
Prima baru saja turun dari motornya, ia kemudian bergegas ke resepsionis dan menanyakan sebuah ruangan pada seorang wanita yang berjaga di sana. Wanita itu kemudian mengarahkan Prima ke sebuah arah dan dengan segera Prima pun mengerti
Prima berjalan santai ke arah yang dimaksud meski di dalam hatinya ia merasa kacau, ia juga khawatir akan kondisi William sahabatnya dan juga orang yang paling berkasa di hidupnya, meski kini mereka sedang bersitegang tapi tidak menutup kemungkinan bagi Prima mengawatirkan sahabat baiknya itu
Ia juga tengah berpikir apakah William saat ini baik-baik saja atau sedang mengalami hal buruk, ia juga penasaran bagaimana William saat ini setelah sudah lama ia tak melihatnya atau bahkan lebih tepatnya menghindarinya
Prima sudah sampai di runagn yang di maksud, ia sejenak berdiri dan menatapnya. Ia kemudian menghela nafasnya kasar dan mencoba membuka pintu itu
"William" ucapnya setelah membuka pintu itu, ia kemudian terheran saat mendapati William malah justru tengah duduk bersamaku dan tengah asyik bercerita
Aku dan Willy menatap ke arah pintu yang terbuka dan juga suara yang muncul, di sana tampak Prima yang tengah terdiam seraya menatapku dan juga William. Ini pertama kalinya setelah hampir 6 bulan lamanya setelah kejadian itu terjadi, kita bertiga berada di dalam satu ruangan yang sama dengan perasaan dan atmosfer yang berbeda
Kenangan itu kembali berputar, tragedi itu juga berawal saat aku menunggu Ayah di rumah sakit, aku dan Prima kala itu tengah bersama dan tanpa sepengetahuan kita berdua William berada di luar dan mendengar semuanya
Dulu, sebelum hal itu terjadi, ketika kita bertiga sudah berkumpul seperti ini maka kita bertiga akan jadi orang paling bahagia, memiliki teman sekaligus kekasih yang bisa berbagi kebahagiaan bersama
"Masuklah dan duduk di sini!" perintah William seraya menepuk kursi sebelahnya
Kecanggungan pun tak terelakkan, Prima masuk dengan wajah yang tidak begitu bersahabat, William dan aku pun juga sama. Kita bertiga tak bisa lepas dari hal itu, tapi mau bagaimana lagi ini semua harus dihadapi dan bukan dihindari. Prima pun duduk, tapi ia memandang ke arah yang berbeda
__ADS_1
"Ada apa, Will?" Tanya Prima kemudian, aku masih diam dan belum berani mencampuri percakapan mereka tapi aku tak bisa berpaling dari Prima yang kini berekspresi lain ketika mendapati dua orang tengah terbaring lemah dan penuh dengan alat medis
"Lihatlah mereka!" Tunjuk William ke arah Mbak Sumi dan laki-laki itu, Prima terheran dan tanpaeminta penjelasan lebih lanjut ia pun berdiri dan mendekat ke arah yang dimaksud
"Ya Allah, Sumi, Pak Samin!" ucap Prima ketika berada di sebelah ranjang mereka berdua. Ekspresi haru pun menyelimuti wajah Prima, ia tak mengira jika hal yang ia cari selama beberapa hari ini ki.i sudah berada tepat di depan matanya
Dengan segera ia pun membuka kekasihnya yang kini belum sadarkan diri itu, aku yang sedari tadi melihat ke arah tersebut segera memalingkan wajahku dan lebih memilih melihat ke arah lain. William pun sama, ia kemudian memainkan ponselnya dan sibuk di sana
"Kenapa kalian bisa seperti ini, apa yang terjadi?" Prima bermonolog sendiri serayaengelilingi keduanya
"William, bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, di mana kalian menemukannya?" cetar Prima menatapa ke arah William. Aku yang mendengar kata menemukan semakin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa
"Di mana kamu menemukan mereka, Nes?" Prima terbata dan suaranya pun lirih serta bergetar. Aku pun k.eudiqn menceritakan semuanya, di mana aku menekan mereka hingga pada akhirnya aku membawa mereka ke tempat ini
"Terima kasih, Nes" lanjut Prima, aku pun mengangguk
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya William kemudian dan Prima pun menjelaskan jika selama ini Mbak Sumi dan Pak Samin diculik oleh seseorang dengan mengatas namakan dirinya tengah mengalami kecelakaan dan dirawat di sebuah rumah sakit, ia juga menjelaskan jika sudah melaporkan ke polisi dan kini polisi tengah menangani kasusnya
...*************...
__ADS_1
"Maafkan Sam, Ma. Sam belum bisa membawa Agnes kembali, Sam sudah berusaha tapi pada akhirnya gagal" jelas Samuel pada Mama. Ia menceritakan segala hal yang ia rencanakan bersama William untuk bisa menemui dan berbicara denganku
"Jangan terlalu dipaksakan, Agnes itu akan menjauh jika kamu terus memaksa untuk mendekatinya!" Samuel mengangguk dan kemudian kembali menyelimuti tubuh Mama yang kini terbating lemah di kamar tidurnya
Sudah lama Mama sakit dan tidak mau dibawa berobat ke Dokter atau pun rumah sakit. Ia sendiri akan mau ke sana dengan syarat aku yang mengantarkannya tapi sepertinya itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat sebab aku sendiri sekarang malah akan ke luar dari perusahaan yang didirikan oleh Samuel dan itu akan menambah semakin jauhnya jarak kami berdua
"Sqm akan berusaha, Ma. Jika nanti ia tetap tidak mau maka Sam akan mengatakan bagaimana kondisi Mama yang sekarang" Mama menggeleng dan memegang erat tangan Samuel
"Jangan, Sam. Mama tidak ingin membebaninya, Mama sudah cukup membuatnya sakit dan terluka. Biarkan hatinya terbuak dengan sendirinya dan jangan pernah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini" cegah Mam, memang Mama selama ini tidak mau jika sampai aku tahu bahwa dirinya sakit
Itu semua bukan tanpa alasan, ia memang tidak mengijinkan Samuel bercerita sebab dia sendiri juga belum berani untuk menemuiku. Ia masih merasa bersalah karena meninggalkan aku dan Papa, terlebih lagi terakhir kali kita bertemu itu berakhir dengan kecewa dan juga air mata
"Tapi, Ma ...." Mama kembali menggeleng, ia tetap bersikeras dengan pendiriannya. Itulah sifat Mama yang kini menurun kepadaku,
"Baik, jika itu keinginan Mama maka akan aku turuti. Istirahatlah!" Samuel kemudian dari kamar Mama. Ia ke luar dari rumah mewah itu dan lebih memilih untuk duduk di teras sembari memainkan ponselnya
Tak berselang lama sebuah mobil mewah berwarna putih pun masuk ke dalam pelataran rumah mewah itu. Dari sana turunlah seseorang yang memakai setelan warna serba hitam dan kemudian mendekat ke arah Samuel
"Selamat siang, Tuan" laki-laki itu membungkuk tepat di hadapan Samuel. Laki-laki yang sudah lama bekerja dengannya itu pun kemudian menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran besar. Samuel pun menerimanya dan kemudian membukanya, ia tersenyum sinis ketika mendapati isi dari amplop itu
__ADS_1
"Tidak aku sangka jika kamu akan berbuat se nekat ini. Luar biasa!"