HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 129. Aku takut


__ADS_3

Isakan tangis pun usai, Adiputra mendekat ke arah putrinya. Ia memeluk raga yang kini tinggal tulang itu, raga yang terguncang karena tangis kembali terdengar


"Maafkan, Papi. Papi terlalu egois untuk bisa mengakui semuanya. Maafkan Papi!" air mata kini mengalir di netra Adiputra, ia telah menyadari apa yang sebenarnya ia lakukan bukan hal yang benar. Ia juga menyadari bahwa apa yang terjadi padanya adalah sebuah teguran dari Yang Maha Kuasa, ia terlalu lalai pada kenikmatan dunia, ia mengejar harta yang notabene hanya titipan tanpa peduli pada keluarganya, ia pikir dengan banyak harta dan juga kekayaan maka keluarganya akan bahagia


Ternyata tidak, justru mereka yang berkelimang harta dan juga kekayaan belum tentu bahagia dan bahkan mereka yang bisa dibilang kurang akan harta dan kekayaan justru malah merasakan bahagia dalam hidupnya. Sejatinya kebahagiaan itu bukan berdasar pada harta, kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu menerima apa yang kita miliki, bersyukur akan apa yang ada dan menjaganya agar membuat kita tidak lupa bahwa apa yang kita punya hanya sebuah titipan


"Alexa sudah memaafkan Papi dan Mami. Alexa sayang kalian!"


"Kami juga menyayangimu, Nak!" keduanya memeluk putri mereka, keduanya kini mampu merasakan bagaimana sakitnya jika berada di posisi Alexa. Terpuruk dalam hukuman, sementara keluarganya tidak berada di sisinya, hanya William saja yang mengunjunginya sesekali. Namun keduanya tidak tahu jika selama ini Samuel lah yang ada untuk putri mereka


"Maafkan Papi dan Mami yang baru bisa mengunjungimu sekarang" Adiputra membelai wajah tirus putrinya. Ia melihat sekeliling ruangan itu, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat putrinya ditempatkan di ruangan yang jauh dari kata layak menurutnya. Andai saja ia masih seperti dahulu, punya kuasa dan kendali maka dengan mudah ia akan membawa putrinya dari tempat itu dan menempatkannya di tempat yang jauh lebih layak dan lebih baik


"Kalian tidak perlu khawatir, Alexa baik-baik saja di sini" kebohongan mulai ia ciptakan agar ia tidak terlihat menyedihkan di mata kedua orang tuanya. Ia membohongi semuanya bahkan dirinya sendiri ia bohongi, mana mungkin seseorang baik-baik saja saat mereka berada di dalam penjara dan tengah menghabiskan masa hukumannya


Kembali mereka memeluk putrinya, mereka tahu Alexa tengah berbohong padanya. Tapi setidaknya dengan ia berbohong itu akan membuatnya sedikit lebih kuat dan tidak lagi cengeng. Kehangatan sebuah keluarga tercipta di ruangan sempit itu, hingga akhirnya Samuel telah selesai dengan aktivitas yang ia lakukan dan kembali ke ruangan Alexa


"Aku membeli banyak buah, ayo kita makan!" Sam membuka pintu tanpa melihat sekeliling. Ia sibuk melihat ke arah kantong yang penuh dengan berbagai jenis buah yang baru saja ia beli


Ia tak lagi melanjutkan langkahnya saat melihat kenyataan orang tua Alexa duduk di sana. Kecanggungan pun tak terbantah, ia sedikit gugup dan jadi salah tingkah. Alexa menyadarinya dan menahan tawanya. Sam yang selama ini terkesan cool dan berwibawa kini tampak gugup kala melihat orang tuanya


"Selamat siang, Om, Tante" Sam menyalami keduanya, ia kemudian duduk di dekat mereka


"Terima kasih, Nak" tiba-tiba ucap Adiputra, Sam melihat ke arah Adiputra mencoba mencari arti dari kata terima kasih itu


"Terima kasih sudah selalu ada untuk Alexa, bahkan Om dan Tante yang merupakan orang tuanya saja tidak bisa seperti kamu yang selalu ada untuk putri kami" sambung Rosa

__ADS_1


Sam semakin salah tingkah, hatinya kian membesar dan yakin bahwa jalan yang ia tempuh akan semakin mulus, "Tidak perlu berterima kasih, saya senang malah bisa menemani Alexa di sini"


Ia mencoba menyingkirkan rasa gugup yang sejak tadi mendorongnya, ia berusaha bersikap kuat agar orang tua Alexa semakin mendukungnya untuk bersama Alexa. Ia ingin pertemuan kali ini menimbulkan suasana yang baik dan juga membekas di hati kedua orang tua Alexa


"Kami mendukungmu!" Adiputra menepuk bahu Samuel. Ada hal mengejutkan yang baru saja ia dengar. Mendukung? Adiputra mendukungnya?


Sorak gembira meluap di hatinya, ia tak tahu lagi harus berucap apa sekarang. Lampu hijau sudah ada di depan mata kini saatnya untuk terus berjalan dan mencapai titik tujuan. Pun sama dengan Alexa, ia tak tahu kenapa Papinya mudah sekali mendukung Samuel padahal mereka baru saja bertemu. Apa ini pertanda bahwa memang keduanya harus bersama atau hanya sebuah kebetulan saja


Mereka berempat mengobrol sepanjang waktu, biasanya jam besuk akan berakhir dalam satu jam tapi untuk saat ini tidak ada lagi batasan, ya itu semua pasti ada campur tangan dari Samuel. Ia memang akan melakukan apa pun asalkan bisa membuat orang-orang yang ingin mengunjungi Alexa tidak merasa dikejar oleh waktu


...*************...


"Sekarang pose kalian lebih mesra lagi, ya. Kalian berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Jangan lupa senyum!" arahan dari fotografer itu langsung kami peragakan


Baju pertama kami adalah pakaian seorang chef, di mana background dan juga tema yang kami pilih tidak jauh dari makanan, buah-buahan dan juga teman-temannya. Tema ini pilihan William dan aku juga cukup senang akan apa yang ia pilih. Di tema pertama kami tidak begitu mesra sebab di foto itu kami hanya berakting bak seorang chef yang tengah memasak dan juga menyajikan makanan


Sedangkan baju kedua kami adalah pilihanku, ya tentunya apa yang kami pakai saat ini tidak jauh dari bunga mawar dan juga warna merah. Background pemotretan kali ini pun juga penuh dengan bunga mawar merah yang bermekaran. Di sesi ini kami lebih intim dan juga mesra, pakaian yang aku kenakan pun terlihat agak sedikit terbuka


Gaun berekor panjang dengan lengan pendek serta sedikit terbuka di bagian bahu, riasan yang aku aplikasikan pun sedikit tebal dengan rambut yang tergerai. William sendiri kini memakai setelan jas warna merah, di mana, di tangannya ia tengah memegang setangkai mawar merah


Sudah beberapa foto kami ambil, kebetulan ini adalah foto terakhir namun hati dan pikiran sedang tidak sinkron. Kali ini foto yang kami ambil benar-benar membuat kami berdua gagal fokus. Aku yang sebelumnya sangat santai dan bisa memberikan foto terbaik tetapi kali ini aku merasa sangat gugup. Pose yang diarahkan oleh Kang foto membuat jantungku tak karuan


"Kalian saling berhadapan, mata kalian saling menatap satu sama lain. Dan kamu Will, pegang tangannya, letakkan di dadamu berdampingan dengan mawar merah itu. Dan kamu Agnes, dekatkan wajahmu dengan wajah William. Jangan gugup, senyum!" kembali ia mengarahkan kami berdua, namun tetap saja gugup tak bisa pergi


Tanganku berkeringat dan jantungku kembali berdetak lebih cepat. Meski di ruangan itu ber AC namun aku merasa gerah karena pose itu. Sekali lagi kami mencoba fokus dan melanjutkan sesi pemotretan itu

__ADS_1


"Agnes, ia love you so much" lirih William sambil tersenyum, aku semakin gugup dan hanya membalasnya dengan sebuah senyuman


"Ok, bagus. Pertahankan emosi kalian seperti itu!" terdengar kembali arahan dari Kang foto


"1, 2, 3. Good job. Kita selesai!" tepuk tangan terdengar dari semua orang yang berada di tempat itu. Setelah terdengar kata selesai akhirnya mereka membubarkan diri dari tempat itu. Mereka membawa semua barang bawaan mereka dan turun ke lantai satu


Lega, itu yang kini aku rasakan. Aku hendak pergi tapi William malah menahanku, ia semakin mendekatkan tubuhnya. Aku berusaha melepaskan diri sebab masih ada beberapa orang di sana


Entah apa yang ada di pikiran William, tiba-tiba ia mencium bibirku dengan lembut. Aku terkejut, dalam otakku menolak tapi ternyata tidak dengan tubuhku. Aku malah membalas ciuman itu dan kini semakin dalam


Tiba-tiba seseorang mematikan lampunya sebab ini sudah cukup malam, hal ini memang menjeda ciuman kami tapi tak berselang lama ciuman itu kembali terulang dan kini malah semakin panas. Tangan William tak lagi menggenggam tanganku sebab kini sudah berada di tengkukku berusaha untuk memperdalam ciuman itu


"Agnes, i love you" kembali kudengar suara William dalam gelap


"I love you too, Will" balasku


Kami sudah tidak tahu apa-apa lagi, yang kini kami rasakan hanya bahagia dan bahagia. Tangan William berusaha menurunkan dress yang kini masih melekat di tubuhku. Bahu yang semula masih sedikit terbalut gaun, kini sudah polos dan gaun sudah merosot ke depan dada. Tangan William mengusap bahu yang kini tak lagi ada apa-apanya, hatiku berdesir hebat, jantungku berirama tak karuan


Keberanian pun muncul, kucium kembali bibir William, ia membalasnya dan tiba-tiba suara petir begitu dahsyat terdengar. Bersamaan dengan itu, kesadaran terkumpul, kujauhkan tubuhku dari tubuh William, kubenarkan kembali gaun yang merosot di depan dada


Suasana berubah canggung, William menjauh, menghidupkan lampu yang sempat dimatikan beberapa saat yang lalu. Malu sekali rasanya, namun aku mencoba bersikap biasa. Aku merutuki kebodohan yang aku lakukan, bisa-bisanya aku terhanyut dalam suasana yang tidak seharusnya terjadi. Gaun sudah berada di tempat semula, William mendekat dan kemudian memelukku. Kucoba memberontak


"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud untuk ..." belum lagi William selesai bicara, petir kembali terdengar dan membuatku memeluknya erat


"Ayo pulang, Mas. Aku takut!"

__ADS_1


__ADS_2