HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 58


__ADS_3

Aku menyapa setiap orang yang berlalu-lalang yang akan masuk ke dalam ruangan masing-masing. Dan di sana tampaklah seorang wanita yang mengenakan setelan jas biru tua sembari menenteng tas berukuran sedang berwarna hitam yang kemarin Aku temui saat wawancara.


Wanita itu mendekat dan kemudian menyapaku, " Agnes, kan?" aku mengangguk dan dia pun mengulurkan tangannya dan menyebutkan namanya.


"Rosalina, kamu bisa memanggilku Mbak Rosa. Saya sekertaris pak Direktur!" jelasnya


"Iya, Mbak Rosa" dan dia pun kemudian mengeluarkan sebuah map berwarna hijau dari dalam tas yang ia bawa


"Baca dulu setelah itu baru tanda tangan. Jika ada yang tidak dipahami, silakan ke ruangan saya" lanjutnya sembari menunjuk sebuah pintu yang letaknya berada tepat di samping ruangan pak Direktur.


"Iya, Mbak" dan dia pun kemudian masuk ke dalam ruangannya


Aku pun kemudian kembali duduk di dalam ruanganku, ruangan yang hanya disekat dinding kaca sebagai pembatas antar ruangan di gedung bertingkat dua ini.


Dengan seksama aku pun membaca apa yang ada di dalam map tersebut, ternyata isinya adalah sebuah kontrak kerja. Satu per satu kata-kata yang tertera di sana kubaca tanpa jeda, memahami apa yang ada sebelum aku menanda tangani kontrak kerja itu.


Aku terkejut ketika di dalam kontrak itu menyebutkan jika aku harus menjalani masa training selama tiga bulan dan jika dalam waktu tiga bulan itu aku tidak bisa menjalankan semua pekerjaanku dengan baik maka aku harus bersiap untuk tidak menerima gaji sepeser pun.


Dan satu lagi, ternyata di sini aku harus bekerja sebagai sekertaris dan bukan sebagai staff


"Kontrak kerja macam apa ini, kenapa harus seperti ini" aku bermonolog sendiri sembari menutup kembali map itu


"Bukankah pada awalnya di sini mencari staff pemasaran tapi kenapa sekarang menjadi sekertaris?" lanjutku membuka dan membaca kontrak kerja itu lagi.


Tapi tulisan itu tidak berubah dan malah membuatku pusing, aku pun beranjak dan berniat untuk masuk ke ruangan Mbak Rosa mencoba mencari kejelasan dari isi kontrak itu.


Namun, belum lagi aku ke luar dari ruangannya, tiba-tiba Mbak Rosa muncul di hadapanku.


"Mau ke mana?" tanyanya


"Eh, Mbak Rosa. Ini Mbak, baru saja saya mau ke ruangan Mbak. Mau tanya soal ini" aku menunjukkan map.watna hijau itu.

__ADS_1


"Kenapa memangnya, ada yang tidak kamu mengerti?"


"Iya, Mbak. Kok iso kontraknya kayak gini ya?" aku membuka map itu dan kemudian menunjukkan poin di mana aku harus bekerja sebagai sekertaris dan bukan staff keuangan


"Oh, itu. Maaf ya, Nes. Memang kemarin perusahaan ini mencari staff pemasaran tapi berhubung pak Direktur membutuhkan sekertaris lagi jadi ya dengan sangat terpaksa posisi itu harus kamu tempati" jelasnya lagi


"Kan udah ada Mbak Rosa, kenapa harus cari sekertaris lagi?" Mbak Rosa tersenyum dan kemudian menjelaskan jika pak Direktur mencari sekertaris untuk wakilnya dan sedangkan Mbak Rosa sendiri masih menjadi sekertaris dari pak Direktur


"Oh, jadi perusahaan ini dikelola dua orang itu Mbak?" Mbak Rosa mengangguk


"Iya, mereka berdua berteman dan akhirnya memutuskan untuk memulai usaha. Tapi nanti tugasmu bukan di kantor ini, melainkan dilapangan. Karena pak Wakil Direktur bertugas di lapangan dan jarang ke kantor" jelas Mbak Rosa lagi


Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan dari Mbak Rosa. Aku sendiri sebenarnya ragu dengan ini semua, karena semenjak awal aku sendiri tidak punya dasar keterampilan untuk menjadi sekarang sekertaris .


Dan terlebih lagi, aku juga takut dan malas jika nanti wakil Direktur kali ini memiliki kelakuan yang sama seperti cerita pada novel-novel ataupun cerpen.


Wakil Direktur yang arogan, galak, suka main perempuan dan yang lebih menjengkelkan lagi suka berganti-ganti pasangan.


Membayangkannya saja sudah membuatku pusing dan kepalaku berdenyut apalagi jika harus menghadapinya.


Tak berselang lama, ponsel Mbak Rosa berbunyi, ia pun menjawab panggilan itu sambil sesekali melirik ke arahku. Setelah panggilan itu berakhir ia pun kemudian memberikan sebuah alamat padaku yang ia tulis di secarik kertas yang ia ambil dari meja kerjaku


"Ini pekerjaan pertamamu, temui pak Wakil Direktur di alamat ini dan temani dia untuk survei lokasi untuk membuka cabang pemasaran produk perusahaan kita" jelasnya sembari menyodorkan secarik kertas yang berisikan alamat yang harus aku tuju. Dan Mbak Rosa juga memberiku sebuah kartu nama yang hanya berisi nomor telepon dari pak Wakil Direktur.


Aku menerimanya, setelah berpamitan dengan Mbak Rosa aku pun segera beranjak ke sana.


"Agnes, tunggu" teriak Mbak Rosa ketiak aku sudah berjalan beberapa meter


"Iya, Mbak. Kenapa?"


"Kamu harus tanda tangani kontrak ini dulu, dan baru setelahnya kamu menemui pak Wakil Direktur" aku pun berjalan kembali ke arah Mbak Rosa yang kini memegang map hijau itu dan sebuah bolpen

__ADS_1


"Pak wakil Direktur itu siapa namanya, Mbak? tanyaku sembari menandatangani kontrak itu


"Namanya Pak Adi" jelasnya


"Sudah" ucapku setelah menandatangani kontrak itu, Mbak Rosa tersenyum dan kemudian memintaku untuk segera pergi.


...**************...


Sepuluh menit berlalu, aku pun sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar, setelah memarkirkan kendaraanku, aku pun kemudian segera masuk ke sana dan mencari pak wakil Direktur yang aku pun belum tahu seperti apa wajahnya.


Aku pun kemudian mencoba menghubungi nomor yang diberikan oleh Mbak Rosa, berharap agar aku bisa cepat menemuinya di antara banyaknya orang yang ada di pusat perbelanjaan ini.


"Selamat pagi, dengan Pak Adi?" ucapku setelah panggilan itu tersambung. Aku sendiri kini masih berdiri mematung di depan pintu masuk mall itu sembari menghubungi seseorang yang akan aku temui


"Iya, selamat pagi. Ini Agnes?" jawabnya


Deg,


"Suara itu sepertinya aku kenal, tapi apa mungkin. Ah tidak mungkin hanya kebetulan" batinku sesaat setelah mendengar suara Pak Adi yang mirip dengan suara Willy


"I-iya, Pak. Saya sekarang sudah berada di mall XY, Bapak berada di mana biara saya menghampiri Bapak ke sana" jawabku agak gugup


"Saya di lantai tiga, cepat ke mari!" ucapnya kemudian mematikan panggilan itu.


Aku pun segera bergegas ke lantai tiga, mencari Pak Adi yang kini berada di sana. Sesampainya di sana, aku masih terus mencari orang yang menurutku mungkin itu adalah Pak Adi yang dari suaranya saja masih terdengar muda dan mungkin bahkan orangnya juga memang masih muda.


Beberapa menit aku mencarinya, tapi tak kunjung aku temui. Aku bertanya pada mereka dan tidak sedikit dari mereka menjawab bahwa dirinya bukan Pak Adi yang aku maksud.


Aku mencoba menghubunginya, namun naas , dia tidak menjawab panggilanku.


Selang beberapa detik pandanganku menangkap seseorang yang sudah lama sekali tidak aku lihat, laki-laki yang memakai kemeja putih lengan panjang dan juga celana bahan kain berwarna hitam tengah duduk sambil menikmati minuman dan sesekali melihat ke arah ponselnya.

__ADS_1


Laki-laki yang aku sakiti tapi ia tidak.pernah sekali.pun membalas kesakitan itu, laki-lakiyang setia tapi dengan sengaja aku tinggalkan begitu saja demi hal yang kini tidak bisa aku miliki


"William" Gumamku lirih sambil terus menatap ke arahnya,


__ADS_2