HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 89. Aku sehat Will


__ADS_3

Taksi online yang dinaiki oleh Prima dan Mbak Sumi pun sudah samapi di pemakaman umum yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Masih dengan tangisan yang terus membanjiri wajahnya, Mbak Sumi pun turun dari taksi tersebut dan kemudian melangkah mengikuti jejak kaki Prima


Sang sopir taksi yang diminta menunggu pun ikut ke luar dari mobilnya dan kemudian duduk di pos yang tersedia di sana


Kini keduanya sudah tiba di samping pusara Pak Samin, sekali lagi tangis Mbak Sumi pecah kala melihat satu-satunya keluarga yang ia miliki kini sudah terbujur kaku di bawah sana. Tubuh Mbak Sumi pun kemudian luruh di sana


"Kenapa harus secepat ini, apa pak lek sudah tidak menyayangi Sumi?" kata-kata itu terucap sembari diiringi deraian air mata dan juga nafas yang tersengal


"Harusnya Sumi mendengarkan wanita itu. Dan seharusnya sampai saat ini kita masih bersama" lanjut Mbak Sumi dan membuat Prima yang awalnya masih terus melakukan kekasihnya itu pun terkejut karena ucapannya


"Wanita?" tatap Prima pada Mbak sumi yang sampai saat ini masih menangis, Mbak Sumi pun hanya mengangguk pelan sembari terus menangis


Mbak Sumi pun kemudian menceritakan semuanya, mulai dari berita bohong yang disampaikan oleh seseorang yang akhirnya membawanya pada sebuah penyekapan, pelarian hingga pengejaran dan berujung maut pada pak Samin. Ia juga menceritakan bagaimana sadisnya wanita itu, yang memintanya untuk berpisah dari Prima dengan iming-iming pembebasan


Prima pun tersulut emosi, wajahnya terlihat merah padam, tangannya mengepal dan rahangnya mengeras dan dadanya bergemuruh. Ia pun kemudian mulai berpikir apakah Alexa adalah wanita itu, ia berpikir demikian sebab segala bentuk kejadian dan juga keterangan dari orang suruhan William memang begitu adanya


"Sudah jangan menangis lagi, kita akan mencari wanita itu dan meminta dirinya bertanggung jawab atas semuanya" Lirih Prima sembari mengusap punggung sang kekasih


Mbak Sumi mengangguk, "Tunggu sebentar lagi" pinta Mbak Sumi dan dijawab anggukan kemudian


...****************...


"Sampai kapan kamu akan mendiamkan Mama, sayang?" Mama kini duduk di atas ranjang kamarku sedangkan aku sendiri kini masih duduk tidak jauh darinya sambil terus menatap layar dan mencari sesuatu. Aku memang sengaja memgajaknya masuk ke dalam kamarku sebab aku tidak ingin semua salah paham ini diketahui oleh Bu Mariyam


Wanita berbaju hitam itu terlihat berkaca-kaca dan suaranya sedikit serak karena menahan isakan yang sebenarnya sangat ingin lolos. Aku masih terdiam tidak tahu harus menjawab apa


"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahasnya" ucapku pelan tanpa berpaling arah


"Lihat Mama, sayang. Lihat Mama!" perintahnya dan kemudian berjalan mendekat ke arahku


"Kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan salah paham ini sayang, jika kamu terus mengacuhkan Mama seperti ini"

__ADS_1


"Beri aku waktu"


"Sampai kapan, sayang?"


"Sampai aku bisa melupakan atau mengikhlaskan semuanya"


"Tapi sampai kapan?"


"Entah"


Hening sesaat dan tidak ada kelanjutan dari percakapan ini, karena Mama kembali duduk dan aku.pun masih fokus pada aktivitasku


"Kenapa kamu tinggal di sini?"


"Aku bekerja!" jawabku singkat


"Kenapa harus bekerja, bukankah apa yang kamu inginkan bisa kamu minta pada Ayahmu?" aku terdiam


"Yang demikian itu ayah atau Mama, selama ini ayah tidak pernah kurang sedikit pun memerhatikan Agnes, bahkan saat terburuk dalam hidup Agnes hanya ada ayah yang selalu hadir dan menjadi orang pertama sampai saat ini"


"Lalu kenapa kamu harus bekerja?"


"Aku sekarang sudah dewasa dan aku bisa melakukan hal yang aku mau, bukankah Mama juga begitu?"


Aku kembali memutar badanku ke arah semula. Mama yang mendengar jawabanku kemudian terdiam dan tidak lagi bertanya. Aku tahu ini salah, berdebat dengan Mama bukanlah hal yang akau inginkan. Tetapi aku sendiri juga tidak bisa mengontrol rasa sakit dan kecewa yang masih terus hidup di sana, aku tidak marah tapi hanya kecewa


Kulihat sekilas wajahnya, ada raut kesedihan yang dalam dan juga berat akan hal yang ia hadapi saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, inilah hidup yang selalu memiliki sebab dan akibat di setiap langkah dan tujuan yang kita pilih


Mama berdiri, "Mama kira hari ini kita bisa berdamai, sayang. Tapi nyatanya tidak seperti yang Mama harapkan, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Awalnya Mama ingin mengajakmu pergi ke luar negeri tapi ternyata anak mama sudah dewasa dan bisa hidup mandiri, Mama pamit sayang, Mama dan suami Mama akan menetap di luar negeri, jika kamu berkenan datanglah ke sana, nanti Mama akan kirim alamatnya" lanjutnya dan ia pun pergi dari kamarku


Aku hanya bisa menghela nafas kasar dan mengusap wajahku melihat Mama pergi dari kamar kos milikku dn bergegas turun ke pelataran

__ADS_1


Kutengok dari jendela, di sana di bawah sana terlihat Mama memasuki sebuah mobil sembari digandeng seorang laki-laki yang tentunya adalah suami barunya, rasa sesak dan sakit ini semakin menjadi kala melihat dua sejoli yang terlihat mesra itu. Kututup kembali jendelaku, dan entah moodku kini berubah menjadi tidak karuan dan semakin uring-uringan tidak jelas


Kubaringkan tubuhku dan kutarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhku, mencoba menenangkan pikiran yang semakin kacau setelah hal ini. Pintu diketuk dari luar, ingin rasanya aku pindah ke planet lain agar tidak diganggu di saat seperti ini


"Siapa?" ucapku kasar


"Ini aku, Nes" jawab seseorang di sana, kekebalan suaranya dan pasti itu adalah William. Dengan rasa malas aku melangkah dan membuka pintu kamarku


"Ada apa?" wajahku sudah terlihat masam, rasa malas dan juga uring-uringan kini masih mendominasi


"Kenapa?" William terlihat heran


"Enggak kenapa-kenapa!" aku semakin ketus


Tanpa aba-aba, William menarik tanganku dan membawaku turun ke pelataran. Sesampainya di pelataran, William kemudian memintaku masuk ke dalam mobilnya, aku sendiri pun menurut dan tidak ingin berdebat dengannya karena hari ini sudah cukup aku merasakan hal yang tidak karuan


Kami pun sampai di sebuah tempat, entah tempat apa ini karena baru kali ini aku melihatnya. Aku pun kemudian turun sebelum William meminta, ada raut wajah berbeda di mimik muka William ketika mendapati diriku yang kini hanya diam dan tidak berdebat seperti biasanya


"Nes, kamu sehat kan?" tanyanya kemudian, aku hanya mengangguk dan dia pun mendekat ke arahku


"Enggak panas" ucapnya saat menempelkan punggung tangannya di keningku


"Aku sehat, Will"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2