
Prima baru saja bangun dari tidur yang buruk, semalam penuh tidurnya dihiasi dengan mimpi yang tidak bisa ia pahami. Meskipun ia tahu jika mimpi adalah bunga tidur tapi perasaan khawatir dan juga gelisah masih terus terbesit di hatinya.
Ia kemudian bergegas ke kamar mandi dan setelahnya berganti pakaian, tanpa sarapan atau meminum sesuatu ia pun bergegas ke luar dari rumahnya dan melaju entah ke mana.
...***********...
Di PT. Sam Beauty
Aku pagi ini masih berada di ruangan William. Bos baru tempatku bekerja, sebenarnya sampai sekarang aku masih belum nyaman dengan keadaan di sekitarku, terlebih lagi dengan pekerjaanku sebagai sekretaris dari William.
Memang, pekerjaannya tidak berat, hanya mengikuti ke mana pun dia pergi, ke mana pun dia bertemu dengan klien, mencatat apa yang perlu dicatat dan selebihnya aku masih bisa duduk santai jika William tidak lagi bepergian.
Tapi, perasaan masa lalu dan juga rasa bersalah masih saja mengekor di belakangku, mengingat kembali apa yang telah aku lakukan padanya tapi kini ia malah bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa dan selalu bersikap manis seperti saat aku masih bersama dengannya.
Aku memang sempat ingin berhenti kemarin karena aku tidak begitu nyaman berada di dekat William, tapi kemudian aku mengurungkan niatku karena aku sadar semakin aku menghindar maka semakin sulit untuk bisa melewati masa di mana memang seharusnya aku melewati hal yang sudah aku mulai.
"Jangan melamun" suara pelan William yang tepat di depanku membuat aku terkejut karena sedari tadi aku melamun sambil memainkan bolpoin.
"Ti-tidak, saya tidak melamun" aku terlonjak dan kemudian berdiri, tapi William malah tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya. Aku berdiri tepat di belakang kursi yang tadi aku duduki sedangkan William berada di seberang mejaku
Aku kemudian mengamati diriku sendiri, mulai dari rambut yang aku biarkan tergerai, kemeja kotak-kotak sebatas siku yang aku pakai, celana panjang waran hitam sampai sepatuku, tapi tak aku dapati hal yang aneh di sana. Hingga pada akhirnya aku mengambil ponselku dan berkaca di sana tapi lagi-lagi tak aku dapati hal janggal di sana dan entah kenapa William masih saja tertawa.
"Ada yang lucu, Pak?" tanyaku kemudian saking penasaran
William menggeleng, "Tidak perlu berbicara formal, tidak ada orang lain di sini!" lanjutnya, masih berdiri di sana sambil menyilangkan kedua tangannya di dada
__ADS_1
"Tapi kan Bapak atasan saya dan saya melakukan itu karena saya menghormati Bapak" jawabku kemudian
"Jangan ngeyel" William mencondongkan tubuhnya ke arahku membuatku seketika gugup dan memundurkan langkahku
"Panggil aku Willy, sama seperti waktu itu, saat kamu berdua denganku. Dan panggil aku Pak Adi ketika ada orang lain atau kita sedang bersama klien" ucapnya lagi dan kemudian ia pun duduk kursi miliknya,
Kursi dan meja kerjanya yang berada tidak jauh dari tempatku dan mungkin hanya berjarak beberapa meter sedangkan mejaku yang berada tepat di samping pintu masuk ruangan ini.
Aku sendiri sekarang masih mematung di belakang kursi kerjaku, memegangi dadaku yang kini bergemuruh dan berdetak lebih cepat
"Duduklah, apa kamu tidak lelah terus-menerus berdiri!" ucapnya sedikit lantang dan seketika aku pun duduk
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Nes. Aku akan terus mempertahankan semuanya sampai aku bisa memilikimu" batin William sambil terus tersenyum, sesekali menatapku dan laptopnya bergantian
Keheningan meliputi kami berdua, tidak ada percakapan yang penting. Aku sendiri sampai sekarang tidak melakukan apa pun hanya duduk dan sesekali membalas pesan dari Ayah.
Tidak ada jawaban dari William, ia masih terus fokus pada lapotopnya, meski sesekali aku melihatnya tersenyum dan entah apa yang ia lihat.
"Pak" Sekali lagi aku memanggilnya tapi dia masih diam. Hingga pada akhirnya aku pun bangun dan mendekat ke arahnya
"Pak, Bapak Adi yang terhormat!" William tersenyum dan mendongakkan kepalanya tapi ia tidak menjawab
"Apa yang harus saya kerjakan?" lanjutku tapi sekali lagi dia tidak menjawab dan hanya tersenyum, aku merasa jengkel karena ulahnya hingga pada akhirnya aku pun sadar jika kau tidak boleh memanggilnya dengan formal ketika tidak ada orang lain.
Aku ragu melakukannya, karena jujur saja aku masih gugup dan canggung ketika memanggil namanya. Berulang kali aku meyakinkan diriku sendiri tapi aku masih ragu, hingga pada akhirnya aku pun tidak bisa berbuat apa-apa dan menurutinya.
__ADS_1
"Wi-Willy" suaraku lirih dan agak tergagap. Sang pemilik nama pun kembali tersenyum dan semakin membuatku gugup, senyum manis itu, senyuman yang dulu aku rindukan tapi pada akhirnya aku tinggalkan dan kini senyum itu kembali hadir dan berada tepat di depanku
"Iya, sayang" jawabnya pelan dan membuatku membulatkan mataku, aku tidak mengira akan mendapatkan jawaban seperti ini, jawaban yang juga selalu aku rindukan dulu tapi entah untuk sekarang
"Jangan bercanda, William" kataku ketus sambil berwajah masam
"Aku tidak bercanda, aku tulus mengatakannya" jawabnya lagi dan berdiri kemudian berjalan ke arahku dengan tatapan yang tajam
Aku otomatis mundur ketika laki-laki berjas coklat itu mendekat dengan mata yang menatap tajam ke arahku sekan aku mangsa yang siap ia terkam
"Jangan mendekat!" teriakku sambil melambaikan tangan ke arahnya, dia pun menurut dan berhenti tapi lagi-lagi dia tersenyum dan aku pun tidak tahu apa maksudnya
"Apa yang akan kamu lakukan, William?" lanjutku sambil berjalan mundur lagi
"Ayo!" ucapnya, dan tanpa aba-aba ia pun menarik lenganku dan otomatis aku mengikutinya
"Ke mana?" William masih diam dan terus mengikuti tanganku ke luar dari ruangan itu,
"Tunggu!" dan dia pun berhenti, dari situ aku pun melepasakn tanganku dari genggamannya dan kemudian secepat kilat kembali ke ruang kerja mengambil tas dan ponsel milikku kemudian berjalan mengikuti William yang kini sudah berjalan meninggalkan aku
Aku tidak bisa menjangkaunya, langkah kakiknya yang lebar membuatku merasa lelah mengejarnya. Untung saja sekarang belum jam istirahat makan siang sehingga tidak ada satu pun karyawan yang melihatku mengejar William
Aku dan William sekarang sudah sampai di tempat parkir, William masuk ke dalam mobilnya terlebih dahulu dan aku pun mengikutinya meski dengan susah payah,
"Kita akan ke mana, William?" tanyaku sambil terus mengatur nafas yang tersendat
__ADS_1
"Kita akan menemui Pak Direktur" ucapnya singkat kemudian melajukan mobilnya ke sebuah tempat yang aku pun tidak tahu di mana persisnya.
...***************...