
Malam menjelang, membawa kehidupan yang sesungguhnya enggan untuk beranjak. Bintang telah bersinar mendampingi bulan yang memberi warna cerah di langit yang tak terbatas. Aku sendiri masih terdiam, menatap undangan merah yang kini tergeletak di atas meja riasku, sekali lagi nafas kasar berhembus, mengudara membawa sesak yang aku rasa. Kembali lagi aku tanya pada hatiku, apa ini benar, apa ini nyata dan apa aku juga tak lagi punya cinta
Jika ditanya bagaimana hatiku malam ini, pasti jawabannya hanya satu, sakit, hanya itu. Namun untuk apa aku sakit jika pada awalnya aku lah yang terlalu banyak berpikir dan mengulur waktu, dan jika ada lagi yang bertanya apa yang aku inginkan pasti akan aku jawab, aku hanya ingin mengulang hari itu, hari di mana William memintaku untuk kembali padanya pasti akan aku jawab iya dan aku akan berusaha memberikan yang terbaik
Dia sudah berbaik hati mau menerima diriku kembali dan bahkan menungguku tanpa lelah, hanya saja aku terlalu egois dan kemudian keegoisanku itu membuatku menjadi kembali sakit
"Agnes!" kudengar suara Ayah memanggil dibarengi dengan ketukan pintu
"Masuk, Yah. Tidak dikunci" Ayah pun masuk dan mendekat ke arahku yang masih duduk di depan meja rias
"Kenapa tidak turun, apa kamu sakit?" Ayah meletakkan punggung tangannya di keningku, ia makan malam sendirian kali ini, aku yang diminta untuk turun sejak tadi enggan beranjak dalam malah melamun tidak jelas
"Agnes baik-baik saja, Yah. Tadi di kantor Agnes udah makan sebelum pulang"
"Ya sudah, istirahat lah, kamu pasti capek" aku mengangguk
"Ayah" panggilku padanya yang kini sudah sampai di depan pintu kamarku, ia membalikkan badannya. Aku berlari memghambur ke arahnya kemudian memeluk pria paruh baya itu. Aku kembali menangis, rasa sesak dan sakit yang sejak tadi pagi aku rasakan kini pecah
"Ada apa, Nes?" aku pun menunjukkan undangan merah itu pada Ayah, dia menerimanya, membacanya
"Kita hanya manusia biasa, putriku. Kita tidak bisa memutuskan dengan siapa kita akan bersama, kita hanya bisa berusaha dan hasilnya sudah ada yang menentukan. Terima saja semuanya dengan ikhlas, jika kalian berjodoh maka kalian akan bersama bagaimana pun caranya namun jika kalian tidak berjodoh maka hal itu tidak akan bisa dipaksakan" Ayah mengusap punggungku
"Apa kamu masih menyimpan perasaan untuknya?" aku mengangguk
"Relakan dia, bukankah titik paling tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan orang yang kita cintai menemukan kebahagiaannya, entah itu bersama kita atau tidak. Doakan saja, semoga dua berbahagia dengan pilihannya kali ini"
"Ini semua salah Agnes, jika saja Agnes tidak egois pasti keadaan tidak akan seperti ini" Ayah tersenyum
"Tidak ada yang perlu disalahkan, kamu bersikap demikian karena kamu punya alasan pastinya. Jika kamu kuat maka datang dan doakan dia secara langsung, namun jika tidak kuat maka cukup doakan dia di rumah"
__ADS_1
"Tapi Aira, ah maksudku calon tunangan Willy adalah pegawai kita, Yah. Dan aku merasa tidak enak hari jika tidak datang, pasti mereka semua akan berpikir jika aku tidak bisa berpaling dari William" imbuhku
"Bukankah memang begitu keadaannya?" goda Ayah padaku
"Ayaaaah" dan Ayah pun kembali tersenyum
"Aku ingin melupakannya tapi sangat sulit, Yah" lanjutku sembari mengusap air mata
"Keadaan tidak akan berubah jika kamu tidak menghadapinya, Nes. Jika kamu ingin melupakan semuanya maka datanglah, hadapi kenyataan pahit ini sebelum nanti akhirnya hal manis kamu dapatkan"
"Pikirkan baik-baik, apa kamu mau ke sana atau tidak. Atau kita ke sana sama-sama, bagaimana?" tawar Ayah
Aku menggeleng, "Ayah pasti capek, terlebih lagi besok Ayah juga harus kembali ke luar kota lagi" Dia mengangguk dan kemudian pergi dari kamarku, kulihat punggung laki-laki paruh baya itu, dia yang selalu mengerti dan memahami diriku. Aku merasa keberatan akan idenya, bukan tanpa alasan tapi kupikir dia terlalu lelah menghadapi pekerjaannya yang kini terasa berat, ia harus bolak-balik ke luar kota demi menyelesaikan pekerjaan yang aku pun belum terlalu memahaminya
...*******************...
Aku kini sudah berada di dalam mobil, aku putuskan untuk pergi ke acara pertunangan William meski dengan banyak pertimbangan yang sampai kini masih aku hitung. Keraguan juga masih berada di barisan paling depan, ia masih saja bertanya banyak hal, langkahku sedikit terhenti dan kemudian kembali melangkah
Rumah dengan cat warna putih itu terlihat megah dengan dua buah pilar yang menjulang tinggi di sisi kanan dan juga kiri, lampu warna coklat terang berjejer rapi di sepanjang pagar besi yang mengelilingi rumah itu dan menyinari halaman luas yang penuh dengan berbagai jenis tanaman dan juga bunga
Kuparkirkan mobilku di antara mobil-mobil yang sudah lebih dulu datang di tempat ini. Aku pun turun dan kemudian merapikan dress warna merah favoritku, kupastikan riasan yang aku pakai malam ini tidak luntur dengan melihatnya sekilas di layar ponselku yang aku ambil dari tas pesta milikku
Aku berjalan masuk ke rumah itu, di sana di ruang tamu rumah itu. Ruang tamu yang kini telah dipasangi dekorasi pertunangan yang sangat mewah, seluruh dekorasi itu berwarna silver lengkap dengan bunga mawar merah yang dirangkai dengan ukuran yang cukup besar dan membentuk tulisan William dan Aira
Di ruang tamu yang cukup luas itu tidak begitu banyak orang saat ini, entah belum datang atau memang hanya mereka yang datang di acara ini
"Bu Agnes!" sapa Aira yang malam ini terlihat sangat cantik, dress panjang warna silver dan juga hijab warna senada ia pakai malam ini, benar-benar cantik dan pas di tubuhnya
"Terima kasih, Bu. Sudah berkenan hadir malam ini" senyum bahagia terpancar di wajahnya, tapi ia tidak menyadari apa yang kini aku rasakan. Kenangan masa lalu kembali berjalan di benakku, acara pertunanganku dengan William tidak jauh berbeda dari apa yang aku lihat malam ini
__ADS_1
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumannya, dia pun mengajakku untuk berkenalan dengan orang tuanya, aku pun ikut dan menurutinya
"Perkenalkan, Bu. Ini Ayah saya dan ini ibu saya" lanjut Aira, aku pun kemudian berkenalan dengan mereka. Mereka sangat antusias dan juga terlihat bahagia, tak lupa mereka juga berterima kasih karena sudah mau menerima Aira bekerja dan juga berterima kasih karena aku mau hadir di acara keluarga ini
"Sama-sama, Pak, Bu. Aira adalah gadis yang cerdas, dia sangat kompeten dan mampu mengikuti apa yang perusahaan kami minta dan soal kedatangan saya di acara ini adalah bentuk apresiasi pada pegawai di perusahaan kami bahwasanya kita semua adalah keluarga"
"Terima kasih sekali lagi, memang benar yang diceritakan Aira bahwa bosnya sangat baik dan juga cantik" puji ibu Aira dan aku menanggapinya dengan senyuman, sampai titik ini aku masih bisa bertahan dan berdiri tegak di antara orang-orang yang hadir di tempat ini, meski kadang pikiran meminta untuk pergi namun hati masih ingin tinggal. Sedari tadi kuamati tempat ini tapi tak kudapati William, entah ke mana dirinya bukankah ini acaranya
"Aira, acaranya akan dimulai" orang yang kucari akhirnya kudapati, William mendekat ke arah kami semua dan menggandengan tangan Aira lembut. William yang tampak gagah dalam balutan jas warna senada dengan kekasihnya, wajahnya terlihat bersih, rambutnya tertata rapi dan dari jarak tang tidak terlalu jauh aku pun bisa mencium aroma parfum miliknya. Sampai di sini aku mencoba bertahan sekali lagi
"Mari kita ucapkan basmalah sebelum acara di malam hari ini dimulai" serentak semua orang mengucapkan bismillah guna memulai acara sakral malam hari ini
"Acara malam hari ini tidak hanya acara pertunangan namun juga untuk merayakan ulang tahun Aira yang ke sembilan belas tahun" Sekali lagi aku mendengar suara itu, suara yang cukup familiar menurutku dan ketuka aku melihatnya ternyata yang berbicara adalah Pak Andreas, dia berada tepat di sisi William bersama dengan istrinya dan juga seorang teman laki-lakinya
Kue ulang tahun dengan lilin membentuk angka sembilan belas pun kini sudah ada di depan Aira, segala ucapan pun terlontar dari mereka semua. Tidak terkecuali William, ia juga memberikan sebuah kado yang entah isinya apa, kado itu terbungkus rapi dalam bungkus kado warna merah berbentuk hati. Aku masih bisa mendengar dan menikmati semuanya dengan tegar, meski sekali lagi kenangan masa lalu kemvali berputar dan aku pun juga ingat jika hari ini juga ulang tahunku, ulang tahun yang senyap dan bahkan tidak ada perayaan apa pun
"Selanjutnya, mari kita saksikan acara inti dari rangkaian acara malam ini. Mari silakan William dn Aira saling memasangkan cincin dari jari satu sama lain" keduanya mendekat dan William meraih sebuah kotak yang ia simpan di saku jasnya dan tak lama cincin itu sudah terpasang di jari keduanya, tepuk tangan pun begitu riuh mengiringi hal ini
Di sini, aku sudah tidak sanggup lagi menahan apa yang sejak tadi aku tahan. Akhirnya aku putuskan untuk pergi dari sana tanpa berpamitan atau berbincang dengan siapa pun, aku melenggang dan melajukan mobilku menjauh dari acara itu
Air mata mendadak tumpah, mewakili apa yang aku rasakan. Kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang membelah dinginnya malam yang menurutku terasa panas. Dari kejauhan aku melihat sorot lampu yang sangat terang dan juga suara klakson yang begitu nyaring menggema di telinganku, sedetik kemudian aku samar-samar mendengar beberapa orang memanggil namaku dan menggoyangkan tubuhku, selanjutnya aku tak lagi mengingat apa pun
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon maaf ya, author belum bisa up setiap hari. Tapi aktor usahakan untuk up dalam jangka waktu yang tidak lama... yuk di vote mumpung hari senin