
Bruakkk
Pak polisi itu menendang sebuah pintu besi yang berkarat itu sembari mengacungkan senjata yang ia bawa. Prima pun masih mengekor di belakangnya, mengamati keadaan sekitar yang memang sudah tidak dirawat dan ditempati berpuluh-puluh tahun
Mereka berdua masuk ke sana dan mengamati seluruh ruangan yang berada di dalam bangunan itu, tak mendapati apa pun kemudian mereka segera berganti ke rumah yang berada tepat di sampingnya
Di sana pun mereka tak mendapati apa pun, entah itu bukti atau hal yang mengacu ke dalam kasus yang sedang ditangani. Merwka pun kemudian berpindah ke samping, ke sebuah bangunan yang mungkin bisa dikatakan sebuah rumah tapi bangunan itu lebih kecil dari yang lain dan yang paling menonjol adalah pintu rumah itu dilapisi dengan gerbang besi yang kini juga sudah berkarat
Pak polisi itu kembali mendobrak pintu itu dan otomatis langsung tumbang dan penyok. Di dalam rumah kecil itu tidak ada tempat lain selain ruangan yang kecil dan penuh debu
Di pojok ruangan itu terdapat sebuah kursi dan juga sebuah kain yang kala itu dipakai untuk mengikat Mbak Sumi. Keduanya mendekat dan mengamatinya
"Apa mungkin mereka menyekap calon istri saya di tempat ini, Pak?" Asumsi Prima ketika melihat kedua benda itu
"Bisa jadi, tapi jangan berharap lebih dulu sebelum kita menemukan bukti lain" ucap Pak Polisi sembari memasukkan kain itu ke dalam kantong plastik warna putih
Tidak jauh dari sana, Prima melihat sebuah benda yang menurutnya mencurigakan. Ia mendekat dan memungutnya, ia memeriksa barang tersebut dan betapa terkejutnya Prima ketika mendapati segepok uang warna merah yang tersusun rapi di dalam amplop itu
Tidak tahu berapa jumlahnya yang pasti lebih dari 10 juta, ia.pun tidak berani lagi untuk melihat lebih jauh dan akhirnya menyerahkan barang itu kepada pak Polisi.
"Pak, saya menemukan ini"Prima menyerahkan amplop itu pada Pak polisi dan sepertinya ia pun juga terkejut ketika mendapati uang sebanyak itu di dalam rumah kosong yang berdebu
Tanpa banyak bicara, ia pun kembali memasukkan bukti kedua itu ke dalam kantong tadi dan segera mencari bukti lain yang mungkin bisa memperkuat asumsi mereka. Keduanya dengan teliti menyusuri setiap jengkel ruangan itu, berharap apa yang mereka ragukan menjadi pasti dan segera terbukti.
__ADS_1
Prima yang kala itu telah meyakini jika itu adalah bukti kembali menemukan barang yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Ponsel Mbak Sumi ia temukan di sana, meski sudah retak dan hancur tapi ia masih bisa mengenalinya dan memastikan jika itu adalah milik kekasihnya
Perasaan bahagia kini ia rasakan, meski belum bisa menemukan kekasihnya tapi setidaknya ia menemui titik terang akan hilangnya orang yang ia cintai
"Pak, saya menemukan ini!" Mata Prima berkaca-kaca dan airmata itu hampir saja lolos, jantungnya berdetak lebih cepat, nafasnya memburu dan tangannya bergetar tatkala menyerahkan ponsel itu
"Ini ponsel siapa?" Prima kemudian menjelaskan jika itu adalah ponsel kekasihnya, ia meyakini itu karena gantungan kunci dari ponsel tersebut sama dengan miliknya sebab Prima sendiri yang membuatnya
"Ini bisa jadi bukti, ayo kita segera kembali ke kantor dan kita akan menyelidikinya lebih dalam" ajak Pak Polisi dan Prima pun menurut keduanya kembali ke kantor polisi
...*************...
"Maaf, Will. Aku tidak bisa lagi bekerja di kantor, segera akan kukirimkan surat pengunduran diri" jelasku pada William yang kini sudah kembali lagi ke rumah kosku
Namun, aku segera menepisnya, aku juga tidak akan lulus dengan apa yang ia lakukan sebab aku sudah mengambil keputusan dan membulatkan tekad untuk tidak akan membuka hati pada siapa pun dulu, aku masih ingin bekerja dan menikmati masa mudaku saat ini
Aku juga telah memikirkan matang-matang jika mulai hari ini aku akan ke luar dari kantor dn akan mencari pekerjaan lain, aku tidak peduli dengan perjanjian yang isinya entah apa itu. Dan jika memang aku harus membayar sejumlah uang karena kontrak kerja ini maka akan aku lakukan asalkan aku bisa segera ke luar dari tempat itu
"Tapi, Nes. Jika kamu pergi maka kamu harus siap konsekuensinya" jelasnya lagi
"Akan aku terima apa pun konsekuensinya, jangan khawatir" aku yang memang keras kepala tetap membalas apa yang dia katakan meski aku tahu dia pasti merasa kecewa, itu semua terlihat dari perubahan mimik wajahnya
"Tapi jumlahnya sangat banyak" lanjut Willy mencoba mencegahku seraya menampilkan wajah memelas agar aku luluh tapi kali.ini tidak, aku tetap kokoh berdiri di atas pendirianku
__ADS_1
"Aku masih punya tabungan, Will. Aku akan memakainya" aku masih tetap pada pendirianku
"Tapi, Nes ..." belum lagi dia menyelesaikan apa yang ia katakan, aku sudah memotongnya
"Tidak, Will. Sekali aku bilang tidak ya tidak. Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan, pulanglah!" aku berbalik dan hendak pergi ke kamarku meninggalkan William yang kini masih duduk di sofa ruang tamu
"Baik, jika kamu tidak ingin pergi bekerja, apa kami ingin berjalan-jalan ke luar bersamaku hari ini?" tanyanya kemudian
"Maaf, aku ingin istirahat, Will. Pulanglah!" jawabku tanpa menoleh
Ia terlihat semakin kecewa karena tidak berhasil membujukku, ia hanya bisa pasrah ketika aku bilang tidak sebab ia tahu aku seperti apa.
Belum lagi aku sampai di kamarku, aku mendengar seseorang mengaduh kesakitan dan sepertinya itu berasal dari arah dapur. Aku pun berbalik dan berlari ke arah sumber suara, setelah sampai di tempat tersebut aku sudah mendapati William yang kini tengah memangku ibu kos, dia lemas dan tidak sadarkan diri
"Ada apa?" aku bertanya pad William yang kini berusaha membopongnya ke arah ruang tamu
"Aku tidak tahu, tiba-tiba dia pingsan begitu saja" jawab William sambil terus mencoba membangunkannya
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang, aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan" William mengangguk dan dia pun segera membopong ibu kos ke mobilnya yang kini terparkir di halaman
"Kamu di belakang, jaga dia. Aku akan menyetir" aku mengangguk
Kami pun melajukan mobil ke arah rumah sakit terdekat. Lima belas menit berlalu dan kami pun sudah sampai di sebuah rumah sakit yang tidak terlalu besar. Dengan segera William menggendongnya ke arah UGD dan langsung dibawa masuk oleh perawat yang kala itu berjaga di sana
__ADS_1