HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Sindiran Rania


__ADS_3

Happy reading....


Maya sangat kaget saat mendengar permintaan dari Carlen. Dia tidak menyangka, jika suaminya akan meminta hak sebagai seorang suami, walaupun mereka sudah pernah melakukannya satu kali.


"Apa kau tidak mau? Jika kau memang tidak bersedia, maka aku tidak akan--"


"Aku bersedia, Mas. Tidak ada alasan untuk seorang istri menolak suaminya. Sebab jika istri menolak permintaan suaminya, apalagi untuk hal ranjang, maka malaikat akan melaknatnya sampai pagi," jelas Maya.


Mendengar itu Carlen tersenyum menyeringai, kemudian dia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Maya, dan olahraga panaspun terjadi antara mereka berdua. Helaan napas yang memburu dengan tetesan keringat berjatuhan dari tubuh keduanya.


Suara deritaan ranjang menjadi saksi bahwa olahraga di pagi hari itu sangat ganas, tetapi kali ini Carlen tidak melakukannya secara kasar. Dia melakukan semuanya dengan kelembutan, bahkan Maya pun menikmatinya.


'Rasanya memang berbeda. Ini real masih virgin, sedangkan Freya ... entah batang kelapa segede apa yang sudah memasuki lubang guanya? Sehingga saat aku memasukinya sudah sangat longgar,' batin Carlen saat sedang menghentakkan panggulnya.


Dia melihat wajah Maya yang bersimbah keringat, membuatnya terlihat begitu sangat seksi. Entah kenapa Carlen seperti candu saat melihatnya.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, semua orang saat ini sudah berada di meja makan, tetapi Carlen dan juga Maya masih juga belum turun. Freya yang melihat itu pun meremas gerpu yang ada di tangannya. Sorot matanya begitu tajam dengan rahang mengeras.


Rania dan juga kakek Albert saling melirik satu sama lain. "Oh iya, Kek. Kayaknya pagi-pagi ada aura-aura panas gimana gitu ya?" sindir Rania sambil melirik ke arah Freya.


"Iya, Kakek juga merasakan hal itu.nTapi entah dari mana," jawab kakek Albert sambil meminum kopinya.


"Aura panas gimana sih? Orang di luar hujan kok, cuacanya dingin. Di sini ac-nya juga nyala?" timpal mama Gisel yang tidak tahu arah pembicaraan Rania dan juga mertuanya.

__ADS_1


Tak lama Maya dan Carlen pun datang ke meja makan. "akalian ini dari mana aja? Kenapa baru turun? Ini udah jam 07.00," ujar mama Gisel saat melihat keduanya yang baru saja sampai.


"Aduh Mama! Kayak nggak tau aja, kalau pengantin baru, ehem, ehem ... Mungkin saja mereka baru berolahraga tadi pagi?" sindir Rania sambil melirik sini ke arah Freya.


Mendengar itu, Freya tentu saja tidak terima. Dia menatap tajam ke arah Carlen dan juga Maya. "Mana mungkin Mas Carlen mau menyentuh wanita udik itu? Melihat wajahnya aja dia udah jijik!" jawab Freya dengan ketus.


"Hei, pernah denger nggak sebuah pepatah? Benci dan cinta itu beda tipis. Jangan terlalu membenci orang begitu dalam, karena pada akhirnya kamu akan bucin?" tutur Rania sambil memakan nasi goreng yang ada di piringnya.


"Sudah sudah, ini masih pagi, jangan pada berdebat. Sebaiknya kita sarapan," ucap mama Gisel menengahi perdebatan antara Freya dan juga Rania.


Kemudian Freya langsung mengambilkan makanan untuk Carlen, sedangkan Maya membuatkan kopi untuk suaminya. Setelah itu mereka pun melanjutkan sarapan pagi, setelahnya mengantarkan Carlen ke pintu utama.


"Kakek berharap, kamu dan Maya bisa segera memiliki momongan. Ingat ya Carlen, Kakek tidak menerima keturunan selain dari Maya, paham!" tegas kakek Albert saat Carlen akan berangkat ke kantor.


Freya yang mendengar itu pun mengerucutkan bibirnya dengan kesal. kemudian dia berjalan ke arah kamar ingin menghubungi Josji, dan melakukan phone *** bersamanya.


Namun, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk, membuat hasraat yang tadinya sudah naik ke ubun-ubun tiba-tiba saja turun kembali.


"Sebentar ya sayang, sepertinya ada pengganggu. Nanti aku telepon lagi, dan kita lanjutkan," ucap Freya. Setelah itu dia menutup teleponnya.


"Iya sebentar!" teriak Freya saat mendengar pintu kamarnya terus saja diketuk dari luar.


"Siapa sih, ganggu aja! Orang gue baru mau enak-enak, kagak sabaran amat! Jangan-jangan si aki-aki tua itu lagi?" gerutu Freya sambil memakai bajunya kembali.


Dan saat pintu terbuka, ternyata benar yang sedang mengetuk pintu kamarnya adalah kakek Albert. Freya yang melihat itu pun menghela napasnya dengan kasar. Dia yakin, jika kakek Albert pasti akan memberikan hukuman lagi kepadanya.


"Iya Kek," jawab Freya dengan lesu.

__ADS_1


"Kamu tolong bersihin kamar saya ya! Dicuci kamar mandinya juga, biar bersih. Jangan sampai licin dan kotor! Kalau sampai nggak bersih, nanti saya nggak jadi kasih uang kamu buat shopping," ucap kakek Albert.


Mata Freya seketika mendelik bahagia, saat mendengar kata shopping. "Apa Kek, shopping? Jadi Kakek mau kasih saya uang buat shopping?" tanya Freya dengan antusias.


"Tentu saja, asal kerjaan kamu itu benar-benar tuntas. Sudah sana cepetan! Saya tidak ingin mendengar keluh kesah apapun ya!" titah kakek Albert, kemudian dia meninggalkan kamar Freya.


Mau tidak mau wanita itu pun pergi ke kamar kakek Albert untuk membersihkan tempat tersebut, karena dia ingin segera shopping. Karena sudah beberapa hari ini Freya tidak belanja apapun dan ingin cuci mata.


.


.


Hari telah berganti. Bari ini kakak Albert akan pulang ke Jerman, sebab pekerjaan di sana tidak bisa lagi ditunda olehnya. Dan dia meminta Maya dan juga Carlen untuk mengantarnya ke Bandara.


Tetapi dia tidak mengizinkan Freya untuk ikut, dan wanita itu pun hanya merenggut kesal, karena kakek Albert selalu mengutamakan Maya ketimbang dirinya.


'Tapi nggak papa deh, si aki-aki tua itu pergi dari rumah ini. Setidaknya aku 'kan bebas, tidak usah mengerjakan pekerjaan pelayan.' batin Freya merasa bebas karena kakek Albert sudah pulang.


Dia tidak tahu aja, apa yang sudah kakek Albert siapkan untuknya. Padahal walaupun pria itu sudah balik ke Jerman, dia tidak akan membiarkan Freya begitu saja bahagia tinggal di kediamannya.


Sesampainya di Bandara, Maya dan juga Carlen langsung mengantar kakek Albert masuk ke dalam jet. Tapi sebelum mereka pergi, kakek Albert berpesan sambil memegang tangan Carlen.


"Kakek selama ini mengetahui apa yang kamu lakukan kepada Maya. Dan jujur, Kakek memang sangat kecewa, karena dalam keturunan Kakek tidak ada orang yang sekejam itu kepada seorang wanita, apalagi dia istrinya. Kamu tahu, kebencian Kakek kepada Freya bukanlah tanpa alasan yang kuat. Kamu juga tahu, jika Kakek pasti tidak akan pernah benci sama seseorang, jika tidak menyelidikinya terlebih dahulu." Sejenak kakek Albert menghentikan ucapannya, kemudian dia menatap ke arah Maya.


"Kakek hanya berharap, dan meminta kepada kamu Carlen, jagalah Maya! Dia adalah istri yang baik, wanita yang solehah. Dia pantas menjadi Ibu dari anak-anakmu. Dan kakek harap, kamu bisa melindunginya dari Freya. Karena wanita itu tidak akan pernah membiarkan kalian bahagia. Kalau begitu kakek pamit ya. Ingat, cucu kakek harus cepat launching," ucap kakek Albert sambil mengusap kepala Maya dan juga Carlen.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2