HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 104. Agnes, jawab aku


__ADS_3

Aku baru saja keluar dari mobilku dan melangkah mendekat ke arah Ayah yang kini tengah duduk di teras, tampak di sampingnya sebuah cangkir yang berisi teh panas yang masih mengebul


"Maaf Ayah, Agnes pulang larut malam" ucapku sembari mencium punggung tangannya dan kemudian duduk di sampingnya sembari mengamati jam yang tertera di layar ponselku, jam 8.30 terlihat di sana


"Tidak apa, Nes. Bagaimana pertemuanmu dengan Willy, apakah ada hal yang serius?" aku menggeleng


"Tidak, Yah. Dia memintaku datang sebab ingin mengenalkanku pada miss Mar yang ternyata memang omanya" jelasku dan Ayah hanya menganggukkan kepalanya


"Cepat mandi dan Istirahatlah, besok kita akan menemui klien baru lagi" Aku mengangguk dan aku pun tak lupa meminta Ayah untuk segera masuk juga, angin malam tak baik untuk raganya yang semakin senja itu


Kumasuk ke dalam kamarku, kulepas sepatu hak tinggi yang aku pakai seharian ini. Sejenak aku duduk di atas ranjang memijit kaki yang terasa pegal juga panas itu lalu setelahnya aku pun masuk ke dalam kamar mandi


Rutinitas mandi pun usai, aku yang sudah berganti pakaian santai lalu merebahkan tubuh di atas kasur empuk milikku. Rasa pegal di punggung pun sedikit mereda dan rasa kantuk pun mulai menyerang. Baru saja mata ingin terpejam namun aku mendengar seseorang mengetuk pintu dari luar


"Siapa?" tanyaku masih berada di atas ranjang, aku berada di keadaan setengah sadar dan setengah tertidur namun telingaku masih bisa dengan jelas menangkap suara itu


"Ini bibi, Non. Ada tamu, kata Tuan Non diminta menemuinya" sahut ART baru yang bekerja di rumahku. Dia ART yang Ayah ambil dari yayasan, usianya sudah cukup tua tapi dia masih cekatan dan juga gesit


"Iya" aku membalikkan badanku dan kemudian turun dari ranjangku, menyambar ikat rambut yang tergeletak di atas nakas dekat ranjang. Kuikat rambutku abstrak dan kemudian melangkah menuju ke tempat yang seharusnya


Kudengar suara yang cukup riuh, sebelum aku menuruni tangga aku pun mengucek mataku dan membenarkan pandanganku, sekali lagi kuamati dan ternyata benar. Di bawah sana ada Willy, Prima, Mbak Sumi dan juga ayah tengah mengobrol dengan diselingi canda tawa, entah apa yang mereka tertawakan

__ADS_1


"Non Agnes" Mbak Sumi menghambur ke arahku dan memelukku, aku pun membalas pelukannya


"Maaf, mengganggu Non malam-malam begini" Mbak Sumi melepaskan pelukannya


"Tidak, Mbak. Aku baru selesai mandi tadi" kilahku dan menuntun Mbak Sumi untuk duduk. Dia pun duduk di dekat Prima dan aku duduk berdekatan dengan Ayah yang letaknya memang agak jauh dari Willy. Pandangan mataku tak sengaja bertemu dengan Willy, dia tersenyum tapi aku mengacuhkannya, aku masih kesal dengan ucapannya tadi siang. Begitu juga Prima, dia sejak tadi terus menatapku, entah memang begitu adanya atau memang hanya perasaanku saja


"Maaf Om, Agnes, kami bertamu malam-malam" Prima mulai membuka pembicaraan tapi masih dengan mata yang sekelebat menatapku padahal yang ia ajak bicara adalah Ayah


"Iya Tuan, maafkan kamu yang sudah mengganggu" sambung Mbak Sumi


"Jangan merasa tidak enak hati, kita sudah seperti keluarga sendiri, terlebih lagi kamu sumi. Jangan memanggil saya Tuan lagi, panggil saya om Kuncoro seperti Prima memanggil saya" Mbak Sumi mengangguk


"Apa ada hal yang mendesak sampai-sampai kalian datang malam ini?" Tanya Ayah kemudian


"Insyaallah Om dan Agnes akan datang, doakan saja kita semua dalam keadaan sehat dan juga memiliki waktu yang luang. Bukan begitu, Nes?" aku hanya mengangguk


"Terima kasih, Om" ucap Mbak Sumi dan Prima serentak. Benar-benar luar biasa ya, kalau sudah jodoh jawabnya bisa barengan kaya gitu


"Sama-sama, dan lagi kamu Sumi, harusnya kamu datang lebih awal. Kamu sudah om anggap seperti putri om sendiri, kamu sudah berada di rumah ini sejak kamu masih usia belia dan harusnya di pernikahan kamu ini om bisa memberikan hal yang layak selayaknya seorang ayah pada putrinya"


Mbak Sumi terlihat berkaca-kaca, ada rasa menyeruak di hatinya. Kebahagiaan dan juga kesedihan yang kini ia rasakan bersamaan. Di usianya sekarang ia sudah tidak lagi memiliki orang tua yang seharusnya ikut berbahagia melihat dirinya melepas masa lajangnya, meski pun kini perhatian itu ia dapat dari Ayah tapi itu tidak sebahagia jika diucapkan oleh keluarganya sendiri

__ADS_1


"Maaf, Om. Kemarin Sumi tengah berduka dan Sumi sendiri sebenarnya tidak ingin menggelar pernikahan yang ramai seperti ini, namun mas Prima memaksa dan semuanya serba mendadak" Ayah hanya mengangguk, ia tidak tahu persis apa yang terjadi pada Mbak Sumi namun ia juga tidak ingin mengoreknya sebab itu bukan haknya. William hanya diam kala mendengar penuturan itu, ia merasa tersentil meski tak langsung dan lebih memilih menundukkan kepalanya


"Ya sudah, sepertinya hanya itu yang ingin kami katakan om, Agnes. Sekali lagi kami minta maaf sudah bertamu di jam yang tidak tepat" sambung Prima kala tahu perubahan wajah Willy, ia tahu bagaimana William saat ini meski dirinya tidak mendengar langsung dari sang empunya rasa. Berita di luar sana sudah tersebar sampai ke penjuru tempat, bahkan ini semua sudah menjadi rahasia umum yang khalayak ramai bicarakan


Prima sebenarnya pernah meminta William dan Om Adiputra untuk tidak mempermasalahkan semuanya, bukan hanya dari desakan Mbak Sumi namun dari hati nuraninya sendiri yang tahu bagaimana Alexa itu sebab keduanya tumbuh bersama meski tidak satu rumah. Namun, Willy dan Om Adiputra bukanlah orang akan membiarkan hal yang tidak benar terjadi di depan matanya meski itu menimpa keluarganya dan berimbas buruk pada dirinya


Mbak Sumi dan Prima pun beranjak, keduanya kini berjalan ke arah halaman dan aku pun mengantarkan keduanya sampai di sana


"Janji datang ya, Dik" pinta Mbak Sumi sekali lagi, kali ini Mbak Sumi lebih memilih untuk memanggil dengan sebutan adik agar tidak lagi terkesan seperti majikan dan ART


"Insyaallah Agnes usahain ya mbak" Mbak Sumi mengangguk dan ia pun menghambur ke tempat Prima berada, sebuah motor matic yang menemani Prima ke mana pun dia pergi


Aku kembali masuk dan di sana .asih qda Willy yang kini terlihat berbicara sangat serius dengan Ayah, apa yang ia bicarakan, entah tapi sepertinya itu penting


"Ayah sudah mengantuk, Ayah pergi tidur dulu" kata Ayah kala aku dekat dengan dirinya. Aku tidak tahu apa maksud Ayah meninggalkan dengan Willy, apa Willy sudah menceritakan semuanya atau apa


"Ayah" panggilku pelan tapi Ayah tidak bergeming, ia masih terus berjalan ke arah tujuannya hingga pada akhirnya punggungnya pun tak lagi terlihat. Aku masih berdiri hingga William pun ikut berdiri dan memanggil namaku, aku tidak menyahutinya masih diam dan enggan bicara


"Maafkan aku, Nes" Willy memegang lenganku dan menuntunku untuk duduk


"Agnes, jawab aku. Aku tidak bermaksud apa pun" lanjutnya. Aku hanya menghela nafas kasar menanggapi apa yang ia katakan

__ADS_1


"Beri aku waktu, Will"


__ADS_2