HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 127. Bertemu Mama


__ADS_3

"Waalaikumsalam" jawab dari wanita yang berada di dalam butik itu. Ia terlihat baru saja membuka butiknya, ia mendekat ke arah kami dengan nada yang datar


Wanita paruh baya itu terlihat masih sangat cantik, perawakan tubuhnya yang ramping dengan kulit putih dan mata yang sipit. Dress yang ia kenakan melekat sempurna di tubuhnya


"Selamat datang di butik kami, ada yang bisa saya bantu?" ia dengan nqda datar dan juga dingin menuntun aku dan William untuk duduk di sudut ruangan itu, kami duduk dan kemudian wanita itu memberikan beberapa katalog miliknya. Ia sudah sangat paham maksud kami berdua bahkan sebelum kami menjelaskannya


"Terima kasih" ia mengangguk dan kemudian pergi entah ke mana. Sangat misterius wanita paruh baya itu, tidak ada kata-kata lain yang keluar dari mulutnya selain kata selamat datang. Cukup lama aku dan William di butik itu, melihat semua gambar dan juga contoh baju pengantin dari katalog yang wanita, setiap gambar memiliki model yang berbeda namun warnanya masih sama


"Mohon maaf, apa kalian sudah menunggu lama" sapa seorang wanita yang masih tampak muda dari pintu di mana wanita paruh baya tadi masuk, wanita itu berwajah hampir sama dengannya dan mungkin saja itu putrinya, usianya masih muda hampir seumur dengan Mama. Wajahnya menampakkan rasa yang tidak enak hati pada kami berdua,


"Kami baru saja datang" kusambut uluran tangannya dan kami pun berkenalan


"Saya Aneta, panggil saja bu Ane"


"Saya Agnes dan ini calon suami saya mas Willy" Mas Willy dan Bu Ane kemudian saling berkenalan


"Mohon maaf, Bu Ane. Wanita yang tadi siapa ya?"


"Itu tadi ibu saya, maaf ya jika dia bersikap kurang baik pada kalian. Dia memang begitu pada semua pelanggan saya, sejak dulu dia tidak menyukai jika saya mendirikan butik ini, dia meminta saya untuk bekerja sebagai pegawai kantoran tapi ya mau bagaimana lagi, passion saya di sini dan bukan di kantor. Meski begitu, ia tetap membantu saya menjahit dan juga beberes seperti apa yang ia lakukan pagi ini" jelas Bu Ane panjang lebar


"Ah, maaf saya malah curhat. Oh ya, kalian sudah putuskan untuk memilih yang mana atau kalian punya ide sendiri untuk baju pengantin kalian"


"Semua desain milik Bu Ane cantik, saya suka. Namun saya punya ide sendiri untuk model baju pengantin saya" kataku kemudian


"Model yang bagaimana, bisa nak Agnes jelaskan!"


"Tapi apa masih bisa, Bu. Aku akan menikah akhir pekan ini dan baju itu harus selesaipaling tidak dua hari sebelumnya "


"Akhir pekan, berarti seminggu lagi dan harus jadi lima hari dari sekarang" ia tampak menimbang lalu tak berselang lama ia mengiyakan dan sanggup menerima apa yang aku minta


"Bisa kok, kebetulan pekan ini saya sedang kosong" dengan hati yang gembira aku menyambut apa yang ia sanggupkan. Kemudian kujelaskan pada Bu Ane bagaimana model baju pengantin yang aku mau. Tidak rumit karena ini hanya akan digunakan untuk akad saja

__ADS_1


Dia kemudian memintaku dan William mengikutinya, dia mengukur tubuhku dan juga tubuh William. Selepasnya ia mengajakku untuk memilih kain dan juga pelengkapnya


"Kamu berbeda dari calon pengantin yang lain, mereka semua akan ribet dan juga heboh memilih apa yang akan mereka pakai nanti. Tapi kamu malah memilih hal sederhana dan juga simpel seperti ini" ia mengajak kami mengobrol kembali sembari menggambar sketsa model yang aku inginkan


"Yang penting itu bukan bajunya, tapi ijab qabulnya" jelasku kemudian


"Iya memang benar, tapi tunggu, kata-katamu itu mengingatkan ku pada seseorang" ia tampak berpikir dan mengingat seseorang itu


"Siapa, bu Ane?" aku juga penasaran dengan orang itu


"Dia teman baikku, kami berteman sejak masih SMP dan sampai sekarang pun kami masih berkomunikasi dengan baik. Rencananya dia juga akan datang ke sini siang ini" aku hanya mengangguk mendengarnya


"Sip, semua sudah siap. Tinggal menjahitnya" ia menunjukkan sketsanya padaku dan William, benar-benar tangan yang terampil, ia bisa menyelesaikan semua yang aku minta tidak kurang dari tiga puluh menit


"Bagaimana dengan pembayarannya?" William yang sedari tadi berkutat dengan ponselnya kini mengikuti pembicaraan


"Masalah itu bisa dipikir nanti, jika bajunya sudah selesai maka kalian bisa membayarnya" sungguh berbeda dari butik yang lain, jika di tempat lain meminta uang DP untuk pembuatan atau bahkan ada yang bayar di muka tapi tidak dengan bu Ane, ia malah tidak ingin menerima uang sebelum pekerjaannya selesai. Satu lagi nilai plus untuknya


"Baiklah, jika begitu kami pamit. Kabari kami jika sudah selesai!" William memberikan kartu namanya pada Bu Ane. Selepasnya kami berpmitan dan segera keluar dari butik itu


Bersamaan dengan itu, tampak seorang wanita yang memakai dress warna hitam selutut dengan riasan natural di wajahnya berjalan ke arah di mana aku dan William berada. Aku mematung sejenak, mengatur nafas dan detak jantung yang tiba-tiba tengah lomba lari di dalam


Kugenggam erat lengan William, ia pun sontak terkejut lalu melihat ke arahku dan juga ke arah di mana mataku memandang. Ia tak berucap sedikit pun, ia juga terdiam sambil terus mengamatiku dan wanita itu bergantian


"Mama" lirihku kemudian, wanita itu juga terdiam di tempatnya. Ia menatapku kini dan pandangan mata kita berdua bertemu


Tanpa banyak bicara dan banyak pertimbangan aku menghambur ke arahnya. Ia tampak terkejut dengan perlakuan dariku, sebab terakhir bertemu dengannya suasana di antara kita berdua tampak tidak kondusif dan sedikit tegang tapi setelah dipikir lebih dalam, aku malah merasa bersalah terus memusuhinya


Aku tidak seharusnya menyalahkan dirinya tas apa yang terjadi pada keluargaku, bukankah aku dan dirinya juga sama, menghianati orang yang mencintai kita demi mengejar orang lain. Tangis pun pecah, kurasakan gumpalan kesedihan yang dulu menjalar kini telah mencair, beban itu seakan hilang dengan ikhlas dan maaf yang kini terucap


"Maaf, Ma. Maaf!" tangis makin menjadi namun tidak bersuara, mama pun sama, ia juga menangis. Ia juga mengucap maaf dan penyesalan atas apa yang terjadi

__ADS_1


"Arini!" seru bu Ane dari ambang pintu, ia tampak sumringah waktu melihat Mama. Aku melepas pelukan itu dan menoleh ke arah Bu Ane


"Kalian saling kenal?" tanyaku pada Mama, mama mengangguk dan mengiyakan


"Ayo masuk, kita bicara di dalam" sontak kami bertiga kembali masuk ke dalam butik itu


...***************...


"Terima kasih, Oma" Alexa kini tampak lebih sehat dari sebelumnya. Ia juga sudah tidak selemah waktu itu meski kini dirinya masih berada di klinik


Oma Mariyam yang sejak kemarin menemaninya, setelah pulang ke Indonesia ia lebih banyak mengunjungi Alexa. Ia mengkhawatirkan keadaan cucunya meski dalam hatinya ia masih marah dan juga kecewa


"Bagaimana dengan penawaranku, Lexa?" Sam masih berada di sana, ia masih setia di samping Alexa. Bahkan pekerjaannya di luar negeri rela ia tinggalkan dan ia serahkan pada orang kepercayaannya


"Tidak, Sam. Aku harus menjalani semuanya, bukankah setiap perbuatan itu ada konsekuensinya?" tekad Alexa tetap menolak permintaan Samuel. Samuel ingin membebaskannya, ia ingin menjamin Alexa dan menebus denda yang dibebankan padanya. Tapi sekali lagi Sam mendapat penolakan dengan dalih ia akan menerima hukuman ini


Pernah beberapa kali mbak Sumi dan Prima juga datang, ia juga berniat mencabut tuntutan akan Alexa tapi kemudian di tolak Alexa. Keputusan Alexa sudah bulat, ia tak mau bebas saat ia sudah melakukan kesalahan


"Tapi, sayang. Lima belas tahun itu bukan sebentar" Oma Mariyam juga berusaha meyakinkan, namun sekali lagi Alexa menggeleng


"Lexa tahu, Oma. Tapi biarkan saja Lexa begini untuk saat ini, Lexa ikhlas, Oma"


"Apa kamu tidak kasihan padanya, bukankah dia masih menunggumu?" pandangan mata Oma tertuju pada Samuel yang kini duduk tidak jauh darinya


"Jika memang dia mencintai Lexa maka ini adalah bukti akan keseriusannya" netra Alexa tampak lain, biasanya ia akan menatap Sam dengan tatapan dingin dan acuh namun kali ini netranya tampak berbinar dan senyum pun juga terbit di sana


"Apa kamu masih ragu?" Sam menggeser duduknya dan lebih dekat dengan Alexa


Oma Mariyam memahami hal itu, ia hendak pergi tapi Sam mencegahnya. Samuel memintanya kembali duduk dan kini mengubah pembicaraan itu menjadi semakin intim


"Alexa, Oma. Untuk saat ini aku akan bertahan dan menunggu Alexa sampai dia bebas dari sini, entah apa pun yang terjadi nanti akan Sam pastikan janji Sam ini tidak pernah ingkar"

__ADS_1


Oma Mariyam kemudian menyatukan tangan Sam dan juga cucunya Alexa, "Oma doakan kalian berdua berjodoh dan kalian bisa bahagia bersama, Oma tahu untuk saat ini hati Lexa mungkin masih meragu pada Nak Sam tapi Lexa harus bisa menentukan sikap. Jika memang Alexa mau maka katakan iya dan jika Alexa tidak yakin maka jangan memberi harapan dan katakan tidak dari sekarang!" nasihat Oma benar-benar menampar Alexa, memang sejak saat pertama Samuel mengungkapkan isi hatinya ia memang tidak pernah menjawab iya atau tidak, Alexa hanya mengungkapkan berbagai alasan tanpa dasar


__ADS_2