HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 115. Sandiwara William


__ADS_3

Ayah kini sedang mendekorasi ruang tamu, ia akan memberikan kejutan ulang tahun untukku. Sore tadi ia memesan kue dan juga pernak-pernik guna melancarkan rencananya


Semua sudah siap, ia kini berdiri di depan dekorasi yang bertuliskan selamat ulang tahun putriku yang ke 23. Ia merasa haru sebab ia juga tidak mengira jika putrinya kini sudah beranjak dewasa dan kini sudah bisa membantunya bekerja di perusahaan


"Dia sudah dewasa sekarang, tapi hal yang ia lalui begitu berat. Aku tidak tega jika harus terus berpura-pura seperti ini" ia menghela nafasnya pelan dan kemudian bersiap menyambut kedatanganku yang ia pikir akan pulang sebentar lagi


Ayah beranjak ke kamarnya untuk berganti baju dan mengambil hadiah yang sudah ia persiapkan, ia masuk ke dalam kamarnya dan mendengar ponselnya berdering. Namaku tertera di layar, ia merasa senang karena ia pikir aku akan segera pulang


"Assalamualaikum, putri ayah" ucapnya saat panggilan itu terhubung


"Mohon maaf, ini dengan Pak kuncoro. Ini dari pihak rumah sakit mulia, anak bapak mengalami kecelakaan dan kini berada di tempat kami" terang seorang suster yang kala itu menghubungi Ayah memakai ponselku. Tanpa pikir panjang, panggilan itu ia putuskan dan menyambar kunci mobilnya yang ia letakkan di atas meja kamarnya


Tak berselang lama, ayah pun tiba di rumah sakit. Dengan langkah yang tergesa-gesa ia menuju langsung ke UGD, di depan ruangan itu terdapat beberapa orang dan juga suster yang lalu-lalang


"Maaf, apa putri saya berada di dalam?" tanya ayah pada seorang suster yang baru saja keluar dari sana


"Siapa nama putri Bapak?"


"Agnes, namanya Agnes. Dan saya baru saja dihubungi oleh pihak rumah sakit melalui ponsel putri saya"


"Oh, iya benar. Putri Bapak berada di dalam dan sedang ditangani oleh dokter. Mari ikut saya, ada beberapa barang milik putri Bapak yang kami simpan" Ayah pun mengikutinya, mengambil barang-barang milikku dan kemudian menyimpannya di dalam mobil. Suster itu juga mengatakan jika mobil milikku kini tengah diperiksa oleh pihak berwajib guna mengetahui kronologi kejadian yang sebenarnya


...****************...


William dan Aira baru saja menyelesaikan acaranya, ia kini tengah berbincang di teras rumah Aira bersama dengan Andreas, Prima, Mbak Sumi dan juga Tomi. Semua tamu undangan sudah pulang begitu juga dengan istri Andreas, ia meninggalkan suaminya sebab khawatir dengan putrinya yang ia tinggalkan


Prima dan William kini sudah berhubungan baik, tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka sebab kedatangan Andreas dan juga Tomi tidak hanya untuk urusan bisnis namun juga untuk mendamaikan kembali keduanya

__ADS_1


Aira pun muncul, ia kini sudah berganti dengan pakaian santai. Ia membawa sebuah nampan yang berisikan minuman dan juga camilan untuk kerabatnya itu


"Terima kasih, kalian semua sudah mau membantuku. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana karena sejauh ini tidak ada progres yang baik dari Agnes" ucap William


"Tapi aku merasa tidak enak hati, Kak. Terlebih lagi kita berjalan sudah terlalu jauh dan sepertinya kak Agnes sendiri memang masih menyukai Kakak hanya saja dia gengsi dan tidak mau mengakuinya" imbuh Aira yang kini duduk di dekat William


"Mau bagaimana lagi, jika dengan cara yang lembut tidak bisa membuatnya melunak maka ini cara yang tepat" Tomi juga tidak ingin ketinggalan


"Kita tunggu satu atau dua minggu lagi bagaimana reaksinya, jika memang dia tidak punya progres ya William harus siap cari pengganti yang sebenarnya"


"Pengganti yang sebenarnya?" Mbak Sumi tampak bingung menghadapi perbincangan yang membuatnya pusing itu, ia tidak tahu apa yang mereka semua maksud


"Sayang, ini semua tidak seperti yang kamu lihat. Ini hanya sandiwara, William dan Aira itu saudara, mereka tidak mungkin bertunangan" jelas Prima pada istrinya itu, seklai lagi Mbak Sumi berpikir akan apa yang baru saja ia dengar


"Jadi maksud kalian semua?" mereka semua mengangguk


"Kenapa kalian menyembunyikan semuanya, aku kasihan pada Agnes. Apa kalian tidak lihat tadi bagaimana mimik wajahnya, dia diam dan seolah seperti orang asing di sini. Dan lagi, kenapa juga tadi aku tidak boleh menemuinya?" Mbak Sumi memukul Prima yang sedari tadi terus menahan tawa akan raut wajah istrinya yang terlihat bingung


"Aku juga sebenarnya kasihan, Kak. Bu Agnes terlihat tertekan akhir-akhir ini dan lagi, beberapa minggu ini dia selalu melihat sandiwara yang aku sendiri pun tidak sanggup melihatnya. Aku jadi merasa bersalah, tadi aku juga kembali melihat wajahnya yang memendam rasa sakit, ia mencoba kuat berdiri meskipun rapuh dan sampai-sampai ia pergi tanpa berpamitan dengan siapa pun" imbuh Aira


"Jangan berpikir seperti itu, sejauh ini kamu sudahbmenjadi aktris yang luar biasa hebat. Kamu berakting sangat natural sekali" puji William pada Aira


"Tapi sampai kapan kita akan terus bersandiwara, Kak?" tanya Aira pada William


"Kita tunggu beberapa hari lagi, kita beri dia undangan pernikahan kita berdua. Sekuat mana dia akan bertahan pada egonya" imbuh William


"Undangan sudah siap disebarkan" Andreas menimpali

__ADS_1


"Dekorasi ready!" Prima tak kalah menyahuti


"Katering dan perlengkapan lainnya tinggal pasang!" Tomi pun nimbrung dan mereka pun tertawa


Tapi tidak dengan Aira dan Mbak Sumi, keduanya hanya geleng-geleng kepala menghadapi para lelaki yang bertindak di luar nalar dan batas kewajaran


"Jangan menatapku seperti itu, Aira. Sepupumu ini tidak sejahat yang kamu pikirkan, asalkan kamu tahu, om Kuncoro, Ayah Agnes juga ikut serta dalam rencana ini. Dia mendukung penuh akan apa yang aku lakukan" William mengerti tatapan sinis dari Aira


"Apa kalian semua tahu, hari ini Agnes ulang tahun. Dan jahatnya lagi kalian malah memberi kejutan dengan hal seperti ini" Semua orang menatap Mbak Sumi, mereka semua tidak tahu jika hari ini adalah hari ulang tahunku sebab yang mereka ingat hanya ingin bersandiwara. Mbak Sumi sendiri juga tidak habis pikir kenapa ia tidak tahu jika ini adalah sandiwara, terlebih lagi sang suami juga tidak sedikit pun bercerita akan hal ini


"Jadi hari ulang tahun bu Agnes hari ini, sama seperti ulang tahunku?" Aira juga tampak makin bersalah


Mbak Sumi mengangguk, William juga tampak terkejut. Ia mengambil ponselnya yang sedari pagi ia matikan, ia memghidupkannya dan sontak saja banyak seklai notifikasi yang masuk salah satu di antaranya adalah notifikasi ulang tahunku


"Astagfirullah" William menepuk jidatnya sendiri, ia merutuki kebodohan yang terjadi padanya. Dengan hebohnya ia kemudian meminta saran pada semua orang yang ada di sana, ia tidak tahu harus memberi kado apa padaku dan bagaimana caranya


"Tenang, akan aku urus semuanya. Aku akan meminta bantuan Sofia, dia sudah akrab dengan Agnes. Biarkan Sofia yang akan memberikannya pada gadis pujaanmu itu" usul Andreas dan mereka semua setuju


.


.


.


.


OMG ternyata dunia ini adalah panggung sandiwara, kejam sekali kalian pada Agnes!!!!!!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2