HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Kabur


__ADS_3

Happy reading.......


Carlen melihat ke arah Maya dengan dahi mengkerut. Rania yang melihat itu pun tentu saja sangat geram. "Kak, kok malah bengong sih? Bantuin dong!" teriak Rania.


Carlen yang tersadar kemudian dia langsung menggendong tubuh Maya untuk ke rumah sakit, sedangkan Rania menatap Freya dengan tajam, kemudian berjalan ke arah wanita itu dan langsung menampar wajahnya.


PLAK!


"Jika terjadi apa-apa dengan mbak Maya, kau akan tanggung akibatnya wanita sialan!" geram Rania, kemudian dia pergi meninggalkan ruang tamu.


Mama Gisel baru saja keluar dari kamar, dan dia melihat Maya digendong oleh putranya, wanita itu pun merasa heran.


"Carlen, ada apa dengan Maya?" tanya mama Gisel.


"Aku juga tidak tahu Ma, tiba-tiba---"


"Mbak Maya minum racun Mah, untuk menyelamatkan Kakak," potong Rania.


"Apa! Bagaimana bisa?" panik mama Gisel.


"Nanti aja Rania jelaskan ya Mah, sebaiknya kita bawa ke rumah sakit sekarang, sebelum terjadi apa-apa dengan Mbak Maya," tutur Rania dengan wajah yang panik.


Carlen pun segera membawa Maya ke dalam mobil dan menuju Rumah Sakit. Sedangkan Rania terus memangku Maya di jok belakang, dia menangis sambil memeluk tubuh wanita itu.


"Mbak, kenapa Mbak minum racunnya? Harusnya Mbak jangan meminumnya. Ya Allah, tolong selamatkanlah Kakak iparku! Jangan membuatnya kenapa-napa bersama bayi dalam kandungannya Ya Allah," ucap Rania sambil terus mengusap kepala Maya.


Carlen pun tak ubahnya merasa cemas, apalagi saat ini Maya tengah mengandung benihnya. Dia takut terjadi apa-apa dengan istri pertamanya tersebut.


"Dari mana kamu tahu jika Freya memberikan racun? Apa kamu punya buktinya, Rania?" tanya Carlen saat mereka sudah sampai di rumah sakit dan sedang menunggu di depan ruang IGD.

__ADS_1


"Aku melihatnya sendiri, dia mencampurkan sesuatu ke dalam kopimu. Dan tadi sore aku mendengarnya, dia ingin meracuni seseorang. Aku pikir itu adalah mbak Maya, tapi ternyata orang itu adalah seorang pria. Jadi sudah pasti itu adalah kamu, Kak!" geram Rania sambil menatap Carlen dengan tajam.


"Apakah itu wanita yang kamu cintai, Kak? Dia bahkan ingin membunuhmu!" sambung Rania kembali.


Carlen terdiam saat mendengar ucapan Rania. Dia tidak menyangka jika Freya akan menghabisinya. Kemudian dia menghubungi satpam untuk tidak membiarkan Freya keluar dari rumah.


Tangannya terkempal menahan amarah yang siap memuncak. Sekuat tenaga dia tidak menyakiti Freya saat mengetahui tentang perselingkuhan wanita itu, tetapi ternyata Freya malah ingin membunuhnya.


'Keterlaluan! Kamu berencana menghabisiku, setelah apa yang kulakukan selama ini untuk kamu Freya? Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu bahagia!' batin Carlen sambil mengepalkan tangannya.


Tak lama Dokter keluar, Rania dan juga mama Gisel yang melihat itu pun langsung menghampiri sang dokter dan menanyakan keadaan Maya.


"Bagaimana keadaan Maya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya mama Gisel.


"Pasien meminum racun yang sangat mematikan, apalagi saat ini pasien sedang hamil muda, dan itu cukup berdampak pada kandungannya. Akan tetapi, untung saja cepat dibawa ke sini. Jika tidak, mungkin pasien dan juga bayi yang ada dalam kandungannya sudah tidak tertolong lagi. Namun ..." Dokter itu menggantung ucapannya, dia merasa ragu untuk mengungkapkan hal tersebut kepada keluarga Maya.


"Mamun apa, Dok? Kakak ipar saya tidak papa 'kan?" desak Rania.


Lutut Carlen terasa lemas saat mendengar penuturan sang Dokterx di mana Maya saat ini tengah koma. Begitupun dengan mama Gisel dan Rania, mereka juga terlihat sangat syok. Apalagi mama Gisel langsung terhuyung ke belakang saat mendengar keadaan Maya.


"Ya Allah, kenapa kau malah memberikan cobaan yang begitu berat kepada Maya? Selamatkanlah Iya dan juga cucuku Ya Allah," ucap mama Gisel sambil menangis.


Setelah itu Dokter masuk kembali ke dalam ruangan, lalu Rania berjalan ke arah kakaknya dan menampar wajah Carlen. "Jika terjadi apa-apa dengan mbak Maya, kamu harus bertanggung jawab Kak! Aku tidak mau tahu, kamu berikan pelajaran kepada wanita itu, atau aku sendiri yang akan memberikannya. Atau kamu mau, aku melaporkan ini semua pada kakek!" ancam Rania dengan nada memburu dan dada naik turun menahan emosi.


"Jangan dulu laporkan kepada kakek! Kakak akan bereskan Freya. Kakak tidak terima ini semua. Kamu jaga Maya dulu! Kakak akan memberikan pelajaran pada wanita itu!" geram Carlen dengan sorot mata yang tajam.


Rania dapat melihat kemarahan di kedua mata kakaknya, kemudian Carlen pergi dari rumah sakit mengendarai mobilnya untuk menuju rumah di mana saat ini Freya berada.


"Gawat! Sudah pasti Carlen tahu jika Maya meminum racun. Aku harus pergi dari sini, tapi gimana caranya? Bahkan satpam tidak mengijinkanku keluar? Aagh ... sial!" teriak Rania.

__ADS_1


Kemudian ide cemerlang pun datang. Dia berjalan mengendap-ngendap lalu mengambil sebuah batu dan melemparkannya tepat mengenai beberapa kaca yang ada di rumah Carlen, sehingga membuat fokus pada satpam pun teralihkan.


"Suara apa itu? Siapa yang memecahkan kaca?" tanya salah satu satpam kepada temannya.


"akita cek," jawab temannya. Kemudian mereka pun langsung mengecek ke tempat di mana suara itu berasal.


Freya yang melihat satpam tersebut segera keluar dari kediaman Dalmiro, tapi sialnya salah satu satpam mengetahui itu. "Nona Freya, Anda mau ke mana?!" teriak satpam. Freya yang melihat itu pun segera berlari.


Dan saat dia keluar dari gerbang, tidak sengaja tubuhnya menabrak mobil yang ternyata itu adalah Carlen. 'Gawat!' batin Freya dengan ketakutan kemudian dia langsung berlari tak tentu arah menghindari suaminya.


"Freya tunggu! Mau ke mana kamu?" teriak Carlen kemudian dia mengejar wanita itu.


Akhirnya terjadi aksi kejar-kejaran antara Freya dan Carlen dengan salah satu satpam juga. Tetapi Freya tidak menyerah, dia terus berlari agar tidak ditangkap oleh Carlen, sebab dia takut jika nanti dijebloskan ke dalam penjara.


'"Gawat, aku harus bersembunyi," ucap Freya saat belok ke salah satu gang kemudian dia bersembunyi di balik semak-semak.


"Sial! Ke mana wanita itu?!" geram Carlen saat melihat tidak ada Freya di sana.


"Tuan, saya yakin nona Freya tidak jauh. Pasti dia sedang bersembunyi," jawab satpam tersebut sambil mengatur nafasnya.


"Kamu benar, cari dia sampai dapat!" geram Carlen, kemudian mereka mencari keberadaan Freya.


Sedangkan di balik semak-semak, Freya menutup mulutnya dengan nafas terengah-engah. 'Gawat, kalau sampai Carlen menangkapku. Habis sudah. Apa yang akan dia lakukan kepadaku? Sudah pasti dia mengetahui tentang racun itu? Aku harus mengirim pesan kepada Josi untuk menolongku.' Saat pria merogoh tasnya dia tidak menemukan ponselnya sama sekali, kemudian wanita itu pun menepuk jidat.


'Sial! Ternyata aku lupa membawa ponsel. Bagaimana ini?' batin Freya menggerutu.


Setelah melihat Carlen dan satpam jauh dari tempatnya, Freya segera keluar dari tempat persembunyian. Namun tidak sengaja dia menginjak botol plastik, sehingga menimbulkan suara. Carlen dan juga satpam itu pun menengok ke arah belakang.


"Freya!" teriak Carlen, kemudian dia mulai berlari ke arah wanita tersebut.

__ADS_1


Freya yang merasa terancam pun segera berbalik dan berlari. Namun naas, tiba-tiba saja ada sebuah truk yang melaju dengan kencang sehingga tidak sengaja menabrak tubuhnya hingga terpental beberapa meter.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2