HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 137. Rumah Oma


__ADS_3

"Oma!" William memanggil nama itu, terlihat sangat pemilik nama menoleh dan betapa bahagianya wanita itu mendapati cucu kesayangannya kini ada di depan matanya


Ia mematikan kompornya dan berlari menghampiriku dan juga William. Ia memelukku untuk pertama kali padahal William sudah merentangkan kedua tangannya berharap akan segera dipeluk tapi itu hanya pikirannya sendiri, nyatanya Oma lebih memilih memelukku terlebih dulu ketimbang dirinya


"Kok yang dipeluk bukan Willy duluan sih, Oma?" William menyilangkan kedua tangannya di dada, ia menatap sinis ke arahku dan juga Oma dibarengi dengan sebuah senyuman


"Sini Oma peluk" Oma meraih tubuh William


"Jangan marah ya , Will. Mulai saat ini kamu akan jadi nomor dua, karena Oma lebih ingin memeluk istrimu dari pada kamu"


"Oma enggak asik!" gerutu William dan tak berselang lama tawa pun pecah


...***************...


"Terima kasih atas kepercayaan yang Tuan berikan, saya tidak pernah menduga bisa bekerja sama dengan perusahaan terhebat saat ini" tampak Adiputra menjabat tangan Defrico


Keduanya kini menjalin kerja sama yang banyak diimpikan oleh perusahaan lain. Perusahaan Adiputra yang kini mulai bangkit dan kembali mendapatkan kepercayaan dari konsumen dan juga para pemegang saham lainnya semakin melambung saat mereka semua tahu jika Defrico dan Adiputra kini memiliki kontrak yang bernilai fantastis


Tidak hanya itu, para pemegang saham yang dulu meninggalkan Adiputra kini mulai mengejar kembali dan menawarkan kerja sama. Namun, Adiputra tidak langsung menerimanya begitu saja. Ia tetap memilih dan menimbang mana saja yang akan ia terima sebab dari banyaknya para pemegang saham saat ia sukses dulu, hanya beberapa dari mereka yang masih bertahan dan memberikan bantuan pada Adiputra selebihnya malah menghancurkan dan juga menjatuhkan


"Sama-sama, saya rasa kerja sama kali ini tidak hanya sebuah kontrak kerja saja. Kita sekarang sudah jadi besan dan kita keluarga bukan?"


"Iya benar, kita keluarga sekarang. Tapi kita harus tetap menjunjung tinggi profesionalisme dalam bekerja" sambung Adiputra


"Ini yang saya suka dari Anda, mengutamakan hal yang profesional meski masih dalam lingkup keluarga" Tawa keduanya terdengar


"Selain itu, ada hal penting yang ingin saya bicarakan" lanjut Defrico. Adiputra menatapnya seolah mencari jawaban yang ingin ia dengar


"Begini Tuan Adiputra" tampak Defrico membenarkan jasnya dan membenarkan duduknya


"Mengenai putraku Samuel. Dia pernah menceritakan niatnya untuk menikahi putrimu, apakah Anda menyetujuinya?" tanpa basa-basi Defrico mulai mengutarakan apa yang ada di benaknya


Adiputra sendiri sebenarnya sudah mendengar hal itu meski tidak secara langsung dari Samuel, ia juga sudah memikirkan hal itu selama ini tapi masih belum memiliki jawaban karena putrinya masih harus menjalani hukuman atas perbuatan yang dilakukannya


"Untuk urusan restu, saya selaku orang tua selalu merestui anak-anak saya dalam memilih pasangan hidup namun untuk mau atau tidak biarkan yang bersangkutan yang memutuskannya" tampak Adiputra mantap dengan apa yang dikatakannya


"Saya lega mendengarnya, dengan begini setidaknya ada kejelasan pada niat Samuel"


"Tapi putri saya masih di penjara, hukuman yang harus ia jalani bukan waktu yang sebentar, apa Samuel bisa menunggunya?"

__ADS_1


"Saya pastikan bisa Om" tampak Samuel berjalan mendekat ke arah Defrico dan juga Adiputra. Ia yang saat itu masih memakai setelan jas dan juga membawa sebuah tas bisa dipastikan baru saja dari kantor cabang perusahaan Ayahnya


Samuel duduk di samping ayahnya, ia menggeser kursi kosong yang berada di kafe tersebut. Ia datang ke tempat ini karena diminta oleh Defrico untuk membahas tentang niatnya yang sampai saat ini belum juga terlaksana


"Apa kamu yakin?" Sekali lagi Adiputra mencari kepastian, kali ini bukan hanya lewat perantara namun langsung pqda yang bersangkutan


"Saya yakin, Om. Saya berusaha meyakinkan Alexa dan sampai saat ini masih terus berjuang" Defrico menepuk punggung Samuel pelan, ia memberikan dukungan pada putranya


"Baik, Om akan mendukung dan memercayai kamu begitu juga perjuanganmu, namun hasil akhir tetap ada pada Alexa dan hanya dia yang bisa menentukan semuanya" Samuel mengangguk mantap, ia selangkah lebih dekat sekali lagi. Kini yang harus ia lakukan hanya lah meyakinkan Alexa dan membujuknya agar apa yang menjadi harapannya lekas tercapai


...**************...


Malam tiba, aku dan William kini tengah makan malam bersama keluarga di rumah baru, menu masakan malam ini adalah hasil karya dari Oma dan juga diriku. Mama dan Papa yang baru pulang sehabis maghrib terlihat begitu bahagia menyambutku dan juga William


"Sayang, mungkin besok Oma, mama dan papa akan kembali ke luar negeri dan akan tinggal di sana untuk beberapa bulan. Apa kamu ingin ikut?" tawar Mama padaku


"Ikut saja, anggap saja kalian berbulan madu di sana" imbuh papa


Aku melihat ke arah William, dia tak memberi jawaban apa pun hanya tersenyum dan mengendikkan bahunya, "Aku ikut kamu saja, sayang" lanjut Willy setelahnya


"Kamu mau, kan?" tambah lagi Oma


"Bagaimana, Will?" Oma menatap ke arah William


"Sepertinya tidak sekarang, Oma. Usaha yang William bangun baru saja berkembang, William tidak mau meninggalkannya untuk saat ini" jelas William


"Bukannya masih ada Prima yang bisa diandalkan?" papa angkat bicara


"Memang, Prima ada di sana tapi istrinya tengah hamil sekarang dan aku tidak ingin menambah beban pikirannya saat aku tidak di sana. Kalian tidak tahu saja, istrinya itu sangat rewel saat hamil" William kembali mengenang waktu itu


Waktu di mana Mbak Sumi nyidam dan hampir tidak bisa membuka matanya. Ia terus muntah dan tidak ingin ditinggal oleh Prima. Tidak hanya itu, bahkan hampir setiap jam mbak Sumi selalu ingin makan makanan yang aneh dan tidak masuk akal dan itu membuat Prima sangat kewalahan


"Lagi pula kami baru saja menerima karyawan baru dan belum bisa kami percaya sepenuhnya" lanjut Willy


"Ya sudah jika itu keputusan kalian, Mama dan papa harap kalian bisa merencanakan bulan madu kalian secepatnya, mama dan papa sudah tidak sabar ingin menimang cucu"


"Soal itu tenang saja, Ma. Tidak perlu pergi bulan madu untuk memberi mama dan papa cucu, iya kan sayang?" William mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Tampolan panas langsung meluncur di lengannya


Malu, itu yang aku rasakan saat ini. Aku menajamkan penglihatanku ke arahnya tapi dia malah senyum-senyum sendiri tidak jelas

__ADS_1


"Buktikan, Will. Papa tunggu!" Tawa kembali terdengar di ruang makan rumah minimalis itu


"Oh ya, setelah ini Agnes ingin mengajak kalian semua ke suatu tempat. Agnes ingin menunjukkan sesuatu pada kalian"


"Ke mana, sayang?" William juga tidak tahu rencana apa yang sudah aku pikirkan selama ini. Berulang kali akuemcari momen yang tepat dan aku rasa ini lah saatnya


"Nanti kamu juga akan tahu, Mas" kubuat dirinya semakin penasaran dengan apa yang ia pikirkan


"Apa ini sebuah kejutan?" imbuh Mama Rosa


Aku mengangguk, "Anggap saja begitu, Ma"


Tak lama, kami sudah selesai makan. Kami bersiap untuk pergi ke tempat yang ingin aku tunjukkan pada mereka semua. Kami semua naik ke dalam mobil William dan segera melaju, William terus saja bertanya ke mana aku ingin mengajaknya pergi


"Kita pergi ke rumah Oma ya, Mas"


"Rumah Oma?" aku mengangguk


"Rumah itu kan sudah dijual, lalu kenapa kita ke sana?" Oma menyahuti dari jok belakang


"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada Oma, dan kalian semua" jawabku ambigu semakin membuat mereka semua penasaran


Hampir satu jam lamanya kami menempuh perjalanan, kini kami sudah tiba di rumah yang dulu sempat aku tinggali sebagai tempat kos. Rumah yang menjadi saksi betapa bahagianya Oma bersama keluarga kecilnya, betapa dulu usaha yang mereka miliki berkembang dan akhirnya berhasil sukses


Kami berhenti tepat di depan pagar rumah itu, aku tang saat itu langsung turun dan meminta Satpam penjaga rumah itu membuka gerbang. Satpam itu sengaja aku pekerjakan agar menjaga rumah ini, pagar terbuka dan mobil yang kami naik segera melaju ke pelataran


"Sepertinya rumah ini sudah dihuni, buktinya ada seorang Satpam di sana" Kata mama sembari turun dari mobil


"Iya, rumah ini sudah ada yang menempati. Buktinya lampu itu menyala dan pelataran ini terlihat bersih dan rapi" Oma menunjuk ke arah kamar yang memang menyala lampunya serta melihat sekeliling halaman yang memang sangat bersih


"Aku mengenal siapa yang ada di dalam, ayo masuk!" ajakku pada mereka semua, kugandeng tangan Oma dan mengajaknya masuk


Kuucapkan salam saat berada di depan pintu rumah itu, tak berselang lama sahutan terdengar dan muncul lah seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah orang yang merawat rumah ini. Selain Satpam, dia juga aku pekerjakan di sini agar dia merawat rumah bagian dalam dan juga luar


"Silakan masuk!" ucapnya kemudian, kami semua masuk ke dalam rumah itu. Kami duduk di ruang tamu, ruang tamu yang masih sama seperti terakhir aku berada di sini


Oma dan juga semuanya hanya terdiam, menikmati apa yang mereka pikirkan saat ini. Aku yang duduk di sebelah Oma kini melihat wanita paruh baya itu tengah mengusap cairan bening yang kini meluncur dari netranya, kenangan masa lalu hingga di benaknya


Pun dengan Mama, William dan juga Papa, mereka juga terus mengamati sekeliling ruang tamu rumah ini. Banyak kenangan yang melintas di pikiran mereka, tampak juga mama yang kini terlihat menghela nafasnya seolah membuang beban yang hinggap di hatinya

__ADS_1


"Selamat malam semuanya!" tampak seorang laki-laki menuruni tangga, ia membawa sebuah tas berwarna hitam yang terlihat sesak, penuh dengan tumpukan kertas


__ADS_2