
Happy reading.....
"Mama!" kaget Rania.
Tanpa menjawab ucapan putrinya, mama Gisel masuk ke dalam. Dia mendekat ke arah ranjang, kemudian duduk di samping Maya.
Tangan wanita itu terulur memegang kening Maya, dan dia cukup kaget saat merasakan suhu tubuh menantunya yang panas. "Apa kau sudah memanggil Dokter, Rania" tanya mama Gisel kepada Rania.
"Mbak Maya tidak mau Mah, tadi sudah minum obat juga kok," jawab Rania.
"Kenapa, kok begitu keras kepala? Apa kau mau semua orang menyalahkan keluarga Dalmiro, jika sampai terjadi apa-apa denganmu?" tanya mama Gisel kepada Maya dengan tatapan kesal. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat khawatir.
"Maya tidak apa-apa kok, Mah. Hanya sedikit kelelahan saja. Mungkin nanti juga setelah istirahat pasti akan sembuh kok. Maaf ya Mah, saat ini Maya tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dulu. Tapi nanti setelah keadaan Maya jauh lebih baik, aku---"
"Jangan memikirkan pekerjaan. Saat ini pikirkan dulu kesehatanmu!" Setelah mengatakan itu, mama Gisel pergi dari kamar Maya.
.
.
Sedangkan di kantornya, Carlen sedang melamun mengingat kejadian tadi pagi, di mana dia menyetubuhi istrinya dengan cara yang kasar. Bahkan bayang-bayang Maya yang menjerit kesakitan dan memohon ampun kepadanya masih menari di kepala pria itu.
''Mantra apa yang wanita itu gunakan, sehingga aku terus saja kepikiran dengan keadaannya? Apa dia sudah minum obat? Apa memang wanita itu sakit gara-gara ulahku?" gumam Carlen sambil menjambak rambutnya sendiri.
Entah kenapa, ada rasa bersalah di hati Carlen saat mengetahui jika Maya masih gadis, dan dia melakukannya dengan kasar. Namun, seketika pria itu pun menggeleng.
"Tidak Carlen! Ngapain kamu kasihan sama dia? Nggak ada gunanya. Biarkan saja, mau dia sakit, mau dia mati sekalipun, itu jauh lebih baik bukan? Karena sekarang Freya juga sudah menjadi milikku. Tapi kalau dia sampai mati, bagaimana dengan harta dari kakek? Aagh ... kenapa kakek begitu memberikan aku pilihan yang sulit sih?" gerutu Carlen sambil menggebrak meja.
Pria itu benar-benar sangat frustasi, karena harus menghamili Maya, tapi jika satu kali saja mereka berhubungan belum tentu Maya akan hamil. Walaupun tadi pagi dia menanam benih di perut Maya cukup banyak.
__ADS_1
"Apa iya aku harus melakukannya lagi? Tapi gengsi sekali kalau aku harus memintanya. Tapi memang tidak bisa dipungkiri sih, tubuh dia membuatku candu. Rasanya beda dengan saat aku melakukannya bersama Freya."
'Astaga! Kenapa aku bisa lupa. Aku 'kan belum menanyakan dengan siapa Freya melakukannya pertama kali? Dia sudah tidak perawan.' batin Carlen.
Akhirnya dia pun memutuskan akan menanyakan perihal keperawanan istrinya saat pulang di rumah nanti, tetapi Carlen harus menanyakannya secara hati-hati, sebab dia takut jika nanti Freya akan marah kepadanya.
Tiba-tiba ruangannya diketuk, dan masuklah seseorang perempuan yang tak lain adalah sekretarisnya.
"Ada apa Cindy?" tanya Carlen.
"Maaf Tuan, satu jam lagi kita akan mengadakan meeting di luar, dan Tuan Gio juga sudah menunggu Anda di bawah," jelas Cindy.
Mendengar itu Carlen segera beranjak dari duduknya, kemudian dia merapikan jasnya lalu dia pun keluar dari ruangannya untuk menuju mobil, di mana saat ini Gio sudah menunggu dirinya.
Mereka akan meeting di luar kantor, tepatnya di sebuah cafe yang saat ini tengah viral. Dan setelah menempuh perjalanan 45 menit, mereka pun sampai di sana, dan ternyata kliennya pun sudah menunggu.
Kemudian mereka pun mulai membicarakan soal bisnis, dan tak lama pelayan datang membawakan minuman dan makanan yang dipesan Damar terlebih dahulu.
Setelah Deal untuk bekerjasama, mereka pun menyantap makanan dan minuman yang ada di hadapannya sambil membicarakan bisnis yang akan mereka bangun. Namun tiba-tiba saja Carlen mendengar seseorang yang menyebut nama Maya, lebih tepatnya pelayan yang ada di sana.
"Apa kamu sudah telepon mbak Maya? Seharusnya dia hari ini datang, soalnya klien yang kemarin ditemui untuk kerjasama sudah menelpon dan ingin bertemu dengan mbak Maya. Tapi sedari pagi ponselnya tidak aktif," ucap salah satu pelayan pada temannya yang sedang membereskan meja di belakang Carlen.
''Mungkin saja memang mbak Maya sedang sibuk, nanti saja kita teleponnya," jawab temannya tersebut.
Carlen mengerutkan dahinya, dia berpikir apakah Maya yang disebutkan oleh kedua pelayan tersebut adalah istrinya. Tapi seketika pria itu menggelengkan kepalanya.
'Tidak mungkin jika Maya yang mereka sebut adalah istriku, Maya? Nama Itu 'kan banyak, bukan hanya si wanita udik itu saja. Lagi pula, buat apa mereka membicarakan Maya di sini? Emangnya si wanita rendahan itu orang yang penting? Hanya wanita kampung saja yang lulusan SMP.' batin Carlen.
Setelah meeting, dia pun kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 malam, Carlen baru saja sampai di kediaman Dalmiro. Pria itu langsung naik ke lantai atas untuk menuju kamarnya. Namun seketika langkah dia terhenti saat akan membuka pintu kamar, dia menengok ke arah samping, di mana kamar Maya berada.
'Apakah wanita itu sudah jauh lebih baik, atau dia masih sakit?' batin Carlen bertanya-tanya.
Tanpa sadar kakinya melangkah ke arah kamar Maya, dan dia hendak membuka pintu tersebut, seketika di sebuah suara mengagetkan dirinya.
"Sayang, kamu ngapain ke situ? Kamar kamu 'kan di sini. Bukannya di sebelah sana?" tanya Freya yang sudah berdiri di ambang pintu.
Carlen menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal..Hampir saja dia kepergok oleh Freya akan menengok keadaannya Maya.
"Ah, iya sayang, aku lupa," jawab Carlen dengan wajah kaku. Kemudian dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Freya menatap pria tersebut dengan tatapan menyipit. Entah kenapa dia tidak percaya dengan ucapan Carlen.
al'Apa Mas Carlen akan menengok keadaannya Maya? Apa dia mulai peduli pada wanita itu? Jika itu benar, maka aku harus mencegahnya. Mas Carlen tidak boleh jatuh cinta pada Maya!' batin Freya sambil tersenyum jahat.
Dia mempunyai rencana untuk hamil, karena pria yakin saat dia hamil, otomatis harta warisan Dalmiro akan jatuh ke tangannya. Tidak perduli jika kakek Albert sama sekali tidak merestui mereka. karena dia yakin, setelah seorang bayi lahir dari rahimnya, apalagi itu dari keturunan Dalmiro, maka kakek Albert lambat laun pasti akan menerima itu semua.
"Sayang!" panggil Freya dengan nada yang manja sambil memeluk tubuh Carlen dari belakang, saat pria itu baru saja selesai mandi. Bahkan saat ini Carlen masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, menutupi sesuatu yang sedang bergelantung di bawah sana.
"Kenapa sayang?" tanya Carlen sambil menggosok rambutnya yang basah.
Namun seketika pria itu pun ingat, jika dia belum membicarakan tentang keperawanan Freya. Akhirnya Carlen melepas tangan Freya di perutnya, kemudian dia menatap lekat ke arah wanita yang selama ini dicintainya tersebut.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1