HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 62


__ADS_3

Pagi ini Prima terlihat terburu-buru setelah ia tidak bisa menghububgi Mbak Sumi dan juga Pak Samin, pikirannya kacau dan hal buruk terbayang di otaknya.


Ia yang sudah terlihat rapi segera beranjak dan bergegas menuju ke kampung Mbak Sumi, sepanjang perjalanan ia masih merasa kacau dan juga tidak fokus akan apa yang ia lakukan sekarang


Ada hal jangan yang kini terbesit di pikirannya, kata-kata Alexa pada saat itu terus saja terngiang di kepalanya, ia takut jika hal itu akan menjadi kenyataan.


Di tempat yang berbeda,


Alexa masih terus mengancam Mbak Sumi yang sampai saat ini belum bisa memberikan keputusan akan apa yang diminta olehnya,


"Tinggalkan Prima, maka kamu akan melihatnya selamat!" ancaman Alexa lagi sembari memutar video yang kemarin. Mbak Sumi memang tidak bisa dengan jelas melihtanya tapi ia dengan jelas bisa mendenagr rintihan Pak Samin yang terkena pukulan dan juga jotosan


"Jangan sakiti dia, aku mohon" pinta Mbak Sumi dengan terus menangis


Alexa tertawa dan kini semakin puas, "Tinggalkan dia, maka aku tidak akan menyakitinya" jelas Alexa lagi tepat di samping telinga Mbak Sumi.


Mbak Sumi sendiri sampai saat ini memang belum tahu siapa orang yang menyanderanya karena matanya masih ditutup dengan kain, tapi ia hafal betul dengan suara dan juga wangi parfum dari Alexa.


"Baik, aku akan Tinggalkan Prima, tapi berjanjilah kamu akan melepaskannya" ucap Mbak Sumi lirih penuh kepasrahan


Alexa merasa menang, apa yang menjadi tujuannya kini sudah di depan mata dan akan ia dapatkan.


"Katakan sekali lagi!" pinta Alexa dan Mabk Sumi pun mengatakan apa yang ia ucapkan tadi


Tawa Alexa pecah untuk ke sekian kalinya, akhirnya kini ia mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Bawa dia masuk!" perintah Alexa pada dua laki-laki yang berjaya di pintu itu dan tak berselang lama, mereka pun masuk sembari menyeret seorang laki-laki tua yang tidak lain adalah Pak Samin.


Pak Samin yang kini terlihat lemas, di wajahnya terlihat beberapa bekas pukulan yang kini membiru dan menghitam, matanya juga ditutup dengan kain agar ia tidak tahu siapa pelaku yang selama ini menyiksanya.


"Sumi!" teriak Pak Samin dengan sisa tenaga yang ia miliki,

__ADS_1


"Pak Lek!" sahut Mbak Sumi yang mendengar suara Pak Samin memanggilnya.


"Kalian berdua, dengarkan kata-kataku. Pergilah kalian dari kota ini, sejauh mungkin dan jangan pernah kembali. Jangan pernah menghubungi Prima atau siapa pun yang kalian kenal di kota ini" terang Alexa dan hanya mendapatkan anggukan dari Pak Samin dan juga Mbak Sumi


"Bagus jika kalian memahaminya, tapi ingat satu hal. Jangn pernah kalian mengingkarinya karean aku akan mengawasi kalian ke mana pun kalian pergi" Lanjyt Alexa kemudian ke luar dari rumah reyot itu


Sedangkan Pam Samin dan juga Alexa tetap berada di sana bersama dengan dua laki-laki yang membantu Alexa.


Dua laki-laki itu pun segera melepasakn ikatan dan juga penutup mata dari Mbak Sumi dan juga Pak Samin, sehingga membuat keduanya bisa melihat satu sama lain.


"Sumi"


"Pak Lek "


Ucap keduanya danerwka pun saling berpeluang, menanyakan kabar dan juga menangis sesenggukan. Mbak Sumi melepas pelukannya dari tubuh Pamannya dan kemudian mengamati bekas luka yang kini sudah membiru itu, sekali lagi tangis itu pun pecah.


"Maafkan Sumi, ini semua terjadi karena Sumi" kata Mbak Sumi


"Ini bukan waktunya untuk drama keluarga, kalian cepat pergi dari sini dan bawa ini bersama kalian!" laki-laki bertubuh kekar itu melemparkan segepok uang berwarna merah ke arah Mbak Sumi dan juga Pak Samin.


Mbak Sumi dan Pak Samin hanya melihatnya dan tidak ada niatan untuk mengambilnya.


"Kami tidak butuh, ambil saja untuk kalian. Jangan khawatir kita akan pergi" sambung Pak Samin sambil memegangi wajahnya yang terasa kaku


"Sombong sekali kalian, masih untung Bos kami memberi kalian tunjangan" Lanjut laki-laki itu dengan rahang yang mengeras ketika mendapatkan penolakan dari kedua sanderanya


"Sudah paman jangan diteruskan. Lebih baik kita pergi dari sini secepatnya!" ajak Mbak Sumi pada pamannya dan kemudian keduanya beranjak dari sana meski dengan langkah yang tertatih karean rasa lemas yang mereka berdua rasakan.


...*************...


Prima baru saja sampai di tempat yang ia tuju, ia baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah itu dan dengan segera mengetuk pintu rumah tersebut.

__ADS_1


"Assalamualaikum"


"Assalamualaikum, Pak Samin, Sumi!" ucap Prima berulang kali tapi tidak ada sahutan dari sang pemilik nama


Prima pun menyerah dan kemudian ia mencoba menghubungi ponsel Mbak Sumi dan juga Pak Samin, tapi sekali lagi tidak ada jawaban di sana.


Selang beberapa menit, seseorang melintas persis di depan rumah Pak Samin dan melihat Prima terduduk lemas sembari berwajah lesu di sana, laki-laki berbaju biru mendekat ke arah Prima dan menyapanya.


"Mas Prima" sapa laki-laki itu yang kebetulan mengenal Prima


Prima mengangkat kepalanya dan melihat ke arah seseorang yang memanggilnya,


"Iya, Pak" Prima berdiri dan menyalami laki-laki itu


"Loh, Mas Prima sudah sembuh ternyata?" pertanyaan aneh itu ke luar dari mulut laki-laki berbaju biru itu dan membuat Prima kebingungan dengan apa yang aku saj diucapkan.


"Sembuh, saya tidak sakit kok, Pak" jawab Prima kemudian


Laki-laki itu kemudian juga ikut bingung, " Bukannya Mas Prima mengalami kecelakaan dan dirawat?" lanjutnya


"Tunggu, tolong Bapak katakan dan jelaskan apa maksudnya!" pinta Prima dan laki-laki itu kemudian menjelaskan jika beberapa hari yang lalu seseorang datang ke rumah Pak Samin.


Seseorang itu mengatakan jika dia kerabat dari Prima dan ingin memberitahukan jika Prima sedang koma setelah mengalami kecelakaan, Pak Samin dan Mbak Sumi pun tanpa bertanya lebih lanjut dan tanpa menaruh curiga sedikit pun akhirnya ikut dengannya .


Prima terkejut, pasalnya selama ini dia baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Dan di Jakarta ia tidak punya satu kerabat pun karena dia seorang yatim piatu.


"Kapan tepatnya seseorang itu datang, Pak?" Lanjut Prima penasaran


"Sekitar 5 hari yang lalu, Mas" jelasnya kemudian dan dari situ Prima bisa menyimpulkan jika ada hal yang tidak beres dengan hal itu dan juga Pak Samin dan Mbak Sumi yang tidak bisa dihubungi.


"Oh begitu ya, Pak. Terima kasih informasinya, saya permisi pulang dulu" Prima pun berpamitan dan ia pun segera pergi dari sana dan kembali pulang. Laki-laki itu pun kemudian juga ikut pulang

__ADS_1


__ADS_2