
Apa aku boleh duduk?" tanyanya sekali lagi
"Duduklah"
Prima pun menarik kursi yang tadinya dipakai duduk oleh Mbak Sumi dan duduk tanpa ragu. Aku hanya diam, tidak berekspresi apa pun justru malah bingung akan apa yang aku alami saat ini
Mbak Sumi baru saja pergi tapi Prima malah datang kemari, jika saja Mbak Sumi kembali pasti akan menimbulkan masalah baru dan membuatnya kembali ragu
"Kenapa kemari, bukankah Mbak Sumi baru saja pergi?" aku pun menanyakan apa yang aku pikirkan sembari menoleh ke arah pintu keluar
"Apa aku tidak boleh menemuimu, aku merindukanmu" jelasnya tanpa basa-basi, ada getaran tersendiri kala mendengar kata-kata itu. Perasaan aneh yang kucoba pendam dan hilangkan kini seolah tumbuh dan bersemi
"Jangan gila kamu, Prim!" sentakku agak keras membuat orang yang berada di sekeliling menatap kami berdua, aku pun merasa agak malu dengan kondisi ini lalu aku terdiam
Prima hanya tersenyum dan membuatku semakin tidak karuan, senyuman manis itu kembali kulihat setelah sekian purnama
"Aku tidak gila, Nes. Aku masih waras dan aku merindukanmu" ucapnya lirih, aku yang merasa keadaan semakin tidak kondusif pun segera ingin beranjak tapi saat aku berdiri dan membalikkan badan Prima pun dengan cepat menarik lenganku
"Jangan pergi, aku ingin bicara"
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita" Prima malah tersenyum
"Maaf, kali ini aku akan bicara serius. Duduklah!" aku pun melunak dan duduk
"Cepat bicara, aku tidak punya banyak waktu" Prima pun mengangguk
__ADS_1
"Maaf, aku sudah menyakitimu. Aku mengacaukan semuanya. Cintamu, hidupmu dan juga hubungan baik yang kamu jalan dengan Sumi dan juga William" Prima menghela nafasnya kasar di akhir kalimatnya, wajahnya kini berubah tidak seperti saat ia datang. Wajahnya datar dan terlihat dingin
"Aku sudah memaafkan semuanya" sambungku tampa menoleh ke arahnya yang sedari tadi menatapku intens
"Terima kasih, tapi sepertinya aku belum yakin dengan semua itu, aku masih menemukan keraguan dari apa yang kamu katakan"
"Keraguan?" Primae mengangguk
"Hidup ini cuma sekali, Prim. Tidak ada waktu untuk ragu dan menyesali masa lalu yang sudah terjadi, toh itu semua tidak akan pernah berubah"
"Apa kamu yakin?"
"Kenapa harus tidak yakin?" katanya kembali, Prima yang sebenarnya masih ingin mengatakan sesuatu tapi ia tahan kemudian ia pun menunduk
"Baiklah jika memang itu benar adanya, terima kasih sudah memberiku waktu. Aku harap kamu bisa hadir di pernikahanku minggu ini" Prima menyodorkan sebuah undangan padaku, sebelum ini Mbak Sumi juga sudah memintaku datang dan kini Prima menguatkannya dengan sebuah undangan
...************...
Keesokan paginya
Aku sudah bersiap menuju ke kantor Ayah. Setelan baju sepanjang siku berwarna biru muda, celana bahan kain yang panjang serta sepatu berhak agak tinggi warna hitam telah aku kenakan sekarang, wajahku yang aku rias secukupnya dan juga rambut yang kini aku gerai
Aku menyetir mobil merah milikku sedangkan Ayah pergi bersama sopirnya yang mungkin sudah berada di kantor sekarang. Aku memang sengaja membawa mobil sendiri sebab nanti sepulang kantor aku akan mampir ke rumah kosku dan mengambil semua barang-barangku yang masih berada di sana sekalian pamit dengan Bu Mariyam pemilik rumah kos itu
"Selamat pagi, Mbak" sapa Satpam kantor ayah, aku pun hanya mengangguk dan tersenyum. Aku kemudian melangkah menuju sebuah ruangan tempat di mana aku bekerja
__ADS_1
"Selamat pagi, Ayah" sapaku pada Ayah yang kini telah duduk di kursi kebesaran miliknya. Ya, aku sekarang bekerja satu ruangan dengan Ayah, aku sekarang bekerja sebagai sekretaris pribadinya. Ayah memintaku untuk hal itu sebab ia ingin aku mengerti semua pekerjaan ini sebelum akhirnya aku pun yang akan menjalankan semuanya nanti dan menggantikan Ayah memimpin perusahaan kecil ini
Perusahaan ini adalah perusahaan satu-satunya yang Ayah pimpin kali ini, ia sudah menyerahkan pekerjaan dan perusahaan lainnya pada anggota keluarga yang lain termasuk juga yang berada di luar negeri, kini ia lebih ingin fokus yang berada di dalam negeri saja dan tidak ingin wara-wiri ke luar negeri lagi karena ia merasa jika dirinya sudah tua dan tenaganya sudah berkurang
"Selamat pagi, putri Ayah. Duduklah, ada yang ingin Ayah sampaikan" aku pun duduk di depannya dengan senang
"Hari ini kita akan mendatangi klien kita di kafe ABC. Apa kamu mau ikut atau mengurus pekerjaan di sini?" tawar Ayah padaku
"Aku ikut Ayah saja, lagi pula aku juga ingin belajar bagaimana menemui klien dan akhirnya memenangkan proyek" ucapku antusias dan ayah tampak senang
"Baiklah, kita akan berangkat sebentar lagi. Aku akan meminta Pras mengurus pekerjaan kantor kali ini"
Pras adalah orang kepercayaan Ayah selama ini, ia merupakan seorang laki-laki yang selalu sigap menjalankan segala perintah Ayah entah dalam hal pekerjaan atau pun hal lain yang diminta oleh Ayah, laki-laki yang berkulit putih serta berperawakan tinggi dan kurus itu selalu menjalankan segala tugas yang ia emban dengan penuh tanggung jawab
Ia lulusan sebuah universitas ternama luar negeri, otaknya yang cerdas membuatnya mampu menduduki posisi yang kini ia jalankan setelah beberapa bulan bekerja di perusahaan milik Ayah, ini adalah tahun ke 5 dirinya bekerja di sini, meski sekarang umurnya sudah mencapai kepala 3 tapi ia masih asyik menyendiri dan belum memiliki pasangan
"Pras, hari ini tangani pekerjaan kantor dan beberapa pertemuan sesuai jadwal. Aku dan putriku akan menemui klien baru yang menghubungi kita dua hari lalu" ucap Ayah melalui sambungan telepon dan tentu saja mendapatkan jawaban iya dan akan segera dilakukan
Selepas itu, aku dan Ayah pu segera melaju ke tempat yang dimaksud. Kami berdua menaiki mobil milikku dan kali ini kami pergi tanpa sopir dan aku lebih memilih menyetir sendiri. Beberapa menit kemudian kami berdua sudah berada di tempat tujuan, Ayah pun segera menghubungi kliennya dan aku sendiri kini tengah sibuk menata beberapa berkas yang dibutuhkan
"Maaf membuat kalian menunggu lama"
.
.
__ADS_1
.
.