HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Kembali


__ADS_3

Happy reading.....


Setelah dari Cafe milik Maya, mama Gisel pulang bersama dengan Rania. Wanita itu juga sudah membujuk Maya untuk kembali ke kediaman Dalmiro.


Awalnya Maya menolak namun, mama Gisel telah berhasil membujuknya, sehingga wanita itu pun akhirnya luluh dan mau untuk kembali ke rumah tersebut.


Hari telah berganti, pagi ini mereka sedang berada di meja makan. Namun tiba-tiba saja mama Gisel berkata, "Kita tunggu seseorang untuk bergabung di sini," ucap mama Gisel.


"Untuk bergabung? Memangnya ada siapa, Mah?" tanya Carlen.


Freya juga menatap ke arah mertuanya dengan heran. "Nanti juga kalian akan tahu," jawab mama Gisel.


Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba ada sebuah suara, di mana Carlen dan juga Freya mengenal suara tersebut, dan ternyata itu adalah Maya.


"Assalamualaikum," ucap Maya sambil masuk ke ruang makan.


"Waalaikumsalam, kamu datang juga sayang. Sini duduk!" ajak mama Gisel sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.


Freya terlihat tidak suka saat melihat Maya kembali lagi ke kediaman Dalmiro. Apalagi saat mendengar mama Gisel menyebut Maya dengan kata sayang. Sungguh hati Freya benar-benar sangat geram.


'Kenapa Mama tiba-tiba berubah sikapnya kepada Maya? Lalu, kenapa dia menyebutnya dengan kata sayang? Apakah Mama Gisel sudah menerima keberadaan Maya?' batin Freya.


Begitupun dengan Carlen, dia juga sangat bingung dengan perilaku mamanya. Karena wanita itu sudah menerima Maya. Padahal tadinya mama Gisel juga sangat membenci Maya, tetapi yang Carlen lihat sekarang, adalah mama Gisel seperti dekat dengan istri pertamanya.


'Mama kenapa ya, kok kayak deket gitu sama Maya? Bukannya mama selama ini benci ya sama dia? Kenapa sekarang tiba-tiba aja berubah?' batin Carlen merasa heran.


"Mah, kok si wanita udik ini balik lagi sih ke rumah? 'Kan dia udah diusir dari sini? Kenapa---"

__ADS_1


"Siapa yang berani mengusir cucuku, hah! Seharusnya yang pergi dari sini itu bukan Maya, tapi kamu!" bentak kakek Albert yang merasa geram dengan ucapan Freya.


"Bukan gitu Kek, maksud aku, tapi--"


"Cukup! Jika berani kamu menghina Maya lagi, kamu yang akan saya tendang dari rumah ini, paham!" geram kakek Albert sambil menatap tajam ke arah wanita itu.


"Sudah sudah, kita sarapan dulu! Maya, selamat datang di rumah ini lagi. Semoga kamu bisa betah tinggal di sini lagi, dan sekarang kamu nggak usah ngerjain pekerjaan pelayan dan juga sebagainya. Kamu kerjain aja tugas sebagai istrinya Carlen," jelas mama Gisel sambil mengusap tangan Maya.


"Iya Mah," jawab Maya. Dia benar-benar sangat bersyukur, karena mama Gisel sudah mau menerimanya kembali. Apalagi melihat perlakuan wanita itu terhadap dirinya sekarang benar-benar sangat jauh berbeda.


"Carlen, kamu ajari istri keduamu itu tatakrama dalam berbicara! Sebelum kakek jait mulutnya!" tegas kakek Albert.


"I-iya Kek," jawab Carlen tak berkutik.


Mereka pun makan di dalam diam, tak ada yang bersuara sedikitpun. Begitu juga dengan Carlen, tapi siapa yang tahu jauh di dalam lubuk hatinya dia begitu sangat senang melihat kehadiran Maya kembali.


Entah Carlen pun tidak tahu, rasa apa itu, apakah dia senang karena sebentar lagi dirinya akan puas untuk menyiksa Maya, atau karena memang hari-harinya terasa hambar tanpa kehadiran wanita tersebut.


"Tunggu!" cegah kakek Albert, "Maya, ke sini!" melambaikan tangannya ke arah Maya. Kemudian ia mendekat, dan menarik Maya lalu menaruh tangan wanita itu di lengan kekar milik Carlen.


"Kamu juga istrinya, bukan hanya si ular ini saja. Antarkan suamimu ke depan! Dan kamu juga Carlen, resiko mempunyai dua istri harus adil, jangan cuma maunya satu aja," jelas kakek Albert.


Freya yang melihat itu pun merasa geram, pengen sekali dia menjambak dan juga menampar Maya, tapi tidak bisa. Sebab di sana ada kakek Albert.


Maya mencium tangan suaminya, setelah itu Carlen berangkat ke kantor. Sementara Freya mendekat ke arah Maya, lalu berbisik, "Enak ya kau kembali lagi ke rumah ini. Sepertinya kau menggunakan sebuah mantra, agar meluluhkan mama Gisel. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi! Kau akan tetap dibenci di rumah ini, paham!"


Maya yang mendengar itu pun tersenyum tipis, kemudian dia menatap ke arah Freya dengan tatapan mengejek, "Kenapa kau harus begitu marahnya? Apa kau takut, posisimu tergantikan atau tergeserkan olehku? Jika memang mas Carlen mencintaimu, dan hanya kamu ratu di dalam hatinya, seharusnya tidak usah takut jika nanti akan digeserkan olehku. Berarti mentalmu belum terlalu kuat!" jawab Maya dengan penekanan, setelah itu dia masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Freya yang mendengar jawaban madunya merasa geram, dia mengepalkan tangannya. Ingin sekali merobek mulut Maya, tapi sayang Freya harus menahannya. Sebab di sana ada kakek Albert, dan saat wanita itu masuk ke dalam, tiba-tiba saja kakek Albert memanggil dirinya.


"Freya sini kamu! Kakak mau bicara," ucap kakek Albert.


Wanita itu memutar bola matanya dengan malas. 'Aduh, ini aki-aki mau ngomong apa lagi sih? Jangan-jangan dia mau minta gue buat ngerjain pekerjaan pelayan? Kapan sih dia balik ke Jerman lagi?' batin Freya dalam hatinya.


"Iya Kek," jawab Freya dengan lembut, padahal saat ini hatinya tengah gondok.


"Tolong kamu bersihkan kolam renang itu! Tuh banyak banget sampah-sampahnya," tunjuk kakek Albert pada kolam renang yang terlihat begitu sangat kotor oleh daun-daun kering. Entah dari mana daun itu berserakan, tapi begitu sangat banyak, membuat Freya seketika mengerit heran. Padahal di sana sama sekali tidak ada pohon.


"Loh, ini kolam habis ketimpahan longsor dari mana Kek? Kenapa kotor sekali? Airnya juga keruh lagi? Kenapa banyak daun-daunnya kayak gini?"


"Entahlah, mungkin kolam ini menyedot hal-hal negatif dari orang yang punya niat jahat. Ya anggap saja seperti itu! Kamu bersihkan ya, kuras semua kolamnya! Kamu bersihkan sampai benar-benar bersih, dan ganti airnya! Saya mau santai dulu bersama cucu saya," ucap kakek Albert, kemudian dia memanggil Maya dan juga Rania untuk duduk di kursi yang ada di dekat kolam.


"Iya Kek, Kakek manggil kami?" tanya Rania sambil menggandeng tangan Maya.


"Iya sini duduk! Kakek mau ngobrol-ngobrol sama kalian," jawab kakek Albert sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.


"Loh kek, ini kenapa kolamnya kotor banget, banyak daun-daunnya lagi?" tanya Rania dengan heran bercampur wajah yang kaget.


"Nggak tahu Kakek juga, udahlah biarin aja. Lagian ada dia kok yang bersihin," jawab kakek Albert sambil mengangkat dagunya ke arah Freya.


Rania menganggukkan kepalanya sambil membentuk huruf o. "Yang bersih ya! Kalau nggak bersih, nggak digaji loh?" ledek Rania.


"Biarin aja dia ngerjain semua itu. Biar tahu rasa. Lagian selama ini sok nge-bos sih di rumah. Apa-apa dikerjain sama Maya? Sekarang gantian lah!" lirih kakek Albert.


Freya mulai menguras air kolam tersebut, dan mengambil daun-daunnya. Namun seketika saja kakinya terpeleset dan masuk ke dalam kolam yang terlihat begitu keruh.

__ADS_1


Kakek Albert memang sengaja meminta pelayan untuk mengotori kolam itu, karena dia ingin mengerjai Freya. Dan selama dia di sana, tentu saja Freya tidak akan pernah bisa berkutik dengan semua perintahnya.


BERSAMBUNG......


__ADS_2