
"Hey kalian, apa ini namanya pertemanan?" sahut seseorang dari ambang pintu lagi, Andreas dan Prima buru-buru menatapnya dan tampaklah Tomi di sana, ia juga masih mengenakan pakaian kerja lengkap dengan dasi hitam yang menggantung di lehernya
Tomi juga kawan lama mereka, dia juga menjadi saksi lahirnya cinta Prima pada Mbak Sumi kala itu. Tomi sendiri kini juga telah berkeluarga, namun sampai saat ini ia belum dikaruniai anak. Berbeda dari hak itu, bisnisnya dan juga cabang perusahaan yang ia miliki sudah tersebar di berbagai penjuru dunia dan dia datang ke tanah air juga ingin memperluas bisnisnya. Kali ini ia datang sendiri dan sang istri masih berada di Dubai untuk menjalankan bisnisnya
Tanpa diminta Tomi pun duduk di dekat Prima dan juga Andreas, mereka bertiga duduk di antar kursi-kursi yang akan ditempati oleh para tamu besok sebab sofa ruang tamu itu sudah berpindah entah ke mana
"Gue kira elo lupa sama jalan ke rumah gue?" Prima memulai pembicaraan yang kini sangat terasa hangat itu
"Ya enggak mungkin lah, secara gue itu bisa langsung hafal hanya dengan sekali lihat" balas Tomi
"Tahu elo juga dateng ke sini mending tadi kita barengan " sahut Andreas
"Elo enggak hubungin gue sih!"
"Lah kemarin yang bilang enggak bisa pulang ke Indonesia siapa?" Andreas pun menampol pundak Tomi yang telah berbohong padanya
"Sorry, kan kemarin masih sibuk ngurus bisnis yang satunya. Jadi keputusan ini mendadak" jawab Tomi
"Oh ya, kalian ke Indonesia sendirian aja?" sahut Prima
"Enggak, anak bini gue masih di hotel katanya masih capek, besok juga gue ajak mereka ke sini sekalian gue kenalin sama kalian " kata Andreas
"Gue yang sendirian, bini gue masih ada di Dubai, entar kalau ada waktu ya besok ke sini kalau enggak ya maaf aja bro" Prima hanya manggut-manggut mendengarnya
"Tega banget loh ya, Mi. Bini elo suruh kerja sendirian dan elo santai-santai di sini, memang benar-benar suami hebat" sindir Andreas dan Tomi pun menjelaskan jika dia tidak bermaksud meninggalkan istrinya bekerja sendirian, ia datang juga bukan karena Prima semata tapi ia juga akan memulai bisnis di Indonesia
__ADS_1
Tak lama kemudian Mbak Sumi keluar dari dapur sembari membawa sebuah nampan yang berisikan minuman dan juga camilan, ia kemudian meletakkan semuanya di meja kecil yang berada di sekitar mereka
"Eh tunggu, sepertinya aku mengenalnya" sahut Tomi sambil menunjuk ke arah Mbak Sumi, Prima pun memintanya duduk di sampingnya dan mendengarkan tebakan Tomi
"Bukankah dia gadis yang kuat menggendongmu saat kamu terkena patukan ular waktu itu?" Prima dan Mbak Sumi mengangguk dan entah apa yang lucu Tomi pun kemudian tertawa lepas tanpa dosa
"Tidak aku sangka kalian awet sampai sekarang" lanjutnya dan Andreas pun juga mengatakan jika tadi dirinya juga demikian
"Aku kan setia tidak seperti kalian" Prima membalas sahabat baiknya yang terkenal playboy itu. Di antara Prima, William, Tomi dan juga Andreas hanya William dan Prima yang tidak bergonta-ganti pacar meskipun tanpa mereka berdua tahu Prima sempat membuatku terluka demi mendapatkan gadis pujaannya
"Apa kamu sudah menghubungi William, seharusnya dia ada di sini sekarang" kata Tomi
"Aku sudah menelfonnya tadi pagi tapi dia bilang baru bisa ke sini besok, ada hal yang harus ia selesaikan hari ini" Jelas Andreas
...****************...
Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku hari ini, kebetulan hari ini aku tidak ikut Ayah pergi menemuk kliennya. Hari ini perusahaan Ayah melakukan wawancara pada beberapa pelamar yang sudah melamar sejak beberapa minggu yang lalu. Posisi sebagai resepsionis, itulah yang dicari sebab salah satu resepsionis yang lama sudah resign karena akan menikah
Menikah, mendengar kata itu aku merasa bosan dan tidak tahu harus berkomentar apa. Setiap hari yang aku jalani selalu aku pikirkan apa aku akan siap menikah atau tidak, namun jika melihat orang-orang di sekelilingku menikah aku pikir mereka semua terlihat bahagia tapi kenapa aku yang waktu itu akan menikah malah terjerumus pada hal yang tidak menyenangkan
Ditambah lagi, akhir-akhir ini aku kembali merasa bimbang. William yang hampir setiap harinya selalu bertanya kabar dan mengajukan pertanyaan apa aku mau kembali bersamanya kini seolah menghilang bak ditelan bumi. Sudah beberapa hari ini aku tak dapat kabar darinya, pesan yang biasa ia kirimkan setiap pagi, siang dan malam kini tak lagi aku terima, apa kabarnya ya dia?
Apa aku merindukannya, apa aku masih berharap padanya, dan apakah aku masih ingin bersama dirinya. Entah, aku takut jika aku mengatakan ia tapi aku juga belum bisa menolak. Oh hati dan juga otak, kenapa kalian saling menyerang satu sama lain
"Mari, Bu. Saya pulang duluan" sapa Aira, resepsionis yang baru padaku. Dia gadis yang haru saja lulus SMA, belum punya pengalaman kerja namun sangat cekatan dan juga mudah berkomunikasi. Perawakannya yang tinggi, berkulit sawo matang dan juga berhijab. Dia sebenarnya berasal dari keluarga yang mampu dan cukup berada bamun ia tidak berniat untuk melanjutkan pendidikan dan lebih memilih untuk bekerja. Sapaannya membuyarkan lamunanku yang kini duduk di kursi lobi sembari menunggu Ayah yang belum sampai kantor di jam seperti ini
__ADS_1
"Ah, Iya. Hati-hati saat berkendara" dia pun hanya mengangguk dan tersenyum, ia kemudian menuju ke tempat parkir dan kemudian melajukan motor miliknya
Kulihat ponsel yang berdering di dalam tas hitam milikku, di sana masuklah sebuah pesan dari Ayah yang katanya akan pulang terlambat, dia memintaku untuk pulang sebab nanti ia akan diantar oleh Pras. Aku membalas pesan itu dengan jawaban iya dan kemudian pulang
Namun aku tak langsung pulang, aku memutuskan untuk pergi ke rumah bu Mariyam untuk mengambil sisa barang-barangku yang masih berada di sana. Setibanya di sana, aku membuka pintu rumah itu, kebetulan kunci rumah itu kini diserahkan oleh Ayah padaku
Aku naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarku, namun sebelumnya aku mengambil ponsel milikku yang kini kembali berbunyi
"Maaf, sayang. Oma baru memberitahumu sekarang, rumah yang dulu kamu tempati, sekarang sudah oma jual, jika kamu pergi ke sana untuk mengambil barang-barangmu, tolong tunjukkan pesan ini pada pemilik rumah yang baru agar dia tidak salah paham" begitulah yang ima tuliskan di pesan yang ia kirimkan
"Iya, Oma" balasku singkat dan dia kembali mengirimiku pesan jika sekarang dirinya sudah berada di luar negeri, dia sekarang tinggal bersama om Adiputra. Agak terkejut rasanya namun aku mencoba memaklumi alasan dirinya berada di sana
"Maaf juga, Oma. Aku terpaksa menyembunyikan kenyataan jika Ayah lah yang membeli rumah oma" kataku lirih sembari memasukkan kembali ponsel milikku. Setelahnya aku pun segera bergegas mengemas semua barang-barangku, membawanya turun dan memasukkannya ke dalam mobil. Aku pun bergegas pulang
Aku sudah sampai di rumah, kuambil barang-barangku dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar aku mendapati sebuah kotak warna merah yang berukuran sedang, diikat dengan pita warna emas dan juga sebuah kartu ucapan yang berukuran mini
"Jika cintamu tidak bisa bersamanya maka do'a lah penggantinya. Samuel" sungguh luar biasa kata-katanya, dia menyindirku atau menyindir dirinya sendiri
Kubuka kotak itu dan di sana terdapat sebuah gaun warna putih yang tidak begitu panjang, lengannya pendek, tidak terlalu terbuka dan juga tampak berkilau, selain itu dia juga mengirimkan sebuah sepatu hak tinggi warna senada, kali ini sepatutnya tampak lebih berkilau dari gaun yang tadi, sepatu yang entah penuh pernak-pernik apa di sana, apakah emas atau berlian tapi yang pasti dari tampilannya bukan mencerminkan diriku. Mungkin saat dia membelinya yang ia ingat adalah Alexa dan bukan aku, tapi terima kasih lah setidaknya masih ada yang peduli denganku 😁
Kumasukkan kembali gaun dan juga sepatu itu ke dalam box dan setelahnya aku masukkan ke dalam lemari yang memang penuh akan kotak-kotak yang berisi baju yang entah itu aku membelinya sendiri atau pun hadiah dari orang-orang. Kuletakkan box itu di tengah-tengah, berdampingan dengan box warna senada lainnya namun baru saja aku meletakkannya tiba-tiba sebuah box warna putih terjatuh dan isinya pun berserakan keluar
"Gaun itu" ucapku kala menatap apa yang baru saja keluar dari box itu. Gaun pengantin dan juga sebuah sepatu hak tinggi yang dulu Willy kirimkan. Gaun yang ia harap bisa aku pakai saat aku menikah dengannya namun pada kenyataannya semua berjalan tidak sesuai rencana
Aku bersimpuh di dekatnya, kuambil benda itu dan entah kenapa air mata pun menetes. Goresan luka yang hampir kering kini kembali berdarah, kenapa Tuhan menunjukkannya lagi, apa maksudnya, apa aku harus kembali padanya atau hanya mengingatkan diriku jika aku pernah melukai orang yang tulus dan agar aku tak lagi kembali mengulang hal yang sama
__ADS_1