
Maaf, Bu. Kami memang bukan suami istri sekarang tapi kami akan menjadi suami istri secepatnya. Saya sudah bertunangan dengannya. Iya kan, sayang?" kata William sambil menendang kakiku
Aku sontak menoleh ke arahnya dan dia pun mengembangkan senyum manisnya sambil mengedipkan matanya, aku tahu maksudnya dan dengan segera aku pun mengangguk
Ada perasaan berbeda yang aku rasakan ketika ia mengatakan kata 'sayang', ada hal aneh yang kini menjalar di hatiku, tapi aku pun segera menepisnya agar semuanya tidak lagi berlanjut ke dalam hal yang tidak aku inginkan.
"Iya, Bu. Kami sudah bertunanagan dan sebentar lagi akan menikah" kilahku mengikuti karangan cerita William
"Oh, baguslah jika kalian sudah memiliki ikatan. Tapi ingat ya kalian belum halal jadi sebaiknya jangan sering berduaan" kami berdua mengangguk bersamaan
"Cepat masuk, ini sudah malam" sambung ibu kos lalu pergi meninggalkan aku dan William di pelataran rumah kos itu
Aku pun berpamitan dengan William dan segera memintanya untuk pulang karena memang ini sudah malam, dengan berat hati ia pun mengiyakan apa yang aku katakan dan segera berlalu dari sana dengan langkah yang sangat terpaksa.
Setelah ia berlalu, aku pun masuk ke dalam rumah itu dan segera masuk ke dalam kamarku. Rumah itu terlihat sepi, tidak ada aktivitas apa pun dari para penghuni kos yang lainnya, aku menoleh ke sisi kiri dan kanan kamar yang katanya sudah berpenghuni itu tapi nyatanya tidak ada suara atau aktivitas apa pun yang bisa aku dengar.
"Mungkin mereka semua sudah terlelap" gumamku lirih sambil menaiki tangga menuju ke kamarku.
Setelah sampai di kamar, aku pun segera mandi dan beristirahat. Memulihkan kembali tenaga yang seharian ini aku gunakan.
...**********...
William baru saja ke luar dari mobil yang ia tumpangi, mobil itu ia parkirkan di garasi rumah mewahnya. Ia bergegas masuk dan ingin segera beristirahat.
William berjalan melewati kamar Alexa yang berada tepat di samping kamarnya, sayup-sayup ia mendengar jika Alexa tengah berbicara dengan seseorang dan dari nada bicaranya terdengar jelas jika kakaknya itu tengah marah dan memaki seseorang.
William mendekatkan telinganya ke arah pintu yang kini tertutup rapat itu, dengan seksama ia mendengarkan percakapan itu. Hal ini yang pertama bagi William, sebelumnya ia tidak pernah ikut campur atau mau tahu hal yang sedang dialami oleh seseorang, jika memang hal itu tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Namun, entah kenapa kali ini ia sangat penasaran dengan apa yang dengar, karena baru kali ini ia mendapati Alexa tengah memaki seseorang dengan nada yang begitu tinggi.
__ADS_1
"Kalian semua memang tidak becus, tidak ada gunanya aku membayar kalian mahal jika pekerjaan seperti ini saja tidak bisa kalian lakukan!" suara Alexa saat tengah berbicara dengan seseorang di panggilan teleponnya
William menyatukan alisnya, ia begitu penasaran dengan apa yang dilakukan kakaknya itu sebab beberapa hari ini tingkah Alexa sangat aneh menurutnya.
"Apa yang sedang ia lakukan, dan bayaran, bayaran apa itu, apa dia melakukan hal yang tidak aku ketahui?" batin William sambil terus mendengarkan percakapan Alexa.
Tak berselang lama, percakapan itu pun usai. Dengan segera William pun pergi dari sana agar tidak terpergok oleh Alexa yang kini tengah berjalan ke arah pintu kamarnya.
Alexa membuka pintunya setelah William sudah sampai di dalam kamarnya,
"Sepertinya aku mendengar langkah kaki seseorang, tapi siapa?" Alexa bermonolog sendiri sembari menoleh ke sana ke mari mencari seseorang, tapi ia tak mendapati siapa pun, ia pun akhirnya kembali masuk ke dalam kamarnya.
Keesokan paginya, William dan Alexa sama-sama berada di meja makan, mereka berdua menikmati sarapan pagi berdua karena orang tua mereka masih berada di luar negeri
William sendiri sampai saat ini belum berani bertanya tentang apa yang ia dengar semalam, ia masih diam karena itu bukan urusannya dan belum menunjukkan hal-hal yang membahayakan.
William meletakkan sendok dan garpun yang ia pakai, "Baik, Kak. Semua berjalan sesuai rencana" sambungnya sambil mengelap bekas makanan yang .asih menempel di mulutnya.
"Bagaimana kabar Samuel?" Lanjut Alexa memperhatikan mimik muka adiknya yang kini terlihat datar
"Dia baik, Kak. Kenapa tiba-tiba kakak menanyakan kabarnya, apa hati kakak sudah tergerak ingin menerimanya?" William masih memasang wajah datarnya
Alexa tersenyum kecut, "Apa kamu akan melepaskan Agnes?"
William kemudian mengangkat wajahnya dan menatap kakaknya penuh kebingungan, "Tidak, aku baru saja mendapatkan dia kembali dan sampai kapan pun aku tidak akn pernah melepaskannya!"
"Bagus, pertahankan dia. Jangan sampai melepaskan dia lagi. Lalu bagaimana kabar Prima?" Lanjut Alexa berpura-pura
"Aku tidak tahu bagaimana kabarnya, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Terakhir kali aku mendengar kabar bahwa dia akan menikah dengan cinta pertamanya"
__ADS_1
"Cih, cinta pertama. Cinta pertama yang tak akan pernah bersama" batin Alexa sembari tersenyum sinis. William memperhatikan senyuman itu dan dia sendiri tidak tahu apa yang mendasari senyuman itu
"Jangan mengacaukannya, kakak bisa mencari yang lain dan biarkan dia bahagia!" William langsung berdiri dan meninggalkan Alexa yang agak terkejut dengan penuturan adiknya.
Alexa tidak tahu apakah mimik wajahnya terlihat begitu nyata atau memang William hanya menebak dan tebakkannya kini tepat pada sasarannya.
William kini sudah berada di depan tempat kosku, ia kemudian turun dari mobilnya dan kemudian masuk ke dalam pelataran rumah itu setelah menyapa Pak Satpam yang kini bertengger di posnya
Aku yang kala itu tengah menuruni tangga dan hendak ke luar, lagi-lagi merasa aneh karena tidak ada aktivitas apa pun se pagi ini. Padahal yang aku tahu, pagi ini masih menunjukkan pukul 06.30 yang mana seharusnya semua orang sudah bersiap untuk pergi bekerja tapi pada kenyataannya tidak ada satu pun yang tampak beraktivitas.
Semua pintu kamar masih tertutup, ruang tamu juga terlihat rapi dan bersih dan satu lagi, ibu kos juga tidak tampak sejak semalam.
Tanpa berpikir panjang, aku pun segera meninggalkan ruang tamu itu karean jujur saja, aku merasa sedikit merinding dan bulu kudukku meremang. Aku berjalan dengan langkah yang cepat agar segera menjangkau pintu rumah itu.
Aku pun segera membuka pintu setelah meraihnya, "Ya Allah, William!" teriakku saking terkejutnya ketika mendapati William kini berdiri tepat di depan pintu dan hendak mengetuk pintu
"Kenapa, Nes. Ada apa?" William juga ikut panik saat melihat diriku terkejut waktu melihatnya.
Kututup pintu rumah itu dan kemudian kitarik lengan William menjauh dari sana, setelahnya aku pun menceritakan semua hal yang aku alami sejak semalam sampai pagi ini. Tidak ada respon apa pun dari William, ia hanya tersenyum sambil menenangkanku
"Jangan panik, mungkin mereka semua memang bekerja sejak pagi buta dan pulang sebelum sore hari, jadi kamu tidak melihat aktivitas mereka" Sekali lagi William menengkanku, ia meraih tubuhku dan mendekapnya erat. Aku menerima perlakuan itu dengan sadar karean rasa takut yang mendominasiku
Aku mencoba menerima apa yang baru saja aku dengar, meski dalam hati kecilku aku masih merasa takut dan juga panik.
"Sudah, jangan terlalu memikirkannya. Apa kamu sudah sarapan?" aku menggeleng masih di dalam pelukannya
Pelukan itu berlangsung cukup lama, sampai pada akhirnya pak Satpam meniup peluitnya dan berteriak kepada kami berdua
"Ini masih pagi, Mas, Mbak!" lanjutnya kemudian dan kami.pun segera melepas pelukan itu, rasa canggung meliputi kami berdua meski kini aku dapat melihat William tersenyum manis karena bahagia.
__ADS_1