HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Akhir Kebahagiaan


__ADS_3

Happy reading......


Setelah Felix menjenguk Maya, tidak ada perubahan apapun. Wanita berhijab itu masih koma dengan perut yang semakin membuncit.


Sudah 4 bulan lamanya Maya masih saja tidak membuka mata, dan saat ini perutnya juga sudah membesar. Dan seharusnya mereka melakukan syukuran acara 4 bulanan untuk bayi mereka, tetapi bahkan Maya masih betah dalam alam mimpi.


"Carlen, dimakan dulu Nak," ucap mama Gisel saat datang ke dalam ruangan tersebut sambil membawakan sarapan untuk putranya.


"Nanti saja, Mah. Carlen masih belum lapar," ucap pria tersebut sambil membaca proposal di atas sofa.


"Sampai kapan kamu akan terus seperti ini, Carlen? Semenjak Maya koma, kamu bahkan jarang sarapan. Makanmu tidak teratur, sering bergadang, bahkan lihat dirimu sekarang! Rambut gondrong, kumis bahkan jenggot pun tidak kamu cukur. Dan apa kamu tidak sadar, jika badanmu sekarang kurus? Mama melihat kamu begitu prihatin Nak. Kemana Carlen Mama yang dulu? Jangan seperti ini, Nak! Ayolah makan," ucap mama Gisel yang sudah menitikan air matanya.


Dia melihat putranya begitu sangat miris dengan penampilannya sekarang. Bahkan badannya yang berotot sudah mulai berkurang, terlihat begitu kurus, karena Carlen jarang sekali menjaga pola makannya.


"Mama tahu, bahkan sudah berapa kali Carlen bilang, apa yang Carlen rasakan saat ini, apa yang terjadi pada diri Carlen tidak sebanding dengan apa yang Maya rasakan dulu, Mah? Bahkan ini tidak bisa menembus kesalahan Carlen kepadanya," jawab pria itu sambil menatap Maya.


"Tapi jangan menyiksa dirimu seperti ini! Nanti kalau Maya membuka matanya, lalu melihat penampilanmu seperti ini, bagaimana?" jelas mama Gisel.


"Tidak usah khawatir! Nanti aku akan makan sarapannya. Aku mau mengerjakan tugas dulu Mah, ada sedikit pekerjaan." Carlen mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


Memang selama 4 bulan itu dia tidak memperhatikan penampilannya. Carlen tidak perduli, karena saat ini yang dia pikirkan adalah keadaan Maya. Setiap hari dia selalu membacakan dongeng di samping Maya, berharap wanita itu akan membuka matanya. Tidak lupa dia juga belajar mengaji, bahkan memanggil guru ke rumah sakit untuk mengajarinya. Karena Carlen ingin sekali menjadi imam yang sempurna bagi Maya.


Hari semakin siang, bahkan sarapan yang diberikan oleh mama Gisel pun tidak tersentuh. Karena Carlen merasa perutnya tidak lapar sama sekali.


Dia melihat ke arah Maya yang sampai saat ini masih menutup matanya, seketika air mata Carlen jatuh membasahi tangan Maya yang saat ini tengah berada dalam genggamannya.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini, sayang? Lihat, bahkan perutmu sekarang sudah mulai membuncit. Anak kita pasti membutuhkan asupan gizi dari kamu. Bangunlah, berikan Iya gizi! Berikan dia makanan! Aku berjanji, setelah kamu bangun, kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Kita akan memulai semuanya dari awal. Dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu! Aku akan menyayangimu, menyayangi anak kita. Bahkan dengan nyawaku sendiri," ucap Carlen sambil menangis tersedu-sedu.


Tiba-tiba saja dia merasakan gerakan di tangannya. Pria itu langsung menghapus air matanya, dan menatap Maya. Dia melihat mata Maya bergerak, dengan cepat Carlen pun menekan tombol untuk memanggil dokter.


"Sayang, kamu sudah sadar? Alhamdulillah, ya Allah, puji syukur atas kehadiratmu. Terima kasih ya Allah. Sayang, akhirnya kamu sadar juga!" seru Carlen dengan wajah berbinar.


"Mas Carlen," ucap lirih Maya.


"Iya sayang, aku di sini. Aku di sini." Carlen yang tidak bisa berkata-kata pun hanya mengatakan jika dia berada di sana.


Tidak lama Dokter dan Suster datang dan langsung memeriksa keadaan Maya. Sementara itu Carlen terus aja menggenggam tangan Maya. Apalagi saat melihat istrinya membuka mata setelah 4 bulan lamanya dia tertidur.


"Bagaimana, Dok? Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Carlen sambil melihat ke arah sang Dokter.


"Alhamdulillah, Nyonya Maya sudah melewati masa kritisnya, dan sekarang tinggal pemulihannya saja. Setelah keadaannya stabil, baru boleh pulang," jelas Dokter tersebut.


Carlen yang mendengar itu pun tentu saja sangat bahagia. Tidak lupa dia juga mengirimkan pesan kepada Rania, tentang keadaan Maya. Karena selama ini gadis itu begitu sangat khawatir dengan keadaan wanita tersebut.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga sayang. Aku benar-benar senang sekali, melihat kamu sekarang membuka mata. Tidakkah kamu tahu, betapa aku sangat merindukanmu? Betapa aku takut kehilanganmu?" ucap Carlen sambil mengecup tangan Maya, beralih ke jidat, pipi, hidung, mata dan terakhir bibirnya.


Maya terpaku saat melihat reaksi Carlen, kemudian dia tersenyum tipis. Namun hatinya merasa mirip saat melihat penampilan suaminya saat ini, di mana rambutnya sangat gondrong, jenggot dan kumis begitu tebal, bahkan tubuhnya terlihat begitu kurus.

__ADS_1


'Apa yang terjadi dengan kamu, Mas? Kenapa kamu terlihat begitu kurus dan tidak terurus?' batin Maya sambil menatap ke arah suaminya.


"Kamu mau apa? Minum, makan, mau buah?" tanya Carlen dengan antusias.


"Haus," ucap Maya dengan nada yang lirih.


Carlen yang mendengar itu pun segera mengambil air putih, lalu memberikannya kepada Maya. Dan membantu istrinya bangun, setelah itu menidurkannya kembali.


"Lihat sekarang bayi kita semakin membesar, pasti dia sangat bahagia sekali, karena melihat kamu sudah bangun," ucap Carlen sambil mengusap perut Maya.


Wanita itu pun mengusap perutnya, dan ternyata sudah membuncit. Dia merasa heran, sudah berapa lama dirinya tertidur.


"Mas, sudah berapa lama aku ada di sini?" tanya Maya.


"Kamu sudah koma selama 4 bulan," jawab Carlen dengan raut wajah yang sedih.


"Selama itu?" heran Maya, dan Carlen langsung menganggukkan kepalanya.


Carlen terus aja mengecup tangan Maya dengan air mata yang sejak tadi menetes, karena bahagia. Dan Maya bisa melihat penyesalan di kedua sorot mata milik pria tampan tersebut.


"Seharusnya kamu dulu membiarkan aku untuk meminum racun itu. Biarkan aku yang mati. Biarkan aku yang koma. Biarkan aku yang kehilangan nyawaku, jangan kamu dan bayi kita," ujar Carlen.


Maya tersenyum dan menatap ke arah suaminya. "Aku tidak akan membiarkan kamu terluka, Mas. Mungkin memang aku terdengar bodoh, mencintai tapi terus disiksa olehmu. Tapi itulah prinsip seorang Istri, di mana surga adalah suaminya, dan melalui suaminya pula seorang istri dapat menggapai surga. Jika kita bersabar, maka Allah pasti akan memberikan kebahagiaan. Aku selalu percaya, Allah tidak akan pernah membiarkan atau memberikan aku cobaan di luar batas kemampuanku," jelas Maya dengan tenang.


Carlen yang mendengar itu pun semakin terisak. Dia selama ini telah menyia-nyiakan wanita yang begitu mulia seperti Maya, bahkan setelah apa yang Carlen lakukan, Maya tidak membencinya sama sekali.


Maya menggeleng dengan pelan, "Aku tidak membencimu sama sekali Mas. Aku selama ini mendengar semua ucapan, mendengar dongeng-dongengmu yang kamu ucapkan kepadaku. Mungkin aku marah. Mungkin juga aku kesal, dan itu manusiawi. Tapi aku ingat, Allah memberikanku cobaan, karena Allah yakin, aku mampu melewati itu semua. Setelah hujan pasti akan ada pelangi, dan setelah penderitaan, pasti akan ada kebahagiaan," jelas Maya.


"Aku berjanji sayang, aku akan menjagamu. Menjaga anak kita. Aku akan mencintaimu dan mencintai anak kita. Aku berjanji tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama. Kita akan memulainya dari awal," ucap Carlen dan Maya langsung menganggukkan kepalanya.


"Tapi bagaimana dengan mbak Freya, Mas?" tanya Maya.


"Dia sudah meninggal, saat kamu dilarikan ke rumah sakit," jawab Carlen.


"Innalillahi!" kaget Maya yang tidak menyangka jika madunya telah meninggal. Namun seketika Maya sadar, mungkin itu adalah Karma dari Allah untuk Freya


.


.


Rania datang untuk menjemput Maya, karena hari ini mereka akan pulang ke rumah. Bahkan di sana juga mama Gisel yang sudah menyiapkan semuanya untuk acara penyambutan Maya.


"Mbak, ayo aku bantu ya," ucap Rania sambil membantu Maya untuk duduk di kursi roda, kemudian mereka keluar dari rumah sakit untuk pulang ke rumah kediaman Dalmiro.


Sesampainya di sana, semua pelayan sudah berkumpul dan mereka menyambut kedatangan Maya dengan meriah. Melihat itu semua, Maya tersenyum senang apalagi di sana masih ada kakek Albert.


"Alhamdulillah, akhirnya cucu kakek sudah sembuh. Selamat datang kembali Nak di rumah ini. Kita mulai semua kebahagiaan dari awal ya! Jika cucu Kakek ini berani menyakitimu lagi, maka akan kakek patahkan semua kaki dan juga tangannya!" ancam kakek Albert sambil memukul Carlen dengan tongkatnya.

__ADS_1


Maya yang mendengar itu pun hanya terkekeh, "Kakek tenang saja! Jika nanti Mas Carlen melukai Maya lagi, maka Maya akan meninggalkannya. Tidak akan ada kesempatan kedua," ujar Maya.


"Dan aku tidak akan pernah melakukan hal yang sama. Aku tidak ingin kau meninggalkanku. Aku tidak ingin, anakku juga meninggalkan diriku," jelas Carlen.


"Oh ya, Mbak. Ada yang mau bertemu dengan Mbak Maya," ujar Rania.


"Siapa?" tanya Maya.


Kemudian seseorang dibalik punggung Rania yang memegang buket bunga yang besar memperlihatkan wajahnya, dan ternyata dia adalah Felix.


"Tuan Felix!" kaget Maya.


"Hei, apa kabar? Aku pikir setelah kamu koma, tidak akan mengingat diriku lagi?" kekeh Felix, kemudian dia memberikan buket itu kepada Maya.


"Selamat datang kembali, dan selamat bergabung dengan keluargamu lagi," ujar Felix.


"Terima kasih Tuan," jawab Maya sambil tersenyum.


"Sekalian kita juga merayakan, karena Carlan sudah berada di jalan yang lurus. Dia tidak bodoh lagi," ucap kakek Albert.


"Kakak itu bukan bodoh, tapi dibutakan cinta. Sampai nggak bisa bedain, mana cinta dan mana kebodohan?" ujar Rania dengan nada menyindir.


"Maybe? Seharusnya kemarin Kakak pakai saja kacamata kuda," jawab Carlen membuat semua terkekeh.


Dia sadar, jika kemarin begitu mencintai Freya, sampai tidak menyadari cinta tulus Maya. Sekarang Carlen sudah sadar, dan dia janji akan menjaga Maya dan mencintai wanita itu dengan segenap jiwa dan raganya.


"Baiklah, karena di sini semua sudah kumpul. Sebenarnya ada yang mau aku sampaikan juga," jelas Rania.


"Apa itu?" tanya mama Gisel.


Rania yang mendengar itu pun hanya tersenyum malu, kemudian dia menggenggam tangan Felix. "Sebenarnya aku dan juga Tuan Felix, berencana akan menikah. Tapi aku ingin meminta restu dulu dari Mama, Kakek dan juga Kak Carlen," ujarannya dengan tatapan memohon.


"Tapi kan dia bukan agama Islam, Rania?" jelas Carlen.


"Kakak benar, tapi Tuan Felix sudah mualaf beberapa minggu yang lalu, dia juga sudah disunat," jawab Rania.


Felix yang mendengar itu pun mencubit pinggang kekasihnya. Dia merasa malu saat Rania mengatakan jika dirinya sudah disunat, dan itu membuat semua orang yang ada di sana terkekeh.


"Baiklah, baiklah. Kalau Kakek sih merestui, yang penting Felix bisa menjaga kamu dan menyayangi kamu dengan tulus. Setidaknya kamu tidak memakan pisang yang belum dikupas?" ledek kakek Albert.


"Kakek!" rajuk Rania.


Semua yang ada di sana pun tertawa bahagia, begitupun dengan Maya. ia menatap ke arah Mama Gisel, Rania kakek Albert, Felix dan juga suaminya, sambil mengusap perutnya yang semakin membuncit.


'Terima kasih ya Allah, aku tahu setelah badai pasti akan ada pelangi. Setelah cobaan yang berat, pasti akan ada kebahagiaan. Terima kasih telah menyadarkan suamiku. Terima kasih karena Engkau sudah memberikanku kesehatan, dan memberikanku kesempatan untuk menghirup udara di dunia lagi. Terima kasih, karena Engkau sudah memberiku kesempatan untuk menjaga dan membesarkan anakku. Terima kasih atas segala nikmat-Mu ya Rob.' batin Maya penuh syukur.


TAMAT....

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian yang udah baca novel receh Author🙏🏻 Terima kasih yang sudah mengikuti dari awal🙏🏻 Author memang tidak ingin membuat novel yang bertele-tele😊 dan kalian Tenang saja, bakal banyak novel yang Author akan terbitkan besok🤗 jadi jangan lupa pantengin terus ya😘🙏❤❤❤


__ADS_2