HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 65


__ADS_3

Prima kemudian berjalan ke luar tempat itu lalu duduk di sana sari mengawasi tempat sebelah yang sampai saat ini masih biasa-biasa saja.


Lelah memang menghampirinya, tapi ia masih harus di sana,mengawasi hal yang menurutnya memang mencurigakan.


Beberapa jam berlalu, tapi apa yang ia inginkan tidak ia dapatkan hingga pada akhirnya restoran milik Alexa tutup dan sang pemilik ke luar dari tempat itu bersamaan dengan para karyawannya.


Prima berdiri dan kemudian menghampiri wanita berbaju merah itu, "Alexa tunggu!" Lanjut Prima sambil berlari mendekat ke arahnya


Sang pemilik nama pun menoleh, ia lalu berhenti berjalan dan menunggu Prima. Para karyawan yang semula mengobrol dengannya lalu seketika berpamitan danenjauh dari bosnya, mereka tidak ingin mengganggu atasannya yang kini tengah bersama seseorang.


"Aku kira kamu sudah menyerah, tapi ternyata tidak " batin Alexa dengan senyuman tipis menghiasi bibir merahnya itu.


"Loh Prima, apa kabar?" sambung Alexa basa-basi tapi Prima hanya memadang dengan wajah datar dan tidak membalas senyuman Alexa


"Aku baik, ada hal yang ingin aku bicarakan, apa kamu punya waktu?" Prima langsung mengutarakan niatnya dan langsung dijawab anggukan oleh Alexa.


"Kita bisa bicara di dalam, apa kamu tidak keberatan?" Prima menggeleng dan setelahnya Alexa kembali membuka pintu restoran miliknya dan juga menghidupkan kembali lampu yang telah ia matikan sebelumnya.


Prima pun ikut masuk kemudian duduk. Alexa sendiri berlalu ke arah dapur untuk membuatkan Prima minum. Beberapa detik kemudian Alexa kembali membawa dua buah gelas yang berisi minuman.


Alexa meletakkan gelas itu tepat di depan Prima dan satunya lagi di hadapannya.


"Ada hal penting apa Prim, sampai kamu menyempatkan diri mengunjungiku?" Ucap Alexa pura-pura, ia sebenarnya tahu apa alasan Prima mendatanginya


"Ke mana kamu membawa Sumi, apa yang sebenarnya kamu inginkan?" Prima langsung bertanya tanpa basa-basi pada Alexa yang memang sangat ia curigai


"Siapa, Sumi?" jawab Alexa pura-pura

__ADS_1


"Jangan berpura-pura, Nes. Aku tahu ini semua pasti ulahmu, aku sudah lama mengenalmu dan aku yakin ini semua ada hubungannya denganmu!" Prima meninggikan suaranya


"Jangan menuduhku, Prim. Aku memang menyukaimu dan aku memang harus mendapatkan apa yang aku inginkan, tapi aku bukan orang yang akan mengambil sesuatu hal dengan cara kotor!" Alexa tak kalah tinggi dengan suaranya, ia harus tetap menyangkal apa yang sudah ia lakukan dan membuat Prima percaya bahwa dirinya tidak terlibat


"Jangan menyangkal, Nes. Lebih baik jujurlah padaku sekarang agar aku bisa memaafkanmu dan tidak membencimu" sambung Prima


"Aku tidak menyangkal apa pun, lagi pula bukti apa yang kamu miliki, sehingga kamu bisa menuduhku dengan hal yang tidak mungkin aku lakukan" Sekali lagi Alexa menyangkal


"Aku memang tidak punya bukti yang cukup, tapi aku tahu bagaimana sifatmu"


"Sifat yang seperti apa yang kamu ketahui?" Alexa tampak tersenyum sinis menghadapi Prima yang masih teguh pada pendiriannya


"Sifat ambisius dan juga ingin memiliki semua hal yang kamu inginkan"


"Sifat seperti itu dimiliki oleh setiap orang termasuk juga dirimu, dan hal itu tidak bisa membuktikan apa pun jika aku terlibat dalam hilangnya kekasihmu itu!" Alexa tampak tenang menghadapi Prima yang terus berusaha mewujudkan pemikirannya.


Rasa gugup tengah Alexa rasakan, tapi ia mencoba menutupinya dengan senyuman tipis yang terukir di sudut bibir merahnya. Ia terus mencoba beradu pandang dengan Prima agar kebohongannya tidak mudah terungkap meski kini di kakinya sedikit gemetar karena tatapan mematikan dari Prima


"Baik, jika kamu tidak mau mengakuinya, aku akan berusaha mencarinya sendiri. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jika suatu saat nanti aku tahu kamu adalah orang yang berada di balik kejadian ini maka jangan pernah menyebut namaku meski kita bertemu karena kita akan menjadi orang asing sejak saat itu!" Prima lantas berdiri dan kemudian ke luar dari restoran Alexa


Alexa tidak berdiri, ia masih duduk sambil menggenggam erat gelas yang ada di hadapannya sambil melihat ke arah Prima yang kini hanya tampak punggungnya itu, ia merasa sangat emosi tapi tak mampu ia luapkan karena itu akan membuatnya terlihat seperti mengakui hal yang sudah susah payah ia sangkal


Setelah Prima pergi sambil mengendarai motornya ia lanjut berdiri dan membanting gelas yang sedari tadi ia pegang, ia melupakan emosi yang sejak tadi ia pendam sambil berteriak sekuat tenaga menyalurkan kemarahan dan kesakitan karena cintanya yang kini benar-benar kandas.


Gelas yang beradu dengan lantai itu langsung terpencar ke segala arah dan minuman yang ada di dalamnya itu pun langsung membanjiri lantai putih itu


Dengan diliputi rasa marah, ia kemudian merogoh ponsel uang ia simpan di dalam tas kecilnya dan menghubungi seseorang

__ADS_1


"Tetap awasi mereka, jangan sampai lengah. Aku akan memikirkan rencana selanjutnya!" ia kemudian menutup panggilan itu dan berjalan ke luar dari restoran miliknya.


...************...


"Pulanglah, Will. Aku akan segera masuk" kataku saat aku sudah sampai di depan gerbang tempat kosku. Sudah berkali-kali aku mengatakan hal itu tapi jawabannya tetap sama


William yang seharian ini mengajakku berkeliling, entah itu termasuk bagian dari sebuah pekerjaan atau memang karean ingin terus bersamaku, tapi yang pasti aku menganggapnya hanya sebagian sebuah pekerjaan walaupun tak bisa aku pungkiri sikapnya sangat manis dan membuatku sedikit gugup


"Masuklah terlebih dahulu, aku akan pulang setelahnya" ucapnya sambil berjalan ke luar dari mobilnya yang kini terparkir persis di depan motorku dan sekali lagi jawaban itu yang aku dengar


"Baik, aku kan segera masuk. Hati-hati!"Aku pun berlalu masuk sambil menaiki motor milikku,


"Tunggu!" aku menoleh dan ia pun tersenyum


"Hanya itu?" sambungnya dan aku pun menatapnya


"Maksudnya?" lanjutku


William berjalan ke arahku yang kini sudah berada di dalam halaman tempat kosku, "Apa tidak ada hal lain yang ingin kamu ucapkan?"


Aku menggeleng, dan dia pun segera mencubit hidungku, " Istirahatlah, dan jangan lupa mimpikan aku malam ini" bisiknya tepat di telingaku dan membuatku kembali gugup, ia menyadari kegugupanku dan itu membuatnya kembali tersenyum.


"Aku ...." belum lagi William menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Ibu kos datang dan mendekat ke arah kami berdua


"Apa kalian suami istri, jika bukan maka sebaiknya cepat hentikan kedekatan kalian, tidak baik!" lanjutnya menasihati aku dan William, kami berdua hanya diam dan tertunduk. Malu rasanya seperti maling yang ketahuan mencuri


"Maaf, Bu. Kami memang bukan suami istri sekarang tapi kami akan menjadi suami istri secepatnya. Saya sudah bertunanagn dengannya. Iya kan, sayang?" kata William sambil menendang kakiku

__ADS_1


__ADS_2