HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Siapa Yang Melakukannya


__ADS_3

Happy reading.....


"Sayang aku---"


"Aku ingin membicarakan sesuatu hal yang penting sama kamu," potong Carlen.


"Apa itu?" tanya Freya dengan wajah yang bingung.


"Sebentar, aku mau pakai baju dulu," jawab Carlen. Kemudian dia berjalan ke arah lemari dan memakai bajunya di hadapan Freya, karena tidak perlu ada lagi yang disembunyikan oleh pria itu. Sebab Freya juga sudah melihat semuanya dan menikmatinya.


"Apa yang kau ingin bicarakan sayang?" tanya Freya saat melihat Carlen sudah selesai memakai baju.


Kemudian pria itu berjalan ke arah wanita tersebut, dan duduk di sampingnya. Namun Carlen hanya diam saja sambil menatap Freya dengan lekat. Entah apa yang sedang dia pikirkanny, dan itu membuat Freya benar-benar kebingungan.


"Sayang, kamu ini mau bicara apa sih? Kok dari tadi ngeliatin aku terus? Emangnya di wajah aku ada yang salah ya?" tanya Freya sambil memegangi wajahnya.


"Tidak ada yang salah kok. Hanya saja, aku ingin bertanya sesuatu . Mungkin ini sedikit pribadi," jelas Carlen.


"Oke, apa itu?" tanya Freya yang sudah tidak sabar, karena entah kenapa, dia merasa suaminya akan membicarakan sesuatu hal yang begitu penting.


"Siapa yang sudah mengambil keperawanan kamu pertama kalinya?" tanya Carlen tanpa basa-basi.


Freya yang mendengar itu cukup kaget. Dia pikir Carlen tidak akan menyadarinya. Namun ternyata pria itu cukup teliti. Akan tetapi, bukan Freya namanya jika dia tidak licik. Wanita itu sudah menyiapkan jawaban, karena ada kemungkinan Carlen akan menanyakan hal ini.


'Aku harus segera memainkan peranku. Ayo Freya, kau bisa.' batin wanita itu dengan licik.

__ADS_1


Kemudian dia mulai menangis, dan Carlen yang melihat itu pun menjadi bingung . Lalu dia menggenggam tangan Freya. "Sayang, kamu kenapa? Kok malah nangis sih? 'Kan aku cuma bertanya."


"Aku menangis karena mengingat sesuatu hal yang begitu menyakitkan. Iya sayang, aku memang sudah tidak perawan. Dan kamu tahu kenapa? Karena waktu itu, saat aku pulang kuliah, aku diculik oleh beberapa preman dan mereka menggilirku," jawab Freya dengan nada yang tersedu-sedu.


"Apa! Kamu diperkosa sama mereka?!" kaget Carlen.


Freya menganggukkan kepalanya, "Iya sayang, dan kamu tahu! Setelah dari situ, aku trauma, apalagi harus kehilangan kamu. Aku pikir, mungkin saja jika pergi darimu itu jauh lebih baik, karena aku malu jika kita menikah nanti kamu harus mendapatkan aku yang sudah tidak suci lagi." Freya menangis tersedu-sedu. Dia mengeluarkan segala air matanya agar terlihat begitu menyedihkan di mata Carlen.


Mendengar itu, tentu saja Carlen tidak tega. Kemudian dia membawa Freya dalam dekapannya, lalu mengecup keningnya. "Kenapa kamu berpikir seperti itu, sayang? Bahkan aku akan menerimamu apa adanya. Itu bukan kesalahanmu, tapi kesalahan mereka!" geram Carlen.


"Maafkan aku yang tidak pernah bercerita sama kamu. Aku malu, jika mengatakan semuanya." Freya sedang berakting. Namun siapa yang menyangka, jika dalam tangisnya dia tersenyum menyeringai, karena sudah berhasil mengelabui Carlen.


"Sudah, jangan menangis ya. Lebih baik sekarang kita turun ke lantai bawah untuk makan malam, karena walau bagaimanapun dirimu, kamu tetap akan menjadi ratu di dalam hatiku," ucap Carlen sambil mengecup tangan serta kening Freya.


Saat ini di meja makan Maya juga sudah berada di sana. Dia melihat suaminya turun, kemudian wanita itu langsung mengambilkan nasi untuk Carlen. Namun dicegat oleh Freya, sebab dia ingin mengambil hati mama Gisel serta Carlen, dan dia akan membuat Maya terasingkan di sana.


Wanita itu hanya diam saja sambil tersenyum. Namun wajahnya masih terlihat pucat, dan Carlen terus saja menatap ke arah Maya. Dia merasa bersalah, karena telah melakukannya dengan kasar tadi pagi.


"Ini sayang, makannya," ucap Freya. Kemudian dia mulai menyuapi Carlen di hadapan Maya.


'Akan kutunjukkan kepadamu wanita udik, bahwa Mas Carlen hanyalah milikku!' batin Freya dengan jahat.


Namun Maya tidak perduli. Dia fokus mengambil makanan dan menaruhnya di piring, kemudian dia mulai menyantap makanan tersebut. Bagi Maya melihat wajah Carlen, membuatnya sakit saat mengingat penyiksaannya tadi pagi.


Di mana pria itu menyetubuhi dirinya bagaikan seorang jalaang yang tidak mempunyai harga diri, tapi Maya tidak mau terlihat lemah di hadapan Carlen..

__ADS_1


Melihat kebersamaan dan keromantisan pasangan yang ada di hadapannya, membuat Maya bertekad, jika dia memang harus menguatkan hati dan juga jiwanya. Apalagi dengan statusnya yang dimadu.


"Tidak perlu memanas-manasi seperti itu kali, Mbak. Pengen banget apa Mbak Maya cemburu?" sindir Rania sambil memakan makanan yang ada di piringnya.


"Rania, jangan mulai deh. Kakak ingin makan dengan tenang, jangan membuat suasana semakin panas!" kesal Carlen pada sang adik.


"Siapa juga yang memperkuruh suasana? Aku 'kan hanya bicara fakta," jawab Rania dengan cuek sambil mengangkat kedua bahunya.


Sedangkan mama Gisel hanya menghela nafasnya dengan kasar, saat melihat perdebatan dua anaknya tersebut. Entah sejak kapan mereka tidak akur? Padahal dulunya Rania begitu manja kepada Carlen, dan begitupun dengan pria tersebut, dia sangat memanjakan adiknya.


Setelah makan malam selesai, Maya membantu para pelayan untuk membereskan meja makan. Namun seketika dicegah oleh Rania, karena dia ingin diajari ngaji.


"Ayolah Mbak! Aku belum tuntas nih, kemarin baru dapat satu juz. Sekarang 'kan mau juz kedua, jadi Mbak harus ngajarin aku! Biarin aja pekerjaan sama pelayan. Lagian Mbak di sini bukan pembantu," ujar Rania sambil menarik tangan Maya ke kamarnya.


Freya yang melihat itu pun hanya memutar bola matanya dengan malas. Namun saat Rania akan melangkah untuk meninggalkan meja makan, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan menatap ke arah sang mama.


"Oh ya, Mah. Kalau Mama mau belajar ngaji bisa kok sama Mbak Maya, atau mau gabung sama kami sekarang juga, nggak papa," jelas Rania. Setelah itu dia pergi meninggalkan ruang makan bersama dengan Maya.


Mama Gisel yang mendengar itu merasa tersentil hatinya. Sebagai orang tua, dia tidak pernah mengajarkan ngaji kepada Carlen ataupun Rania. Wanita itu hanya mengajarkan bagaimana tentang membangun perusahaan dari keluarga Dalmiro.


Namun siapa yang menyangka, jika jauh di dalam lubuk hati Carlen juga tersentil, saat mendengar penuturan Rania.


"Wanita itu pasti sedang memainkan perannya deh sayang. Supaya dia mendapatkan simpati dari kita semua." Freya masih mencoba untuk mengompori hati mama Gisel dan juga Carlen.


"Jangan berbicara seperti itu! Kita belum tahu kebenarannya bukan," ucap mama Gisel. Setelah itu dia pergi meninggalkan meja makan.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2