
Beberapa hari pun berlalu, setelah tragedi menegangkan malam itu. Kondisi Mbak Sumi kini semakin membaik dan Prima pun juga demikian. William sendiri kini masih mengurung seluruh anak buah Alexa yang tertangkap, guna mengorek informasi sedetail mungkin agar apa yang menjadi tujuannya tercapai
Aku sendiri kini masih berada di kamar, menelisik setiap lowongan pekerjaan yang mungkin bisa aku datangi. Aku masih terus berkutat di sana, memeriksa setiap persyaratan yang harus aku kumpulkan. Sesekali aku meregangkan otot-otot di tubuhku, menguraikan rasa pegal yang sejak tadi mendera
Kudengar pintu kamarku diketuk dari luar, sekali dua kali aku mengabaikannya tapi makin lama ketuka itu semakin menjadi dan membuatku terpaksa berdiri dan menghampirinya dengan langkah gontai dan juga raut muka yang sudah tidak enak dipandang
"Siapa sih?" tanyaku kemudian seraya membuka pintu kamar
Se persekian detik aku pun terpaku, melihat seseorang yang kini berdiri tepat di depan mataku. Orang yang selama ini aku hindari dan sangat aku benci meski itu bukan hal yang seharusnya aku lakukan
Mama, orang itu adalah Mama. Wanita yang dulu sangat aku hormati tapi kini menjadi sumber luka yang belum mampu terobati dan semakin sakit saat aku mengingatnya, entah dari mana dia tahu di mana sekarang aku berada dan kenapa juga dia datang ke sini
Tidak ada kata yang terucap di bibir kami berdua, aku hanya menatapnya sekilas lalu kembali menatap ke lain arah. Tapi tidak dengan Mama, dia terus menatapku intens dan tak mengalihkan pandangan itu barang satu senti pun
"Agnes, Mama kangen!" matanya berkaca-kaca dan bibir merahnya terlihat bergetar, kakinya berjalan maju mundur seolah ingin memelukku tapi aku sedikit memundurkan posisiku dan kini membuatnya berhenti akan keinginannya
Kecanggungan meliputi kami berdua, responku yang tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan membuatnya merasakan canggung. Sedangkan aku, sakit hati ini kembali menguar dan membuka luka yang sedikit kering, menganga dan kembali berdarah. Peristiwa pengkhianatan yang terjadi beberapa waktu yang lalu kembali hadir
Pelupuk mataku kembali menggenang dan kini siap meluncurkan air mata yang aku pun tidak bisa membendungnya. Ingin kusapa wanita paruh baya ini, tidak munafik ada rindu di dasar hati yang kini muncul tapi rasa sakit ini lebih mendominasi daripada kerinduan itu sendiri
__ADS_1
Ingin rasanya aku memeluknya, mengulang kembali rasa yang pernah aku cipta bersamanya selama 19 tahun ini, ingin rasanya aku bertanya kabarnya, bagaimana dia makan dan bagaimana hari-hari yang ia lewati, tapi sekali lagi, sakit ini menghalangi dan membisikkan kata yang bertolak belakang dari apa yang aku inginkan
"Mama" batinku dan aku kini berani membalas pandangannya. Tanpa aba-aba dia pun memelukku yang kini masih memakai di ambang pintu kamarku
"Apa kaku baik-baik saja, sayang?" Dia menangis, menyalurkan kerinduan yang ia pendam, aku terdiam dan tak berniat membalasnya
"Maaf, ini semua salah Mama" ucapnya sekali lagi dan sampai saat itu aku tidak membalas kata-katanya mau pun pelukannya
"Kok kangen-kangenannya di sana, bawa masuk dong Mamanya" sergah Bu Mariyam tiba-tiba, aku yang belum sempat mengucapkan sepatah kata pun akhirnya melepaskan pelukan itu dan membawa Mama masuk ke dalam kamar, meninggalkan Bu Mariyam yang kini masih berdiri di ujung tangga lantai 2 rumah ini
...******************...
Kebingungan pun meliputi hati Prima, ia tidak tahu harus berbuat apa, apakah melanjutkan kebohongan atau berterus terang dan mengatakan semuanya
"Mas, jangan ngelamun" lamunan Prima pun bayar dan kini wajahnya terlihat gugup, bibirnya kelu dan tenggorokannya terasa tercekat
"Iya" hanya itu yang kini mampu Prima katakan. Sumringah, wajah Mbak Sumi terlihat semakin bahagia, rona kebahagian itu repancar jelas diiringi dengan lengkungan yang tercipta di sudut bibirnya
Prima pun kemudian meminta Mbak Sumi untuk menunggu sebentar, ia kembaliengqrang kebohongan jika dirinya hendak menemui suster dan juga dokter yang menangani pak Samin, padahal sebenarnya ia akan mengurus administrasi kepulangan Mbak Sumi, tanpa menaruh curiga Mbak Sumi pun mengiyakan apa yang dikatakan Prima
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Prima yang sudah selesai mengurus administrasi pun kembali ke kamar Mbak Sumi. Ia pun segera membereskan semua perlengkapan yang selama ini ia bawa
"Loh, Mas. Kok beberes segala sih?" tanya Mbak Sumi
"Bukannya kita cuma mau jenguk pak Lek?" lanjutnya kemudian
"Iya" jawab Prima singkat sembari menarik resleting ransel miliknya dan kemudian menggendongnya
Tanpa aba-aba apa pun, ia kemudian menarik tangan Mbak Sumi yang duduk di atas ranjangnya dan dengan senyuman palsu ia pun mencoba menutupi kegelisahan yang selama ini ia rasakan
"Loh kok kita ke sini, Mas?" Mbak Sumi keheranan ketika dirinya ke luar dari rumah sakit itu dan diajak masuk ke dalam sebuah taksi online yang sudah Prima pesan sejak tadi. Tidak ada jawaban dari Prima membuat Mbak Sumi juga merasakan kegelisahan
"Mas bisa jelasin semuanya?"
Prima menarik nafas panjang, dan kemudian menceritakan semuanya secara perlahan sembari menggenggam erat tangan sang kekasih guna memberikan kekuatan. Terkejut dan hancur, perasaan yang kini Mbak Sumi rasakan. Air mata pun luruh dan tidak dapat ia bendung, ia hanya bisa menangis dan membenamkan kepalanya di dada sang kekasih. Ada rasa tidak percaya akan hal yang ia dengar, sekali lagi ia memastikan dan jawabannya tetaplah sama
Satu-satunya keluarga yang ia miliki kini sudah tidak bersamanya lagi, kebahagiaan yang ada di depan mata kini harus berujung tragis dengan kepergian Pak Samin. Impian yang ia rajut untuk membahagiakan keluarganya itu kini sirna sudah, hanya kenangan dan juga masa lalu yang kini berdampingan dengannya
Sekelebat bayangan kriminal yang ia alami pun juga terus berputar di sana membuat rasa takut itu pun kembali hadir
__ADS_1
Prima sendiri pun tidak bisa berbuat apa pun juga, ia hanya mampu mengucap sabar dan ikhlas guna membuat sang kekasih tetap sadar dan kuat