HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 99. Apa kamu masih punya waktu


__ADS_3

Mbak Sumi sudah berada di sebuah tempat, ia menunggu di sebuah kafe kecil yang terlihat nyaman. Ada beberapa orang di sana sedang duduk menghabiskan waktu luang mereka dan juga beberapa dari mereka memesan makanan untuk dibawa pulang


Ia duduk di sudut ruangan itu, di depannya sudah tersedia dua buah gelas jus jeruk yang penuh dengan es batu. Suasana sore ini memang sedikit mendung dan juga berangin tapi tidak membuatnya surut untuk menikmati minuman dingin itu. Sesekali ia mengamati paper bag yang berisi baju pernikahannya, ia malah meragu apakah ia akan meneruskan semua itu atau ia harus berhenti. Cukup lama ia di sana hingga yang ia tunggu datang


Aku. Orang itu adalah aku, aku yang ia tunggu selama beberapa saat ini. Dia mengirimkan sebuah pesan padaku, meminta bertemu denganku, aku mengiyakan semuanya dan memintanya untuk menunggu di tempat ini sebab dekat dengan kantor tempat di mana aku bekerja


"Maaf mbak menunggu lama" aku pun kemudian duduk di hadapannya masih dengan setelan kerjaku, ia kemudian menawarkan jus jeruk yang kini berada tepat di depan mataku, aku pun mengiyakannya dan akan meminumnya nanti


"Iya, Non. Enggak papa kok lagian saya juga baru sampai" ucapnya bohong, sebab ia sudah cukup lama di sana. Jus jeruk miliknya sudah tandas hanya tersisa esnya saja. Aku mengamati wajahnya yang cukup lesu, matanya sedikit bengkak seperti habis menangis


"Ada apa, Mbak?" Mbak Sumi kemudian terisak, air mata itu seketika luruh dan membanjiri wajahnya, aku pun bingung kenapa ia seperti itu


"Maaf, Non. Saya minta maaf" lanjutnya kemudian


"Maaf untuk apa, Mbak. Mbak tidak berbuat apa-apa" aku mencoba menenangkannya


"Gara-gara saya semuanya jadi seperti ini, Non. Jika saja saya tidak muncul waktu itu pasti Non Agnes masih bersama Mas Prima dan lagi Pak Samin juga masih hidup" aku semakin terkejut akan pengakuannya, kenapa ia membahas masalah ini sekarang. Bukankah hal ini sudah selesai


"Kenapa membahasnya, bukankah itu sudah lewat dan tidak perlu lagi dibahas. Toh yang Prima cintai bukan saya tapi Mbak Sumi, dia selama ini memang mencari Mbak Sumi dan sudah sewajarnya jika ia menemukan cintanya maka ia akan bersamanya. Dan lagi, tentang Pak Samin, jangan menyalahkan diri mbak akan hal itu, kita hanya manusia biasa. Jodoh, maut dan juga rejeki kita sudah diatur dan kita tinggal menjalaninya saja"


"Tapi sepertinya Mas Prima masih menyimpan perasaan untuk Non Agnes" Mbak Sumi menundukkan kepalanya, ada sekelebat cemburu di sana. Aku memahaminya, aku pun pernah di posisinya dan bahkan rasa itu lebih sakit dari apa yang kini ia rasakan. Dia masih bisa memiliki dan sedangkan aku harus merelakan


"Mbak, percayalah. Prima itu orangnya setia, aku mengenalnya cukup lama, dia bukan orang yang akan memainkan hatinya jika dia memang sudah serius. Jangan meragu padanya, ingat Mbak sebentar lagi kalian akan menikah"


Aku mendekat ke arahnya dan merangkulnya, ia pun semakin terisak dan menumpahkan segala kesedihan yang ia rasakan di sana.


"Tapi, Non ...."


"Tapi apa, Mbak?"

__ADS_1


"Kenapa foto Non Agnes masih ada di sana?" pertanyaan itu akhirnya lolos juga, inilah dasar dari segala kebimbangan yang ia rasakan, keraguan akan cinta sang calon suami sesungguhnya hanya pada hal ini


Aku hanya tersenyum menanggapinya, aku pun kini tahu alasan ia berputar-putar membahas hal yang sudah terlewati. Cemburu, dan itu wajar


"Mbak cemburu ceritanya?" dia hanya diam, tidak mengiyakan atau pun menolaknya. Selama aku tinggal bersamanya dan kuanggap dia sebagai saudaraku, aku baru tahu ternyata dia seorang pencemburu. Selama ini dia tidak pernah sekali pun membahas masalah soal laki-laki, bahkan ada beberapa Satpam komplek yang mendekatinya selama ini tapi ia tidak menanggapinya dan terkesan cuek namun ternyata kini aku bisa melihat dirinya dari sudut yang lain, rasa cinta yang besar hingga membuatnya merasakan hal itu


"Kita beda, Non. Non Agnes orang yang kaya dan punya semuanya dan sedangkan saya hanya seorang pembantu dan berasal dari desa"


"Mbak, jangan pernah berpikir seperti itu. Kita sama mbak"


Mbak Sumi kemudian diam, ia menyadari perbedaan yang ia pandang dari segi ekonomi. Memang benar adanya tapi itu bukanlah hal yang harus kita banggakan, semua hal tentang uang dan kekayaan adalah sebuah titipan semata. Tidak lain tidak bukan hal itu akan kembali pada pemilik-Nya, tidak perlu besar kepala atau merasa paling tinggi dan terbaik dari yang lain sebab ketika yang memiliki-Nya meminta maka itu pun akan kembali tanpa kita mampu menghalangi


"Tidak semua hal yang membahagiakan itu diukur dari apa yang kita miliki, Mbak. Kebahagiaan yang sebenarnya itu adalah dari hati kita sendiri. Jangan pernah berpikir jika Mbak penyebab semua ini, bagaimana pun kita berjalan jika hal itu bukan untuk kita maka tidak akan pernah sampai pada kita, pun juga sebaliknya jika hal itu memang untuk kita, pasti kita akan menerimanya"


Mbak Sumi kembali memelukku, kini tangisnya sudah terjeda dan mulai mengontrol nafasnya. Ia mengusap sisa air matanya


"Terima kasih, Non. Tapi kenapa foto Non Agnes bisa berada di sana?" lanjutnya lagi


"Cobaan menjelang pernikahan itu luar biasa dahsyatnya, jangan lalai dan tetap fokus pada tujuan awal, Mbak" Mbak Sumi kembali mengangguk dan reda lah kecemburuan itu kala ia mendengar penjelasan langsung dariku, aku juga memintanya untuk bertanya langsung pada Prima nanti agar ia tak salah paham dan terus menduga hal yang tidak benar


Keraguan yang sempat Mbak Sumi rasakan kini sudah tidak ada lagi. Kekhawatiran akan cintanya dan juga jalan yang ia lalui saat ini kini telah menemui titik terang


"Maaf ya,Non. Saya pamit duluan" ucap Mbak Sumi sembari melirik se buah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, di sana sudah menunjukkan pukul 18.00 yang artinya ia sudah pergi dari rumah Prima lebih dari 2 jam. Ia takut Prima mencemaskan dirinya yang pergi tanpa pamit karena dikalahkan oleh rasa cemburu dan juga ego


"Mbak, panggilnya Agnes aja ya jangan pakai Non, sekarang kita bukan majikan dan ART lagi, sekrang kita berteman "


"Kayakanya enggak bisa deh, Non" Mbak Sumi tersenyum sembari menutup mulutnya


"Sudah jadi kebiasaan Sumi selama ini" lanjutnya kemudian

__ADS_1


"Harus bisa, Mbak. Kebiasaan bisa diubah loh" sarankan padanya, hanya tersenyum dan kemudian langsung berdiri dari duduknya dan pamit pulang. Aku hanya mengamatinya dari kejauhan hingga akhirnya ia tak lagi terlihat


Aku pun kemudian menyeruput jus jeruk yang sudah Mbak Sumi pesankan untukku, aku belum berniat untuk pulang danasih ingin di sana


"Apa kamu masih punya waktu?" suara seseorang mengejutkanku, kulihat ke arah sumber suara dan yang tambah mengejutkan lagi di sana sudah ada Prima yang kini datang dengan mengenakan jaket warna coklat dan juga celana panjang itu


Sesaat aku sedikit terpana akan wajahnya yang kini terlihat lebih bersih dari biasanya, rambutnya yang ditata rapi dan juga parfumnya yang menguar dan menusuk hidungku, serta tubuhnya yang lebih ramping. Sedetik kemudian aku tersadar dan merutuki diriku sendiri, aku punengingatkan diriku sendiri jika dia adalah calon suami Mbak Sumi dan jangan sampai ada kesalahan yang sama seperti dulu lagi


"Parfum ini ...." batinku saat aku mencium aromanya. Aroma parfum yang sama, sama seperti yang pernah aku belikan untuknya. Apa dia masih menyimpannya


"Apa aku boleh duduk?" tanyanya sekali lagi


"Duduklah"


.


.


.


.


.


Bang Prima ngapain ya di situ? bukankah calon istrinya udah pulang, atau Jangan-jangan dia kangen lagi sama Neng Agnes... Duh jangan lagi ya, inget bang Bentar lagi jika loh


.


.

__ADS_1


reader semua bisa nembak enggak nih bang Prima ke sana mau ngapain?... mau balik lagi ama si agnes, mau bilang kangen atau mau ngapain ya??????


yuk ikuti kelanjutannya, tapi jangan lupa ya buat like komen dan juga votenya,.,..,., makasih


__ADS_2