
"Maaf membuat kalian menunggu lama" sapa seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan setelan jas warna abu-abu yang menempel pas di tubuhnya, laki-laki itu kemudian menggeser kursi dan duduk di sebelah Ayah
Ia duduk tepat di depan sebuah cangkir yang berisi kopi yang masih mengebul itu, sedangkan aku dan Ayah duduk tepat di depan gelas yang berisi penuh lemot tea yang sudah disajikan beberapa detik yang lalu
"Perkenalkan saya Lian, saya perwakilan dari miss Mar" jelasnya sembari mengulurkan tangannya, aku dan Ayah menjabatnya bergantian
"Senang bertemu dengan anda, saya Kuncoro dan ini putri saya Agnes" kami bergilir memperkenalkan diri kami
"Saya juga senang bertemu dengan anda. Maaf untuk kali ini miss Mar tidak bisa hadir dan menemui anda langsung, beliau sedang ada beberapa pekerjaan dan jika nanti waktunya cukup mungkin beliau akan datang kemari tapi jika tidak mohon maaf sekali lagi" tegas Lian sembari mengeluarkan tumpukan kertas dari tas kerja miliknya
"Tidak perlu minta maaf, saya memakluminya. Dia memang wanita karir yang sibuk" lanjut Ayah
"Baiklah, ini semua adalah daftar aset yang sudah kita bicarakan kemarin. Mulai dari nama pemiliknya hingga tanda tangan yang diperlukan" Lian menyodorkan berkas-berkas tersebut padaku dan juga pada Ayah. Aku pun menerimanya dan membuka berkas bersampul hijau tua itu satu per satu.
Perusahaan Ayah memang berkecimpung di dunia jual beli properti sehingga apa yang kali ini kita amati memang tidak jauh dari perumahan atau pun gedung yang hendak digadaikan atau pun dijual
"Mariyam" ucapku lirih kala melihat nama terang di sudut bawah berkas itu, mengingatkan aku pada Bu Mariyam yang memeng beberapa hari ini ia tidak aku temui dan juga tidak mengirimiku pesan seperti biasanya namun aku segera menepisnya sebab di dunia ini yang bernama Mariyam tidak hanya dirinya saja
Aku pun ke lembar berikutnya, membuka berkas bersampul hijau tua itu, di sana tertera sebuah alamat dan juga sebuah foto yang aku kenal
"Bukankah ini ...." kulihat kembali foto berwarna itu dan benar saja itu adalah rumah kos yang aku tempat beberapa hari sebelum aku kembali ke rumah
"Ada yang ingin ditanyakan?" Lian tampak melihat mimik wajahku yang kebingungan tentang apa yang aku lihat
"Maaf sebelumnya, jika tidak salah ini adalah rumah yang berada tidak jauh dari perusahaan Adiputra, kan?" Lian mengangguk dan membenarkannya
"Dan apakah miss Mar yang anda maksud adalah Bu Mariyam yang ini?" aku mengambil ponsel yang berada di dalam tasku, kuperlihatkan pada Lian foto Bu Mariyam
"Iya benar, apakah kalian sudah saling mengenal?" lanjut Lian
"Apa kamu mengenalnya, Nes. Di mana?" sambung Ayah
__ADS_1
Dan aku pun kemudian menceritakan bagaimana aku mengenalnya dan bahkan sampai beberapa hari kemarin kami masih bertukar kabar, aku juga menjelaskan jika barang-barangku masih berada di sana
Lian tampak terkejut, ia awalnya tidak percaya tapi setelah apa yang ia tanyakan aku bisa menjawabnya maka dia pun menyerah
"Miss Mar menyewakan rumahnya?" Sekali lagi pertanyaan itu Lian tanyakan
"Iya, tapi yang membuat saya tidak mengerti adalah beberapa kamar di lantai bawah rumah itu, yang katanya juga disewakan olehnya, saya tidak pernah sekali pun melihat penghuninya di siang atau pun malam hari dan setiap saya tanyakan apakah memang benar ada orang di sana maka dia selalu menjawab jika mereka berangkat pagi buta dan pulang larut malam" Lian hanya tersenyum
"Mohon maaf sebelumnya, tapi rumah itu tidak pernah sekali pun disewakan oleh beliau. Dan soal kamar yang berada di lantai bawah yang katanya berpenghuni, memang benar berpenghuni tapi ketika semua anak dan cucunya berkumpul"
"Anak cucu?"
"Bu Mariyam, ah maksud saya miss Mar bercerita jika dia tidak punya siapa pun, dia sendirian, anaknya entah ke mana dan suaminya sudah lama tiada" Lian sekali lagi tertawa
"Miss Mar memang sendirian sekarang tapi ketika anak cucunya berkumpul maka kamar-kamar yang berada di lantai bawah itu akan penuh dengan mereka semua. Dan soal suami yang meninggal itu memang benar adanya"
"Jadi?"
"Iya anda dibohongi miss Mar, ia melakukan itu mungkin karena punya alasan sendiri. Ia yang selama ini selalu ditinggal bekerja oleh anak-anaknya merasa kesepian dan ingin punya teman"
"Keluarganya sebenarnya dekat dengan dia, tapi karena pekerjaan mereka yang sibuk dan terus menerus ke luar negeri sehingga membuatnya kehilangan waktu untuk bersama ditambah lagi miss Mar yang memang seorang pebisnis membuat jadwal bertemu mereka tidak pernah bisa sesuai"
"Miss Mar itu nenek William, Nes" sambung Ayah yang membuatku mendadak merasa lemas, kupastikan lagi apa yang dikatakan oleh Ayah dan memang benar hal itu yang aku dengar
"Apa William tidak pernah menceritakan semuanya?" aku menggeleng dan kini aku tampak seperti orang paling bodoh di dunia, jika dipikir lagi, memang ada hal janggal antara William dan Bu Mariyam, keduanya tampak akrab dan lagi apa pun yang dikatakan oleh bu Mariyam tidak pernah William bantah sekali pun
Aku kembali mengingat ke waktu itu dan semakin aku mencocokkan keduanya maka akan semakin bertemu dan pas
"Tuan William adalah cucu kesayang miss Mar, dia adalah cucu laki-laki satu-satunya dari keluarga miss Mar yang kebetulan memang hanya punya satu anak itu"
"Iya Agnes, Adiputra adalah satu-satunya anak miss Mar" timpal Ayah kemudian mengelus punggungku
__ADS_1
"Kenapa Ayah tidak pernah bercerita, dan kenapa juga saat Agnes bertunangan dengan William beliau tidak datang?"
"Pada saat itu miss Mar berada di luar negeri, ia menangis tak henti pada waktu itu karena tidak bisa hadir di pertunagan cucu kesayangannya tapi demi menjalin kerjasama dan meluaskan bisnisnya maka ia rela dan ia putuskan akan hadir nanti di pernikahan saja" kata Lian, dan itu membuatku semakin pusing
"Lalu ini semua maksudnya apa?" aku mengangkat berkas itu dan mengalihkan pembicaraan yang cukup membuatku merasakan spot jantung
"Begini Nona Agnes, miss Mar ingin menjual rumah itu. Bukan tanpa alasan tapi karena situasi saat ini yang pastinya sudah anda ketahui, maka dari itu demi meneruskan satu tempat bisnis yang hampir gulung tikar maka dengan sangat terpaksa rumah ini akan dijual" jelas Lian akan tujuan menemui kami berdua
Ada rasa bersalah di hatiku, andai saja waktu itu aku bisa menghentikan William untuk memenjarakan kakaknya maka hal ini pastinya tidak akan pernah terjadi dan Bu Mariyam tidak akan menjual rumah yang katanya penuh kenangan itu
Namun, kita hanya manusia biasa. Seberapa kuat kita mencoba bertahan atau mempertahankan sesuatu, jika memang hal itu memang bukan untuk kita atau bukan jalan kita pastinya tidak akan pernah ada pada diri kita
Pun sama dengan hari ini, cerita yang kemarin aku dengar ternyata hanya sebuah alasan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi, sekuat apa pun kita memegang erat harta dan titipan yang Tuhan titipan untuk kita, jika sudah saatnya harta itu diminta pasti akan kembali pada pemilik-Nya bagaimana pun cara dan jalannya
Kemarin kita bisa berenang di dalam limpahan uang tapi belum tentu hari kita bisa melakukannya lagi atau mungkin hari ini kita harus bermandi peluh demi mendapatkan selembar uang dan besoknya kita malah sudah bisa mengendalikan uang itu untuk kita. Tetaplah menjadi pribadi yang rendah diri dan selalu bersyukur agar kita tidak terkejut saat keadaan berbalik dan tidak berkompromi lagi
"Maaf Ayah, ada telepon yang harus Agnes jawab" Ayah mengangguk dan aku pun segera beringsut dari sana, meninggalkan mereka berdua yang kini tengah membicarakan berkas itu, sebenarnya aku tidak ingin menjawab telepon itu tapi ponselku terus saja berdering
"Assalamualaikum selamat siang, maaf dengan siapa?" sapaku pada nomor yang tidak aku kenal itu, aku pun kini berdiri di luar kafe ABC
"Waalaikumsalam, Nes ini aku" dari suaranya pun aku sudah bisa mengenalinya jika itu adalah Willy
"William?" tanyaku memastikan dan ia pun menjawab iya
"Ada apa, Will. Kenapa nomor berubah?" lanjutku
"Apa kamu sedang sibuk, jika punya waktu luang apa kita bisa bertemu, aku akan kirim lokasinya" suara William terdengar panik, mungkin kini ia tengah menghadapi masalah atu memang bermasalah
"Untuk saat ini aku sedang bertemu dengan klien bersama ayah, mungkin jika sudah selesai aku bisa menemuimu"
"Baik, kabari aku saat kamu sudah selesai, aku akan kirim lokasinya nanti" sebelum aku menjawab tiba-tiba sambungan telepon itu terputus, tidak biasanya William bersikap seperti ini
__ADS_1
Ingin rasanya aku segera tahu alamat yang harus aku tuju untuk menemui dirinya tapi aku harus bersikap profesional dengan pekerjaannya kali ini aku pegang, tidak dipungkiri aku pun merasakan tidak enak hati tapi aku harus bisa menahannya dan menunggu pekerjaanku selesai
Aku pun kembali masuk dan ikut bergabung dengan Ayah dan juga Lian yang kini masih berkutat dengan tumpukan kertas itu