masih lemah. Nanti jika kamu sudah benar-benar stabil dan kuat kita akan menjenguknya" Prima pun juga merasakan kelegaan di hatinya, Mbak Sumi tidak bertanya hal yang neko-neko padanya
"Tapi aku sudah kuat, Mas. Aku sudah sehat"
"Belum, kamu belum stabil. Sabar ya, sebentar lagi setelah kamu benar-benar lepas dari infus dan benar-benar kuat maka kita akan ke sana"
__ADS_1
"Apa kamarnya jauh, Mas. Jika memang aku belum kuat, aku bisa naik kursi roda kan?"
Deg,
Pertanyaan demi pertanyaan terus saja dilontarkan oleh Mbak Sumi, Prima pun dengan terpaksa harus kembali berbohong
"Kamarnya jauh, sayang. Lagi pula dia belum bisa dijenguk, dan kamu juga baru sadar dari koma, sebaiknya istirahat dulu sampai kamu benar-benar kuat, ya?" Prima bersikap lembut seperti biasanya, ia membelai pucuk kepalaku kekasihnya sembari tersenyum manis
"Tapi kan...." belum lagi Mbak Sumi menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Prima menciumnya, membuat Mbak Sumi berhenti bicara. Si pelaku pun kemudian tersenyum sambil menatap mata sang kekasih yang selama ini ia rindukan
"Mas, ini rumah sakit. Nanti ada yang lihat gimana?" Mbak tersipu malu akan perlakuan ma is kekasihnya itu, tidak dipungkiri kini iq pun merasa sangat bahagia dan hatinya kembali bergetar menyingkirkan kegelisahan dan juga ketakutan yang tadi menghampirinya
"Bodo amat, lagi pula kamu kan calon istriku" Prima tetap menatap lekat manik mata Mbak Sumi dan membuatnya kembali salah tingkah
"Masih calon Mas, ingat itu!"
"Iya, sayang. Istirahat ya, biar cepet sembuh terus nanti kita jenguk pak Samin sama-sama" Mbak Sumi mengangguk dan ia pun menurutu kekasihnya itu, kembali merebahkan tubuhnya. Prima pun bangkit dari duduknya, mencari ponselnya dan kemudian menghubungi Dikter jika kekasihnya itu sudah sadar secara total
...******************...
Di tempat lain
Roy, atau yang sebenarnya adalah Albert. Dia tengah berkumpul dengan beberapa laki-laki yang berpakaian sama dengan dirinya. Di sebuah hotel berbintang, kini mereka semua disuguhi dengan berbagai minuman beralkohol dan juga tidak lupa dengan wanita-wanita bertubuh seksi dan berpakaian kurang bahan
Setiap dari mereka diberikan satu wanita yang sudah bisa mereka ajak minum atau apa pun. Tapi mereka semua kini hanya mengobrol dan menuangkan minuman sebab sebentar lagi bos mereka akan segera datang dan memberikan mereka arahan untuk melakukan rencana selanjutnya
Roy sendiri kini hanya menyalakan sebatang rokok tanpa berniat untuk minum maupun menyentuh apa yang qda di hadapannya, ia melakukannya karena harus tetap terjaga dan waras agar tidak ketahuan
__ADS_1
Satu jam kemudian, sang bos pun datang. Dia memakai pakaian yang ia kenakan saat ia bekerja di restoran, celana panjang warna hitam dan dipadukan dengan kemeja warna merah sebatas siku, rambutnya tergerai dan lipstiknya yang merah menyala masih terlihat di sana, tak lupa kacamata hitam nan mengkilap dan tampak mahal juga bertengger di sana
Suara ketukan sepatu yang bertemu lantai pun kini terdengar di lantai dua hotel bintang lima tersebut, ia berjalan menuju ke sebuah kamar yang berada paling ujung. Kamar yang tentunya sudah ia pesan sejak kemarin dan ia pakai untuk menyembunyikan anak buahnya
Ia telah sampai, kemudian mengambil sebuah kartu dari dalam tasnya. Ia menggesekkan kartu itu dan pintu pun terbuka. Bau alkohol dan juga kepulan asap rokok tak luput dari inderana, ia sedikit merasakan mual karena sudah lama tak mencium aroma tersebut
"Ehem!" ia berdehem cukup keras dan tak lama setelahnya tiga orang laki-laki yang kini tengah bergelut dengan alkohol dan juga wanita bayaran itu pun menghentikan aktivitasnya, tapi tidak dengan Roy, ia tak menyentuh alkoholmaupun wanita yang ada di hadapannya, ia disibukkan dengan ponselnya karena menghubungi William dan melaporkan semuanya
Dengan isyarat tangannya, ia pun meminta para wanita bayaran itu untuk menyingkir dan menjauh dari mereka semua. Tanpa bantahan, semuanya pun pergi dan keluar dari kamar hotel itu, kini menyisakan anak buahnya saja yang kini siap mendengarkan rencana yang harus mereka jalankan
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih sudah mau membaca novel author samapi bab ini. Jangan lupa ya untuk tinggalkan jejak, like, vote dan komennya