
Satu minggu berlalu, aku sudah sembuh dan sudah pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku dikejutkan dengan hal yang tidak aku duga. Dekorasi kejutan ulang tahun masih terpampang di ruang tamu masih dilengkapi dengan bunga dan juga perlengkapannya meski bunganya sudah layu dan ada yang terurai ke lantai
"Selamat ulang tahun, Non" kata bibi sembari membawa kue dari arah dapur, aku terharu akan apa yang aku lihat saat ini
"Maaf ya, Non. Kuenya kecil sebab kue yang waktu itu bapak beli sudah tidak bisa dimakan" jelasnya sekali lagi
"Tidak apa-apa, bi. Makasih ya" aku pun meniup lilin yang berdiri di atas kue itu
"Ayah menyiapkan semuanya, berniat untuk mengejutkanmu tapi ternyata Ayah yang malah dikejutkan dengan kabar kecelakaan yang menimpamu"
"Terima kasih, Ayah, bibi" aku memeluk mereka bergantian
"Istirahatlah lah dan jangan lupa minum obat" ayah mengusap pucuk kepalaku, aku pun segera mengikuti apa yang ia katakan
Kurebahkan tubuhku di kasur yang aku rindukan beberapa hari ini, kupandangi langit-langit dan kembali kuingat betapa bodohnya aku yang selama ini mengecewakan William, ia akhirnya berpaling, menyisakan aku yang kini mencintainya dalam kesendirianku
Aku bangkit dan meraih sebuah kado yang diberikan oleh Bu Sofia saat aku masih berada di rumah sakit, kado yang terbungkus rapi dengan pita merah yang mengikat bok warna hitam, kubuka bok itu dan di dalamnya terdapat sebuah surat yang aku pun tidak tahu maksudnya apa, kenpa bu Sofia menuliskan kata-kata yang menurutku tidak masuk akal
"Aku masih ada di tempat yang sama meski aku tahu rasa yang aku miliki tidak pernah sempurna, cinta ini memang membuatku bodoh tapi ketahuilah jika kebodohan ini lah yang terus membuatku tak lelah menunggumu. Maaf, aku terlalu takut untuk menemuimu, aku takut jika cinta ini kembali ditolak dan membuatku sesak. Jika kamu ingin tahu siapa aku maka pejamkan matamu dan lihat siapa yang pertama kali muncul di sana"
Di bawah kertas itu ada beberapa fotoku dan di belakang foto itu terdapat tanggal dan juga aktivitas yang aku lakukan saat itu, benar, memang benar apa yang tertulis di sana. Aku sama sekali tidak penasaran siapa yang mengirimkan kado itu karena saat ini aku tak lagi tertarik pada apa pun
Bosan rasanya membacanya, aku tak lagi berharap apa pun dengan cinta. Aku hanya ingin sendiri saat ini sebab berharap cinta hanya akan membawaku pada luka. Kembali kurebahkan tubuhku dan kupejamkan mataku dan wajah Willy yang tersenyum kembali melintas. Aku menikmatinya, sebab aku tahu aku hanya bisa memilikinya dalam angan saja dan tidak dalam kehidupan nyataku
...*******************...
William dan semua pemain pendukung sandiwaranya kini berkumpul di tempat kerja William yang baru, gedung yang kala itu dibeli oleh Andreas ternyata kini kendalinya dipegang oleh William. Gedung itu kini beroperasi sebagai toko bunga sekaligus segala perlengkapan pernikahan
Usaha ini bukan tanpa dasar, Andreas yang merupakan pemilik WO ternama di kancah nasional dan juga internasional, Tomi yang menyukai fotografi dan cukup mahir di dalam hal itu, Prima yang merupakan pelaku usaha toko bunga yang cukup hevat di bidangnya dan juga William merupakan penyedia katering di segala acara menjadikan mereka berempat satu kesatuan yang kuat dan terkenal di waktu yang cukup singkat itu
__ADS_1
Mereka semua sedang merencanakan sesuatu yang cukup mengejutkan, kali ini William akan mengakhiri sandiwaranya sendiri sebab ia merasa jika apa yang dipertanyakan olehnya sudah menemukan jawabannya. Hatinya sudah lega dan kini tinggal bagaimana caranya dia menyakinkan aku kembali dan membuatku tidak salah paham lagi
"Kita akan mulai dengan Sofia, hubungi Agnes dan katakan jika kamu ingin bertemu dengannya, ajak dia bertemu di sini" Sofia mengangguk
"Andreas, Prima dan Tomi masih stand by di sini, beraktivitas sama seperti biasa melayani para pengunjung yang datang" keduanya juga mengangguk
"Mbak Sumi membantu Sofia, hubungi dia jika Sofia fatal untuk membujuknya"
"Dan kamu, Aira. Kamu nanti temani aku menemuinya. Setelah dia datang ke tempat ini, biarkan Sofia dan Mbak Sumi yang menemuinya lebih dulu lalu setelahnya kita berdua akan menyusul mereka" instruksi William pada mereka semua
"Tapi, Kak. Aku merasa tidak enak hati pada Bu Agnes, kasihan dia harus dibohongi lagi" Aira tampak keberatan
"Ini kebohongan yang terakhir, Aira. Bantu lah kakakmu ini sekali lagi"
"Ini yang terakhir, ya?" Aira menatap tajam Willy lalu William mengangguk
...******************...
Aku baru saja selesai mandi, setelah menghabiskan waktu malamku untuk beristirahat kini aku sudah merasa lebih segar. Ayah memintaku untuk tidak pergi bekerja lebih dahulu, ia rela pergi sendiri meski dia lelah dan soal pekerjaan luar kotanya ia serahkan pada Pras
Ponselku berdering di saku baju santai yang aku pakai pagi ini, kuambil benda pipih itu dan nama Bu Sofia terpampang di sana, kuangkat panggilan itu dan Bu sofia menjelaskan maksud dirinya menghubungiku. Aku mengiyakan dan memintanya menunggu di tempat yang tadi ia katakan
Agak ragu memang saat dia mengatakan ingin bertemu di gedung itu sebab terakhir kali aku datang ke sana yang aku dapati hany kecewa dan terluka, tapi segera aku tepis semuanya, aku akan mencoba melupakannya karena kini dia sudah bersama yang lain
Aku sudah berganti pakaian, celana jeans warna hitam, kaos pendek yang aku rangkap dengan jaket serta flat shoes kini sudah menempel di tubuhku, kuajak seorang sopir untuk mengemudikan mobil milikku
"Kita ke jalan semangka nomor tiga, Pak!" pak sopir mengangguk dan mobilku segera melaju ke sana, perjalanan ini memakan sekitar lima belas menit jika tidak terjebak macet namun kali ini jalanan terlihat padat dan macet sehingga perjalanan kami memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Berulang kali Bu Sofia mengirimkan pesan, ia terus bertanya aku sampai di mana seolah ada hal yang sangat genting yang tidak bisa dilewatkan
Kami pun sampai di tempat tujuan, setelah memarkirkan mobil aku turun dan segera masuk ke tempat itu. Gedung yang beberapa waktu lalu terlihat gersang dan juga kusam kini terlihat sangat jauh berbeda. Cat warna biru muda mendominasi gedung bagian luar serta warna putih menjadi lebih dominan di bagian dalam, berbagai sampel dekorasi terpampang di setiap sudut ruangan lantai satu itu sedangkan lantai dua menjadi ruangan untuk berdiskusi dan juga sebagian dijadikan mini kafe dan menyajikan berbagai jenis makanan yang kekinian
__ADS_1
Aku baru saja memasuki gedung itu dan sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tidak asing lagi, di sana, di sudut paling kiri ruangan itu ada sepasang kekasih yang kini tengah tersenyum satu sama lain, kedua tangan mereka bertautan seolah dunia ini hanya milik mereka
Tidak jauh dari sana, ada tiga orang laki-laki yang satunya tidak kukenal. Mereka tengah melayani para pengunjung yang memang sedang mencari dekorasi untuk acara mereka atau hanya sekedar ingin melihat-lihat tempat yang baru dan ramai ini
Kupandangi setiap sudut dan tampak Bu Sofia berjalan ke arahku bersama dengan Mbak Sumi. Aku tidakenunggu mereka sampai namun aku juga berjalan ke arah mereka
"Sudah lama, Nes?" Bu Sofia memulai percakapan
"Agnes, apa kabar?" sambung Mbak Sumi
"Baru saja sampai, Mbak, Bu Sofia" jawabku sembari memeluk mereka bergantian
"Jangan memanggilku dengan sebutan Bu, umur kita hanya berbeda beberapa tahun aku jadi merasa sangat tua!" gelak Bu Sofia
"Maaf, tapi aku rasa tidak sopan jika hanya memanggil dengan nama saja"
"Panggil saja kak Sofi, sama seperti aku memanggilnya" saran Mbak Sumi, aku menyetujuinya
"Yuk kita ke atas, kita ngobrol sambil minum kopi" ajak Kak Sofi, aku pun mengikutinya dan duduk di mini kafe itu. Di meja itu sudah tersedia tiga minuman yang sepertinya sudah disajikan cukup lama, es batu sudah mencair dan airnya mengalir di bawahnya
"Aku memesan ini sejak aku datang tadi, aku tidak tahu minuman apa yang kamu sukai jadi aku hanya memesan ini dan kata mbak Sumi ini memang kesukaanmu" tunjuknya pada lemon tea yang berada di depan kami bertiga
"Ini minuman kesukaanku, kak" aku segera menyeruput minuman favoritku itu
Kami pun mulai mengobrol ke sana kemari, biasa lah wanita jika sudah berkumpul pasti tidak jauh dari menggosip dan juga tentang hal sensitif lainnya, Mbak Sumi kini juga sudah mau berbicara banyak dan tidak lagi merasa malu seperti sebelumnya. Ia juga terlihat lebih berisi badannya ketimbang beberapa bulan yang lalu, mungkin dia sekrang lebih bahagia
"Sayang, bisa bantu aku?" teriak Pak Andreas pada Kak Sofi, dia berpamitan padaku dan mendekat ke arah suaminya. Tak lama kemudian Prima melakukan hal yang sama, ia juga memanggil istrinya dan otomatis sang istri pun mendekat
"Tunggu ya , Nes. Aku akan segera kembali" aku mengangguk
__ADS_1