HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 57


__ADS_3

Aku menghela nafasku kasar, mencoba membuang sesak yang ada setelah mendengar penjelasan Prima yang membuatku merasa lebih sakit dari sebelumnya, ditambah lagi dengan kepergian Mbak Sumi yang selama ini menemani kesendirianku saat masa-masa sulit menghadapi semua masalah.


Mbak Sumi menjadi orang pertama yang selalu mendengar semua keluh kesahku, dia selalu menjadi tempat di mana aku bisa bercerita dan bertanya.


Dia menjadi orang yang bisa aku percaya, dengan semua masalah dan juga apa pun itu. Tapi, sekarang aku harus kehilangan dirinya.


Meskipun aku tahu, aku memang terluka dengan apa yang terjadi sekarang, tapi setidaknya jika ia tidak pergi aku masih bisa berbagi rasa walaupun aku juga terluka karena dirinya.


"Apa harus secepat ini, Mbak?" tanyaku


"Iya, Non. Sebelum hari pernikahan tiba, saya harus sudah berada di kampung untuk mengurus semuanya dan nanti setelah menikah pun saya harus ikut dengan suami" Mbak Sumi menunduk, ia berkata dengan perkataan lirih dan sedikit bergetar.


Mendengar kata 'menikah' yang diucapkan oleh Mbak Sumi membuatku tidak mampu lagi untuk membuka mulut. Hal yang harusnya aku alami beberapa hari yang lalu bersama dengan Willy dan mungkin hal yang harusnya aku jalani bersama dengan Prima, kini harus berubah arah dan tidak tahu bagaimana ujungnya.


" Baik, jika itu sudah jadi keputusan Mbak Sumi, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Mbak dan semoga Mbak bahagia" Mbak Sumi mengangguk


Dan setelahnya, ia pun meminta ijin untuk mengambil semua barangnya yang masih berada di tempat ini, aku pun mempersilakannya dan dia pun segera beranjak dari duduknya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Di ruang tamu ini, sekarang hanya tersisa aku dan Prima yang masih diselimuti oleh keheningan dan juga kesunyian karena di antara kami berdua tidak ada yang membuka suara untuk memulai percakapan.


"Agnes," Prima membuka suara


Aku menoleh ke arahnya yang kini duduk mendekat di sampingku, " Aku tahu ini semua menyakitimu, tapi aku mohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat semuanya menjadi seperti ini"


"Iya" jawabku singkat dengan hati yang ingin marah dan juga sakit, sedari tadi aku menahan semuanya agar tidak menyakiti hati Mbak Sumi.

__ADS_1


Tapi kini setelah Mbak Sumi pergi aku pun mulai menunjukkan apa yang aku rasakan sejak tadi.


"Aku kira kamu tulus, Prim. Tapi ternyata tidak!" lanjutku kemudian


"Aku terlalu bodoh yang menilaimu tanpa tahu dirimu yang sebenarnya, ini memang salahku, meninggalkan orang yang setia demi orang yang hanya pura-pura" aku menaikkan nada bicaraku


Prima tampak terkejut dengan apa yang ia lihat karena selama ini ia tidak pernah melihatku berbicara dengan nada yang tinggi di depannya, tapi kali ini aku tidak akan menutupi semuanya.


Toh, jika aku bersandiwara atau berpura-pura baik-baik saja, itu semua tidak akan membalikkan keadaan yang memang sejak awal hanya sebuah alasan dan bukan tujuan.


Prima memandangku intens, " Agnes, aku minta maaf" lanjutnya


"Kenapa meminta maaf sekarang, kenapa tidak dari dahulu. Apa kamu pikir semuanya itu bukan kesalahan dan apa kamu pikir orang lain tidak punya hati?" ucapku lagi masih dengan nada yang tinggi


"Katakan padaku, Prim. Sejak kapan kamu mengetahui jika Mbak Sumi bekerja di tempatku dan membuatmu mengambil tindakan bodoh yang kini menyakiti banyak orang?"


"Dan selama itu pula kamu membohongiku?" Prima mengangguk


"Maaf, awalnya aku memang menyukaimu dan tertarik padamu tapi setelah saat itu aku sendiri juga tidak tahu harus bagaimana, aku menyukaimu tapi aku kembali menemukan cinta yang selama ini aku cari"


Plak


Aku menampar pipi kanan Prima tapi sang pemilik wajah tidak bereaksi apa pun, ia masih diam sembari berwajah datar.


"Lakukan, jika itu bisa mengurangi rasa sakit yang kamu rasakan" kata Prima datar

__ADS_1


"Aku melakukannya bukan karena rasa sakit yang aku rasakan, tapi aku melakukannya karena aku muak melihat wajahmu yang polos tapi pembohong itu, Prim. Terima kasih karena sudah pernah hadir di dalam hidupku meski pada akhirnya aku tahu jika kamu hanya menjadikan aku sebagai alasan, dan terima kasih juga karena sudah menyadarkan aku bahwa tidak semua yang baik itu bisa dipercaya!" aku pun kemudian bangkit dari dudukku dan bergegas pergi ke kamarku.


Mbak Sumi yang sedari tadi sudah selesai berkemas kini masih mematung di pintu kamarnya sembari memperhatikan apa yang terjadi antara diriku dengan Prima.


Setelah aku pergi ke lantai dua, Mbak Sumi mencoba memanggilku berkali-kali tapi aku abaikan hingga pada akhirnya Prima pun menariknya ke luar dari rumahnya dan kemudian pergi.


...*************...


Pagi hari menjelang, aku sudah bersiap dengan setelan kerja. Celana kain panjang warna hitam dan juga kemeja sebatas siku berwarna biru muda, rambut yang aku biarkan tergerai serta sebagai pelengkap aku tak.lupa untuk memoles wajahku dengan riasan yang tipis.


Kulangkahkan kakiku untuk ke luar dari rumahku dan kemudian menyambar helm yang memang sudah aku siapkan sejak pagi.


Pagi ini aku berencana untuk menaiki motor menuju tempat bekerja yang lokasinya tidak terlalu jauh. Jarak tempuh dari rumahku ke tempat kerjaku hanya memakan waktu 25 menit.


Dengan mengesampingkan semua hal yang terjadi kemarin, aku pun kini sudah kembali bersemangat untuk memulai hidupku yang baru.


Hidup dengan hasil kerjaku sendiri dan juga hidup dengan jalan yang aku inginkan, aku bertekad untuk tidak lagi memikirkan cinta sebelumnya aku bisa meraih apa yang selama ini aku impikan.


Semalam, aku sudah menelpon Ayah dan mengatakan padamu jika mulai hari ini aku akan bekerja dan aku juga tidak akan tinggal di rumah, karena aku memutuskan untuk mencari tempat indekos yang dekat dengan perusahaan di mana aku bekerja.


Awalnya Ayah tidak mengijinkan, tapi setelah aku mencoba menjelaskan semuanya, perlahan ia pun memahami dan memberi ijin meski dengan syarat aku harus pulang ke rumah setiap minggu karena mulai saat ini Ayah akan kembali menetap di Jakarta dan tidak.lagi di luar negeri.


Dua puluh lima menit berlalu, aku pun sudah sampai di PT. SM BEAUTY, perusahan pertama yang akan menjadi tempat pertamaku untuk bekerja.


Perusahaan yang hampir di seluruh sisi tempat ini terbuat dari kaca sehingga kita bisa melihat aktivitas yang terjadi di dalam maupun di luar kantor ini.

__ADS_1


Bangunannya masih terlihat baru karena memang perusahaan ini baru saja berdiri sekitar dua bulan yang lalu dan katanya hanya orang terpilih saja yang bisa bekerja di tempat ini karena pemiliknya begitu selektif dan juga teliti dalam menerima pegawai.


Aku kemudian berjalan ke sebuah ruangan yang memang menjadi tempat di mana aku akan bekerja, dengan perasaan yang bahagia aku pun melangkah dengan mantap ke ruangan yang berada tepat di depan ruangan Direktur


__ADS_2