
William masih berada di luar rumah kosku, hal yang sulit yang kemarin ia hadapi kini semakin bertambah sulit ketika mendapati diriku yang semakin marah karena ucapannya
Ia kemudian merogoh ponselnya anyang berada di saku jasnya, ia mendial sebuah nomor dan menghubunginya, "Handle kantor untuk hari ini, semua agenda rapat kamu yang mewakili, aku sedang ada urusan dan tidak bisa datang ke kantor!" lanjutnya kemudian memutuskan panggilan itu
Setelahnya ia pun memutuskan untuk pulang dan berniat akan kembali lagi ke sini setelah membersihkan diri
...*************...
Hari-hari berlalu, Prima masih terus mondar-mandir ke kantor polisi untuk mencari kejelasan di mana sang kekasih berada. Sudah hampir satu bulan lamanya ia kehilangan jejak sang kekasih dan bahkan sampai saat ini polisi pun belum bisa menemukan di mana Mbak Sumi dan Pak Samin berada
Ia juga berulang kali menemui Alexa dan meminta kejelasan akan apa yang ia cari saat ini sebab ia masih curiga dan meyakini jika Alexa ada hubungannya dengan ini semua
Ia terus mengotak-atik ponselnya dan mencoba menghubungi nomer telepon Mbak Sumi tapi pada kenyataannya tidak ada jawaban dan kini ponsel itu malah sudah tidak aktif. Kegelisahan kini semakin memuncak, harapan yang kala itu ia yakini kini seolah hilang seiring berjalannya waktu
Prima terus membaca semua pesan yang pernah Mbak Sumi kirimkan sebagai penebus rasa rindu yang kini ia rasakan, ia juga terus menerus mengulang membaca pesan yang terakhir Mbak Sumi kirimkan
"Mas, aku sudah di depan rumah sakit Sejahtera" itulah pesan yang ada di sana, berulang kali pesan itu ia baca, ia merutuki dirinya sendiri sebab saat ia menerima pesan itu dirinya tengah mengurus suatu pekerjaan dan baru bisa membacanya pada malam hari
Ia tidak menganggap serius hal itu sebab yang ia pikirkan adalah ketika ia berada di rumah sakit maka ia sedang memeriksakan kesehatan Pak Samin yang selama ini memang menderita sakit
"Mas, aku sudah di depan rumah sakit Sejahtera" Sekali lagi ia membaca pesan itu
__ADS_1
"Rumah sakit Sejahtera" ucapnya lirih
"Rumah sakit Sejahtera " ia mengulanginya seraya berpikir
"Tunggu, apa ini sebuah jawaban" Prima pun berdiri
"Benar, ini sebuah jawaban" wajah Prima tampak berbinar, tanpa berpikir panjang ia pun langsung menyambar helm dan juga kunci motornya dan bergegas pergi ke kantor polisi untuk menyampaikan apa yang baru saja ia temukan
Ia pun kini sudah tiba di kantor polisi, dengan segera ia pun menemui seorang polisi yang memang selama ini menangani kasus yang ia laporkan
"Selamat siang, Pak" Prima menjabat tangan laki-laki berseragam itu
"Selamat siang, silakan duduk. Ada yang bisa kami bantu?" Prima pun kemudian menyampaikan maksud dirinya datang lagi ke tempat ini, ia juga mengatakan jika mungkin hal ini menjadi titik terang dari apa yang ia cari selama ini
"Baiklah, mari kita berangkat ke tempat tersebut" ajaknya kemudian dan Prima pun segera mengikuti polisi itu yang kini telah melajukan motornya dengan laju yang cukup kencang
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka berdua di tempat yang dimaksud. Sebuah rumah sakit yang cukup besar tapi berlokasi agak jauh dari pusat kota. Rumah sakit itu terlihat cukup ramai karena memang satu-satunya rumah sakit di sekitar daerah itu, mereka memarkirkan motor mereka dan dengan segera masuk ke dalam tempat itu
"Saya dari kepolisian, boleh saya memeriksa cctv halaman rumah sakit ini sekitar 2 minggu yang lalu" ucapnya sembari menunjukkan kartu identitas kepolisian, sang resepsionis pun hanya mengangguk dan kemudian membawa mereka berdua ke ruang kendali keamanan yang berada di lantai yang sama dengan resepsionis
"Silakan masuk, di sini ruangannya" Sang resepsionis itu kemudian membuka pintu ruang kendali keamanan yang mana di dalamnya terdapat dua petugas penjaga yang kini tengah berjaga
__ADS_1
Pak polisi pun dengan segera menyampaikan niatnya datang ke tempat ini, setelah menjelaskan sederet rentetan kronologi kasus yang ia hadapi akhirnya petugas itu pun dengan senang hati membantu
Petugas itu pun segera memutar rekaman cctv yang terlah tersimpan sesuai dengan arahan Pak Polisi, Prima pun mendekat sambil terus memperhatikan semua kendaraan yang beraktivitas pada saat itu
Tidak ada yang terlewat sedetik pun dari pandangan mata Prima dan juga Pak Polisi, mereka berdua masih terus mengamati segala pergerakan di sana. Hampir setengah jam lamanya akhirnya mereka pun menemukan sebuah kejanggalan yang ada di sana
Mereka berdua terus mengamati sebuah mobil berwarna hitam, mobil yang kala itu berada di luar pagar tempat tersebut, yang mana dari mobil itu keluarlah seorang wanita dan seorang laki-laki yang Prima pun tahu siapa orangnya. Perempuan itu sempat mengotak-atik ponselnya sambil terus berdiri di samping mobil, tapi tak berselang lama dua orang berbaju, bertopi dan berkaca mata hitam dekat ke arah mereka dan membungkam mereka
Keduanya sempat melawan tapi tak berselang lama keduanya pun lemas tak berdaya dan akhirnya tidak sadarkan diri, keduanya pun segera dibawa masuk kembali ke dalam mobil itu. Tak berselang lama mobil itu pun melaju ke arah yang mereka pun tidak tahu ke mana
Akhirnya dari rekaman itu bisa mereka simpulka jika Mbak Sumi dan Pak Samin memang diculik dan penculikan itu memang sudah terencana sebelumnya, kelegaan terpancar di wajah Prima dan juga Pak Polisi meski pu. dari rekaman itu mereka berdua tidak mengetahui persis plat nomor kendaraan itu
"Kami sudah mendapatkan apa yang kami butuhkan, terima kasih atas kerjasamanya" Pak Polisi dan Prima pun segera berpamitan dan akan melakukan pencarian lebih lanjut
"Sama-sama, Mas, Pak. Semoga kasus yang Anda hadapi segera terpecahkan" kata salah seorang penjaga ruangan itu
Mereka berdua pun segera ke luar dari rumah sakit itu dan segera melajukan motornya ke arah di mana mobil hitam yang mereka lihat tadi melaju
Dengan kecepatan yang pelan keduanya terus mengamati keadaan sekitar yang memungkinkan seorang penculik untuk menyekap tawanan mereka. Beberapa menit kemudian, pandangan mata Pak Polisi tertuju pada sebuah deretan rumah yang terlihat tua dan usang
Laki-laki berseragam itu kemudian mengkode Prima untuk melajukan motornya ke arah yang ia maksud, Prima pun mengikutinya dan tibalah mereka berdua di sebuah deretan rumah yang sudah lama tidak terpakai
__ADS_1
Mereka berdua memarkirkan motornya di depan salah satu rumah yang bisa dipastikan akan segera roboh dengan sekali tiupan angin