HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Kedatangan Kakek Albert


__ADS_3

Happy reading...


Setelah acara makan malam selesai, Carlen pergi ke ruang kerjanya, karena ada beberapa berkas yang harus dia cek. Dan Freya yang melihat itu pun tersenyum menyeringai.


Dia meminta pelayan untuk membuatkan minum dan akan membawanya ke ruang kerja. Wanita itu tidak akan membiarkan Carlen menyelidiki tentang kejadian pagi itu.


"Sayang," ucap Freya dengan nada yang manja. Kemudian dia menaruh kopi tersebut di atas meja, lalu wanita tersebut pun duduk di pangkuan suaminya.


"Ada apa? Aku sedang bekerja," jawab Carlen tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Kamu kenapa sih bekerja mulu? Oh iya, kakek 'kan meminta kamu untuk menghamili si wanita udik itu. Kenapa tidak kita membuat anak saja? Aku yakin kok, setelah aku hamil dan melahirkan keturunan Dalmiro, maka kakek pasti akan luluh. Tidak mungkin 'kan dia tidak mengakui cicitnya," jelas Freya sambil mengelus dada bidang milik Carlen.


Sejenak pria itu pun terdiam, "Apa bisa seperti itu?" tanya Carlen.


"Bisa dong, sayang. Kenapa nggak bisa? Kita itu harus berusaha, lagi pula, kakek tidak mungkin kan mengasingkan atau membuang anak kita? Karena jelas-jelas itu adalah keturunan kamu. Mungkin itu hanya gertakan kakek saja untuk memiliki anak dari si wanita udik itu. Atau mungkin saja, Maya menghasut kakek atau dia menggunakan mantra?" tuduh Freya.


Sejenak Carlen memikirkan ucapan istrinya, kemudian dia pun mengangguk. Apa yang dikatakan Freya ada benarnya. Mungkin saja kakek Albert akan menerima kehadiran anak mereka, jika saja Freya sudah melahirkan seorang keturunan Dalmiro.


Melihat suaminya mengangguk, Freya pun mulai melancarkan aksinya. Dia mencium bibir Carlen dengan ganas, sambil menggoyangkan panggulnya di atas pangkuan pria tersebut, sehingga membangkitkan sesuatu yang tengah tertidur.


Saat mereka tengah melakukan pemanasan tahap demi tahap, tiba-tiba saja tangan Freya tidak sengaja menyenggol gelas yang berisi kopi panas. Wanita itu pun menjerit kepanasan, karena kopi tersebut tepat mengenai tangannya dan hampir melepuh.


"Aawh ... aduh!" ringis Freya saat merasakan panas di bagian lengannya.


"Ya ampun, sayang, kamu nggak papa?" tanya Carlen dengan panik sambil melihat tangan Freya yang sudah merah dan sebentar lagi akan melepuh.


Carlen pun membenarkan celananya yang sempat terbuka, begitupun dengan Freya, dia membenarkan baju bagian atasnya..Kemudian Carlen mengambil kotak P3K, lalu dia langsung mengoleskan salep ke lengan istrinya.

__ADS_1


.


.


Hari ini Carlen tidak berangkat ke kantor, karena dia akan menemani Freya belanja ke mall, sebab wanita itu terus saja merajuk dari semalam.


Namun saat keduanya akan keluar dari kediaman Dalmiro, tiba-tiba saja ada sesosok pria yang masuk ke dalam dengan langkah lebar, gagah dan berkarismax dan dia adalah kakek Albert.


"Kakek!" kaget Freya dan juga Carlen bersamaan.


Pria yang berusia enam pupuh lima tahun itu membuka kacamatanya. Badannya masih terlihat sangat tegap, walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Kemudian dia menatap Carlen Freya bergantian, lalu masuk ke dalam tanpa menghiraukan kedua manusia itu.


Mama Gisel yang baru saja keluar dari kamar tiba-tiba saja kaget, saat melihat mertuanya datang, begitupun dengan Rania yang baru saja akan berangkat ke kampus.


"Kakek!" teriak Rania dengan wajah yang senang, kemudian langsung memeluk tubuh pria tua itu.


"Alhamdulillah Kek, Rania baik. Waa ... Rania pikir, Kakek tidak jadi ke Indonesia. Tapi ternyata Kakek sayang Rania. Makasih yac udah ngabulin permintaannya Rania," ucap gadis itu dengan senang sambil memeluk tubuh sang kakek.


"Sama-sama sayang. Apa sih yang nggak Kakek kabulkan demi cucu kesayangan Kakek ini. Nggak kayak cucu yang itu, bisanya cuma mengecewakan saja. Oh ya, Kakek lapar nih, ada makanan nggak?" tanya kakek Albert.


"Ada dong, ayo kita ke meja makan!" ajak Rania sambil menggandeng tangan kakek Albert.


Namun saat mereka akan kemeja makan, kakek Albert berpapasan dengan mama Gisel. Wanita itu pun langsung mencium tangan mertuanya, tapi kali ini wajah kakek Albert tidak sehangat biasanya saat menatap mama Gisel.


"Ayo sayang, temani Kakek makan!" Kakek Albert meninggalkan mama Gisel, bahkan tidak menyapanya sama sekali.


Carlen yang merasa heran pun seketika langsung menghampiri sang mama, "Mah, kakek ke sini kok nggak bilang-bilang sih? Mama juga, kenapa nggak bilang sama aku?" tanya Carlen yang masih menampilkan wajah yang kaget.

__ADS_1


"Jangankan kamu, Mama aja kaget saat melihat kakek datang. Rania juga tidak mengatakan apapun kepada Mama. gadis itu selalu saja menghindar? Sudah, sebaiknya kita ke meja makan. Kamu dan juga Freya jangan pergi dulu, ayo kalian ikut!" ajak mama Gisel, kemudian mereka bertiga pun menuju meja makan.


Di sana terlihat Rania sedang mengobrol dengan kakek Albert, lalu Carlen duduk di kursinya.


"Kakek, kok ke sini nggak kasih tahu aku atau Mamah dulu?" tanya Carlen sambil menatap sang kakek.


"aoh ya Rania, nanti kamu pulangnya jangan terlalu sore ya! Kakek mau ajak kamu untuk makan malam di luar, kita pergi ke suatu tempat," ucap kakek Albert sambil mengedipkan mata ke arah Rania.


Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan Carlen. Pria paruh baya itu sengaja mendiamkan cucu dan juga menantunya. Sebab dia sangat kecewa kepada mama Gisel dan juga Carlen, karena telah memperlakukan Maya begitu sangat sadis.


"Oh iya, Maya ke mana? Kok Kakek tidak lihat keberadaannya?" tanya kakek Albert sambil menyindir Carlen.


"Eum, Mbak Maya, dia sudah aku bawa pergi dari neraka. Kasihan Kek, batinnya selalu tersiksa, bahkan terakhir dia keluar dari sini aja Kek, tangannya disayat-sayat. Aku kasihan, wanita sebaik dan se-soleha itu harus hidup dalam sebuah sangkar emas, tapi penuh siksaan!" sindir Rania sambil menatap sinis ke arah Carlen.


Sedangkan pria itu yang mendengar ucapan adiknya menatap tajam ke arah Rania, tapi gadis itu malah tidak takut sama sekali dengan tatapan sang kakak, karena dia masih membenci Carlen.


"Ya udah Kek, kalau begitu Rania pamit dulu ke kampus ya. Rasanya panas lama-lama di sini. Nanti kalau kakek mau bertemu Mbak Maya, tinggal calling Rania aja, kita bertemu sama-sama. Tapi keberadaannya nggak akan Rania kasih tahu selain sama Kakek." Lagi-lagi gadis itu menyindir Carlen, kemudian dia mencium tangan sang kakek dan pergi meninggalkan meja makan.


Namun baru beberapa langkah, Rania menghentikan langkahnya, kemudian dia menatap ke arah mama Gisel lalu menarik tangan wanita itu dan menciumnya.


Mama Gisel sempat terpaku, tidak biasanya Rania melakukan itu kepadanya. Biasanya jika dia mau berangkat, gadis itu tidak pernah sekalipun mencium tangannya, tapi kali ini seperti ada sesuatu yang hangat menjalar di dalam tubuh.


"Assalamualaikum Kakek," ucap Rania, kemudian dia pergi meninggalkan kediaman Dalmiro.


"Waalaikumsalam, hati-hati sayang jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya!" seru kakek Albert kemudian dia meminum air, setelah itu meninggalkan meja makan. Namun tangannya ditahan oleh Carlen.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2