HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 84. To-tolong


__ADS_3

Di tempat lain


Seorang laki-laki bertubuh tinggi, memakai setelan warna hitam dan berkaca mata hitam kini duduk di sebuah kursi yang berada di bawah pohon besar. Ia telah menunggu di sana sekitar 15 menit demi menjalankan perintah dari bosnya


Tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna putih melintas dan berhenti tepat di depan laki-laki itu, ia pun berdiri


"Roy?" tanya supir mobil mewah itu dan sang pemilik nama pun mengangguk. Tanpa curiga ia pun masuk ke dalam mobil itu. Ia pikir itu adalah mobil yang akan menjemputnya sesuai apa yang dikatakan oleh bosnya


Sesampainya di dalam mobil, Roy pun terkejut karena mendapati orang-orang yang tidak ia kenal. Ia pun berusaha berontak dan ingin melepaskan diri namun sial, ia tak bisa berkutik karena orang-orang yang telah menyerang dirinya jauh lebih kuat


Beberapa saat kemudian, Roy pun tergeletak tak sadarkan diri. Ia pun kemudian diikat dan di bawa ke suatu tempat, semua yang ada pada dirinya telah dilucuti dan diganti dengan pakaian yang lain, data dirinya yang ia simpan di dalam dompetnya pun tak luput dari apa yang diambil oleh seseorang yang kini telah menggantikan dirinya dan duduk di bawah pohon besar jalan merdeka itu


Mobil mewah itu pun melaju meninggalkan anak buah William yang kini menggantikan Roy dan menunggu mobil yang akan menjemputnya.


Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berwarna hitam pun berhenti tepat di depannya. Seseorang yang bertubuh hampir sama dengan dirinya pun turun dan menyapa, dan kini ia pun menunjukkan identitas palsunya yang ia curi dari orang yang sebenarnya


Tanpa menaruh curiga, laki-laki itu pun diperbolehkan masuk ke dalam mobil dan melaju ke sebuah tempat


...*************...


Di rumah sakit keesokan harinya


Prima merasakan bahagia yang tidak terkira, kekasihnya sudah sadarkan diri dan terbangun dari komanya. Meski sampai saat ini dia belum bisa berkomunikasi langsung tapi ia sudah cukup merasakan angin segar akan kondisi kekasihnya itu, teman-teman yang sejak kemarin menemaninya pun merasa sangat bahagia karena hal itu


Dokter dan Suster pun masih berkutat di sana, memeriksa keadaan pasien yang yang kini sedang terbaring lemah. Selang oksigen yang dulu terpasang, kini telah dilepas, meskipun detak jantungnya masih lemah dan matanya belum terbuka sempurna tapi menurut pemeriksaan dokter, kondisi dirinya sudah lebih baik


"Untuk sementara, pasien belum bisa diajak berkomunikasi. Tunggu beberapa saat dan segera panggil saya jika ada sesuatu yang terjadi" Saran Dokter bertubuh subur itu dan kemudian melenggang ke luar dari ruangan Mbak Sumi

__ADS_1


Prima pun hanya mengangguk dan kemudian mendekat ke arah kekasihnya yang kini belum bisa ia ajak berkomunikasi


"Sepertinya semua sudah kondusif, kami berdua pamit pulang terlebih dulu dan jika ada hal yang membahayakan segera hubungi kami berdua"


"Terima kasih sudah membantu, akan aku hubungi segera jika terjadi sesuatu" Prima pun menjabat keduanya bergantian


"Kami berada tidak jauh dari sini karena kebetulan pekerjaan kami berdua berada di area sekitar rumah sakit" Sekali lagi Prima mengangguk dan kemudian mengantarkan kedua temannya itu pergi dari ruangan yang ia tempat selama ini


Setelahnya ia pun mengambil ponselnya dan mengecek cctv yang terpasang di pintu luar ruangan itu, cctv yang kini tersambung langsung dengan ponselnya dan memudahkan dia untuk mengetahui siapa saja yang mungkin akan berniat jahat pada kekasihnya itu


Pemasangan cctv itu dilakukan semalam oleh dua temannya itu, hal itu dilakukan atas ijin dari pihak rumah sakit dan juga demi keamanan pasien yang kini tengah dirawat


Tak berselang lama, pintu terbuka dan masuklah William, beberapa saat yang lalu sudah dihubungi Prima dan mengabarkan jika Mbak Sumi sudah sadar. Hubungan keduanya kini membaik meski masih ada kecanggungan diantara keduanya tapi mereka tidak ingin menjadikan hal itu sebagai penghalang


"Apa semuanya baik-baik saja?" William membuka pembicaraan sembari mendaratkan bokongnya di sofa ruangan itu


"Baguslah jika seperti itu, aku sendiri juga telah menyiapkan semuanya dan sepertinya berjalan lancar"


"Menyiapakn apa, Will?"


William kemudian bercerita tentang apa yang ia dengar semalam, tentang Alexa dan juga alibinya. William pun juga menceritakan jika dirinya sudah menempatkan seorang anak buahnya di tempat Alexa tanpa sepengetahuan dirinya. Dia juga sudah memasang GPS pada ponsel anak buahnya sehingga ia pun mampu melacak di mana keberadaan mereka, selain itu, alat penyadap suara pun juga sudah terpasang di ponsel anak buahnya itu dan dengan begitu ia pun bisa dengan leluasa mendengarkan pembicaraan dan juga rencana jahat Alexa


Prima pun terlihat murka dan juga geram, ia tidak mengira jika Alexa adalah pelaku di balik kejahatan ini semua. Ia hampir saja tertipu oleh permainan Alexa dan beruntung saja William kini berada di pihaknya


"Aku akan dengan mudah menangkap mereka semua, aku juga sudah menyiapkan beberapa anak buahku untuk melindungi Albert jika saja dia ketahuan" terang William kembali sembari menjelaskan jika anak buahnya bernama Albert itu lah yang kini menggantikan Roy


"Tapi apa kamu sanggup memenjarakan saudaramu sendiri jika memang ia terbukti bersalah" Prima sedikit meragu akan keadaan saat ini. Jujur saja, jika dia berada di posisi William pasti itu semua bukan hal yang mudah dan enteng dirasakan, selain karena memang saudaranya sendiri, nama baik keluarga pun pasti akan dipertaruhkan

__ADS_1


"Yang bersalah memang harus diadili dan yang tidak bersalah harus dilindungi. Untuk sekarang aku akan mengumpulkan semua bukti terlebih dahulu, baru setelahnya aku akan menegurnya tapi jika teguran itu tidak membuatnya berhenti maka hukum yang akan berjalan" William tampak mengeraskan rahangnya, rasa percaya akan kakaknya kini sirna sudah, kecewa tentu saja ia rasakan sekarang tapi ia akan menahannya sampai semua bukti terkumpul


"Terima kasih, Will. Aku merasa sangat tidak hati padamu. Aku sudah banyak menyusahakanmu dan juga mengecewakanmu tapi kamu malah membatuku dan mengatasi semuanya" Prima tampak bersalah, kenangan masa lalu dirinya dan juga kisahnya kembali berputar di otaknya


"Yang sudah ya sudah, jangan mengingatnya lagi. show must go on, Prima" William pun bangkit dan berjalan ke luar, Prima pun mengikuti dirinya


"Kabari aku jika ada hal yang mencurigakan" Prima mengangguk dan dia pun kembali masuk ke dalam ruangannya


"To-tolong" Prima menangkap suara lirih seseorang meminta tolong, ia kembali membuka pintunya dan menoleh ke sana ke mari tapi tidak ia dapati seseorang di sana


Sekali lagi suara itu ia dengar dan baru lah ia tersadar jika itu adalah suara Mbak Sumi, dengan langkah cepat dan juga senyum yang mengbang di bibirnya ia pun mendekat ke arah kekasihnya yang kini sudah sadar sepenuhnya


"To-tolong"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


mon maap ya reader, jika banyak typo. Jika kalian suka dengan novel ini jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen dan juga votenya ya . terima kasih


__ADS_2