
Alexa tertawa dengan sangat lantangnya mendapati Mbak Sumi yang kini mulai ketakutan akan apa yang baru saja ia tunjukkan.
Ia merasa seolah hampir menang dan kemudian bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Tinggalkan Prima, maka dia akan selamat!" terang Alexa
"Kami sebentar lagi akan menikah, aku tidak mungkin meninggalkannya" jawab Mbak Sumi sesenggukan
"Menikah katamu?" Alexa mendekat ke arah Mbak Sumi dan kembali menampar pipinya
"Apa pernikahanmu dan juga cintamu itu lebih penting dari pada nyawa laki-laki tua itu, jika demikian maka lakukanlah, maka dengan segera kamu akan melihat mayatnya" ancam Alexa lagi dan untuk ke sekian kalinya pendirian Mbak Sumi mulai goyah
"Pikirkan baik-baik perkataanku, aku memberinya waktu 3 hari mulai dari sekarang. Jika dalam waktu itu kamu tidak bisa memberi jawaban maka aku simpulkan kamu lebih memilih laki-laki tua itu tiada!"
Alexa kemudian pergi dari sana Meninggalkan Mbak Sumi yang kini masih meronta dan menangis agar Pamannya dilepaskan
"Jaga dia baik-baik, beri dia makan tepat waktu!" perintah Alexa pada dua laki-laki yang kini berjaga di pintu rumah tua itu. Sedangkan Alexa sendiri kini melaju entah ke mana.
Kini Mbak Sumi hany bisa menangis dan menangis, ia tidak bisa berpikir jernih karena hal ini. Di satu sisi ia begitu mencintai Prima dan sangat ingin me ulah dengan cinta yang selama ini ia perjuangkan
Tapi di sisi lain, ia tidak mungkin mengorbankan keluarga satu-satunya yang ia miliki saat ini karena ia begitu menyayangi Pak Samin.
...***********...
Aku masih berkeliling mencari tempat indekos, seperti rencana awal. Setelah aku diterima bekerja maka aku putuskan untuk ke luar dari rumah dan menikmati masa-masa muda seperti wanita yang lainnya.
__ADS_1
Kulajukan motorku di dalam yang sempit yang berada tepat di belakang kantor tempat aku bekerja sekarang.
Hampir satu jam lamanya, aku bertanya ke sana ke mari untuk mencari tempat tinggalnya cocok dan sesuai dengan gaji dan juga dompetku.
Akhirnya, pandangan mataku tertuju pada sebuah rumah berlantai dua dan bercat biru tua, di sana terpampang tulisan jika masih tersedia kamar untuk pencari indekos dan terlebih lagi dikhususkan untuk perempuan.
Aku pun menghentikan motornya tepat di depan rumah itu dan menghampiri seorang Satpam yang kebetulan tengah berjaga di sana.
"Selamat siang, Pak" sapaku pada Satpam yang kini penggembala sebuah koran itu.
Ia pun segera melipat korannya dan kemudian menjawab, " Selamat siang juga, ada yang bisa Bapak bantu?"
"Saya ke sini mau cari tempat indekos, Pak. Apa masih ada?" dia pun mengangguk dan mengatakan jika masih tersisa beberapa kamar.
"Alhamdulillah" ucapku dan dia pun mengajakku masuk untuk bertemu dengan sang pemilik.
"Assalamualaikum, ada yang bisa saya bantu?" ucapnya ramah dan aku pun segera mengatakan niatku datang ke tempat ini.
"Mari duduk dulu" dia mempersilakan, aku pun kemudian duduk di kursi yang berada di teras rumah itu. Pak Satpam pun kemudian kembali ke tempatnya.
Dengan senyum yang terus mengembang, akhirnya dia pun menjelaskan jika di tepat ini memang masih ada beberapa kamar kosong. Dan dia pun menjelaskan tentang harga sewa dan juga aturan apa saja yang berlaku di sana.
Aku hanya mengangguk mendengar semua yang ia jelaskan, aku sejak awal sudah merasa cocok dengan tempat ini kini bertambah semakin yakin setelah harga sewa setiap bulannya sesuai dengan gaji dan juga dompetku.
"Ya sudah, jika memang kamu cocok silakan masuk saya akan tunjukkan kamarnya" ucap Ibu kos itu
__ADS_1
Aku mengangguk, tapi sebelum aku masuk ke dalam, aku pun membawa masuk motor dan juga barang yang lainnya dan setelahnya aku pun segera masuk.
Ibu kos itu kemudian membawaku masuk ke dalam rumahnya, rumah yang terasa begitu nyaman dan juga terlihat sangat bersih.
Di lantai pertama, terdapat empat kamar yang berada di sisi kanan, sebuah dapur kecil serta di tengahnya terdapat satu set sofa berwarna abu-abu lengkap dengan meja kaca kecil berbentuk bulat.
Di sisi kiri ruangan itu terdapat sebuah tangga yang terhubung ke lantai dua, aku pun menaikinya karena kebetulan kamar yang akan aku sewa terdapat di lantai itu.
Aku terus melangkah mengikuti ke mana Ibu kos berjalan, dan akhirnya sampailah pada sebuah kamar yang paling ujung yang memiliki pintu warna coklat itu.
Ibu kos membuka gembok kamar itu dan dari sana terpampang sebuah kamar dengan ukuran sedang, bercat coklat dan memiliki sebuah kasur dan juga lemari yang ukurannya agak besar.
"Ini kamar kamu, jika kamu tidak cocok dengan interior dan juga catnya, kami bisa menggantinya. Dan itu kamar mandinya!" tunjuk ibu kos pada sebuah pintu berwarna putih yang berada di pojok kamar itu.
Aku mengangguk, "Iya, Bu. Tapi sebelumnya saya saya ijin pamit dulu karena saya ingin mengambil semua barang-barang saya terlebih dahulu!"
"Iya, silakan. Ini kunci kamar kamu" aku menerimanya dan dia pun kemudian pergi dari kamar itu.
Setelahnya aku pun kemudian membuka sebuah jendela yang kini berada di kamar itu, setelahnya aku bisa melihat dengan jelas pemandangan dari dalam kamar itu. Lalu-lalang kendaraan bermotor, aktivitas semua orang serta kantor tempatku bekerja pun tampak dari sana, sungguh pemandangan yang sangat menyenangkan.
Beberapa menit berlalu, aku pun segera menyudahinya dan kemudian kembali menutup jendela itu. Aku putuskan untuk pulang dan mengambil semua barang-barangku dan memulai hari-hari baruku di sini.
.
.
__ADS_1
.
jangan lupa untuk like vote dan juga komennya